0

Lulus Matrikulasi, terus?

Bismillah

#odopfor99days2017 #day2

Alhamdulillah sudah lulus matrikulasi. Kuliah online buat para ibu nih. Menurut saya mah penting, karena jadi ibu itu harus banyak ++ nya. Nah gimana caranya biar bisa jadi ++? Silahkan ikuti kelas Matrikulasi, dan kelas-kelas Bunda lainnya yang diadakan oleh Institut Ibu Profesional. Tenang, cuma belajar lewat hp kok, pendaftaran sekali buat seumur hidup. Kalau saya karena tinggal di seputaran Bandung, jadi ikutnya IIP Bandung.

Setelah lulus matrikulasi ini, saya jadi berpikir panjang. Bahwa saya adalah perempuan. Fitrahnya adalah di rumah, dan tidak wajib bekerja. Orangtua, saudara, teman dekat, masih berharap saya terus berkarya lewat bekerja. Selain supaya seorang istri punya penghasilan, memang ga ada yang tau ke depan akan terjadi apa.

PANITIA OPEN HOUSE IIP BANDUNG.jpg

Ada 2 hal yang saya juga masih bingung bin galau dalam mengarungi kehidupan yang fana ini. Tsaaahh. Pertama, saya akan tetap mencari penghasilan, yang juga merupakan salah satu mimpi saya. Kedua, saya akan fokus mencurahkan waktu dan tenaga saya untuk anak dan suami, dan keluarga. Sebenarnya dari kedua hal ini tidak perlu dipertentangkan. Kenapa tidak disatukan saja? Suami saya memang keberatan kalau saya bekerja full time, sehingga waktu untuk anak dan suami tinggal sisa yang gak berkualitas. Saya bisa jadi freelancer, menerima kerjaan yang sifatnya jangka pendek, untuk tetap dalam koridor ‘passion’ saya. Saya pun bisa sambil mengejar apa-apa yang saya inginkan dalam kehidupan ini, yang biasanya menjadi keluhan saat bekerja kantoran, saya tidak bisa melakukannya.

Waktu berjalan terus, jadi yang harus dilakukan adalah yaa tentu saja MAJU TERUS. Apa yang menjadi mimpi, bisa terus dikejar, asalkan FOKUS, TERENCANA, dan DOA yang KUAT. Tapi rupanya saya terlalu banyak keinginan. ALhamdulillah atuh ya punya banyak keinginan. Keinginan yang banyak ini terkadang tidak disertai dengan rencana yang panjang dan baik.

SAYA SEKARANG

Jadi saya teh sekarang, sudah tidak bekerja kantoran, melainkan bekerja dari rumah. Tapi saya punya PeeR besar untuk bisa bekerja dari rumah. Saya masih merasa, bahwa saya tidak bisa bekerja kalau di rumah. Jadi saya harus pergi keluar, supaya tidak ada gangguan anak. Satu hal yang baru saya pahami dari sebuah tulisan Raluca Loteanu dalam blognya, kalau anak memanggil-manggil kita dan mengajak bermain ketika kita sedang sibuk mengerjakan sesuatu, berarti dia butuh kita. Penuhi dulu kebutuhannya, percayakan bahwa kita ada buat dia. Baru nanti dia akan memberikan waktu buat kita untuk mengerjakan hal yang lain. Pemahaman saya yang salah selama ini, menganggap anak sebagai gangguan kalau saya bekerja di rumah. Memenuhi panggilannya dulu akan lebih menenangkan. Beda sedikit ceritanya kalau kita lagi diburu deadline.

Sedikit soal kerjaan, ceritanya kemarin-kemarin (dan sekarang), saya dapet kerjaan yang mempertemukan saya dengan para pengusaha. Ada yang jadi GMnya salah satu merk sepatu, ada juga pengusaha yang merupakan supplier sayur dan buah di supermarket ternama se-kota Bandung. Saya belum sempat wawancara satu-satu, gimana mereka memulai, jatuh-bangunnya. Yang jelas, mereka teh orangnya nyoh-nyoh gitu. Maksud saya, gampang ngasih ke orang lain. Saya pikir, tiru aja dulu sifat baiknya ini ya. Semoga besok-besok saya jadi DIrut sebuah usaha. Aaaamiiiiiinnnn. Jadi supaya sukses seperti mereka, ya usahanya tidak sedikit, perjuangannya juga tidak sedikit. Anggaplah apa yang dijalani sekarang sebagai perjuangan menuju kesuksesan duniawi. Heitss, jangan lupa ukhrowi, suka dikesampingkan gitu sih.

Trus sambil ngerjain kerjaan sampingan, saya nyoba jualan. Entah mungkin saya yang perfeksionis, jadi cukup ribet juga si jualan ini. Eits, saya ngomong ribet ini keluhan bukan ya?hehe. Sedikit ribet tapi asik (terutama pas dapet transferan duit dan good testimony). Diantara keribetan yang saya bikin sendiri adalah memfoto produk satu persatu, zoom in dan zoom out-nya, lalu edit masing-masing produk, kasih kode, unggah produk yang ada beberapa tahap, me-rekap peminat, pembeli, mana yang terjual, mana yang masih ada untuk disiapkan unggah pekan depannya. Oia, saya baru jualan di grup facebook kampus kesayangan aja, segitu ribetnya. Tapi terbayarlah, senang :). Sekarang lagi nyoba untuk merambah ke online via Instagram. Karna saya jualan kebutuhan anak, saya bikin brand yourchilneedsboleh loh dikunjungi dan diboroong.

Trus selain freelancer (arsitek dan arsitek Lanskap), dan jualan online, saya juga gabung di beberapa komunitas online. Yaa kaya IIP ini, yang sekarang lagi bersiap untuk ikut kuliah online Bunda Sayang, yang masa kuliahnya adalah 1 tahun. Jadi ibu bisa kuliah juga kok, online pula, jadi bisa dapet S1 sendiri, karena kuliahnya 4 tahun. Subhanallah luar biasa. Saya sedang tertarik sama komunitas keluarga/parenting, karena merasa kurang banget ilmu saya di sini. Jadi selain ikutan IIP, saya juga sedang mulai berpartisipasi dalam komunitasnya sabumi. Komunitas ini ada blognya dan ada pagenya, yang bisa dikunjungi. Banyak banget pelajaran di sabumi ini. Malah lebih mengangkat ke kemandirian. Jadi saya merasa cocok banget dengan grup ini. Oia sabumi ini, komunitas homeschooling. Sampai saat ini saya belum memutuskan untuk meng-homeschooling-kan anak. Cuma saya ingin ambil ilmu-ilmunya. Bagaimana homeschooling, terutama untuk preschool.

Hubungannya SAYA SEKARANG dengan lulus matrikulasi? Iya, jadi saya teh harus punya target hidup ke depan. Minimalnya adalah bagaimana target saya menjadi Muslimah, istri, ibu, dan anak. Gatau udah berapa kali saya bikin target kaya gini. Keunlah (biarinlah) ya, ALhamdulillah punya target-target tertulis teh.

Muslimah
Saya merasa kualitas ibadah saya jauh menurun, terutama setelah menikah. Tapi karena menikah adalah juga ibadah, jadi saya juga berusaha tetap dalam koridor ibadah. Tapi saya ingin kembali menggiatkan ibadah-ibadah sunnah. Baiklah, target saya sekarang adalah DOA!! Saya maleees banget untuk bertahan duduk lama setelah sholat. Karena Allah suka ngasih saya ide-ide untuk melakukan sesuatu, pas saya lagi sholat. Jadi sholat gak khusyuk, selesainya jadi terburu-buru untuk lanjut yang lain. Jadi kadang, doa teh hanya ritual bacaan arabnya doang, tanpa diresapi maknanya. Trus langsung berdiri, lipet mukena, kembali beraktifitas duniawi. Padahaaal saya sangat butuh momen DOA ini. Trus juga harus membiasakan DOA dimana-mana. Udah ini dulu. Sedikit curhat, saya sedang dikasih banyak ketakutan dan kegelisahan, ini mungkin karena saya kurang dzikir dan DOA. Yaa Allaaaah ampun, jadikan saya mencintai ibadah sebagaimana mencintai diri sendiri…

Istri
Sebagai istri, saya juga kadang masih suka ada kesel-kesel sama suami. Wajarlah ya. Trus saya belum maksimal dalam taat. Saya pernah denger bahwa, turuti aja apa yang suami mau, selama tidak melanggar syar’i. Tapi ada hal-hal yang menurut saya gak perlu dipaksakan, dan berujung kekesalan saya. Mungkin saya kurang DOA itu tadi ya. Dari segi manajemen rumah juga saya masih buruk. Masih suka berharap sama suami, padahal berharap mah sama ALlah aja fin. Syarat istri kalau mau masuk surga cuma satu, tinggal taat ke suami, lalu kalau suami ridho, masuk surga deh. Naaah ini yang susah teh yaaa. Bismillaaahh, sing ikhlas fin. Yaa Allaaaah bimbing saya dan suami saya….

Ibu
Sekarang ini, saya lagi baca buku Bunda Sayang. Dan paling nancleb (menghujam hati) adalah bab kemandirian anak. Naah, mungkin saya gak bisa kerja di rumah juga salah satunya adalah karena kemandirian anak saya belum dilatih dari kecil. Jadiii, sekarang ini saya fokus pada kemandiriannya. Alhamdulillah, toilet training udah lulus, walaupun saya masih takut-takut kalau pergi keluar rumah, di rumah masih harus sering ditawarin untuk ke toilet. Takut gak ada kamar mandi bersih, takutnya ngompol, dan ketakutan lainnya. PeeR kemandirian yang lain adalah makan!! Dengan tidak memilih-milih, harus sambil duduk, dan habis. Woow ini sesuatu banget. Poin makan ini, jadi PeeR tersendiri buat saya supaya bisa masak yang enak. Dalih masih tinggal sama orangtua, jadi weh saya males masak, karna tidak mendesak. Jadi gak putar otak bagaimana supaya anak mau makan dengan lancar jaya. Semoga rumah cepet jadi, bisa pindah dan bisa belajar mandiri terutama buat diri saya sendiri. Dan semoga saya dan anak tidak stress. Yaa Allaaaah mudahkan, kabulkan….

Anak
Birul walidain. Ngerasa ngerepotiiin terus ke orangtua. Makanya sebisa mungkin segera pindah. Bukannya gak mau tinggal bareng ortu. Seneeeng pake banget kalo tinggal sama orangtua teh, tapi saya jadi gak belajar. Orangtua saya biasa mempermudah anaknya. Jadi apa-apa kalau ada yang susah ya dibantuin. Bahkan tanpa diminta pun, dengan inisiatif yang tinggi mereka langsung action. Jadi maluuu banget. Ngerasa juga belum bisa ngasih apa-apa sama orangtua. Salah satu tujuan saya tetap berpenghasilan adalah dengan tujuan, saya punya uang yang banyak, bisa ngasih orangtua. Biar bisa jalan-jalan, ngasih-ngasih orang, ngundang makan-makan, dan lain-lainlah. Ya Allaaah kabulkaaan,, semoga rezeki saya lancar, rezeki orangtua saya juga lancar, rezeki suami lancar, semua lancarlah.

TARGET DUNIAWI, Perlu gitu?
Perlulah, mimpi yang tertulis kan lebih bagus. Kali aja ada yang baca ini, trus Allah mengabulkan mimpi saya lewat beliau. hehe Aaamiiin
– pengen punya mobil yang kecil (katakanlah sebangsa kar*mun GX), jadi bisa pergi kemana-mana sama anak. Bisa berdua aja. Naik transportasi umum di Indonesia belum layak menurut saya. Jadi solusi buat saya sementara adalah bisa nyetir. Jadi mobil ini sebagai motivasi supaya saya bisa cepet bisa.
– Umroh haji sekeluargaaa. Aaamiiin
– Bersih dari RIBA, lunas hutang!!!

Tulisan ini mungkin merupakan tahap-tahap dalam mencapai mimpi di tulisan saya yang berjudul Akan jadi apa saya?. Sekian dulu curhat mimpi dan target saya. Eh hubungannya dengan matrikulasi teh apa tadi ya? Yaa pokonya saya harus jadi ibu profesional ++. Dan itu harus bertarget. Gitulah pokonya…

7 hari menuju Ramadhan

 

Advertisements
0

Ibu, Manajer Keluarga

#ODOPfor99days #1

Bismillahirrahmaanirrahiim

Sebagai ibu, apa sih yang perlu ditekuni di universitas kehidupan ini?                                 Menurut saya adalah Manajemen.
Klise? Iya
Tapi memang itu yang dibutuhkan para ibu.

Saya melihat beberapa contoh kasus di dekat rumah saya saja. Ibunya sibuk ngerumpi dengan tetangga, atau mungkin sibuk bekerja. Ketika bersama anaknya, yang dilakukan cuma nyuapin, mandiin, atau menyuruh sesuatu sambil marah, dan sebagainya. Tapi ada juga sih yang baik, tapi tetep juga keluarga belum menjadi prioritas. Mungkin saya termasuk juga. Capek kerja di kantor. Sampai rumah pengennya leyeh-leyeh istirahat, malem sedikit aja udah ngantuk. Atulaah, kasian anakmu Bu!

POST NHW1.jpg

Manajemen apa sih? Mengambil definisi dari Ricky W. Griffin, bahwa manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. (dari Om Wikipedia)

Saya memilih 2 hal yang penting yaitu Manajemen Waktu dan Manajemen Hati.

Waktu yang bagaikan pedang, tidak bisa terulang dua kali. Dengan segala kebutuhan saya sebagai ibu, istri, dan wanita sosial dan mungkin akan kembali ke ranah pekerjaan (formal/nonformal), maka manajemen waktu sangat penting. Manusia yang sama, waktu yang sama, bisa berbeda kebermanfaatannya. Pada jam yang sama ini, ada yang sedang membaca, atau menonton TV atau tidur atau berolahraga atau tilawah atau kongkow-kongkow, dan sebagainya. Kita bisa menentukan mau pilih kegiatan yang mana pada jam yang sama dengan orang lain.

Jika berandai-andai, dan semoga menjadi nyata, dengan waktu yang sama dengan anda semua, saya harap bisa memberi lebih, melakukan lebih. Berarti manajemen waktu-lah yang saya butuhkan saat ini. Bagaimana menentukan skala prioritas yang cukup sulit dijalankan.

Menikah adalah suatu gerbang kebahagiaan. Tapi bisa jadi kekecewaan manakala disikapi dengan hati yang tertutup, yang tidak mau menerima. Perlu banyak belajar, mengenal karakter, mengetahui yang disukai dan yang tidak disukai oleh pasangan, dan sebagainya.

Begitu juga setelah diamanahi buah hati. Ini lebih sesuatu lagi ya. Karena si mungil ini dari belum bisa apa-apa, kita tidak tau dia maunya apa, hanya bisa meraba-raba dari responnya. Kalau si kecil udah bisa ngomong, dia maunya apa kita maunya apa. Bisa jadi naik darah ini kalo kita gak punya strateginya. Sepulang kerja, kalau ada sesuatu yang tidak mengenakkan hati, bawaannya jadi bad mood. Nah ini nih, udah mah ketemu anak sebentar waktunya, pas ketemu malah emosi. Inilah kebutuhan kedua saya yaitu manajemen hati, bagaimana belajar ikhlas, mengatur emosi yang sedang meluap-luap, atau bahkan yang sampai pengennya teriak-teriak.

Jadi kenapa manajemen?

Bahwa saya punya cita-cita keluarga saya semua bisa mandiri. Pernah suatu kali saya membaca grup Whatsapp yang lain, membahas tentang kematian. Coba bayangkan kalau kita sebagai ibu atau suami kita yaitu ayah dari anak-anak, dipanggil Allah duluan, tapi anak kita masih kecil-kecil. Kasihan mereka segala sesuatu masih disuapin. Nanti dia akan tergantung yang menyuapinya. Dari situ, saya ingin sekali membuat anak menjadi mandiri, bukan hanya dalam memenuhi kebutuhan pribadinya seperti makan, minum, mandi, buang air saja. Tapi lebih kepada bagaimana dia mengenal Rabbnya, mengerti makna hidup untuk apa. Bakal jadi berat kalau kedua bekal tadi tidak saya miliki. Mana mungkin anak saya bisa rajin membaca kalau saya main HP, mana mungkin anak saya pintar menulis kalau saya masih sibuk sama cucian, setrikaan, dan lainnya. Kalau saya masih marah-marah karena anak tidak melakukan yang saya inginkan, bagaimana dia bisa memiliki adab yang baik.

Begitu pula saya terhadap suami saya, maupun suami saya terhadap saya. Sebagai ibu, juga harus bisa membuka pintu rezeki yang lain. Agar tidak tergantung pada suami. Jadi bergantung sama Allah aja. Kebergantungan ini akan mudah kalau kita sudah mengenal Rabb kita. Itu baru satu hal dari segi rezeki. Tapi saya merasa masih jauh. Jadi tetap harus banyak belajar, dimulai dengan ilmu manajemen ini.

Gimana cara belajarnya?

Belajar manajemen atau belajar merencanakan, mengkoordinasikan, perlu pengalaman dan bahkan praktek langsung. Artinya tidak ada yang bisa dilakukan kecuali dimulai dari sekarang.

Kalau boleh dijadikan tahap-tahapnya, saya mulai dengan membuat target per tahun. Resolusi tahun 2017, bisa menjadi acuan. Kemudian akan diturunkan menjadi target bulanan, dan mingguan. Sebenarnya saya seringkali kesulitan kalau membatasi waktu seperti ini. Tapi tidak ada yang tidak mungkin, jadi kita coba lagi :).

Untuk bisa menghargai waktu, perlu membuat target mingguan, yang diturunkan per hari. Lagi-lagi saya bilang, saya seringkali kesulitan kalau membatasi waktu seperti ini. Tapi tidak ada yang tidak mungkin, jadi kita coba lagi :). Sama halnya dengan mengatur emosi. Memiliki target-target pencapaian yang bica dicoba setiap harinya yang dievaluasi setiap akhir hari. Target pertama saya adalah tidak berputus asa mendorong anak melakukan sesuatu yang saya ingin dia lakukan.

Untuk dapat ilmu-ilmu dasarnya, saya perlu membaca lebih banyak. Membaca kisah-kisah, contoh pengaturan waktu, pengasuhan anak, dan seterusnya. Bertanya ke beberapa orang yang lebih oke dalam manajemen waktu dan hati ini. Yang sering saya lupa dan perlu saya ingat lagi adalah mengevaluasi target yang sudah saya pasang.

Apa yang diharapkan?

Harapannya, dalam proses belajar ini, saya bisa lebih memahami bahwa Allah memberikan waktu yang sama, digunakan untuk kebaikan. Semoga saya bisa mengisi waktu lebih baik lagi. Alangkah ruginya kalau kita sama dengan kemarin atau malah lebih buruk. Astaghfirullah, saya masih susah untuk yang ini. Kebaikan yang kita lakukan itu pun harus dengan ilmu. Semoga saya bisa terus membenahi hati supaya menjadi bersih, supaya segala ilmu kebaikan akan bisa masuk dan nerap.

Ayo ibu-ibu kita belajar terus, demi masa depan cerah masuk Surga, Insya Allah. Aamiin.

871 words

0

Bagaimana Ibu Mengatur Emosi dalam Mengasuh Anak (bagian 1)

header posting.jpg

#dayx #odopfor99days #odopsemester2

Tugas ibu yang demikian banyak tiada tara, menuntut kesabaran yang juga tak berbatas. Ada saja hal-hal yang tidak bisa ibu ‘selesaikan’ dalam mendidik anaknya. Tentu tidak ada yang sempurna. Proses belajar menjadi ibu yang profesional dan sholehah, harus senantiasa dipupuk agar selalu ingat, ingat, dan ingat, serta dapat menerapkannya dalam kehidupan.

Begitu banyak kiblat pengasuhan anak (parenting) saat ini. Tapi kiblat itu janganlah menjadi kiblat utama. Tetaplah cari dan belajar berbagai materi pengasuhan anak dari berbagai sumber, yang sesuai tuntunan Al-Quran dan Sunnah, agar senantiasa berada di jalan yang benar. Karena kita sebagai ibu perlu banyak ilmu untuk jadi tameng dalam menjalani kehidupan yang semakin banyak tantangannya. Eits, para ayah, jangan tinggalkan sang istri berjuang sendiri ya. Ayo kerjasama. Supaya anak-anak kita menjadi sholeh-sholehah, bisa mendoakan kita saat kita sudah tidak di dunia lagi, dan menjadi amal jariah buat kita (tabungan akhirat kita yang sangat mahal harganya).

Berbekal dari keterbatasan saya dalam mengasuh anak, saya mencoba berbagi beberapa tanya jawab dengan beberapa orang yang saya anggap merupakan ibu yang baik secara pribadi, maupun baik dan berhasil dalam mengasuh serta mendidik anaknya.

Tanya jawab Narasumber 1

Saya: Teh, pengen tau dong target pribadi teteh apa aja. Terutama dalam hal ibadah. saya ibadah turun banget sejak nikah

Narasumber 1: Target ibadah? 🙈 Whua…malu saya.. Anaknya usia berapa teh?

S: 19 bulan the. Masih kicil.

N1: Dulu, awal2 punya bayi pertama dan bekerja, saya juga sama. Keteteran dua bulan. Lalu berpikir, ga boleh gini terus. Karena ‘kering’ rasanya. Akhirnya saya putuskan untuk ‘keras’ sama diri sendiri. Saya set target. Saya set konsekuensi klo targetnya missed. Misal: target tilawah 1juz, dilalah hanya tercapai setengah juz. Maka esoknya, target saya jadi 1½ juz. Karena punya hutang yang kemarinnya.

S: Mungkin memang harus dipaksa ya teh, pelan-pelan.

N1: Iya teh. Berproses saja. J

S: Anak teteh yang 3 tahun udah diajarin apa aja teh? Saya bingung kalo mau ngajarin keagamaan ke anak, mulainya darimana ya?

N1: Bingungnya kenapa? 😅 Buat rencana belajarnya teh…

S: Ah iya ya teh, mungkin karna saya ga bikin rencananya jadi saya bingung

N1: Ini program HS anak2 saya saat usianya <6thn:

– Shalat (anak laki-laki belajar ke masjid tepat waktu/anak perempuan di rumah)

– Hafalan: Doa harian, Hadits, Qur’an

– Olahraga: tiap hari jalan2 keliling/senam sama bunda di rumah/berenang

Home chores activity (sapu-sapu, bersih-bersih kamar, bersih-bersih halaman, cuci piring, dll)

Fine motors: main pasir, dough, amplas huruf dll

Pre reading activity: baca buku, main logico, bercerita (circle time)

Pre math activity: main lego, main puzzle, main sains, geometri, main biji lengkeng, dll

– Jalan-jalan/field trip:  2minggu/1x

Art & craft

Materi utama:

  1. Aqidah (rukun islam-rukun iman-kalimat thayyibah
  2. Akhlak (belajar adab, sosial emosional, dll)
  3. Fiqh (belajar ibadah mahdhah)
  4. Tarikh (belajar kisah nabi)

Usia 19 bln, mulai dgn kalimat tauhiid. Perdengarkan yang sering. Kalo bisa, sehari-hari stel murattal.

S: Soal disiplin anak. Mulainya dari umur berapa ya? Misalnya waktunya bangun dan waktunya tidur. Sekarang ini anak saya kalau diajak tidur pengennya main. Harus dilayani aja gitu?

N1: Yang saya tahu, disiplin itu sejak sangat dini diterapkannya teh…nanti boleh melonggar seiring pertumbuhan anak. Asumsinya, anak yang sudah terbiasa disiplin sejak dini, ketika bertumbuh sudah paham arti disiplin dan sudah bisa menerapkannya tanpa harus terus dikontrol ketat. 😊

S: Ooh gitu ya. Menurut teteh atau yang teteh ngerti, sebaiknya disiplin dalam hal apa aja ya di usia masih 2 tahun? Saya pribadi ingin mendisiplinkan tidur malam dan bangun paginya. Tapi kadang itu juga dipengaruhi tidur siangnya kan ya? Apa teteh ada saran?

N1: Usia 2 tahun, disiplin sederhana teh:

– makan saat waktu makan

– tidur saat waktu tidur

– bereskan mainan bila sdh selesai

– simpan baju kotor di tempatnya

– dll

S: Biar tepat, gak apa-apa dipaksa pas awal gitu ya?

N1: Ga usah dipaksa teh, dibiasakan aja. Dibersamai secara rutin.

S: Teteh pernah gak pengen marah sama anak? Pasti pernah ya, gimana cara ngatasi nya ya teh??

N1: Pasti pernah atuh teh…da saya bukan malaikat 😂. Kalau pas marah dan sedang sadar mah, biasanya istighfar dulu, terus tarik nafas panjang-tahan-hembus lewat mulut. Hitungannya  4-3-7. Atau pakai teknik tumbukan tangan utk release emosi negatifnya dulu.

Nanti udah tenang baru ngobrol sama anaknya pake pola pertanyaan.

Tapi sekali lagi, itu pas lagi sadar…hehe, pas lagi ga sadar (semoga Allah lindungi), kadang ada aja yg ga pas 😞. Yg istighfar tapi ga pake hati lah…yg ‘ngomel’ bari ga jelas ngomong apa. Haha, namanya juga manusia 🙈. Mohon aja sama Allah untuk selalu dijaga agar tetep sadar dan berlindung dari syetan saat emosi ga stabil.

S: Trus kalo anak lagi pengen sesuatu, yang menurut kita gak boleh tapi keukeuh sampe nangis-nangis, apa kita biarin dia nangis aja, atau gimana?

N1: Kalau aturannya ‘gak boleh’, apalagi kalau sudah pernah diberitahu sebelumnya. Untuk anak tertentu saya biarin aja nangis sampai berhenti, baru ngobrol dan dijelaskan. Untuk anak yang lain, dipeluk sampai selesai, lalu dijelaskan. Jadi, tergantung tipe anaknya. Selama nunggu dia selesai dengan emosinya, kitanya kudu banyak2 istighfar we 🙈, biar ga kepancing.

Tapi yang pasti, anak-anak saya tidak akan pernah mendapat apapun kalau minta sambil menangis/tantrum.

S: Trus kalo anak harus melakukan sesuatu, tapi dia gak mau, harus kita apain???

N1: Kalau bukan hal yg prinsip, ya dibiarin aja saya mah. Anak kan juga manusia, sama kayak kita.  Ada saatnya semangat, ada saatnya males. Jadi kalau sekedar masalah mandi misalnya, ga mau mandi sore sekali2 ya gak apa-apa.

Yang penting tetap paham bahwa ada aturan baku yang harus ditaati, contohnya bab shalat untuk yang sudah 7 thn. Mereka tetap harus shalat. Karena itu prinsip. Jadi buat saya mah, ada yg ‘wajib’, ada yang ‘sunnah’ teh.

Da kita juga kadang gitu kan ya. Ada saatnya males masak, males mandi 🙈, shalat ga di awal waktu 🙈🙈. Namanya juga manusia 😂😂 #alesan

S: Oia satu lagi, kalo anak perempuan teteh diajak solat dari umur berapa? Dan kalo pas dia lagi gak mau solat, gimana??

N1: Mulai duduk di samping saat kita shalat sih sejak bayi. Dia mulai ikutan shalat sejak 4 tahun. Sekarang 6thn, kadang kalau lagi bener-bener gak semangat shalat (udah diajak 2x masih cuek) biasanya saya biarin aja dulu. Lalu jadi PR buat saya introspeksi diri, berarti shalat blm jadi hal yg menyenangkan buat dia. Mulai deh malam sebelum tidur ngobrol panjang, gali perasaannya, lalu masukkan dikit-dikit apa nikmatnya shalat.

Saya ga saklek sih teh, kecuali nanti dia sudah 7 tahun ya, akan lebih strict. Harus shalat meski kadang ga di awal waktu misalnya. Bertahap sampai di 10 tahun dia siap komitmen untuk selalu shalat di awal waktu.

Dulu waktu kakaknya yg laki-laki begitu sih teh. Karena laki-laki kan pembiasaannya ke masjid, jadi dulu begitu. Yang dipikirkan awalnya adalah gimana supaya dia cinta ke masjid. Sejak 2 tahun ikut ayahnya ke masjid dan terus terbiasa jadinya. Di usia 5 tahun udah ga lepas dari masjid, meski kadang masih harus ditanya ‘mau di masjid atau di rumah?’ kalau dia mulai santai-santai berangkat ke masjidnya 😅.

Tapi beda anak kan beda pendekatan ya hehe. Anak sulung saya dengan anak kedua saya beda jauh kepribadiannya, jadi pola tarik ulurnya juga beda 😁😁.

Semoga Allah karuniai kita kesabaran tak berbatas ya teh…insya Allah hadiahnya surga 😍😍😘😘

Bersambung ke tanya jawab dengan narasumber berikutnya ya.

4

Lebih pantas disebut ‘Curhat Kelulusan’

#odopfor99days #day100
Bismillahirrahmaanirrahiiim

BeFunky Design_odop

Alhamdulillah, akhirnya sampai sudah di garis finish #day100. Ya, hari ini. Ini adalah hari kelulusan odop yang juga dirayakan oleh beberapa orang lainnya. Di akhir minggu ini saya berhasil kejar setoran sebanyak hampir 12 postingan. Why? Because I’m not good in time management, and also a deadliner.

Ya, saya pernah berpikir menjadi penulis. Tapi untuk menulis seperti odopfor99days ini, saya mengatakan tidak. Cukup sekali ini saja. Untuk setiap hari menulis, ternyata saya tidak sanggup, apalagi untuk tulisan yang berkualitas. Jadi, untuk sementara bye bye semester 2, mungkin saya ikutan grupnya aja, tanpa ikut nulis tiap hari (boleh ya teh Shan, hehe).

Saya merasa seringkali stuck, karena tulisan saya tidak terstruktur. Beda dengan penulis lainnya, terutama yang bikin fiksi mungkin. Bisa saja menulis satu paragraf. Lah saya? nulis status? Ya itu juga yang akhirnya banyak saya lakukan di trimester ke-3 odop ini.

Menurut saya memang odop ini pas sekali untuk yang ingin latihan menulis. Sekedar menulis apapun, belajar menyusun kalimat, mencari ilmu sana-sini untuk memperkaya otak dalam menulis.

Kalau saya mah, tipe orang yang kalau tulisan udah jadi, jarang banget dicek lagi. langsung publish aja lah. Beres. Entah kapan, saya akan coba buka lagi nih blog dari trimester awal, pengen tau saya tuh nulis apa sih. Kayanya bakal terpingkal-pingkal sendiri.

Di trimester pertama semangat 45, kalau ada utang 1 atau 2 langsung dikejar. Mulailah di trimester kedua semangat rada ngendor, hutang mulai numpuk, dan dikejar dalam beberapa hari. Nah, trimester ketiga, saya sampai lupa gak pernah setor ke fb, yang penting nulis. Jadi setoran menumpuk di hari-hari terakhir. Saya akui juga, akhirnya ada beberapa postingan yang hanya copas. Memang sebagai catatan saya juga. Ada dua hari kemarin-kemarin ini, saya mempublish 5 postingan per hari demi tidak ikut SP. Karena saya pikir, segala kerjaan yang bisa dikerjakan sekarang, ya diselesaikan saja. Saya masih punya PeeR lainnya. Odop ini selalu ada di pikiran saya sehingga tidak tenang kalau belum beres. Terharu akhirnya bisa lulus juga. *lap keringet*

Tapi asli sih, ikut odop ini banyaaak banget dapet ilmu, info menarik, kulwap bareng penulis beken. Kerenlah pokonya. Tapi kalaupun saya bisa lulus, saya mengakui bahwa saya cukup melakukan hal ini satu kali. Ya, menulis setiap hari adalah kesengsaraan. wkwkwkwk. Ya ga sengsara-sengsara amat sih. Mungkin karena masih belum fokus ya.

Saran saya untuk odop ini, mm apa ya. Gak ada sih, cuma pengen bilang bagus aja untuk latihan menulis. Karena kalau saya pribadi, menulis one day one post itu jadi gimanaa gitu. Ini kan kalau saya, mungkin yang lain merasa bisa menulis dengan baik, menceritakan dengan baik. Saya setengah mati nyari materi buat besok apa, besoknya lagi apa, dan seterusnya. Apalagi kalau ada hutang, trus mau dirapel malam, malah diprotes suami. qiqiqi

I will keep writing, although not One Day One Post.
But maybe someday, I will be back on One Day One Post. (me, 2016)

Terima kasih kepada punggawa odop Teh Shanty. Ilmu-ilmunya super keren. Terima kasih juga buat teman-teman odop yang bikin semangat untuk setoran tulisan.

Sekian curhat kelulusan saya. Selamat juga kepada odopers yang sudah lulus hari ini. Mari berucap Alhamdulillahirabbil’alamiin.

99 JUDUL

Berikut ini adalah list judul tulisan saya ikut odopfor99days:

Trimester pertama, bisa diliat di postingan saya 33 hari odopfor99days.

Trimester kedua, bisa diliat di postingan saya 66 hari odopfor99days.

Trimester ketiga di bawah ini:

Day 67 66 hari odopfor99days
Day 68 Bunga Cinta Agaphantus
Day 69 Have to Read Book
Day 70 Keseruan di Jejakecil
Day 71 Mindfulness-nya Para Ibu
Day 72 Sertifikasi Keahlian (SKA) Lanskap
Day 73 Selamat Hari Kartini, Wanita Indonesia!
Day 74 Tips Menghilangkan Kantuk Saat Bekerja
Day 75 Stop Finding the idea
Day 76 Apa itu Bintang?
Day 77 Mainan Favorit Anak
Day 78 WS Rendra: Hidup itu seperti UAP
Day 79 Tentang: Sabtu Bersama Bapak (novel)
Day 80 Taman Bahagia SMAN 2 Bandung
Day 81 Image Analysis to Enrich Design
Day 82 Pasang-surut Yanweizhou Park
Day 83 Catatan kulwap: Genetic drift Oryza sativa
Day 84 Kebutuhan parkir
Day 85 Nak, Yuk Shalat (bagian 1)
Day 86 Nak, Yuk Shalat (bagian 2)
Day 87 Romantisnya Bandara Husein
Day 88 Toilet dan Mushola Mall
Day 89 Up&up – Coldplay
Day 90 Ketika marah adalah sebuah teguran
Day 91 Musim gugur daun berubah warna
Day 92 Belajar Menjamu Tamu dari Nabi Ibrahim AS
Day 93 Apa yang Sedang Saya Lakukan Saat Ini
Day 94 Bogor dalam Ingatan
Day 95 Kencan
Day 96 Kerja Ikhlas
Day 97 Menjadi Penulis?
Day 98 Yang Muda Yang Bersemangat
Day 99 Akan jadi apa saya?

Sekian dan terima kasih.

2

Akan jadi apa saya?

#odopfor99days #day99
Bismillahirrahmanirrahim

Tulisan kali ini bukan sekedar tulis. Tapi harapan dan impian saya. Rencana-rencana ke depan memang banyak. Mungkin kalau semua tertulis gak beres-beres juga.

Life begin at 40
Katanya begitu. Sekarang umur saya menuju 29 tahun. Untuk umur segini, rasanya saya belum cukup jadi ‘orang’. Mungkin usaha saya masih kurang. Para pembalap motoGP ataupun F1, usianya masih muda-muda, tapi sudah mendulang prestasi. Pun teman-teman saya ada beberapa yang sudah melakukan pencapaian-pencapaian keren. Ini adalah penilaian versi duniawi ya.

Tapi saya memang mau menulis rencana di dunia, yang semoga nilainya bisa ukhrowi. Berikut ini beberapa poin yang menjadi harapan dan impian saya.

mother

Ibu Rumah Tangga ++

Ya. Dalam waktu dekat, inilah yang saya pilih. Segera setelah urusan saya selesai, saya ingin menjadi ibu rumah tangga ++. Tanda ++ ini tentu saja saya maksud bukan thok jadi ibu rumah tangga. Tapi menjadi ibu yang produktif. Produktifnya bisa macam-macam. Menulis berkreasi, jualan online, atau bahkan proyek santai. Tapi prioritas ada di rumah. Karena ini untuk anak-anak saya. Saya bertekad mendidik mereka sendiri. Walaupun akan banyak jungkir baliknya nanti. Harapan saya adalah anak-anak yang sholeh dan sholehah. Sekarang ini saya ikut grup-grup parenting, tapi belum bisa menerapkan semuanya. Semoga nanti bisa. Status ini, sebisa mungkin sampai anak sekolah. Lalu saya bisa kembali berkarya.

entrepreneur 0

Enterpreneur

Memang untuk menjadi seorang enterpreneur harus serius, kalau disambi menjadi kurang maksimal. Tapi masa sih gak bisa? Saya yakin itu bisa. Tapi prioritas tidak terlalu banyak. Semoga. Ini sebagai modal untuk masa depan keuangan dan jiwa mandiri. Supaya tidak tergantung pada siapapun kecuali Allah saja.

landscape architect

Arsitek lansekap

Saya menyukai bidang ini. Dibanding gelar S1, saya masih lebih menyukai lansekap. Mungkin karena alam-alam gitulah. Jadi saya suka. Ditambah lagi setelah kerja di konsultan lansekap, trus kuliah lansekap dan dapet proyek-proyek lansekap juga. Semakin saya suka. Banyak tantangannya. Harus banyak belajar untuk bisa ahli. Apalagi di Indonesia, perkembangan infrastruktur yang membutuhkan bidang ini terus meningkat. Jadi intinya proyek lansekap itu banyak. Sedangkan ahlinya belum sebanyak arsitek. Padahal mungkin proyek lansekap akan lebih banyak dibutuhkan dibanding arsitektur. Lalu banyak kasus proyek ini dikerjakan oleh orang yang bukan ahlinya. Malah jadi asal dan hanya buang-buang duit negara aja.
Oia satu lagi, bidang ini juga sebenarnya melahirkan banyak kebutuhan. Di samping posisi sebagai desainer, sedang banyak dibutuhkan pula pengajar lansekap. Kalau Allah mengijinkan, saya juga mau mengajar. Supaya jadi amal jariyah. Bisnis? Bisa nih. Bisnis nursery. Ada satu peluang yang dari dulu ingin sekali dibangun. Tapi belum juga dilaksanakan oleh instansi terkait. Yaitu toko online dengan penyediaan berbagai jenis bibit tanaman. Ya. Online nursery, tapi bedanya dengan nursery lain adalah berlokasi di seluruh Indonesia.

investor

Investor

Menjadi investor ini sebenarnya tujuan silaturahim dan memperbanyak link. Dengan memperbanyak link, insyaAllah jalan hidup juga lebih terbuka. Bisa banyak membantu orang. Tentunya investor untuk hal-hal kebaikan dan banyak untungnya bagi banyak orang.

traveler

Traveler

Ini impian juga nih. Sejak pertama kali ke luar negeri, saya merasa kalo traveling itu banyak ilmunya. Melihat bumi Allah yang lain, mengambil banyak hikmah, ilmu menjelajah, ilmu bertahan hidup, ilmu berkomunikasi, dapet visual library yang keren dan mungkin baru. Bisa jadi bahan cerita, pengalaman, dan ilmu tadi. Bagaimana merencanakan itinerary yang banyak pertimbangan. Tapi jadi inget kata-kata di film ‘bedanya liburan dengan traveling, kalau traveling itu semuanya tanpa rencana. Semua terjadi mengalir gitu aja’. Berarti kalau gitu, saya lebih suka liburan deh hehehe.

Garis besar Akan jadi apa saya?, terwakili di ke-5 poin di atas. Semoga Allah memberkahi apapun yang saya jalani, dan apapun yang Allah Kehendaki saya menjadi apa. Dari garis besar di atas yang sifatnya duniawi, tentunya harapan saya paling besar adalah menjadi muslimah bertaqwa. Aamiiin. Semoga yang membaca ini juga harapan dan impian baiknya tercapai. Aamiiin.

Bagaimana dengan anda?

1

Yang Muda Yang Bersemangat

#odopfor99days #day98
Bismillahirrahmanirrahim

business-person-silhouette-vector_people_000025

image.clipartpanda.com

Melihat anak muda bersemangat memang seharusnya kita merasa terbakar ya. Terbakar untuk lebih semangat lagi. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin sampai Allah yang berkehendak.

Hari ini saya kukurilingan sama temen pake jasa uber (taksi online tea). Di luar kesimpangsiuran soal legal dan ilegal nya, saya mengacungi jempol untuk idenya. Dari anak muda. Bahkan supir yang tadi mengantar pun muda banget. Masih kuliah semester empat.

Kami pergi menuju beberapa tempat, dan dia pun menunggu. Total-total perjalanan tadi adalah 3 jam. Saat saya dan teman saya berpisah (turun lebih dulu di stasiun menuju Yogyakarta), saya jadi banyak nanya sama si dek supir ini. Saya pikir, semangat dia yang luar biasa juga patut diacungi jempol.

“Udah lama ikut uber?”
“Baru 3 minggu, bu.”
“Ooh. Berapa bersaudara?”
“Tiga bu, saya anak kedua.”
“Kakaknya udah kerja?”
“Iya. Di departemen xxx di Jakarta”
“Hoo. Adiknya?”
“Adik saya masih sekolah. Kelas 6 SD.”
“Wah beda umur nya jauh ya. Kalau ayah kerja dimana?”
“Ayah saya kepala dinas xxx bagian xxx”
(Saya pun melongo)
“Kalau ibu?”
“Ibu saya ngajar di sma swasta xxx”
“Ikut uber kemauan sendiri nih?”
“Iya. Soalnya tadinya mau usaha rental mobil. Tapi kayanya resiko besar.”
(Saya melongo lagi deh, ini pasti dia banyak duit)

Baiklah dek, semangat kamu untuk anak semester 4 boleh juga. Saya jadi merasa malu aja. Dulu semester 4 ngapain gue??? Masih ikut ini itu. Belum mikirin duit. Trus sibuk mikir pas udah lulus. Kamana wae. Hmm. Ini anak-anak saya harus diajarin dagang deh dari kecil. Tujuan utamanya adalah supaya gak banyak tergantung sama orang lain.

Sekian hikmah kukurilingan hari ini. Wassalam.

1

Menjadi Penulis?

#odopfor99days #day97
Bismillahirrahmaanirrahiim

WRITER.jpg

Setelah saya coba ikut odop ini, saya jadi berpikir apakah saya ingin menjadi penulis? Sempat pernah, mungkin masih ada sedikit. Tapi belum kuat niatnya. Kemudian saya jadi mencari bagaimana sih menjadi penulis yang hebat. Saya cari dengan browsing saja. Rupanya memang kalau niat sudah bulat, dan usaha yang kuat, pasti kamu bisa jadi penulis. Saya coba tulis ulang dari hasil beberapa artikel yang saya baca ya.

1. Apakah anda ingin menjadi penulis?
Pertanyaan ini harus anda jawab terlebih dulu. Apakah sudah mantap?

2. Anda ingin menjadi penulis di segmen apa?
Untuk memilih genre, bisa sesuai dengan apa yang kita mau saja, atau sesuai dengan pasar yang saat ini banyak dibutuhkan. Contoh adalah parenting. Lagi banyak nih kebutuhan tulisan parenting.

3. Mulailah menulis.
Menulis apa? Apa saja yang ingin anda tulis. Tapi, tulislah yang benar-benar dari hati. Walaupun genrenya adalah non fiksi, bisa saja ditulis dengan hati dan kesungguhan.

4. Bacalah buku yang berkaitan dengan genre yang kamu tulis.
Sebanyak mungkin. Dari mulai penulis yang terkenal, sampai tidak terkenal, yang penting sesuai genre dulu

5. Baca juga genre lainnya.
Tidak perlu sebanyak yang poin 4. Tapi supaya kamu tau beda penyampaian, gaya bahasa, dan sebagainya dari beda genre itu.

6. Catat ide.
Ini penting banget. Karena seringkali ide terbang begitu saja. Atau kita stuck karena tidak tahu lagi ingin menulis apa. Kalau ada catatannya, kan enak, tinggal mengembangkan tulisan.

7. Menulis kembali.
Poin 3 sampai 7 ini diulang terus menerus. Read more, write more. Bahkan ada juga yang melakukan poin 8 berulang kali, sebelum naskah/tulisan selesai.

8. Revisi.
Nah pada bagian revisi ini, baca ulang yang sudah ditulis, lalu revisi menurut kita. Menghindari kata berulang, mengganti kata berulang dengan yang sepadan, dan sebagainya. Lalu minta juga revisi dari orang lain yang bersedia. Sesuai dengan genre tadi. Ini seperti ‘bertanya pada yang ahli’, siapa tau ada sesuatu yang salah dari yang kita tulis, atau sumber yang kita dapat.

9. Temukanlah tips trik menulis sesuai genre yang kita tulis.
Misalnya: membuat judul yang mengena, membuat kesan awal dan akhir yang briliant. Gak semua tulisan juga harus seperti itu. Tergantung tadi, genre tulisan yang kita pilih.

Kira-kira begitu yang saya tangkap dari berbagai sumber. Emang teorinya kelihatan mudah ya. Kalau untuk saya pribadi, memang harus didahului dengan niat yang kuat dulu. Hehe.

Semoga bermanfaat bagi yang ingin menjadi penulis. 🙂