0

Menjawab Kekhawatiran

Sudah masuk bulan Juni 2017. Berarti sudah hampir 4 tahun usia pernikahan saya dengan sang kekasih. Ditambah dengan anggota keluarga baru, Raida (3y 2m), sebagai penyemangat kami berdua.

Sebagai mahmud alias mamah muda, saya dilanda kekhawatiran atas manusia kecil yang Allah amanahkan kepada kami. Dunia yang kejam, pergaulan bebas, kriminalitas, kebodohan, kemiskinan, remaja-remaja galau, dan kondisi-kondisi lainnya yang membuat kepala pening kalau dipikirkan. 

Maka sejak ananda menangis pertama kalinya, saya terus cari ilmu, sebagai bekal saya menemani, mendidik, membimbingnya. Sesekali terlintas juga kalau misal salah satu atau kami berdua dipanggil lebih dulu ke hadapan Yang Maha Kasih, bagaimana anak saya nanti hidup. *Cirambaay*

Berbagai ilmu parenting yang saya dapat sedikit demi sedikit, membuat saya berpikir bahwa hidup di dunia hanya sebentar. Apalagi sebagai ibu, tidak ada kewajiban untuk mencari nafkah. Walaupun ada tuntutan diri untuk berbakti kepada orangtua, menjadi pertimbangan yang cukup pelik. Dunia cuma sebentar untuk mencari sebongkah berlian. Apa artinya kalau anak terbengkalai. 

Ketika menjelang 3 tahun usianya bulan Maret yang lalu, saya memutuskan untuk menjadi freelancer. Ya seperti yang saya harapkan sebelumnya. Ini adalah hasil dari ilmu-ilmu yang saya dapat dari parenting. Anak yang lucu dan menggemaskan, dan berusia emas ini cuma sebentar. Maka saya ingin menemaninya sampai ia melewatinya. Selepas itu, saya berharap bisa kembali beraktifitas (bekerja) untuk dapat mengabdikan diri atas ilmu yang dimiliki. 

Hampir segala buku parenting saya beli. Walaupun belum semua saya khatamkan. Seringkali setiap hampir selesai, malah pindah ke buku lainnya lagi. Ikut grup berbagai macam demi mendapatkan berbagai ilmu yang harus jadi bekal buat saya pribadi. Segala kulwap parenting saya masuki, demi pencerahan. Menjapri beberapa ibu-ibu hebat, demi mendapatkan semangatnya dalam mengarungi kehidupan berumahtangga, terutama mendidik anak. Selalu merasa kurang ilmu, bagaimana, bagaimana, dan bagaimana. Semoga bekalnya cukup dan bisa dipraktekkan, bisa ditularkan, bisa menjadi manfaat, dan berkah.

Syaqiq Al Balkhi berkata,

الدخول في العمل بالعلم والثبات فيه بالصبر والتسليم إليه بالإخلاص فمن لم يدخل فيه بعلم فهو جاهل

“Masuk dalam amalan hendaklah diawali dengan ilmu. Lalu terus mengamalkan ilmu tersebut dengan bersabar. Kemudian pasrah dalam berilmu dengan ikhlas. Siapa yang tidak memasuki amal dengan ilmu, maka ia jahil (bodoh).” (Hilyatul Auliya’, 8: 69).

Sumber: https://muslim.or.id/18866-ilmu-dipelajari-untuk-diamalkan.html

Jadi kesimpulan sementara adalah, terus cari ilmu, terus amalkan, terus bersabar, terus belajar IKHLAS.

Bismillahirrahmanirrahim

#odopfor99days2017 #day3 

0

Materi #1 Matrikulasi IIP Batch 3: Adab Menuntut Ilmu

Bismillahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillah wa syukurilah, akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk ikut dalam kelas Matrikulasi yang diadakan oleh Institut Ibu Profesional dengan penggagasnya ibu Septi Peni Wulandari. Sebagai seorang ibu, kita sangat perlu terus belajar demi ‘kewarasan’ dalam menjalani rumah tangga. Kalau terlalu terpaku dengan tugas kenegaraan (baca: pekerjaan rumah tangga yang bejibun gak ada selesainya, apalagi yang tidak punya ART ya), atau mungkin juga ada pekerjaan kantor, dan tugas yang diemban lainnya, kita mungkin bisa melambai-lambai cari kamera di pojokan alias menyerah saja.

Bersyukur bisa dikumpulkan dengan ibu-ibu hebat luar biasa yang punya komitmen untuk belajar menjadi ibu profesional. Di kota Bandung aja ada 300 orang yang punya kesungguhan untuk ikut kelas ini. Luar Biasa. Sekarang ini sudah angkatan ke-3 programnya. Berdasarkan informasi yang saya dengar, dalam setahun bisa 3-4 kali diadakannya program Matrikulasi ini.

Apa sih Program Matrikulasi Ibu Profesional ini?

Adalah program kuliah para ibu dan calon ibu yang ingin maupun yang sudah lama bergabung di komunitas ibu profesional, agar memiliki kesamaan kompetensi ilmu-ilmu dasar menjadi seorang ‘Ibu Profesional’, serta memahami kultur komunitas.

Siapa aja yang boleh ikut?

Semua ibu atau calon ibu boleh ikut.

Bagaimana proses jalannya perkuliahan?

Program Matrikulasi ini akan berjalan selama 9 kali (dalam 9 pekan) kuliah online via Whatsapp Messenger. Materi akan diposting pada Senin pagi, dan akan banyak diskusi antar peserta maupun tanya jawab dengan fasilitator. Setiap Selasa pagi, akan diberikan ‘Nice Homework’ yang harus dikerjakan peserta dengan batas waktu yang telah ditentukan. Peserta yang lulus, dapat mengikuti tahapan belajar Ibu Profesional selanjutnya.

Saya share di sini materi yang disampaikan di hari pertama kelas Matrikulasi Batch 3

 

KELAS MATRIKULASI BATCH 3

INSTITUT IBU PROFESIONAL – Bandung 1

 

Resume Materi Sesi #1

 

ADAB MENUNTUT ILMU

Senin, 23 Januari 2016

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan

Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

 

☘ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk. Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

 

☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Menuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

 

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.

d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.

e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.

Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

 

Referensi :

Turnomo Raharjo, Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah, 2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

 

Video Pembukaan Matrikulasi Institut Ibu Profesional

https://www.youtube.com/watch?v=bgqJdS6s_fY

Silahkan dibaca diresapi beri waktu diri kita mencerna 😉

 

Resume Tanya Jawab Sesi #1

 

*Pertanyaan 1.* 

Yg sya mau tanyakan, skrg banyak sekali info2 yg tersebar di online.. gmn ya caranya kita menyaringnya? Terkadang info itu bersifat wajar, masuk akal.. tp kita blm tau kebenarannya.. bgmn sikap kita terhadap info tsb?

*Jawab:*

Kalau saya prinsipnya, jangan percaya langsung sama broadcast. Jangan diterima langsung. Karena broadcast message itu tidak jelas sumbernya. lalu kalau info online dari web, lihat sumbernya apakah bisa dipercaya. Jangan terima mentah berita hanya dari satu sumber, kroscek dengan berita dari sumber lain

*Pertanyaan 2.* 

Selain itu, apakah kita blh menyebarkan materi kuliah Ibu Profesional ke teman sesama ibu baru dgn sumbernya kami tuliskan dari Komunitas Ibu Profesional?  Apakah ada peraturannya? Krn nanti materinya akan tersebar..

*Jawab:*

_Berbekal jawaban Ibu Septi pada matrikulasi batch #2_

Program matrikulasi ini program berkelanjutan dg sistem pendampingan. Materi matrikulasi boleh di tulis secara runtut di blog/web pribadi kita masing-masing kemudian di share ke publik. Yang tidak boleh adalah langsung share materi ke salah satu/beberapa grup WA tanpa pendampingan fasilitator.

Karena ini program berkelanjutan, tidak boleh diterima sepotong-potong dengan sistem broadcasting ke sosmed messager (seperti WA, line, telegram dll). Kalau di wall fb, blog, web masih bisa ditelusuri satu persatu. Karena program matrikulasi ini kita lakukan serentak se nasional per 3 bln sekali baik offline maupun online.

*Pertanyaan 3.* 

Mau tanya,  kan lebih baik kalo g pake buku plagiat dan sejenisnya,  tapi bagaimana kalo buat buku kuliah?  Kalo beli aslinya bisa sejuta,  bagaimana kalo kita g ada uang?

*Jawab:*

_teh susi ini jawaban dari aspirasi teman teman fasil mba sukeng, farda_

Ini berhubungan dengan keberkahan ilmu. Makanya Kita sering mengalami begitu mudah lupa dengan ilmu yang kita pelajari. Kecuali sudah meminta ijin penulis dan penerbit. Bisa menghubungi penerbit atau penulisnya.

Jika memang buku tidak tersedia maka kita harus minta ijin untuk meng-copy materinya. Tambah lagi dengan Jika memang ada keterbatasan dana,kita bisa akali dengan pinjam ke perpustakaan atau patungan bbrp teman untuk membeli yang asli.

Yang sering kejadian adalah sistem operasi, program, musik, dan film yang ada di HP dan komputer yang seringnya adalah bajakan.

Ilmu di peroleh untuk sehingga meninggikan derajat kemuliyaan, maka sudah sepatutnya, diperoleh pula dengan cara yang beradab dan mulia.

Mulai sekarang belajar mengurangi plagiatisme, mengkopi, membeli bajakan benda2 sumber ilmu.

*Pertanyaan 4.*

Meskipun ini judulnya ibu profesional.. bisakah saya ingin membagi ilmu dgn suami?? izin share materi ke suami.. krna sy yakin rumah tangga harus sepemahaman jg dgn suami.. kebetulan saya ldr dgn suami jd jarang berkomunikasi langsung.

*Jawab:*

Menurut saya sih malah wajib teh sharing ke pasangan. Karena biar sejalan dengan pasangan dan pasangan tau kita lagi belajar apa. Asal dengan prinsip jawaban pertanyaan nomor 2.

*Pertanyaan 5.*

Kita tau bahwasanya psikolog anak memiliki ilmu yg lbh dalam perihal anak atau bahkan hal yg kita bahas ‘portofolio anak’. Apakah disarankan seorang anak seumur hidup minimal sekali dtg ke psikolog anak?

*Jawab:*

Kalau menurut saya, perlu teh ziyana. Prinsip saya bertanya kepada ahlinya, karena kita minim ilmu. Tapi kuatkan hasil dari psikolog dengan feeling orangtua. Sebenarnya orangtua adalah orang pertama yang memahami anak.

_ini tambahan jawaban pendukung dari seorang psikolog anak, mba hasya_

Sebetulnya ke psikolog itu tdk harus selalu kalau anak “kenapa2”. Sama seperti konsep “check-up” kalau ke dokter, ke psikolog pun bisa juga check up untuk tau gambaran profil anak..

Yang bisa didapatkan kalau melakukan pemeriksaan ke psikolog:

– gambaran potensi kecerdasan anak

– kemampuan berpikir anak

– cara anak belajar

– kemampuan motorik, baik kasar maupun halus

– kemampuan komunikasi/bahasa

– kemampuan ekspresi & mengelola emosi

– kemampuan bersosialisasi

Dari semua poin ini, bisa dilihat aspek2 mana saja yg menonjol pada anak maupun mana yang membutuhkan stimulasi lebih lanjut

*Pertanyaan 6.*

Apakah seseorang yang telah mengaplikasi adab menuntut ilmu dengan baik, pasti akan sejalan dengan keberhasilan  hasil belajar (prestasi)nya?

*Jawab:*

InsyaAllah teh, dengan prinsip menuntut ilmu karena ibadah. lalu jangan terpatok dengan prestasi. Dan ingat Allah menilai proses, kalau ternyata hasilnya ada sebuah prestasi, itu berarti bonus dari Allah.

*Pertanyaan 7.* 

Pada bahasan: adab menuntut ilmu pada diri sendiri, bagaimanakah cara menghilangkan pikiran ‘saya sudah tahu’ ketika menerima sebuah ilmu? Adakah triknya?

*Jawab:*

Kosongkan gelas teh, siap menerima tambahan ilmu & memperbaiki diri. Saya ada analogi begini.

Kita kan udah biasa dong masak nasi goreng. Lalu dapat undangan belajar masak nasi goreng bersama chef hotel. Pada saat belajar sama chef, kita mengkosongkan gelas, menerima ada orang lain yg lebih tau.

*Pertanyaan 8.* 

Bagaimana ya tips bisa membersihkan diri?

*Jawab:*

_berbekal jawaban Ibu Septi pada matrikulasi batch #2_

Tazkiyatun nafs dalam mencari ilmu ada 5 antara lain :

  1. Bersihkan niat, semata-mata untuk meaningkatkan derajat kemuliaan hidup.
  2. Ilmu itu untuk sebuah kemuliaan, maka carilah dg cara-cara yg mulia. Misal tidak menyakiti org yg menjadi sumber ilmunya, tidak membajak karyanya, tidak mengakui tulisannya sbg tulisan kita dll.
  3. Kosongkan kepala dg ilmu yg sdh pernah kita dapatkan dan penuhi dengan rasa ingin tahu. Sehingga kita tidak jadi orang yg sok tahu
  4. Belajar mendengarkan dengan sepenuh hati, ketika ilmu disampaikan.
  5. Hilangkan dendam dan luka lama, sehingga kita tulus dalam menuntut ilmu, krn untuk kerahmatan bagi semesta, bukan krn kepentingan kita

*Pertanyaan 9.* 

Teh,mengenai adab terhdp sumber ilmu point a mhn penjelasan lbh lanjut..

_Pertanyaan serupa:_

  • Saya kurang paham mengenai Adab thdp sumber ilmu poin 1, maksudnya apakah kita jangan menyerap ilmu setengah-setengah / yang belum tuntas dari sebuah buku ketika kita belum menyelesaikan semua bacaannya, atau seperti apa teh? Mohon koreksi dan penjelasannya.
  • Pada poin ADAB TERHADAP SUMBER ILMU disebutkan, tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari. Mohon penjelasan dan contoh konkritnya seperti apa?
  • Teh kalau materi adab tenda sumber ilmu poin a. Tidak meletakkan sembarangan / memberlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari maksudnya gmn yaa?

*Jawab:*

_berbekal jawaban Ibu Septi pada matrikulasi batch #2_

Maksudnya poin a, tidak meletakkan sembarangan sebuah sumber ilmu dalam bentuk buku dg sembarangan adalah sbb :

  1. Buku tidak diletakkan dalam posisi yg mudah terinjak secara langsung.
  2. Buku yg sdg dipelajari dilipat-dilipat halamannya.
  3. Dan banyak lagi perbuatan lain yg selayaknya tidak kita lakukan thd sumber ilmu.

Bagi yg beragama Islam, pernah dapat ilmu kan untuk tdk memperlakukan Al Qur’an dg sembarangan. Nah sejatinya di adab menuntut ilmu, hampir semua sumber ilmu harus diperlakukan dg bijak. Silakan dirasakan kalau kita pernah menulis sebuah buku, kemudian buku tsb diperlakukan seenaknya oleh orang yg membacanya, pasti rasanya sakit.

*Pertanyaan 10.*

Bagaimana cara mengkroscek sumber ilmu yang benar dan beradab? Mengingat ilmu di era digital saat ini banyak sekali dan dari sumber-sumber yang kita tidak tahu kebenarannya. Atau bahkan kita terjebak dengan ilmu yang telah tercampur dengan mitos (misalnya).

Dan mungkin latar belakang penyampai ilmu yang tidak kita ketahui. (Sekarang kan banyak ya orang-orang yang mengaku ‘berilmu’ tapi begitulah…)

*Jawab:*

Hampir sama dengan jawaban no 1 ya

Prinsipnya jangan taklid pada sesuatu, jangan hanya karena ikut ikutan. Begitu pun dengan sumber informasi.

*Pertanyaan 11.* 

Ilmu apa yg pertama kali harus dipelajari oleh seorang ibu?

*Jawab:*

Menurut saya, ilmu manajemen emosi teh. Emosi itu mempengaruhi segala kehidupan.

*Pertanyaan 12.*

Jika menuntut ilmu adalah untuk berubah perilaku ke arah yang lebih baik, kenapa saat ini ada orang yang ‘ngakunya’ sudah sekolah tinggi tapi kenyataannya malah membuat akhlaqnya tidak terpuji?

*Jawab:*

saya pernah, sering diskusi sama suami. kita ini ada _generasi doing & generasi learning_

learning : belajar, berprestasi, memiliki nilai, tetapi tidak mengamalkan.

doing : belajar & mengamalkan.

contoh sederhana lihat di jalan saat lampu merah. Masih banyak ya kita lihat yang tdk mengamalkan ‘kalau lampu merah berhenti’

*Pertanyaan 13.* 

Faktor apakah yang membuat akhlaqnya menjadi seperti itu?

*Jawab:*

banyak faktor mba. niat, iman, lingkungan.

Contoh lampu merah.

niat : ah ga ada mobil koq, terobos ah

iman : ga ada polisi, aman (padahal Allah Maha Melihat)

lingkungan : ikut ikutan, atau mungkin meniru orangtuanya pernah begitu.

*Pertanyaan 14.* 

Seperti yang kita tahu jenis ilmu itu ada banyak. Ada ilmu parenting, ilmu bisnis, dan ilmu lainnya yg berkaitan dengan hobi seorang ibu tertentu misalnya. Nah, bagaimana cara kita mempelajari ilmu2 tersebut dengan baik, apakah bisa fokus mempelajari banyak ilmu berbarengan secara harmonis dan ‘menguasai’nya, atau harus menguasai salah satu dulu baru pindah ke yg lainnya? Terimakasih

*Jawab:*

_berbekal jawaban Ibu Septi pada matrikulasi batch #2_

Tentukan mata kuliah apa yg akan kita ambil di universitas kehidupan ini. Setelah ketemu, FOKUS di bidang tersebut. Maka gunakan prinsip : Menarik tapi TIDAK tertarik untuk godaan ilmu yang lain.

Totalitas dalam mencari ilmu di jurusan ilmu kita. Setiap info yang masuk gunakan sceptical thinking terlebih dahulu. Default jawaban di otak kita selalu “TIDAK PERCAYA” sebelum mendapatkan dari sumber yang valid. Cari sumber validnya. Sehingga ilmu tsb baik dan benar. Setelah itu amalkan.

Setiap selesai mendapatkan sebuah ilmu baru, saya dan pak dodik segera menuliskan, apa perubahan yg harus kita lakukan mulai esok hari berkaitan dg ilmu tsb.

*Pertanyaan 15.*

Gimana sikap kita atau adab dengan guru yg notabene uda profesor, kadang mereka lupa klo mereka pun tdk selalu benar, tp klo kita mengingatkan koq kesannya kita tidak menghargai beliau?

*Jawab:*

_share jawaban fasil rini mardia_

Yang pertama balik lagi ke adab menuntut ilmu, menerima dengan lapang dada, lalu pake skeptical thingking untuk tabayun.

Gunakan adab ketika menegur, karena profesor, mungkin kita bisa bawa beberapa referensi untuk diskusi lanjutan.

*Pertanyaan 16.* 

Bagaimana caranya ttp istiqomah dlm menuntut ilmu tanpa melupakan adab2nya

*Jawab:*

Biasanya ilmu yg sesuai dengan fokus saya, saya catat, dengan harapan saya lebih mudah membaca tulisan saya, setelah itu saya sediakan waktu khusus membacanya. Ketika siap, saya praktekan, evaluasi. Begitu terus mba, jatuh bangun mengulangnya.

Ini ada jawaban tambahan:

_share jawaban ibu Septi_

pertama kali, carilah alasan terkuat mengapa kita harus belajar ilmu tsb. Hal ini sering disebut sbg

start from the finish line

Setelah itu buat milestone nya, shg kita paham perjln menuntut ilmu kita ini sdh sampai dimana.

Memang tidak mudah, tapi kita bisa membuatnya menyenangkan dan penuh semangat

*Pertanyaan 17.* 

Bagaimana cara untuk  ikhlas dan memulainya?apakah ikhlas disini adalah dengan takdir Allah dan kapasitas diri? Hal apa saja yg berkaitan dengan sesuatu yang harus diikhlaskan?

*Jawab:*

Mba, pertanyaannya super sekali, tapi saya tidak memiliki tips atau cara khusus. Ikhlas itu ilmu tingkat tinggi dan mengamalkannya sangat sulit. Menurut saya, ikhlas itu menerima setiap ritme hidup yang ditakdirkan dibarengi dengan ikhtiar. Misal, kita sudah makan minum jaga istirahat ternyata takdirnya kita sakit, ketika kita ikhlas sakit kita jadi penggugur dosa, kita barengi ikhlas kita dengan ikhtiar ke dokter, minum obat, jaga makan, jaga istirahat.

Mungkin terlihat simpel ya, tapi dalam prakteknya butuh perjuangan. Yang pasti memulainya, ikhlas memilih satu saja ilmu yg ingin kita fokus pelajari diantara banyaknya keinginan.

*Pertanyaan 18.* 

Jika berkenan mohon diberikan tips soal menghargai waktu utamanya tepat waktu.

*Jawab:*

_share jawaban ibu Septi_

Urusan manajemen waktu yg harus dibenahi. Bagi waktu kita :

  1. Mendidik anak
  2. Pengembangan diri
  3. Sosial masyarakat/bekerja

Selama 24 jam, gunakan masa transisi antar waktu tsb untuk mengembalikan energi kita.

Misal saat anak2 sdh tidur ke pengembangan diri, bersiap sepenuh hati, dg cara memberdihkan diri, ganti lokasi dan suasana. Masa transisi dari bekerja ke rumah mendidik anak, maka panggil suasana bahagia, percantik diri. Krn saat berangkat kerja kita cantik maka pulang harus lebih cantik. Berangkat kerja kita sabar, pulang harus lebih sabar.

Sejatinya hanya anak dan suami kita yg paling berhak mendapatkan kondisi terbaik kita. Jangan dibalik.

Dengan menerapkan hal tsb yg saya rasakan Allah memberikan bonus energi luar biasa untuk kita. Prinsipnya,

Jangan pernah menuntut apa yg seharusnya kita dapatkan, tapi pikirkanlah apa yg bisa kita berikan.

*Pertanyaan 19.* 

Jika ada suatu majlis ilmu dan dirasa ilmunya sangat penting tapi guru berkeberatan untuk membawa anak apakah lebih baik tidak datang ke majlis ilmu tsb?

*Jawab:*

_share dari Ibu Septi_

ADAB MEMBAWA ANAK KE MAJELIS ILMU

Seorang ibu yang semangat menuntut ilmu tentu saja segala rintangan akan dihadapinya untuk mendapatkan ilmu tersebut. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kalau kita memiliki anak kecil-kecil, yang tidak bisa ditinggal.Mari kita pelajari adabnya :

  1. Tanyakan ke penyelenggara apakah kelas ini mengijinkan anak-anak masuk diruangan atau tidak?

DON’T ASSUME.

Misal: “Ah, pasti boleh, ini kan komunitas Ibu-ibu/keluarga dan pasti punya anak kecil, jelas boleh lah”, ini ASSUME namanya.

Harus di CLARIFY (klarifikasi) di awal. Tidak semua guru ridha kelasnya ada anak-anak dengan berbagai alasan kuat masing-masing.

  1. Apabila tidak diijinkan anak-anak di dalam kelas, maka kita tidak boleh memaksakan diri. Memilih alternatif untuk tidak berangkat, kalau memang tidak ada kids corner atau saudara yang dititipi.
  1. Apabila diijinkan, maka kita harus tahu diri, tidak melepas anak begitu saja, berharap ada orang lain yang mengawasi, sedangkan kita fokus belajar, ini namanya EGOIS. Dampingi anak kita terus menerus, apabila anda merasa sikap dan suara anak-anak mengganggu kelas, maka harus cepat tanggap, untuk menggendongnya keluar dari kelas, dan minta maaf.

Meskipun tidak ada yang menegur, kita harus tahu diri, bahwa orang lain pasti akan merasa sangat terganggu. Jangan diam di tempat, hanya semata-mata kita tidak ingin ketinggalan sebuah ilmu.

KEMULIAAN ANAK KITA DI MATA ORANG LAIN, JAUH LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN ILMU YANG KITA DAPATKAN.

Maka Jaga Kemuliaannya, dengan tidak sering-sering membawa ke forum orang dewasa yang perlu waktu lama. Karena sejatinya secara fitrah rentang konsentrasi anak hanya 1 menit x umurnya.

Untuk itu andaikata kita punya anak usia 5 tahun, menghadiri majelis ilmu yang perlu waktu 30 menit, maka siapkan 6 amunisi permainan atau aktivitas yang harus dikerjakan anak-anak. Kalau ternyata anak cepat bosan dari rentang konsentrasinya, segera undur diri dan fokus ke anak kita.

*Pertanyaan 20.* 

Untuk yg sudah berpasangan apakah tazkiyatun nafs harus kedua2nya?

*Jawab:*

Mba evi kita tidak bisa menuntut & memaksakan orang lain untuk melakukan sesuatu, tetapi kita bisa menularkan. Kita boleh mengingatkan dengan  baik, tetapi kita yang harus memulainya terlebih dahulu. For things to change, i must change first.

 

Selesai Materi #1. Semoga bermanfaat.

0

Bagaimana Ibu Mengatur Emosi dalam Mengasuh Anak (bagian 1)

header posting.jpg

#dayx #odopfor99days #odopsemester2

Tugas ibu yang demikian banyak tiada tara, menuntut kesabaran yang juga tak berbatas. Ada saja hal-hal yang tidak bisa ibu ‘selesaikan’ dalam mendidik anaknya. Tentu tidak ada yang sempurna. Proses belajar menjadi ibu yang profesional dan sholehah, harus senantiasa dipupuk agar selalu ingat, ingat, dan ingat, serta dapat menerapkannya dalam kehidupan.

Begitu banyak kiblat pengasuhan anak (parenting) saat ini. Tapi kiblat itu janganlah menjadi kiblat utama. Tetaplah cari dan belajar berbagai materi pengasuhan anak dari berbagai sumber, yang sesuai tuntunan Al-Quran dan Sunnah, agar senantiasa berada di jalan yang benar. Karena kita sebagai ibu perlu banyak ilmu untuk jadi tameng dalam menjalani kehidupan yang semakin banyak tantangannya. Eits, para ayah, jangan tinggalkan sang istri berjuang sendiri ya. Ayo kerjasama. Supaya anak-anak kita menjadi sholeh-sholehah, bisa mendoakan kita saat kita sudah tidak di dunia lagi, dan menjadi amal jariah buat kita (tabungan akhirat kita yang sangat mahal harganya).

Berbekal dari keterbatasan saya dalam mengasuh anak, saya mencoba berbagi beberapa tanya jawab dengan beberapa orang yang saya anggap merupakan ibu yang baik secara pribadi, maupun baik dan berhasil dalam mengasuh serta mendidik anaknya.

Tanya jawab Narasumber 1

Saya: Teh, pengen tau dong target pribadi teteh apa aja. Terutama dalam hal ibadah. saya ibadah turun banget sejak nikah

Narasumber 1: Target ibadah? 🙈 Whua…malu saya.. Anaknya usia berapa teh?

S: 19 bulan the. Masih kicil.

N1: Dulu, awal2 punya bayi pertama dan bekerja, saya juga sama. Keteteran dua bulan. Lalu berpikir, ga boleh gini terus. Karena ‘kering’ rasanya. Akhirnya saya putuskan untuk ‘keras’ sama diri sendiri. Saya set target. Saya set konsekuensi klo targetnya missed. Misal: target tilawah 1juz, dilalah hanya tercapai setengah juz. Maka esoknya, target saya jadi 1½ juz. Karena punya hutang yang kemarinnya.

S: Mungkin memang harus dipaksa ya teh, pelan-pelan.

N1: Iya teh. Berproses saja. J

S: Anak teteh yang 3 tahun udah diajarin apa aja teh? Saya bingung kalo mau ngajarin keagamaan ke anak, mulainya darimana ya?

N1: Bingungnya kenapa? 😅 Buat rencana belajarnya teh…

S: Ah iya ya teh, mungkin karna saya ga bikin rencananya jadi saya bingung

N1: Ini program HS anak2 saya saat usianya <6thn:

– Shalat (anak laki-laki belajar ke masjid tepat waktu/anak perempuan di rumah)

– Hafalan: Doa harian, Hadits, Qur’an

– Olahraga: tiap hari jalan2 keliling/senam sama bunda di rumah/berenang

Home chores activity (sapu-sapu, bersih-bersih kamar, bersih-bersih halaman, cuci piring, dll)

Fine motors: main pasir, dough, amplas huruf dll

Pre reading activity: baca buku, main logico, bercerita (circle time)

Pre math activity: main lego, main puzzle, main sains, geometri, main biji lengkeng, dll

– Jalan-jalan/field trip:  2minggu/1x

Art & craft

Materi utama:

  1. Aqidah (rukun islam-rukun iman-kalimat thayyibah
  2. Akhlak (belajar adab, sosial emosional, dll)
  3. Fiqh (belajar ibadah mahdhah)
  4. Tarikh (belajar kisah nabi)

Usia 19 bln, mulai dgn kalimat tauhiid. Perdengarkan yang sering. Kalo bisa, sehari-hari stel murattal.

S: Soal disiplin anak. Mulainya dari umur berapa ya? Misalnya waktunya bangun dan waktunya tidur. Sekarang ini anak saya kalau diajak tidur pengennya main. Harus dilayani aja gitu?

N1: Yang saya tahu, disiplin itu sejak sangat dini diterapkannya teh…nanti boleh melonggar seiring pertumbuhan anak. Asumsinya, anak yang sudah terbiasa disiplin sejak dini, ketika bertumbuh sudah paham arti disiplin dan sudah bisa menerapkannya tanpa harus terus dikontrol ketat. 😊

S: Ooh gitu ya. Menurut teteh atau yang teteh ngerti, sebaiknya disiplin dalam hal apa aja ya di usia masih 2 tahun? Saya pribadi ingin mendisiplinkan tidur malam dan bangun paginya. Tapi kadang itu juga dipengaruhi tidur siangnya kan ya? Apa teteh ada saran?

N1: Usia 2 tahun, disiplin sederhana teh:

– makan saat waktu makan

– tidur saat waktu tidur

– bereskan mainan bila sdh selesai

– simpan baju kotor di tempatnya

– dll

S: Biar tepat, gak apa-apa dipaksa pas awal gitu ya?

N1: Ga usah dipaksa teh, dibiasakan aja. Dibersamai secara rutin.

S: Teteh pernah gak pengen marah sama anak? Pasti pernah ya, gimana cara ngatasi nya ya teh??

N1: Pasti pernah atuh teh…da saya bukan malaikat 😂. Kalau pas marah dan sedang sadar mah, biasanya istighfar dulu, terus tarik nafas panjang-tahan-hembus lewat mulut. Hitungannya  4-3-7. Atau pakai teknik tumbukan tangan utk release emosi negatifnya dulu.

Nanti udah tenang baru ngobrol sama anaknya pake pola pertanyaan.

Tapi sekali lagi, itu pas lagi sadar…hehe, pas lagi ga sadar (semoga Allah lindungi), kadang ada aja yg ga pas 😞. Yg istighfar tapi ga pake hati lah…yg ‘ngomel’ bari ga jelas ngomong apa. Haha, namanya juga manusia 🙈. Mohon aja sama Allah untuk selalu dijaga agar tetep sadar dan berlindung dari syetan saat emosi ga stabil.

S: Trus kalo anak lagi pengen sesuatu, yang menurut kita gak boleh tapi keukeuh sampe nangis-nangis, apa kita biarin dia nangis aja, atau gimana?

N1: Kalau aturannya ‘gak boleh’, apalagi kalau sudah pernah diberitahu sebelumnya. Untuk anak tertentu saya biarin aja nangis sampai berhenti, baru ngobrol dan dijelaskan. Untuk anak yang lain, dipeluk sampai selesai, lalu dijelaskan. Jadi, tergantung tipe anaknya. Selama nunggu dia selesai dengan emosinya, kitanya kudu banyak2 istighfar we 🙈, biar ga kepancing.

Tapi yang pasti, anak-anak saya tidak akan pernah mendapat apapun kalau minta sambil menangis/tantrum.

S: Trus kalo anak harus melakukan sesuatu, tapi dia gak mau, harus kita apain???

N1: Kalau bukan hal yg prinsip, ya dibiarin aja saya mah. Anak kan juga manusia, sama kayak kita.  Ada saatnya semangat, ada saatnya males. Jadi kalau sekedar masalah mandi misalnya, ga mau mandi sore sekali2 ya gak apa-apa.

Yang penting tetap paham bahwa ada aturan baku yang harus ditaati, contohnya bab shalat untuk yang sudah 7 thn. Mereka tetap harus shalat. Karena itu prinsip. Jadi buat saya mah, ada yg ‘wajib’, ada yang ‘sunnah’ teh.

Da kita juga kadang gitu kan ya. Ada saatnya males masak, males mandi 🙈, shalat ga di awal waktu 🙈🙈. Namanya juga manusia 😂😂 #alesan

S: Oia satu lagi, kalo anak perempuan teteh diajak solat dari umur berapa? Dan kalo pas dia lagi gak mau solat, gimana??

N1: Mulai duduk di samping saat kita shalat sih sejak bayi. Dia mulai ikutan shalat sejak 4 tahun. Sekarang 6thn, kadang kalau lagi bener-bener gak semangat shalat (udah diajak 2x masih cuek) biasanya saya biarin aja dulu. Lalu jadi PR buat saya introspeksi diri, berarti shalat blm jadi hal yg menyenangkan buat dia. Mulai deh malam sebelum tidur ngobrol panjang, gali perasaannya, lalu masukkan dikit-dikit apa nikmatnya shalat.

Saya ga saklek sih teh, kecuali nanti dia sudah 7 tahun ya, akan lebih strict. Harus shalat meski kadang ga di awal waktu misalnya. Bertahap sampai di 10 tahun dia siap komitmen untuk selalu shalat di awal waktu.

Dulu waktu kakaknya yg laki-laki begitu sih teh. Karena laki-laki kan pembiasaannya ke masjid, jadi dulu begitu. Yang dipikirkan awalnya adalah gimana supaya dia cinta ke masjid. Sejak 2 tahun ikut ayahnya ke masjid dan terus terbiasa jadinya. Di usia 5 tahun udah ga lepas dari masjid, meski kadang masih harus ditanya ‘mau di masjid atau di rumah?’ kalau dia mulai santai-santai berangkat ke masjidnya 😅.

Tapi beda anak kan beda pendekatan ya hehe. Anak sulung saya dengan anak kedua saya beda jauh kepribadiannya, jadi pola tarik ulurnya juga beda 😁😁.

Semoga Allah karuniai kita kesabaran tak berbatas ya teh…insya Allah hadiahnya surga 😍😍😘😘

Bersambung ke tanya jawab dengan narasumber berikutnya ya.