0

Pentingnya Komunikasi Produktif dengan Anak

#odopfor99days2017 #day4

Bismillahirrahmanirrahim
Komunikasi adalah kebutuhan utama manusia dalam hidup. Dari mulai menghirup udara dunia, sampai dengan hembusan nafas terakhir, komunikasi merupakan hal yang akan terus dilakukan.

Komunikasi banyak macamnya. Bisa komunikasi tubuh, tulisan, ucapan, dan sebagainya. Targetnya pun bisa siapa saja. Bisa jadi salah paham kalau komunikasi tidak dilakukan dengan benar.

Terlebih kepada orang terdekat yaitu pasangan dan anak-anak. Kepada pasangan juga sangat memungkinkan terjadinya kesalahpahaman, akibat komunikasi yang buruk, dan mungkin juga keduanya saling bergantung. Sedangkan dengan anak, perlu komunikasi yang khas, yang sesuai dengan karakternya, dan mungkin sebagi ibu harus punya ilmu psikologi anak, agar komunikasi menjadi produktif.

Tantangan kelas Bunda Sayang IIP di materi pertama ini, mengubah pikiran saya selama ini. Saya yang cepat naik darah kalau anak melakukan sesuatu yang saya tidak suka, tidak setuju, tidak sesuai, dan sebagainya. Kadang itu hanya hal kecil, sehingga membuat saya berpikiran, “Duh, anakku kok ga mau dikasih tau ya”. Rupanya bentuk komunikasi yang belum tepat, menjadi permasalahan saya.

Setelah saya memutuskan untuk bekerja dari rumah (untuk saat ini), saya fokus memikirkan tumbuh kembang anak. Saya ingin sekali anak saya bisa mandiri sejak kecil. Materi kemandirian anak ini memang akan menjadi materi selanjutnya. Tapi saya akan jadikan tema besar saya dalam kelas bunda sayang selama satu tahun ke depan.

Setelah menjalani game level 1 Komunikasi Produktif selama 12 hari. Saya merasakan ada beberapa perubahan baik di diri saya maupun anak. Tapi diri saya yang utama, karena anak akan melihat perubahan itu, dan berharap ikut berubah juga.

Dari 12 hari itu, saya belajar mengelola emosi, menahan marah, menempatkan apa yang penting. Kadang saya masih suka ambil hati kalau anak saya mulai memukul saya. Tapi sekarang saya sadar berarti ada yang salah dengan komunikasi saya, atau pembiasaan anak sehari-hari nya.

Dari 12 hari itu juga, saya belajar menamai emosi anak. Terutama saat kesal, marah, senang dan sedih. Keempatnya saya coba ulang setiap ada suatu kejadian. Anak pun jadi bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya. Kadang dia pun menanyakan perasaan saya. Dududuhh, sesuatuu banget.

Dari 12 hari itu, saya belajar menghindari kata-kata negatif seperti jangan dan tidak. Tapi, ini susah sekali. Karena seringkali dihadapkan pada hal-hal yang tidak pas, jadi reflek saya untuk mengatakan hal itu. Minimal, saya harus bisa menahan untuk tidak langsung bicara, memikirkan apa yang harus saya katakan, baru bicara. Semoga bisa.

Dari 12 hari itu, saya belum mempraktekkan komunikasi produktif kepada suami. Karena saya merasa kami bisa mengungkapkan apa yang kami suka atau tidak dengan sadar. Pernah sih beberapa kali menerapkan komunikasi produktif dengan meminta sesuatu langsung, tanpa kode-kode.

Sedangkan anak butuh banyak belajar dalam memahami emosi pribadinya. Bagaimana harusnya bersikap, dan sebagainya yang menjadi peer buat saya.

Dengan menuliskan game setiap hari atau setiap melewatinya, saya merasa ada sebuah evaluasi yang konsisten, dan juga target otomatis yang terpasang untuk keesokan harinya. Semoga bisa menjadi evaluasi untuk seterusnya.

IMG_20170615_165454

Dalam gamelevel1 ini, saya juga berhasil menyelesaikan 1 buku yang juga menjadi pengaruh dalam mengelola emosi saya. Buku Happy Little Soul milik @retnohening, menjadi santapan saya di saat-saat saya ingin marah. Semoga menjadi amal kebaikannya mba Retno. Cukup ampuh untuk self healing kalau saya lagi marah ke anak. Apalagi setelah saya selesai membaca, saya baru melihat Instagram beliau yanh didominasi oleh bintangnya yaitu Kirana. Usianya yang tidak jauh berbeda dengan Rara, membuat saya berpikir, banyak hutang yang harus saya bayar ke anak. Waktu, belajar, bermain, mengajarkan kebaikan, dan masih banyak lagi. Alhamdulillah.

Setelah ini, saya jadi ingin punya target 1 buku selesai saat materi selesai. Semoga bisa yaa. Aamiiin

Semangat Komunikasi Produktif!!! 🙂

#Gamelevel1
#KelasBunsayIIP
#BundaSayang
#IIP
#Komunikasi produktif
#Aliranrasalevel1

Advertisements
0

Bagaimana Ibu Mengatur Emosi dalam Mengasuh Anak (bagian 1)

header posting.jpg

#dayx #odopfor99days #odopsemester2

Tugas ibu yang demikian banyak tiada tara, menuntut kesabaran yang juga tak berbatas. Ada saja hal-hal yang tidak bisa ibu ‘selesaikan’ dalam mendidik anaknya. Tentu tidak ada yang sempurna. Proses belajar menjadi ibu yang profesional dan sholehah, harus senantiasa dipupuk agar selalu ingat, ingat, dan ingat, serta dapat menerapkannya dalam kehidupan.

Begitu banyak kiblat pengasuhan anak (parenting) saat ini. Tapi kiblat itu janganlah menjadi kiblat utama. Tetaplah cari dan belajar berbagai materi pengasuhan anak dari berbagai sumber, yang sesuai tuntunan Al-Quran dan Sunnah, agar senantiasa berada di jalan yang benar. Karena kita sebagai ibu perlu banyak ilmu untuk jadi tameng dalam menjalani kehidupan yang semakin banyak tantangannya. Eits, para ayah, jangan tinggalkan sang istri berjuang sendiri ya. Ayo kerjasama. Supaya anak-anak kita menjadi sholeh-sholehah, bisa mendoakan kita saat kita sudah tidak di dunia lagi, dan menjadi amal jariah buat kita (tabungan akhirat kita yang sangat mahal harganya).

Berbekal dari keterbatasan saya dalam mengasuh anak, saya mencoba berbagi beberapa tanya jawab dengan beberapa orang yang saya anggap merupakan ibu yang baik secara pribadi, maupun baik dan berhasil dalam mengasuh serta mendidik anaknya.

Tanya jawab Narasumber 1

Saya: Teh, pengen tau dong target pribadi teteh apa aja. Terutama dalam hal ibadah. saya ibadah turun banget sejak nikah

Narasumber 1: Target ibadah? 🙈 Whua…malu saya.. Anaknya usia berapa teh?

S: 19 bulan the. Masih kicil.

N1: Dulu, awal2 punya bayi pertama dan bekerja, saya juga sama. Keteteran dua bulan. Lalu berpikir, ga boleh gini terus. Karena ‘kering’ rasanya. Akhirnya saya putuskan untuk ‘keras’ sama diri sendiri. Saya set target. Saya set konsekuensi klo targetnya missed. Misal: target tilawah 1juz, dilalah hanya tercapai setengah juz. Maka esoknya, target saya jadi 1½ juz. Karena punya hutang yang kemarinnya.

S: Mungkin memang harus dipaksa ya teh, pelan-pelan.

N1: Iya teh. Berproses saja. J

S: Anak teteh yang 3 tahun udah diajarin apa aja teh? Saya bingung kalo mau ngajarin keagamaan ke anak, mulainya darimana ya?

N1: Bingungnya kenapa? 😅 Buat rencana belajarnya teh…

S: Ah iya ya teh, mungkin karna saya ga bikin rencananya jadi saya bingung

N1: Ini program HS anak2 saya saat usianya <6thn:

– Shalat (anak laki-laki belajar ke masjid tepat waktu/anak perempuan di rumah)

– Hafalan: Doa harian, Hadits, Qur’an

– Olahraga: tiap hari jalan2 keliling/senam sama bunda di rumah/berenang

Home chores activity (sapu-sapu, bersih-bersih kamar, bersih-bersih halaman, cuci piring, dll)

Fine motors: main pasir, dough, amplas huruf dll

Pre reading activity: baca buku, main logico, bercerita (circle time)

Pre math activity: main lego, main puzzle, main sains, geometri, main biji lengkeng, dll

– Jalan-jalan/field trip:  2minggu/1x

Art & craft

Materi utama:

  1. Aqidah (rukun islam-rukun iman-kalimat thayyibah
  2. Akhlak (belajar adab, sosial emosional, dll)
  3. Fiqh (belajar ibadah mahdhah)
  4. Tarikh (belajar kisah nabi)

Usia 19 bln, mulai dgn kalimat tauhiid. Perdengarkan yang sering. Kalo bisa, sehari-hari stel murattal.

S: Soal disiplin anak. Mulainya dari umur berapa ya? Misalnya waktunya bangun dan waktunya tidur. Sekarang ini anak saya kalau diajak tidur pengennya main. Harus dilayani aja gitu?

N1: Yang saya tahu, disiplin itu sejak sangat dini diterapkannya teh…nanti boleh melonggar seiring pertumbuhan anak. Asumsinya, anak yang sudah terbiasa disiplin sejak dini, ketika bertumbuh sudah paham arti disiplin dan sudah bisa menerapkannya tanpa harus terus dikontrol ketat. 😊

S: Ooh gitu ya. Menurut teteh atau yang teteh ngerti, sebaiknya disiplin dalam hal apa aja ya di usia masih 2 tahun? Saya pribadi ingin mendisiplinkan tidur malam dan bangun paginya. Tapi kadang itu juga dipengaruhi tidur siangnya kan ya? Apa teteh ada saran?

N1: Usia 2 tahun, disiplin sederhana teh:

– makan saat waktu makan

– tidur saat waktu tidur

– bereskan mainan bila sdh selesai

– simpan baju kotor di tempatnya

– dll

S: Biar tepat, gak apa-apa dipaksa pas awal gitu ya?

N1: Ga usah dipaksa teh, dibiasakan aja. Dibersamai secara rutin.

S: Teteh pernah gak pengen marah sama anak? Pasti pernah ya, gimana cara ngatasi nya ya teh??

N1: Pasti pernah atuh teh…da saya bukan malaikat 😂. Kalau pas marah dan sedang sadar mah, biasanya istighfar dulu, terus tarik nafas panjang-tahan-hembus lewat mulut. Hitungannya  4-3-7. Atau pakai teknik tumbukan tangan utk release emosi negatifnya dulu.

Nanti udah tenang baru ngobrol sama anaknya pake pola pertanyaan.

Tapi sekali lagi, itu pas lagi sadar…hehe, pas lagi ga sadar (semoga Allah lindungi), kadang ada aja yg ga pas 😞. Yg istighfar tapi ga pake hati lah…yg ‘ngomel’ bari ga jelas ngomong apa. Haha, namanya juga manusia 🙈. Mohon aja sama Allah untuk selalu dijaga agar tetep sadar dan berlindung dari syetan saat emosi ga stabil.

S: Trus kalo anak lagi pengen sesuatu, yang menurut kita gak boleh tapi keukeuh sampe nangis-nangis, apa kita biarin dia nangis aja, atau gimana?

N1: Kalau aturannya ‘gak boleh’, apalagi kalau sudah pernah diberitahu sebelumnya. Untuk anak tertentu saya biarin aja nangis sampai berhenti, baru ngobrol dan dijelaskan. Untuk anak yang lain, dipeluk sampai selesai, lalu dijelaskan. Jadi, tergantung tipe anaknya. Selama nunggu dia selesai dengan emosinya, kitanya kudu banyak2 istighfar we 🙈, biar ga kepancing.

Tapi yang pasti, anak-anak saya tidak akan pernah mendapat apapun kalau minta sambil menangis/tantrum.

S: Trus kalo anak harus melakukan sesuatu, tapi dia gak mau, harus kita apain???

N1: Kalau bukan hal yg prinsip, ya dibiarin aja saya mah. Anak kan juga manusia, sama kayak kita.  Ada saatnya semangat, ada saatnya males. Jadi kalau sekedar masalah mandi misalnya, ga mau mandi sore sekali2 ya gak apa-apa.

Yang penting tetap paham bahwa ada aturan baku yang harus ditaati, contohnya bab shalat untuk yang sudah 7 thn. Mereka tetap harus shalat. Karena itu prinsip. Jadi buat saya mah, ada yg ‘wajib’, ada yang ‘sunnah’ teh.

Da kita juga kadang gitu kan ya. Ada saatnya males masak, males mandi 🙈, shalat ga di awal waktu 🙈🙈. Namanya juga manusia 😂😂 #alesan

S: Oia satu lagi, kalo anak perempuan teteh diajak solat dari umur berapa? Dan kalo pas dia lagi gak mau solat, gimana??

N1: Mulai duduk di samping saat kita shalat sih sejak bayi. Dia mulai ikutan shalat sejak 4 tahun. Sekarang 6thn, kadang kalau lagi bener-bener gak semangat shalat (udah diajak 2x masih cuek) biasanya saya biarin aja dulu. Lalu jadi PR buat saya introspeksi diri, berarti shalat blm jadi hal yg menyenangkan buat dia. Mulai deh malam sebelum tidur ngobrol panjang, gali perasaannya, lalu masukkan dikit-dikit apa nikmatnya shalat.

Saya ga saklek sih teh, kecuali nanti dia sudah 7 tahun ya, akan lebih strict. Harus shalat meski kadang ga di awal waktu misalnya. Bertahap sampai di 10 tahun dia siap komitmen untuk selalu shalat di awal waktu.

Dulu waktu kakaknya yg laki-laki begitu sih teh. Karena laki-laki kan pembiasaannya ke masjid, jadi dulu begitu. Yang dipikirkan awalnya adalah gimana supaya dia cinta ke masjid. Sejak 2 tahun ikut ayahnya ke masjid dan terus terbiasa jadinya. Di usia 5 tahun udah ga lepas dari masjid, meski kadang masih harus ditanya ‘mau di masjid atau di rumah?’ kalau dia mulai santai-santai berangkat ke masjidnya 😅.

Tapi beda anak kan beda pendekatan ya hehe. Anak sulung saya dengan anak kedua saya beda jauh kepribadiannya, jadi pola tarik ulurnya juga beda 😁😁.

Semoga Allah karuniai kita kesabaran tak berbatas ya teh…insya Allah hadiahnya surga 😍😍😘😘

Bersambung ke tanya jawab dengan narasumber berikutnya ya.

0

Berbagai resep bumbu dasar, penting buat emak di dapur

Cuma mau copas, buat catatan saya sendiri. Berbagai macam bumbu dasar. 🙂

PASTA BAWANG
(Bumbu Bawang Siap Pakai)

Bahan 1 :
500 g bawang merah di kupas
200 g bawang putih di kupas
1 sdm garam

Bahan 2 :
200 ml air hangat (untuk menghaluskan)
200 minyak goreng (mungkin maksudnya 200 ml ?)
100 ml air (untuk menanakan)

Cara membuat :
– Haluskan bahan 1 dan 200 ml air hangat hingga benar-benar halus.
– Panaskan minyak hingga panas benar.
– Tumis bawang yang di haluskan hingga harum dan matang.
– Tanakan dengan 100 ml air hingga bumbu beraroma baik.
– Dinginkan, masukkan dalam toples bertutup rapat.
– Bumbu dapat di pergunakan untuk berbagai masakan.

1 sendok pasta bawang setara dengan 8 bawang merah dan 3 bawang putih. Ini bisa jadi patokan untuk masak berbagai resep yang menggunakan bawang merah & bawang putih

BUMBU BALI
》Haluskan:
3 buah cabe merah besar buang bijinya
2 buah cabe merah keriting
6 buah bawang merah
5 siung bawang putih
2 buah kemiri sangrai
1 cm jahe
》Saat Menumis:
1 sdm gula merah
1 sdm kecap manis
Garam secukupnya
Gula secukupnya

BUMBU LODEH
》Haluskan:
8 buah bawang merah
6 siung bawang putih
1 cm jahe
1 cm kunyit
1 buah cabe merah besar buang bijinya
》Saat Menumis:
1 cm lengkuas geprek
3 lembar daun salam
2 lembar daun jeruk
Garam, gula secukupnya

BUMBU LAPIS DAGING
》Haluskan:
7 siung bawang putih
5 buah bawang merah
7 buah kemiri sangrai
1 butir telor ayam
3 buah cabe merah besar buang bijinya
1/2 sdt merica
》Saat Menumis:
3 sdm kecap manis
Garam.gula secukupnya

BUMBU KRENGSENGAN
》Haluskan:
7 buah bawang merah
5 buah bawang putih
1/2 sdr merica
2 buah cabe merah besar buang bijinya
1 sdm petis
Garam.gula secukupnya

BUMBU RAWON
》Haluskan:
10 buah bawang merah
6 siung bawang putih
2 buah cabe merah besar
2 sdt kerumbar sangrai
1/2 sdt jinten
2 cm jahe
2 cm kunyit
4 buah kemiri sangrai
5 kluwak remdam dengan sedikit air panas
》Saat Menumis:
2 batang serai geprek
3 cm lengkuas geprek
5 lembar daun jeruk buang tulangnya
Garam.gula secukupnya

BUMBU OPOR
》Haluskan:
8 buah bawang merah
6 siung bawang putih
1 cm jahe
3 buah kemiri sangrai
1 sdm ketumbar sangrai
1/4 sdt jinten sangrai
1/2 sdt merica bubuk
》Saat Menumis:
4 lembar daun jeruk buang tulangnya
2 batang serai geprek
3 lembar daun salam
2 cm lengkuas geprek
Garam.gula secukupnya

BUMBU KARE
》Haluskan:
8 buah bawang merah
6 siung bawang putih
3 cm kunyit
5 buah kemiri sangrai
1 sdt ketumbar sangrai
1/4 sdt jinten sangrai
1/2 sdt merica
2 cm jahe
》Saat Menumis:
3 lembar daun salam
3 cm lengkuas geprek
2 lembar daun jeruk buang tulangnya
2 batang serai geprek
Garam.gula secukupnya

BUMBU SOTO
》Haluskan:
6 buah bawang merah
5 siung bawang putih
5 cm kunyit
1 cm jahe
1 sdt merica
1 sdt ketumbar
3 butir kemiri sangrai (skip jika ingin soto bening)
》Saat Menumis:
3 cm lengkuas geprek
2 batang serai geprek
3 lembar daun jeruk buang tulangnya
Garam.gula secukupnya

(Resep dikalikan sesuai kebutuhan)
》》CARA MEMASAK BUMBU《《
Masak bumbu halus hingga kering pastikan airnya habis baru ditambah minyak goreng tumis hingga harum tidak bau langu.
Tunggu dingin baru kemasi diplastik kalo saya per plastik 3 sendok makan setelah itu masuk frezer ya biar tahan berbulan-bulan
Kalo mau masak tinggal ambil 1 plastik bumbu.

0

Challenge: merchandise PON PEPARNAS 2016

Iseng-iseng pake Bismillah, di sebuah grup WA ada yang nawarin untuk menyediakan merchandise untuk perhelatan olahraga nasional di Jawa Barat ini (penawaran ini kalau gak salah sekitar bulan Mei-Juni 2016). Walau agak maju mundur cantik, akhirnya saya nekat untuk ikutan sebagai supplier. Heheh supplier. Biasanya juga konsumen. Sekali nyemplung, sekalian tenggelam aja deh. Dulu melalui beberapa proses verifikasi kalau produk saya diterima untuk dijual, saya mikir panjang, ini gimana cara produksi yang tepat.

Hari berganti hari, di tengah kesibukan saya di kantor, baru sadar kalau tanggal 10 September itu sudah dekat. Awal bulan, saya langsung coba buat 1 produk, yang kemudian akhirnya saya produksi juga dengan ke sana kemari bulak balik. Ke tempat cetak, ke tempat potong kertas, cari plastik, pesen online, cari tali, dan sebagainya. Saya produksi dan cari ini itu kira-kira dalam waktu seminggu!! wew

Oia merchandise ini katanya sih official. Tapi entah gimana, sepertinya ga jadi official. Ah ya sudahlah. Produk yang saya ajukan adalah mini notes dan bookmark. Dari dulu saya pengen banget bikin notes untuk merchandise yang bertemakan Indonesia. Yaa sebagai souvenir buat para bule. Atau kita mau ngasih cinderamata buat yang ada di luar negeri sana. Awalnya di gelaran PON ini dulu kali yaa.

Semua anggota keluarga, bapak, ibu, kakak, kakak ipar, dan suami, semua ikut ngerjain nih. Dan akhirnya tanggal pengumpulan pun tiba. Jeng jeeeng

Mininote_radsDesign2.jpgBookmark_radsDesign2.jpg

Saya persembahkan untuk acara PON dan PEPARNAS 2016 ini. Dibuatnya juga pake hati ini mah. Gak laku? ya gapapa lah. Buat awalan, buat pelajaran. Paling tidak saya sudah berhasil menchallenge diri saya. Semoga barokah semua usaha ini dan begitupun hasilnya. Aamiiin

0

Kulwap: Raising Readers

Sayang kalau disimpan di bookmark WA, saya share ya..

🍂🍃Resume Kulwapp🍃🍂
Rabu, 5 Oktober 2016
Pk.10.20 – 12.20

“Raising Readers”
by Thasya Sugito
👩🏻 Profil Narasumber:

Thasya Sugito, Ibu dari tiga orang anak. Berlatar belakang pendidikan, ilmu komunikasi, dan psikologi yang kini menjalani keseharian sebagai IRT sekaligus konselor di Smart Talent –sebuah lembaga yang berfokus di bidang pengembangan diri, konsultansi pendidikan, dan juga evaluasi psikologis. Hal ini didasari oleh cintanya pada dunia psikologi pendidikan. Disinilah, ia berkesempatan berbagi ilmu dan bertemu dengan banyak orangtua di Indonesia (di Jawa, Sumatra, Kalimantan). Berbagi dengan mereka adalah hal yang membahagiakan baginya. Dari sini juga, ia semakin meyakini bahwa anak-anak adalah anugerah terbesar yang dimiliki setiap orangtua, dan betapa setiap anak adalah bintang di kehidupannya sendiri.

Founder dan owner Smart Talent Consultant ini, kini juga diamanahi sebagai Ketua Umum Islamic Parenting Community, serta Parenting dan Academic Advisor di Prime Smart Islamic Montessori School.

Cita-citanya adalah menjadi pribadi yang penuh manfaat untuk orang lain, serta dapat berkontribusi positif di dunia pendidikan dan parenting.
🖊Materi:

📕📗📘📙📕📗📘📙
Raising A Reader – Menumbuhkan Minat Baca Anak Sejak Dini
By. Thasya Sugito

Raising A Reader
Membaca adalah kebiasaan orang2 sukses. Bagi seorang muslim, membaca juga adalah perintah pertama yang Allah turunkan. IQRA’. Membaca dalam perintah Allah SWT tersebut bukan hanya membaca kertas-buku…namun juga membaca lingkungan, alam sekitar, perilaku orang lain, dll.
Untuk meyakinkan kita betapa pentingnya menumbuhkan kecintaan membaca sejak dini, mari kita lihat pointers berikut:
‼Mengapa Membaca Itu Penting‼
1. Membaca mengembangkan otak. Otak butuh ‘latihan’. Memahami bahasa tulisan, adalah salah satu cara untuk melatih otak
2. Kita hidup di era ‘banjir informasi’, sehingga bila kita tidak memiliki keterampilan membaca yang baik, akan sulit untuk memilah informasi serta mengedukasi diri
3. Membaca meningkatkan imajinasi
4. Membaca dapat meningkatkan kemampuan fokus dan konsentrasi
5. Membaca membantu diri mengembangkan self image yang baik
6. Membaca meningkatkan kosakata, sehingga dapat membantu juga meningkatkan kemampuan verbal
7. Meningkatkan daya ingat
8. Membaca itu MENCERDASKAN!

Karenanya tentu yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: “HOW TO RAISE A READER?”

Ceritanya, anak pertama saya (12thn), memiliki hobi membaca ensiklopedi, siroh nabawiyah, dll. Buku2 teks setebal 700-900 halaman dapat diselesaikan dalam waktu 2 hari saja. Secara sadar saya sadari bahwa hobi ini tidak serta merta hadir begitu saja. Maka izinkan saya berbagi dengan sahabat2 disini.

Apa saja ikhtiar saya dalam mengasuh anak menjadi pencinta buku:
1⃣ Jadilah TELADAN! MEMBACALAH!
2⃣ Sisihkan waktu setiap hari untuk membacakan buku/membaca bersama anak2 meski hanya 10-15mnt/hari
3⃣ Penuhi lingkungan anak dengan bahan bacaan bergizi dan bervariasi
4⃣ Jadwalkan ‘Family Reading Time’
5⃣ Jadikan membaca sebagai bagian integral aktivitas anak2 (misal: saat berjalan2, saat belanja, saat memasak, dll)
6⃣ Kembangkan kebiasaan ‘cinta perpustakaan’, bawa mereka mengunjungi perpustakaan lokal secara berkala. Ajarkan ‘library skill’ pada mereka
7⃣ Perhatikan perkembangan kemampuan membaca anak (pastikan buku yang dibacanya sesuai dengan perkembangan kemampuan membaca mereka)
8⃣ Pastikan anak tidak memiliki kesulitan/hambatan belajar membaca, bila ada, segera lakukan intervensi dini. Segera bantu ia mengatasi kesulitannya, agar membaca tidak menjadi momok baginya.
9⃣ Minta anak menceritakan bacaannya, dan bersikaplah antusias-positif saat anak menceritakan bacaannya.

Hasan al-Bashri berkata, “Sungguh saya telah berjumpa dengan beberapa orang, mereka lebih bersungguh-sungguh dalam menjaga waktu daripada kesungguhan kalian untuk mendapatkan dinar dan dirham.” (Syarhus Sunnah, juz: 14).
Hammam bin al-Haris berdoa, “Ya Allah, cukupkanlah diriku dengan sedikit tidur dan anugerahkan kepadaku bangun malam dalam ketaatan.” (Sifatus Shafwah, 3:22). Mungkin doa yang dipanjatkan Hammam ini tidak pernah terpikirkan di benak kita, bagaimana seseorang bisa terpikir berdoa kepada Allah agar dicukupi dengan sedikit tidur demi memanfaatkan waktunya untuk beribadah kepada Allah. Kita lebih sering meminta agar tidur kita pulas dan nyenyak dan tidak jarang tertinggal shalat subuh di masjid.
Ibnu Aqil al-Hanbali mengisahkan perjalanannya menuntut ilmu dan fokus terhadap apa yang ia cita-citakan sehingga ia menjadi seorang ulama yang terpandang. Beliau mengatakan, “Tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat saja dari umurku, tatkala lisanku telah membaca dan berdiskusi, mataku lelah membaca, maka aku menggunakan pikiranku dalam keadaan beristirahat dan berbaring. Sehingga aku berdiri dalam keadaan ide-ide yang banyak dalam benakku lalu, aku tuangkan ide tersebut dalam tulisan. Aku dapati kesungguhanku dalam belajar lebih kuat saat aku berusia 80 tahun dibanding waktu aku berumur 20 tahun.” (al-Muntadzim fi Tarikhil Umam, juz: 9).

Buibu…pasti pengen punya putra putri seperti ulama shalih terdahulu dong ya?
Rata-rata mereka menguasai banyak cabang ilmu dan unggul pada bbrp bidang sekaligus.
Kalau bahasa sundanya mah: kabita
Nah sepakat kan kl sumber ilmu itu salah satu nya buku?
Gimana sih bikin anak cinta ilmu, cinta buku?
Mari berbagi ^_^

Konon, M.Hatta sang proklamator mulai mengoleksi buku sejak berusia 17thn, dan pada saat menikah, maharnya adalah 17 peti buku..
Seorang Hasan Al Banna lain lagi.. Putra putrinya diberikan 3 jenis uang saku:
3 qirsy utk harian
10 ma’dain uang pekanan
50 qirsy utk bulanan
Yang paling banyak ini dialokasikan untuk apa?
Yaitu untuk beli buku dan mengisi perpustakaan pribadi anak2nya
Sekali lagi, yang pertama dan paling efektif tentu saja adalah: KETELADANAN.
Dari siapa? Tentu dari kita, orangtuanya.
Kenapa? Karena bila anak terbiasa melihat, akan lebih mudah menumbuhkan ketertarikannya pada bahan bacaan

📕📗📘📙📕📗📘📙
🎯 Tanya Jawab:

1⃣ Ulfah_Banut2
saya ulfah, ibu dari afnan (2y). Mau tanya teh.. 1) maksud menjadi teladan dalan “membaca” ini contoh teknisnya sperti apa ya? Apakah menunjukkan diri saat sedang membaca buku pada anak? 2) saat membaca buku biasanya afnan lebih fokus pada gambarnya, malah tak jarang ia mengomentari di luar konteks cerita & jadi cerita kemana2. bagaimana respon yg tepat menanggapinya? Hatur nuhuuun

1⃣
Teh Ulfah yang baik, menjadi teladan artinya mencontohkan, bukan menyuruh. Artinya, kita sebagai orangtuanya mencontohkan suka membaca, rajin membaca. Teknisnya di rumah saya, di setiap ruangan ada rak buku, dan kami (ortunya) hampir selalu bawa buku kemana2, sehingga kapanpun bisa membaca. Saat mereka sedang main, biasanya saya duduk disitu nemenin mereka sambil baca buku juga (meski gak fokus karena sambil nemenin main juga). Plus, saya punya jam membaca khusus bareng anak2. Alhamdulillah sekarang, semua anak saya ternyata menduplikasi tanpa diminta. Mereka jadi hobi membaca dan membuka buku, sejak mereka bahkan belum bisa membaca.
Afnan baru 2 tahun yaa….fokus pada gambar dan mengomentari itu tanda awal ia mulai tertarik membaca teh. Jadi, lanjutkan saja membaca bersamanya. Ikuti flow-nya Afnan… 😉

2⃣ Afina_Banut2
Teh Thasyaa, ikutan nanya..
1. Gimana ya caranya supaya anak kinestetik mau duduk baca (sebenernya belum tau persis dia memang kinestetik apa bukan karna baru 2,5 tahun, tapi anaknya ga bisa diem kecuali sedang nonton). Ya minimal dengerin pas ibunya baca. Ah sebenernya sih udah lama ga bacain ke anak. Karna lihat anaknya gak bisa diem, jadi sebenernya dia bisa sibuk sendiri. Dan sayah jadi males. Gimana teteh bikin program bacanya?

2. Gimana teh Thasya mencontohkan membaca di depan anak? Apa pas mereka main kita baca, atau pas gimana? Maaf ini teknis pisan pertanyaannya.

3. Oia berarti bacanya jangan dari hape yah? Kalo teteh gimana bisa tetep online tapi bisa tetep baca?
2⃣
Fina….hihi, kalau anak 2,5tahun diem aja ntar fina malah bingung lho 😄. Kalau teteh, sejak anak2 bayi emang suka aja baca di deket mereka, lama2 mereka jadi tertarik juga dengan bukunya. Lalu mulailah kasih mereka buku bantal, terus naik ke board book, dst. Jadi sebetulnya program utamanya bukan gimana supaya mereka membaca, tapi gimana supaya saya bisa membaca meski ditengah kehebohan sebagai Ibu. Dan ternyata efektif, mereka jadi kebawa seneng baca juga. Memang ternyata kuncinya: kitanya gak boleh males fin, haha…😄

Pertanyaan nmr 2 sudah terjawab di pertanyaannya teh Ulfah tadi ya 🙂

Baca buku dan baca hape itu beda bangeet…hehe. kalau bacanya hape, ntar anak tertariknya ya sama hape 🙊.
Jadi tetap harus baca buku, meski ada ilmu yg kita dapatkan via HP juga. Kalau teteh, memang selalu punya target bacaan fin, jadi online ya disaat lain. Sekarang ini memang porsi online’an jadi lebih banyak dari sebelumnya, karena ada amanah2 yang harus dilakukan via online. Tapi target baca buku teteh alhamdulillah tetap tercapai dengan strategi2 tadi (baca sambil nemenin main, baca di kamar mandi, baca di jalan, baca pas antri sesuatu, dan baca pas me-time’an tengah malam) 😘

3⃣ Putri_Bansel
Teh Sya.. agak OOT sedikit, Saya suka baca, terutama fiksi. Dan kemampuan membaca Saya lumayan cepat. Buku setebal Harry Potter bisa Saya habiskan kurang lebih satu hari satu malam. Untuk buku non fiksi bisa memakan waktu lbh lama. Namun, terkadang Saya agak lama menangkap isi buku. Pertanyaannya adakah teknik baca cepat yang bisa dipraktekkan sendiri di rumah? Supaya lebih mudah menangkap/merangkum isi buku.

Hatur nuhun

3⃣
Hai Pu, setiap orang sesuai dengan modalitas/gaya belajarnya pasti punya cara masing2. Identifikasi dulu gaya belajar peoe, lalu gunakan teknik yang pas. Contohnya, teteh ini dominan auditori, maka kalau teteh baca buku yang agak berat, teteh suka bikin mind map2an (lebih tepat disebut coret2an sih) sambil ngomong sendiri (menjelaskan ke diri sendiri). Teknisnya, tth baca satu bab atau satu sub bab, terus coret2 sambil presentasi ringan ke diri sendiri. Untuk tth itu efektif.
Nah, peoe harus temukan dulu modalitas belajar peoe apa, baru cari metode yg paling tepat, ok? 😉


4⃣ Edwina_Banut2
1. Umur berapa seorang anak bisa diketahui terkena disleksia?
2. Anak saya seneng dibacain buku. Skrg sudah mulai mengenal angka dan huruf. Kadang menulisnya suka kebalik2 trs kalau menyebutkan angka suka ada yg kelewat. Kata gurunya itu krn konsep kanan kirinya blm konsisten. Tp kalau bisa dideteksi sedini mungkin, penanganannya jg bisa cepat. Umur 4th 8bln.

4⃣
Teh Edwina, sependek yang saya tahu, seorang anak mulai bisa didiagnosa mengidap dyslexia di usia 7 thn. Namun kita bisa melihat gejalanya pada usia preschooler /4-5thn (saat anak2 pada umumnya sudah pandai berbahasa). Betul, kita bisa bantu sejak dini, karena intervensinya paling efektif bila dilakukan dibawah usia 8thn.
Usia 4.8thn masih wajar kalau belum sempurna pengenalan huruf&angkanya teh. Yang harus lebih diperhatikan di usia ini adakah kemampuan berbahasanya. Karena dari situ biasanya tanda2 awal dyslexia terlihat. Semoga tetap semangat mendampingi anaknya ya teh 😘


5⃣ Niakuri_Banut1
Saya titip pertanyaan yaa kalau anaknya t tasya laki laki atau perempuan yaa? Pertanyaan saya sejak kapan yaa anak laki laki mulai sadar baca? Soalny anak anak saya lebih memilih aktivitas motorik kasar dibanding baca, mau sih baca tapi rasanya masih jauh dibandingkan anak perempuan. Kalau mendengarkan dongeng memang sudah dari sejak bayi dikenalkan buku dan cerita. Tapi mereka lebih memilih didongengin😄.

5⃣ Teh Nia yang keren….anak saya dua laki2 dan satu perempuan teh, hehe.. #info gak penting😄
Sejak kapan anak laki2 sadar baca? Saya belum pernah baca penelitiannya, tapi anak pertama (laki2) saya mulai hobi baca di usia 2thn-bisa baca di usia 4thn. Yang ketiga (laki2), hobi baca mulai usia 3thn, sekarang 4.5thn belum bisa baca tapi sudah sangat suka membaca. Yang perempuan, hobi baca mulai usia 3thn, hingga bisa baca di usia 5thn.

Mungkin, anak2 teh Nia mah karena ibunya jago banget ngedongeng, jadi mereka merasa lebih asyik didongengin ya….beda sama saya yang kemampuan mendongengnya standar..haha..😄😄

6⃣ Lely_banut 1
Teh tasya anak saya suka dibacain buku n suka pura2 baca sampai saya kewalahan nyuruh berhenti…pertanyaannya yang gak rutin baca itu adalah emaknya…waktu sdh habis untuk tugas domestik n tugas usaha snack dirumah. Jadi membaca butuh meluangkan waktu banget disela2. Mohon masukan teteh dalam membagi waktu.

6⃣ Hai teh Lely,
Membagi waktu utk membaca bagi kita sebagai IRT+MomPeneur emang gampang2 susah ya 😁

Saya pribadi, membaca yg betul2 fokus itu memang tengah malam & di kamar mandi teh 🙊. Itu me-time nya saya. Pagi-malam, karena bareng anak2, membacanya sekadarnya. Inti yang saya rasakan, selipkan saja di tengah2 aktivitas membersamai anak. 😘

7⃣ Anisa_banut1
Assalamualaikum teh sya, teh manik hatur nuhun udh diperbolehkan bertanya. To the point yaa 😁 anak saya laki2 usia 2,5thn yg ingin saya tanyakan buku bertema apakah yg cocok untuk dikenalkan pada anak seusia nya? Lalu apakah ada tingkatan pengenalan buku sesuai tahapan usia anak?
Nuhuunn sebelumnya teh sya 😘

7⃣ wa’alaykumussalam teh Anisa…untuk tema, yang paling pas adalah yang sesuai dengan tujuan pengasuhan kita.
Tingkatan pengenalan buku, ada teh:
Buku bantal/soft book – buku bertekstur – board book – dst, meningkat ke buku dewasa.

Untuk konten, mulai dari yang jumlah katanya sedikit dan didominasi gambar, sedikit2 meningkat ke buku yang lebih banyak katanya. 😊

8⃣ Vita _Banut1
👉🏽Teh Sya.. Bagaimana jika menghadapi gaya belajar anak (6 thn) yang cenderung auditory kinestetik, jadi dia lebih suka dibacakan buku2 daripada membaca sendiri. Padahal juga sudah lancar membaca sendiri teh 😁
Nhun.

8⃣
Teh Vita shalihah, qadarullah anak kedua saya auditori kinestetik, dan saya sendiri juga auditori banget.
Saya suka arahkan anak saya untuk bercerita ulang…itu cukup menantang untuk dia. Sehingga, saya bikin sesi presentasi sederhana untuk anak2. Mereka akan membaca, lalu menceritakan apa yang mereka baca. 😘

9⃣ Manik_banut1
Sejak kapan teh Thasya hobi membaca? apa yang menyebabkan teteh sangat suka membaca?

9⃣ Manik… 😁
Saya gak begitu ingat sejak kapan saya hobi membaca, tapi yang saya ingat…orang tua saya dulu suka ngajak saya beli buku bekas di cikapundung dan kadang2 di gramedia. Selain itu, dulu tempat usaha papa-mama saya tepat di samping gramedia merdeka, nah…setiap hari, saya suka ‘dititipkan’ di gramedia 🙈. Saya hanya pulang ke kantor papa saat jam makan, sisanya…saya keliling gramedia: membaca. Dulu buku2 disana gak diplastikin, jadi, saya bisa bebas ambil beberapa buku, lalu duduk di ruangan kasirnya untuk baca 😊. Begitu awalnya nik.. 😁

1⃣0⃣ Nirmala_Bansel
Td d jawaban pertanyaan no.4 ad kalimat bisa terlihat tanda awal dialeksia dr kemampuan berbahasanya? Apa aja tandanya?

1⃣0⃣ Nisa…tanda awal ini beragam, diantaranya:
– sering kebalik2 saat mengucapkan sebuah kata, misal: kaki jadi kika, Minum jadi munim, dst
– suka salah menyebut nama benda, misal: kita minta tolong ambilkan garpu, dia ambilkan sendok
– susah mengikuti perintah, contohnya: kita minta dia ambil jaket dan sepatu, tapi yang dia lakukan hanya ambil sepatu saja.

Ada banyak lagi…tapi, itu diantaranya nis 😊

1⃣1⃣Mira_banut1
1. Kedua anakku seneng baca. Tapi pada satu waktu buku2 itu d jadiin maenan rumah2n atau kereta2n. Gmn teh cara kasih tau nya? Usia yg pertama 4,5 th dan yg kedua 2,5 th.
2. Benarkah sakit step (kejang) dapat mempengaruhi kecerdasan seseorang? Kelas 6, ada yang belum mampu baca. Abjad hafal sampai huruf e. Setelah huruf e,, hanya tebak2n saja smpai z. Semua pelajaran yg sifatny kognitif itu low
1⃣1⃣ teh Mira..
1. Untuk anak usia 2.5 thn biasanya masih saya kasih board book, sehingga cukup aman dipakai bermain. Tapi tetap sambil di-sounding ‘bagaimana memperlakukan barang sesuai fungsinya’. 😉
2. Hmm, sependek yang saya tpelajari tentang kejang demam (kd) sederhana, KD itu ga menimbulkan komplikasi thdp ssp (susunan syaraf pusat). Memang tampak menakutkan, tapi sebetulnya tidak berbahaya. Jadi, setahu saya, tidak sampai mempengaruhi kecerdasan teh, cmiiw 😊

1⃣2⃣Edwina_Banut2
Teh ai pertanyaan lanjutan boleh?
Untuk bicara anak saya sudah lancar tp kadang kebalik2 misalnya dompet jd dempot, rapih jadi rapet, sulap jadi sit up 😅. Jd kadang penggunaan kosakatanya ga sesuai konteks. Wajar ga teh yg seperti itu di usia 4,8 thn?

1⃣2⃣ teh edwina…itu yang tadi saya bilang di jawaban utk pertanyaannya nirmala nisa. Tapi, sekali lagi…itu baru ‘kemungkinan’ gejala dyslexia, belum bisa dibilang terdiagnosa dyslexia 😊. Jadi… semangat saja mengarahkan dan menstimulusnya ya 😘

🌾🌾🌾 Sekian 🌾🌾🌾

3

Tentang: Sabtu Bersama Bapak (Film)

Bismillahirrahmaanirrahiim

Naah, akhirnya, nonton juga si novel karya Adhitya Mulya ini. Siang tadi saya nonton bersama suami. Memang sudah kami rencanakan jauh hari untuk menonton film ini begitu tau kalau dibuat filmnya karena kita sama-sama baca novelnya. Sebelum filmnya rilis, sempat ada lomba menulis dengan tema ‘Sabtu Bersama Bapak’ ini. Tapi sayang, waktunya kurang pas buat saya, karena lagi banyak kerjaan. Jadi ya sudahlah.

Disutradarai oleh Monty Tiwa, film ini mendapat penilaian dari IMDB, ratenya 8.3 (per tanggal 9 Juli 2016 jam 23.12). Kalau dari saya?? Sebenarnya saya belum pernah ngasih penilaian terhadap film. Tapi saya coba ulas dari sisi yang saya ngerti aja ya. Oia, ini mah sekedar penilaian dari saya. Dari orang lain bisa berbeda lagi.

513940_620

Sumber gambar: m.tempo.co

Penilaian

Dengan dibuatnya film ini, merupakan sebuah prestasi yang bagus. Sebuah novel dengan berbagai nilai kebaikan di dalamnya. Tapi ya seperti film-film lainnya, yang mengangkat cerita dari novel, selalu tidak sebagus di bukunya. Tapi setidaknya cukup tergambarkan untuk satu buku Sabtu Bersama Bapak ini.

Pemilihan pemeran untuk novel ini, menurut saya banyak kurang pasnya. Pemeran utama cukup oke, tapi pemeran pendukungnya kurang greget. Padahal pemeran pendukung ini juga bikin suasana tambah menarik sebenarnya. Misalnya karakter Miku dan Ryan anaknya Satya dan Risa. Agak kurang menguasai panggung dramanya, meskipun secara lisan mereka hafal dan dapat mengucapkan percakapan dengan baik. Karakter keduanya juga kurang ‘mirip’? mungkin bisa dicari yang agak-agak mirip sama perawakan bapak ibunya gitu.

Alur ceritanya, cukup oke, meskipun terkesan dikejar waktu untuk sekali tayang. Mungkin kalau dibuat 2 episode atau 3 jam (haha mana mau atuh produsernya), bisa lebih dramatis sedikit lagilah. Momen-momennya kurang menggigit. Walaupun sih sebenarnya saya berurai air mata berkali-kali sepanjang film. hehe. Ada beberapa cerita yang tidak sejalan dan baru muncul di film yaitu momen anaknya Satya dan Risa diculik. Mungkin tujuannya biar bisa memuncakkan emosi Satya ke Risa.

Untuk nilai-nilai yang diangkat, ini juga kurang ditekankan. Kayanya cerita Laskar Pelangi, nilai-nilainya lebih terasa saat adegan-adegannya walaupun tidak diungkapkan. Nilai-nilai parenting sebenarnya bisa masuk di film ini lebih banyak, supaya bisa memberikan pesan lebih banyak lagi buat penonton. Kurang cocok menonton dengan anak di bawah umur dan yang belum menikah, soalnya ada kiss-kiss nyah. ya walaupun di dalam cerita, itu adegan suami kepada istri, tapi teuteup weh menurut saya mah kurang pas. Padahal gak mesti ada gitunya juga bisa keren kok.

Sesuai novelnya, jalan cerita yang lebih membuat saya tertarik adalah adegan Cakra. Okelah untuk pemeran Cakra dan jalan ceritanya.

Keseluruhan penilaian, saya pikir so far so good, untuk mengisi waktu liburan, mengisi ingatan bahwa dalam hidup gak selalu berjalan mulus. Gak semua sesuai rencana. Manusia yang berencana Allah yang menentukan, jadi ya gimana Allah aja kan. Untuk film ini saya nilai bagus. Sekian review dari saya.

Bagi yang mau baca review novel yang saya buat, dimana saya ceritakan beberapa percakapan pentingnya, ada di tautan postingan Tentang: Sabtu Bersama Bapak (Novel).

0

Lupa Resepnya?

Bismillahirrahmanirrahim
Dalam minggu ini, saya dua kali silaturahim ke dokter. Pertama nganter anak ke dokter gigi. Yang kedua, saya ke SpKK.

Di suatu sholat, saya sambil terus memikirkan apa saja yang dokter katakan dan resepkan. *Tah teu khusyuk!*. Sikat gigi harus rajin disikat, rajin minum air putih, dan sebagainya, dan lalu dilihat perkembangannya tiga bulan kemudian. Krim-krim yang dikasih harus rutin supaya hasilnya maksimal, dan seterusnya.

Tapi saya jadi berpikir lagi. Hellow, selama ini kita udah dikasih resep gimana caranya masuk surga! Tapi kita teh suka gak taat. Kita udah dikasih resep bagaimana cara dicintai Allah, gimana cara menjadi orang bertaqwa, gimana cara mendapatkan dunia sekaligus akhirat. Tapi kita lupa. Kita gak telaten, gak memikirkan dengan seksama, gak memikirkan akibatnya kalau kita gak patuh.

Kadang dikasih resep atau nasehat dari dokter juga kita perhatikan baik-baik, sebisa mungkin gak dilanggar. Itu juga yang sudah Allah kasih dalam Al-Quran dan Sunnah. Kita terlalu sibuk dengan diri sendiri yang sifatnya duniawi. Memang wajar, tapi jadi tidak wajar ketika kita jadi lupa ibadah. Dari mana kita muncul? Ujug-ujug gitu? Mungkin las dengan kata kurang ajar karena tidak tahu berterima kasih kepada Allah.

Sekian perenungan diri. Semoga bisa lebih baik ke depan. Semangat menyambut Ramadhan.