Jadi bukan pekerjaan cewe saja, kau harus percaya diri dan rasa cinta. Ini juga kan salah satu prinsip membesarkan anak. -Togar Pembajak kepada Arka-

Di atas adalah salah satu percakapan yang menjadi pesan penting untuk para ayah dalam mendidik anak. Yuhuu, mesti banyak yang tersentil dengan hal ini, dan salut buat para ayah yang selalu terlibat dalam pengasuhan. Film keluarga yang berbalut komedi ini dirilis 21 April 2016 dengan pemeran utama Vino G. Bastian sebagai Arka (Didi) dan Karina Nadila sebagai Wina (Muti).

Film karya Hadrah Daeng Ratu dan Adis Kayi Yurahmah ini bisa ditonton untuk seluruh anggota keluarga. Tentu karena tidak mengandung kekerasan dan adegan orang dewasa. Anak saya juga sampai bilang, ‘Didinya hebat ya bu!’. Walaupun mendapat rating 7.4 di IMDB, film Super Didi cukup mendidik, mengingatkan orang tua akan tugasnya (tentu saja mengingatkan saya pribadi terutama), dan menghibur, dibandingkan film horror, maupun film remaja yang tidak berkualitas.

Poster film Super Didi. sumber foto dari sini

Sinopsis

Film ini berkisah tentang sebuah keluarga yang terdiri dari Didi Arka (Didi panggilan sayang untuk ayah), Muti Wina (Muti panggilan sayang untuk ibu), serta Anjani dan Velia (kedua anak perempuan Arka dan Wina). Suatu waktu, sahabat baik Wina, Meisya, yang tinggal di Hongkong, meminta Wina untuk membantunya menyelesaikan masalah rumah tangganya yang sedang penuh konflik.

Pada awalnya Arka, tidak mengijinkan Wina untuk pergi. Namun, karena Meisya memohon kepada Arka, ditambah lagi Meisya adalah sahabat kecil Wina, yang juga adalah mak comblang mereka berdua, akhirnya Arka mengijinkan Wina pergi ke Hongkong untuk membantu sahabatnya itu.

Sebelum pergi, Wina memberikan buku agenda jadwal anak-anak setiap harinya. Arka mengira mengurus anak-anak tidak terlalu sulit, karena biasanya semua keperluan anaknya diurus Wina yang dibantu mbak Ami. Mbak Ami sang pembantu, ternyata hanya ditugasi mengurus keperluan rumah, sedangkan mengurus anak-anaknya adalah tugas orang tuanya, yang mana saat itu hanya ada Arka.

Arka menerima tawaran menjadi project leader dengan proyek fantastis

Arka adalah seorang arsitek sebuah konsultan yang baru saja menjadi project leader sebuah proyek bernilai 10 triliun. Dia sangat bersemangat menerima proyek tersebut, namun seketika kaget karena ternyata tenggat pengerjaan konsep proyeknya adalah 2 minggu saja.

Kebingungan Arka menghadapi hari-harinya, tidak membuatnya marah kepada anak-anaknya. Pernah satu kali dia membentak Velia karena Velia naik ke kursi yang dinilai Arka membahayakan. Lalu Arka membentak Velia untuk turun dari kursi tersebut, karena dia sedang menemani Anjani berlatih untuk pentas kabaret 2 minggu lagi.

Film ini juga kocak dengan kehadiran Opa dan Mayang dari Anjani dan Velia, yang diperankan oleh Mathias Muchus dan Ira Maya Sopha. Sebagai kakek dan nenek, mereka seringkali tidak mau dititipi untuk mengurus kedua cucunya karena sibuk berpacaran. Pernah Arka meminta Opa dan Mayang untuk menemani anak-anak tapi Mayang menjawab, ‘Apah? Jaga cucu? No, no, no, we are very very busy, sibuk!‘ disambung sang Opa menjawab, ‘ Cucu-cucu main sama daddynya doong. Kalau kita berdua itu urusannya apa? Tangooo!!

Opa dan mayang, menolak menjaga cucunya karena sibuk
Kegiatan favorit Opa dan Mayang yaitu menari Tango

Arka bertemu dengan PEMBAJAK alias Perhimpunan Bapak-bapak Jaga Anak di tempat anak-anaknya les balet. Mereka saling bercerita profesi masing-masing dan istrinya. Para Pembajak ini akhirnya menjadi teman mengobrol Arka tentang bagaimana menghadapi anak-anak.

Hal lainnya yang harus dihadapi Arka adalah hadir di arisan geng yoga yang Wina ikuti, karena Wina adalah bandarnya. Lucunya, Arka hadir di arisan tersebut dengan wig rambut panjang, berkacamata coklat, dan semua serba retro sebagai dress code acara arisan saat itu.

Akhirnya sampailah di puncak kebingungan Arka dimana waktu presentasi proyek bersamaan dengan penampilan kabaret anak-anaknya. Ditambah lagi, kepulangan Wina tertunda karena masalah Meisya belum menemui titik terang. Dia sempat ingin mengundurkan diri dari project leader karena merasa tidak mampu memegang proyek yang besar disaat dia harus mengurus anak-anaknya.

Tentu saja film ini berakhir bahagia. Arka berhasil melakukan presentasi dan menonton anak-anaknya pentas kabaret pada waktu yang hampir bersamaan, walaupun terlambat dan tanpa kehadiran Wina. Wina yang masih berada di Hongkong, batal pulang ke Indonesia karena pingsan menjelang jadwal keberangkatannya. Sehingga dia menonton pentas anak-anaknya melalui video call dengan Arka.

Review Film

Dari segi ide cerita, menurut saya film ini bagus dan cocok dijadikan tontonan keluarga. Tapi memang ada beberapa hal yang menurut saya kurang mengena yang mungkin membuat film ini menjadi kurang nendang ya.

Konsep Cerita

Konsep besar dari cerita Super Didi ini sebenarnya sangat menarik. Namun, saya pikir ada beberapa hal yang kurang tepat yang menjadikan peran Arka kurang super. Arka, sebagai seorang suami, semestinya memegang kendali di keluarga. Dalam film, nampak seperti Arka adalah suami takut istri, walaupun tidak terlalu eskplisit. Hal itu terlihat dari ancaman yang dilakukan Wina saat berbicara kepada Arka.

Wina: ‘Kamu gak mau ngebahas soal anak-anak lagi? Ok, aku pulang aja ke Indonesia!

Arka: ‘Kamu apa-apaan sih?

Wina: ‘Ok fine, aku gak jadi pulang ke Indonesia tapi aku ga mau liat anak-anakku nangis lagi

Wina berdebat dengan Arka melalui video call

Lalu ketika Arka diminta untuk tetap ikut rombongan ibu-ibu orangtua TK supaya tetap update berita tentang sekolah, menurut saya ini berlebihan. Apalagi dengan karakter ibu-ibu yang suka menggoda. Soal kehadiran Arka saat arisan geng yoga apalagi ditambah harus memakai dress code retro, juga saya pikir sangat tidak menghargai suami.

Jadi mungkin menurut saya yang perlu ditingkatkan dari cerita ini adalah bagaimana sikap istri terhadap suami yang lebih nurut, tidak membentak, serta kendali suami atas rumah tangganya. Memang mungkin ini seperti pasangan yang sudah biasa berbeda pendapat, lalu berbaikan, lalu berbeda pendapat lagi, dan seterusnya. Dan setting-an bahwa Arka harus mengikuti semua kegiatan yang Wina jadwalkan adalah bumbu untuk semakin dramatis dalam menjalani peran sebagai seorang ayah.

Proyek Fantastis vs Menemani Anak-anak

Sepuluh triliun adalah nilai yang fantastis dalam proyek yang didapatkan kantor Arka. Namun, waktu 2 minggu untuk mempresentasikan konsep dari proyek tersebut adalah sebuah hal yang menurut saya kurang tepat. Proyek yang seperti ini yang seringkali bikin kesal karena waktunya sempit tapi banyak permintaannya. Memang itu salah satu resiko menjadi arsitek juga sih.

Apalagi peran Arka sebagai ayah yang ditinggal sementara oleh istrinya ke luar negeri, lalu menghabiskan hari-harinya untuk mengantar jemput anak sekolah, les balet, serta menemani anaknya bermain di rumah. Walaupun sebagai project leader bisa mendelegasikan tugas kepada timnya, tapi tetap saja, dia harus mencurahkan pikirannya lebih banyak untuk proyek yang fantastis di waktu yang tidak banyak.

Namun sekali lagi, itu merupakan bagian dari cerita untuk mendramatisir peran ayah dalam film ini. Dan tidak semua orang juga paham tentang proyek yang ditangani seorang arsitek.

Arka kebingungan ketika kedua anaknya tidak mau melakukan apa-apa dan hanya menginginkan kehadiran Wina

Setting dan Peran

Menurut saya setting dan pengambilan gambar untuk film ini sudah cukup baik. Tapi ada beberapa adegan yang perlu dipertimbangkan frame pengambilan gambarnya. Misalnya pada saat Arka pulang dari dokter setelah mengantar Velia periksa karena alerginya, tiba di ruang keluarga yang framing orangnya pas banget sama kamera. Kalau bahasa awam saya, kurang di zoom out sedikit. Tapi sisanya, pengambilan gambar sudah baik.

Pemilihan peran dalam setiap ceritanya sudah baik dan tepat. Bagaimana produser memilih aktor dan aktris yang pas untuk memainkan setiap karakter dalam film ini. Terutama Anjani dan Velia yang sangat menjiwai peran mereka adalah anak-anak kandung dari sang produser Reymund Levy. Bahkan panggilan Didi dan Muti ini pun dibawa dari panggilan mereka kepada papa mamanya. Tak ayal jika keduanya sangat ahli dalam memerankan karakter.

Petikan Pesan Super Didi

Ada banyak hal yang bisa dibahas dari film ini. Karena film ini tidak berlatar agama apapun, maka saya coba membahas petikan pesan yang umum dan tidak mengarah ke agama tertentu. Mungkin lebih tepatnya saya akan membahas hal yang membuat saya berpikir ulang tentang peran saya sebagai orangtua.

Pertama, film ini mengingatkan bahwa sebagai orangtua, sebisa mungkin tidak berteriak kepada anak, walaupun sifatnya mengingatkan. Mungkin memang kita sering disibukkan hal lain ketika mengasuh anak, tapi ketika memperingatkan anak, menggunakan bahasa yang lembut akan mudah diterima anak dan tidak membuat trauma.

Sejak kapan kita mencegah pake teriak?‘ -Wina kepada Arka-

Kedua, menemani anak adalah hal yang sangat berharga yang harus kita bangun. Bukan mementingkan urusan diri pribadi ataupun dengan alasan pekerjaan ayah atau pekerjaan ibu bahkan pekerjaan rumah tangga untuk mengabaikan anak. Anak perlu bermain dengan orangtuanya.

Apa artinya aku dapet proyek gede, tapi anak-anak gue ga ada yang ngurusin?‘ -Arka kepada Fuad dan Icha-

Ketiga, berdiskusi tentang anak sebaiknya tidak berada di depan anak. Arka berusaha menjauh dari anak-anak agar tidak terdengar perdebatan antara dirinya dengan Wina.

Keempat, walaupun yang melahirkan adalah ibu, tetapi tugas mengurus anak juga tugas ayah. Maka sebaiknya ayah dekat dengan anaknya. Terlihat sekali Arka ingin mengambil hati anak-anaknya dan selalu berusaha menyempatkan bermain dengan mereka, serta meluangkan waktu dalam acara spesial anaknya.

Kelima, mengurus anak-anak adalah tugas orangtuanya. Dalam film ini orangtua diingatkan bahwa mengurus anak-anak bukanlah tugas pembantu, maupun kakek atau nenek. Jadi benar-benar kedua orangtua berusaha untuk mendidik anak-anak dengan sungguh-sungguh oleh tangan-tangan dan hati mereka sendiri dan tidak abai.

Tentu saja pesan utama dari film bergenre komedi keluarga ini adalah Jadilah Super Didi, Ayah yang seru!

Alhamdulillah, dapat lagi pesan-pesan baik dan mendidik dari menonton film Indonesia yang berkualitas seperti Super Didi. Yuk kita dukung film Indonesia yang syarat pendidikan dan pesan kebaikan di dalamnya.


Tulisan ini dibuat sebagai catatan saya pribadi dan untuk memenuhi Tantangan Mamah Gajah Ngeblog dengan tema ‘Film Keluarga’ di bulan Juni 2021.