0

Menjawab Kekhawatiran

Sudah masuk bulan Juni 2017. Berarti sudah hampir 4 tahun usia pernikahan saya dengan sang kekasih. Ditambah dengan anggota keluarga baru, Raida (3y 2m), sebagai penyemangat kami berdua.

Sebagai mahmud alias mamah muda, saya dilanda kekhawatiran atas manusia kecil yang Allah amanahkan kepada kami. Dunia yang kejam, pergaulan bebas, kriminalitas, kebodohan, kemiskinan, remaja-remaja galau, dan kondisi-kondisi lainnya yang membuat kepala pening kalau dipikirkan. 

Maka sejak ananda menangis pertama kalinya, saya terus cari ilmu, sebagai bekal saya menemani, mendidik, membimbingnya. Sesekali terlintas juga kalau misal salah satu atau kami berdua dipanggil lebih dulu ke hadapan Yang Maha Kasih, bagaimana anak saya nanti hidup. *Cirambaay*

Berbagai ilmu parenting yang saya dapat sedikit demi sedikit, membuat saya berpikir bahwa hidup di dunia hanya sebentar. Apalagi sebagai ibu, tidak ada kewajiban untuk mencari nafkah. Walaupun ada tuntutan diri untuk berbakti kepada orangtua, menjadi pertimbangan yang cukup pelik. Dunia cuma sebentar untuk mencari sebongkah berlian. Apa artinya kalau anak terbengkalai. 

Ketika menjelang 3 tahun usianya bulan Maret yang lalu, saya memutuskan untuk menjadi freelancer. Ya seperti yang saya harapkan sebelumnya. Ini adalah hasil dari ilmu-ilmu yang saya dapat dari parenting. Anak yang lucu dan menggemaskan, dan berusia emas ini cuma sebentar. Maka saya ingin menemaninya sampai ia melewatinya. Selepas itu, saya berharap bisa kembali beraktifitas (bekerja) untuk dapat mengabdikan diri atas ilmu yang dimiliki. 

Hampir segala buku parenting saya beli. Walaupun belum semua saya khatamkan. Seringkali setiap hampir selesai, malah pindah ke buku lainnya lagi. Ikut grup berbagai macam demi mendapatkan berbagai ilmu yang harus jadi bekal buat saya pribadi. Segala kulwap parenting saya masuki, demi pencerahan. Menjapri beberapa ibu-ibu hebat, demi mendapatkan semangatnya dalam mengarungi kehidupan berumahtangga, terutama mendidik anak. Selalu merasa kurang ilmu, bagaimana, bagaimana, dan bagaimana. Semoga bekalnya cukup dan bisa dipraktekkan, bisa ditularkan, bisa menjadi manfaat, dan berkah.

Syaqiq Al Balkhi berkata,

الدخول في العمل بالعلم والثبات فيه بالصبر والتسليم إليه بالإخلاص فمن لم يدخل فيه بعلم فهو جاهل

“Masuk dalam amalan hendaklah diawali dengan ilmu. Lalu terus mengamalkan ilmu tersebut dengan bersabar. Kemudian pasrah dalam berilmu dengan ikhlas. Siapa yang tidak memasuki amal dengan ilmu, maka ia jahil (bodoh).” (Hilyatul Auliya’, 8: 69).

Sumber: https://muslim.or.id/18866-ilmu-dipelajari-untuk-diamalkan.html

Jadi kesimpulan sementara adalah, terus cari ilmu, terus amalkan, terus bersabar, terus belajar IKHLAS.

Bismillahirrahmanirrahim

#odopfor99days2017 #day3 

0

Lulus Matrikulasi, terus?

Bismillah

#odopfor99days2017 #day2

Alhamdulillah sudah lulus matrikulasi. Kuliah online buat para ibu nih. Menurut saya mah penting, karena jadi ibu itu harus banyak ++ nya. Nah gimana caranya biar bisa jadi ++? Silahkan ikuti kelas Matrikulasi, dan kelas-kelas Bunda lainnya yang diadakan oleh Institut Ibu Profesional. Tenang, cuma belajar lewat hp kok, pendaftaran sekali buat seumur hidup. Kalau saya karena tinggal di seputaran Bandung, jadi ikutnya IIP Bandung.

Setelah lulus matrikulasi ini, saya jadi berpikir panjang. Bahwa saya adalah perempuan. Fitrahnya adalah di rumah, dan tidak wajib bekerja. Orangtua, saudara, teman dekat, masih berharap saya terus berkarya lewat bekerja. Selain supaya seorang istri punya penghasilan, memang ga ada yang tau ke depan akan terjadi apa.

PANITIA OPEN HOUSE IIP BANDUNG.jpg

Ada 2 hal yang saya juga masih bingung bin galau dalam mengarungi kehidupan yang fana ini. Tsaaahh. Pertama, saya akan tetap mencari penghasilan, yang juga merupakan salah satu mimpi saya. Kedua, saya akan fokus mencurahkan waktu dan tenaga saya untuk anak dan suami, dan keluarga. Sebenarnya dari kedua hal ini tidak perlu dipertentangkan. Kenapa tidak disatukan saja? Suami saya memang keberatan kalau saya bekerja full time, sehingga waktu untuk anak dan suami tinggal sisa yang gak berkualitas. Saya bisa jadi freelancer, menerima kerjaan yang sifatnya jangka pendek, untuk tetap dalam koridor ‘passion’ saya. Saya pun bisa sambil mengejar apa-apa yang saya inginkan dalam kehidupan ini, yang biasanya menjadi keluhan saat bekerja kantoran, saya tidak bisa melakukannya.

Waktu berjalan terus, jadi yang harus dilakukan adalah yaa tentu saja MAJU TERUS. Apa yang menjadi mimpi, bisa terus dikejar, asalkan FOKUS, TERENCANA, dan DOA yang KUAT. Tapi rupanya saya terlalu banyak keinginan. ALhamdulillah atuh ya punya banyak keinginan. Keinginan yang banyak ini terkadang tidak disertai dengan rencana yang panjang dan baik.

SAYA SEKARANG

Jadi saya teh sekarang, sudah tidak bekerja kantoran, melainkan bekerja dari rumah. Tapi saya punya PeeR besar untuk bisa bekerja dari rumah. Saya masih merasa, bahwa saya tidak bisa bekerja kalau di rumah. Jadi saya harus pergi keluar, supaya tidak ada gangguan anak. Satu hal yang baru saya pahami dari sebuah tulisan Raluca Loteanu dalam blognya, kalau anak memanggil-manggil kita dan mengajak bermain ketika kita sedang sibuk mengerjakan sesuatu, berarti dia butuh kita. Penuhi dulu kebutuhannya, percayakan bahwa kita ada buat dia. Baru nanti dia akan memberikan waktu buat kita untuk mengerjakan hal yang lain. Pemahaman saya yang salah selama ini, menganggap anak sebagai gangguan kalau saya bekerja di rumah. Memenuhi panggilannya dulu akan lebih menenangkan. Beda sedikit ceritanya kalau kita lagi diburu deadline.

Sedikit soal kerjaan, ceritanya kemarin-kemarin (dan sekarang), saya dapet kerjaan yang mempertemukan saya dengan para pengusaha. Ada yang jadi GMnya salah satu merk sepatu, ada juga pengusaha yang merupakan supplier sayur dan buah di supermarket ternama se-kota Bandung. Saya belum sempat wawancara satu-satu, gimana mereka memulai, jatuh-bangunnya. Yang jelas, mereka teh orangnya nyoh-nyoh gitu. Maksud saya, gampang ngasih ke orang lain. Saya pikir, tiru aja dulu sifat baiknya ini ya. Semoga besok-besok saya jadi DIrut sebuah usaha. Aaaamiiiiiinnnn. Jadi supaya sukses seperti mereka, ya usahanya tidak sedikit, perjuangannya juga tidak sedikit. Anggaplah apa yang dijalani sekarang sebagai perjuangan menuju kesuksesan duniawi. Heitss, jangan lupa ukhrowi, suka dikesampingkan gitu sih.

Trus sambil ngerjain kerjaan sampingan, saya nyoba jualan. Entah mungkin saya yang perfeksionis, jadi cukup ribet juga si jualan ini. Eits, saya ngomong ribet ini keluhan bukan ya?hehe. Sedikit ribet tapi asik (terutama pas dapet transferan duit dan good testimony). Diantara keribetan yang saya bikin sendiri adalah memfoto produk satu persatu, zoom in dan zoom out-nya, lalu edit masing-masing produk, kasih kode, unggah produk yang ada beberapa tahap, me-rekap peminat, pembeli, mana yang terjual, mana yang masih ada untuk disiapkan unggah pekan depannya. Oia, saya baru jualan di grup facebook kampus kesayangan aja, segitu ribetnya. Tapi terbayarlah, senang :). Sekarang lagi nyoba untuk merambah ke online via Instagram. Karna saya jualan kebutuhan anak, saya bikin brand yourchilneedsboleh loh dikunjungi dan diboroong.

Trus selain freelancer (arsitek dan arsitek Lanskap), dan jualan online, saya juga gabung di beberapa komunitas online. Yaa kaya IIP ini, yang sekarang lagi bersiap untuk ikut kuliah online Bunda Sayang, yang masa kuliahnya adalah 1 tahun. Jadi ibu bisa kuliah juga kok, online pula, jadi bisa dapet S1 sendiri, karena kuliahnya 4 tahun. Subhanallah luar biasa. Saya sedang tertarik sama komunitas keluarga/parenting, karena merasa kurang banget ilmu saya di sini. Jadi selain ikutan IIP, saya juga sedang mulai berpartisipasi dalam komunitasnya sabumi. Komunitas ini ada blognya dan ada pagenya, yang bisa dikunjungi. Banyak banget pelajaran di sabumi ini. Malah lebih mengangkat ke kemandirian. Jadi saya merasa cocok banget dengan grup ini. Oia sabumi ini, komunitas homeschooling. Sampai saat ini saya belum memutuskan untuk meng-homeschooling-kan anak. Cuma saya ingin ambil ilmu-ilmunya. Bagaimana homeschooling, terutama untuk preschool.

Hubungannya SAYA SEKARANG dengan lulus matrikulasi? Iya, jadi saya teh harus punya target hidup ke depan. Minimalnya adalah bagaimana target saya menjadi Muslimah, istri, ibu, dan anak. Gatau udah berapa kali saya bikin target kaya gini. Keunlah (biarinlah) ya, ALhamdulillah punya target-target tertulis teh.

Muslimah
Saya merasa kualitas ibadah saya jauh menurun, terutama setelah menikah. Tapi karena menikah adalah juga ibadah, jadi saya juga berusaha tetap dalam koridor ibadah. Tapi saya ingin kembali menggiatkan ibadah-ibadah sunnah. Baiklah, target saya sekarang adalah DOA!! Saya maleees banget untuk bertahan duduk lama setelah sholat. Karena Allah suka ngasih saya ide-ide untuk melakukan sesuatu, pas saya lagi sholat. Jadi sholat gak khusyuk, selesainya jadi terburu-buru untuk lanjut yang lain. Jadi kadang, doa teh hanya ritual bacaan arabnya doang, tanpa diresapi maknanya. Trus langsung berdiri, lipet mukena, kembali beraktifitas duniawi. Padahaaal saya sangat butuh momen DOA ini. Trus juga harus membiasakan DOA dimana-mana. Udah ini dulu. Sedikit curhat, saya sedang dikasih banyak ketakutan dan kegelisahan, ini mungkin karena saya kurang dzikir dan DOA. Yaa Allaaaah ampun, jadikan saya mencintai ibadah sebagaimana mencintai diri sendiri…

Istri
Sebagai istri, saya juga kadang masih suka ada kesel-kesel sama suami. Wajarlah ya. Trus saya belum maksimal dalam taat. Saya pernah denger bahwa, turuti aja apa yang suami mau, selama tidak melanggar syar’i. Tapi ada hal-hal yang menurut saya gak perlu dipaksakan, dan berujung kekesalan saya. Mungkin saya kurang DOA itu tadi ya. Dari segi manajemen rumah juga saya masih buruk. Masih suka berharap sama suami, padahal berharap mah sama ALlah aja fin. Syarat istri kalau mau masuk surga cuma satu, tinggal taat ke suami, lalu kalau suami ridho, masuk surga deh. Naaah ini yang susah teh yaaa. Bismillaaahh, sing ikhlas fin. Yaa Allaaaah bimbing saya dan suami saya….

Ibu
Sekarang ini, saya lagi baca buku Bunda Sayang. Dan paling nancleb (menghujam hati) adalah bab kemandirian anak. Naah, mungkin saya gak bisa kerja di rumah juga salah satunya adalah karena kemandirian anak saya belum dilatih dari kecil. Jadiii, sekarang ini saya fokus pada kemandiriannya. Alhamdulillah, toilet training udah lulus, walaupun saya masih takut-takut kalau pergi keluar rumah, di rumah masih harus sering ditawarin untuk ke toilet. Takut gak ada kamar mandi bersih, takutnya ngompol, dan ketakutan lainnya. PeeR kemandirian yang lain adalah makan!! Dengan tidak memilih-milih, harus sambil duduk, dan habis. Woow ini sesuatu banget. Poin makan ini, jadi PeeR tersendiri buat saya supaya bisa masak yang enak. Dalih masih tinggal sama orangtua, jadi weh saya males masak, karna tidak mendesak. Jadi gak putar otak bagaimana supaya anak mau makan dengan lancar jaya. Semoga rumah cepet jadi, bisa pindah dan bisa belajar mandiri terutama buat diri saya sendiri. Dan semoga saya dan anak tidak stress. Yaa Allaaaah mudahkan, kabulkan….

Anak
Birul walidain. Ngerasa ngerepotiiin terus ke orangtua. Makanya sebisa mungkin segera pindah. Bukannya gak mau tinggal bareng ortu. Seneeeng pake banget kalo tinggal sama orangtua teh, tapi saya jadi gak belajar. Orangtua saya biasa mempermudah anaknya. Jadi apa-apa kalau ada yang susah ya dibantuin. Bahkan tanpa diminta pun, dengan inisiatif yang tinggi mereka langsung action. Jadi maluuu banget. Ngerasa juga belum bisa ngasih apa-apa sama orangtua. Salah satu tujuan saya tetap berpenghasilan adalah dengan tujuan, saya punya uang yang banyak, bisa ngasih orangtua. Biar bisa jalan-jalan, ngasih-ngasih orang, ngundang makan-makan, dan lain-lainlah. Ya Allaaah kabulkaaan,, semoga rezeki saya lancar, rezeki orangtua saya juga lancar, rezeki suami lancar, semua lancarlah.

TARGET DUNIAWI, Perlu gitu?
Perlulah, mimpi yang tertulis kan lebih bagus. Kali aja ada yang baca ini, trus Allah mengabulkan mimpi saya lewat beliau. hehe Aaamiiin
– pengen punya mobil yang kecil (katakanlah sebangsa kar*mun GX), jadi bisa pergi kemana-mana sama anak. Bisa berdua aja. Naik transportasi umum di Indonesia belum layak menurut saya. Jadi solusi buat saya sementara adalah bisa nyetir. Jadi mobil ini sebagai motivasi supaya saya bisa cepet bisa.
– Umroh haji sekeluargaaa. Aaamiiin
– Bersih dari RIBA, lunas hutang!!!

Tulisan ini mungkin merupakan tahap-tahap dalam mencapai mimpi di tulisan saya yang berjudul Akan jadi apa saya?. Sekian dulu curhat mimpi dan target saya. Eh hubungannya dengan matrikulasi teh apa tadi ya? Yaa pokonya saya harus jadi ibu profesional ++. Dan itu harus bertarget. Gitulah pokonya…

7 hari menuju Ramadhan

 

3

Kencan

#odopfor99days #day95
Bismillahirrahmanirrahim

IMG_3005e.jpg

Hari itu adalah hari bersama suami. Pagi-pagi saya diminta untuk latihan lagi nyetir mobil. Nah, nyetir mobil ini harus dipaksain memang. Kepentingan keluar kota dan supir lebih dari satu akan dibutuhkan ke depannya. Kasian pak supir kalau gak ada yang gantiin. Dan saya pun merasa malu kalau disetirin sama ibu mertua. Merasa gak guna gini eung.

Alhamdulillah suami punya ilmu nyetir dengan benar. Katanya dulu diajarin safety riding di kantornya waktu pernah kerja di Kalimantan. Saya akui nyetirnya kalo suami saya nyetirnya oke. Taat aturan. Bisa ngebut di situasi yang memungkinkan. Cuma ngocehnya aja sih yang harus dikurangi. Hehe

Selepas belajar nyetir, saya pun diajak nonton. Wiih. Itu mah ya, bahagia banget. Gak penting filmnya apa. Yang penting diajaknya itu yang bikin saya berbunga-bunga. Ditambah lagi abis nonton saya diajak makan siang berdua di cafe. Aduuh berasa nih pacarannya. Maklum pacaran baru abis nikah. Wkwkwkwk

Kalau lagi momen-momen gini nih pengennya lamaa banget si waktu. Soalnya segala obrolan pasti masuk. Dan semua pembicaraan jadi lebih tenang, lebih terarah. Biasanya kalau ngobrol di rumah suka gak tuntas karena berbagai alasan. Yang satu ngantuk, satunya nonton bola, nemenin anak tidur trus ikut tidur, gitu-gitu lah. Hehe

Semoga sering ada momen berdua gini, supaya komunikasi lebih clear. Saya suka banget dan seneng banget di hari itu. Terima kasih suamiku.

1

Your third year is started, daughter!

photomagic(1)

#odopfor99days #day60

Bismillahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillah wa syukurillah. My lovely daughter is turning 2!!

Dua tahun yang lalu, jam segini (ditulis sekitar jam 4 sore-pen) sebenarnya masih dalam rangka menunggu gelombang cintamu nak. Setelah lewat 1 minggu dari HPL atau Hari Perkiraan Lahir, jadi agak was-was juga kok kamu belum mau keluar siy? Stagnan di pembukaan 1 selama 2 minggu.

Rupanya setelah menjalani induksi selama kurang lebih 5 jam, diputuskan untuk melakukan pembelekan perut. Ya, caesar. Ah, bayangan untuk melahirkan normal sudah hilang. Ini sudah jalannya. Sang jabang bayi lahir dengan operasi. Alasan dokter spog yang menangani saya waktu itu adalah, tali pusar pendek jadi sulit untuk keluar. Padahal di pembukaan ke 2 sampai ke 3, saya sudah merasakan sakit yang hebat. Gimana ya kalau normal sampai pembukaan lengkap. Heuheu

Ternyata benar, segimana pun sakit, ngantuk atau apapun setelah melahirkan, mendengar sang buah hati menangis lalu menyentuhnya adalah hal yang luar biasa tak tergantikan. Akhirnya aku jadi ibu juga.

Waktu berlalu cepat, dan putriku tercinta hari ini berulang tahun yang ke-2. Kenangan yang sedih selama 2 tahun ini bersamamu cukuplah untuk dikenang bukan untuk diulang. Mulai dari asi belum keluar dan hampir saja ibu memberikan sufor padamu nak kalau tidak semangat dan dorongan dari sekitarnya. Lalu pernah sakit flu sampai muntah berkali-kali, sudah pernah 2 kali kejang dan semoga tidak terulang lagi. Sehat terus ya nak.

Tapi kenangan manis bersamamu lebih banyak lagi. Setiap perkembanganmu, ibu selalu bahagia. Walaupn tidak setiap saat ibu ada, karena bekerja setengah hari. Semakin cerdas dan mandiri. Mulai dari bisa tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, jalan, dan lari. Sekarang kamu udah bisa loncat-loncat dan naik ke sana kemari. Di hari ini, ibu juga senang akan berbagai perkembanganmu. Ibu kadang suka melihat anak orang lain, yang kalau kamu belum bisa, berarti harus lebih giat lagi ngajarin kamu nak. Tapi seharusnya gak gitu ya. Perkembangan setiap anak berbeda-beda pastinya.

Kamu udah bisa nyanyi macem-macem pake gaya juga. Cicak-cicak di dinding, Row row row boat, tekotek kotek kotek, alif ba ta, ABCD, naik-naik ke puncak gunung, Bangun tidur ku terus mandi, dan lagu lainnya, walaupun masih belum sempurna pengejaannya dan masih ada yang terlewat atau terbalik atau nyambung ke lagu yang lain. Sudah bisa diajak ngobrol dan seringkali mengeluarkan kosakata baru. Mungkin kamu dapat dari tetangga sekitar rumah uti akung ya. Kita juga jadi kaget plus ketawa karna kamu mengikutinya dengan nada yang lucu.

Dari kamu kecil, ibu udah nyicil beli buku dan mainan. Tenyata keduanya bisa terlihat manfaatnya sekarang. Kamu mulai menunjukkan minat pada mainan dan buku. Mainan puzzle sederhana yang dulu cuma bisa kamu lempar, sekarang sudah bisa menyusun dengan baik, walaupun masih suka marah kalau udah bener tapi gak masuk juga. Buku-buku yang dulu gak dilirik, sekarang kamu sudah mulai memperhatikan setiap gambar yang ada, menyebutkan, pura-pura baca, asik sekali lihatnya.

Sekarang juga udah bisa milih baju. Beberapa kali baju-baju baru, baik itu beli atau dikasih, kamu gak mau pake. Bahkan sendal yang rada mihil pun kamu gak mau pake. Belum lah ya nak. Bentar lagi pake yaa.

Mungkin karena ibu kerja juga ya, menyapih pun lebih mudah. Toh biasanya kalau ibu tinggal kerja juga kamu minum susu pake dot. Tapi sekarang ini peer ibu untuk lepasin dot. Setelah menyapih alhamdulillah kamu sudah tidak terlalu banyak minum sufor, tapi kok jadi larinya ‘medang’ teh nak. Ini juga peer supaya gak terlalu banyak dan sering.

Kamu tuh kaya bintang lo nak di rumah. Setiap tetangga yang liat kamu, pasti manggil dan ngajak ngobrol. Banyak juga anak-anak tetangga yang udah usia SD, seneng banget mainnya sama kamu nak. Ciee yang punya fans hehe. Kamu udah hafal nama orang-orang, terutama keluarga deket, juga tetangga. Cepet nerep otakmu. Semoga jadi anak pinter ya sayang.

Udah bisa pake sendal dan sepatu sendiri. Kalau baju celana kadang bisa tapi endingnya masih dibantu, jadi harus dicoba lagi supaya bisa. Makan sendiri bisa juga. Tapi karena kamu kadang susah makan dan pilih-pilih, jadi sering disuapin aja sambil main, jadi kamu gak sadar lagi disuapin.

Kamu suka ikut akung sama ayah pergi ke masjid buat solat. Walaupun kadang jadi cuma lari-lari aja, malah milih-milih dan ngacak-acak mukena masjid, ga mau pake mukena sendiri, hehe. Ibu kurang konsisten bacain kamu surat-surat pendek nih. Tapi kamu hafal beberapa surat dan doa walaupun masih gak lengkap dan belum bener pengucapannya. Semoga jadi anak sholihah ya nak.

Yang unik dari kamu, dari kecil suka banget sama ujung bantal, terutama kalau ngantuk pasti nyarinya ujung bantal. Kok bisa to nak? Tidur heboh geser sana sini, miring sana sini, kepala dimana kaki dimana, gitulah, sama kayak ayahmu nak.

Dengan segala perkembanganmu, Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Semoga sisa umurmu berkah ya nak. Semoga Allah senantiasa menjagamu, memberikanmu keselamatan dunia akhirat. Jadilah qurrotaa’yun, jadi anak sholihah dan pinter yaa. Aamiiin

Selamat Ulang Tahun Raida 🙂

3

Perjalanan ASI sampai menyapih

#odopfor99days #day40

Pertama kali menyusui

Setelah operasi caesar selesai pada 26 Maret 2014, para suster menyodorkan bayi saya untuk melakukan IMD, tapi mata saya sudah tidak ada tenaga untuk membuka, jadi saya hanya membuka mata sesekali saja. Kayaknya gak IMD juga sih, cuma langsung disodorin aja bayinya ke PD. Tapi disitu saya merasa senaaaanngg sekali, akhirnya yang ditunggu keluar juga, dan pertama kali menyusui!

Selama 4 hari 3 malam di rumah sakit, saya merasa tenang-tenang saja saat anak saya menangis, lalu saya menyusuinya. Anak saya pun terlihat oke-oke aja. Tapi ternyata sepulang dari RS ke rumah, malam harinya dia rewel hebat tidak berhenti. Lalu memutuskan kembali lagi ke . Anak saya pun sudah diam, tenang saat masih di perjalanan hingga pulang. Dokter jaga pun bilang, anak saya tidak apa-apa. Besoknya, anak saya seharian rewel, pas di hari banyaknya tamu yang datang, saya malah sibuk dengan menenangkan anak saya. Sore, saya kembali ke RS yang lain, untuk second opinion barangkali salah. Di RS kedua ini malah anak saya disuruh di opname? What?? Big NO, langsung saja saya pulang. fiuuh,, kenapa kamu nak.

Baiklah setelah RS tidak mengetahui apa penyebab anak saya nangis tidak henti-hentinya, saya berencana untuk datang ke bidan dekat rumah. Entahlah mungkin karena ke dokter jaga ya. Jadi mereka tidak terlalu persis tahu apa dan bagaimana.

Doa dan doa semoga anak saya baik-baik saja. Pagi, saya langsung menuju bidan terdekat. Sang bidan sedang menangani lahiran seorang ibu. Setelah selesai dan giliran saya, langsung saja saya menceritakan kronologisnya. Jawaban ibu bidan ketika itu hanya satu dan itu yang memang membuat saya ragu dari awal meninggalkan RS,”ASI nya keluar gak?” jedaaangg, iya ya keluar gak ya.

Di hari itulah saya diajarkan bu bidan untuk memerah ASI dengan tangan. Saya sudah cukup tenang karena tau masalah utamanya karena ASI saya belum juga keluar. fiuuh. Maka setelah pulang dari bidan. Ibu saya langsung gempur saya dengan berbagai makanan untuk booster ASI. Sudah sempat beli susu formula, kalau-kalau ternyata ASI saya gak keluar juga. Alhamdulillah, Allah memberikan saya izin untuk menyusui anak saya.

Menyapih

Sudah sekitar 3-4 hari ini putri tersayang gak ngASI lagi. Dan baru hari kemarin dia berumur 23 bulan.

Suami sudah bilang untuk menyusui si kecil sampai 3 tahun, biar kaya ayahnya katanya. Saya sebenarnya gak terlalu masalah, karena bagian yang paling saya sukai, kangeni, dan ikhlas dalam pengasuhan anak adalah menyusui. Saya merasa sangat dekaaaatt sekali dengan anak saya, saya merasa anak saya sangat butuuuhh banget saya.

Hal inilah yang membuat saya sedih setelah menyapih, I love to breastfeed my baby, a lot. Saya bekerja sejak umur si kecil menginjak usia 7 bulan. Kenapa saya bekerja? Semata-mata untuk birul walidain (Ah birul walidain kok masih ngerepotin). Kalau saya hidup berdua dengan suami dan anak saja, saya masih ingin memilih untuk tinggal dan mengurus anak saja. Masih ada kewajiban saya terhadap orangtua, jadi saya memutuskan kembali bekerja. Tapi memang ada keinginan untuk mengamalkan ilmu yang saya punya, belajar lagi dari proyek yang didapat. Eh ngelantur yak.

Sebulan pertama saya bekerja, setiap pulang kantor dan sampai di rumah, saya langsung pompa ASI. Karena di kantor tidak memungkinkan saya untuk memompa, bisa habis waktu saya berhubung jam kerjanya cuma dari jam 9-14 aja. Sayangnya, saya tidak konsisten untuk langsung memompa setelah sampai di rumah. Langsung saja saya sodorkan ke anak, jadi sudah habis. Setelah itu baru saya memutuskan untuk memberikan susu formula. Dicoba sekali, dan memang anaknya juga lahap dan mau. Sampai usia 23 bulan kemarin, begitu terus, kalau ada saya ya ngASI, kalau saya bekerja ya sufor.

Motivasi menyapih

1.Allah bersabda dalam Alquran kalau menyapih 2 tahun
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah member makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya, dan seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum 2 tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” QS Al Baqarah 233
2.secara medis, sudah berkurang kandungan gizinya.
3.Bahwa saya tidak ingin anak saya manja. Harus menuruti apa yang menjadi kemauannya terus. Entah alasan ini benar atau tidak. Tapi ini jadi motivasi saya yang paling kuat.

Karena anak saya sudah terbiasa dengan sufor, ternyata memang tidak terlalu sulit untuk mengalihkannya. Saya pikir menyapih akan membutuhkan waktu lama untuk sounding, usaha untuk mengalihkan, dan lain sebagainya. Tapi rupanya anak saya dapat melalui tahap demi tahap tanpa rewel yang menjadi-jadi. Berikut ini tahap yang dilalui anak saya dalam penyapihan:
Tahap 1: sounding bahwa anak sudah besar, tidak lagi ‘mimik’
Tahap 2: setiap ngASI, saya bilang ‘sedikit aja ya, buat nanti lagi, biar gak abis’ Jadi dia sebentar aja
Tahap 3: sounding bahwa teman-temannya di sekitar rumah juga udah gak mimik lagi. saya sebutkan satu persatu nama temannya, kadang tetangga saya yang sudah besar juga saya sebut saja, bahkan sekalian juga saudara jauh. Dia pun senyum.
Tahap 4: menawarkan minuman alternatif, susu atau air putih atau teh atau lainnya. Nah untuk ini terasa lebih mudah, karena anak saya sudah bisa bilang mimik susu botol. Tapi ini jadi tantangan saya juga untuk mengganti botol dengan gelas.
Tahap 5: berikan perhatian lebih saat bermain, untuk menunjukkan bahwa kita sangat menyayanginya.

Tahap-tahap itu pun bisa saya lalui hanya beberapa hari saja, yang awalnya saya perkirakan yaa sekitar seminggu-dua minggu bahkan sebulan. Saya jadi sedih bin very sad. Karena anak saya jadi nyari ibu saya untuk minum susu botol. Tambahlah rasa bersalah saya. Kenapa terasa terburu-buru. Tapi saya yakin ini hanya sementara aja. Maafkan ibu ya nak. Bukannya ibu gak mau, tapi kamu sudah besar.

dan ini ada sepotong tulisan yang saya ambil dari sebuah link:

“Perlu diingat bahwa penyapihan adalah bentuk cinta kita kepada anak. Tidak perlu merasa bahwa kita telah menyakiti anak dengan menghentikan penyusuan, membuat dia menangis karena tidak diberi ASI, semua itu adalah proses yang harus dilalui. Karena dalam kehidupan selanjutnya pun anak akan menemui batasan-batasan, dan disapih adalah batasan pertama yang harus dia lalui. Selain itu menyapih anak setelah dua tahun adalah bentuk cinta kita kepada Allah SWT, yaitu menjalankan firman-Nya. ”
Sumber potongan tulisannya disini.

Robbi Habli Minas Sholihin (Ya Tuhanku karuniakanlah aku anak yang sholih).Aamiin.

Sekian (sambil masih sedih).

0

Edisi Anak Sakit: Muntah-muntah gejala Diare

#catatandiblogsendiri

Pagi subuh saya kebangun, kaget, gara-gara inget ketiduran, yang harusnya ngerjain deadline kerjaan buat sebelum jumatan. Gak lama kemudian anak sholehah pun ikut bangun, jadi saya temani dulu dia sampai ON, ajak ngobrol, ganti pospak, kasih minyak telon.
Lalu saya antar dia ke kamar akung dan uti. Kebetulan akungnya lagi nonton ceramah di tv dan utinya lagi ganti sprei.

Abis itu saya ngacir, buat lanjutin deadline. Selang 15 menit, terdengar ibu manggil ngasih tau kalau si cantik muntah. Padahal dia belum makan apa pun. Ganti baju. Minum, nyemil, cari cemil-cemil.

Sarapan nasi kuning, trus mimik (nge-ASI), gak lama eehh,, muntah lagi. Mungkin capek juga, trus ngantuk, dikasi susu pake dot. Dia tidur, tapi pas gerak badangnya, muntah lagi, jadi bangun lagi.

Siang juga, udah mondar-mandir gendong sana sini, si cantik sholehah ini capek, tidur lagi tanpa mimik ataupun minum susu. Menjelang jumatan, kerjaan saya pun akhirnya sudah terkirim. ALhamdulillah, saatnya menemani anak tersayang. Saya temenin tidur di sebelahnya, trus mimik-in sambil tidur. Karna tiba-tiba banyak nyamuk, dan daripada anak terbangun, saya berniat mindahin dia tidur ke kamar saya dari kamar utinya. Belum juga sampai ke kamar, dia muntah lagi.

Alhasil lemes banget ini pasti. DIputuskan untuk ke dokter siang ini juga, supaya tau penyebabnya. Di Rumah sakit makan puding, mimik lagi, eehh muntah lagi. Jadi ga enak nih ke dokter sambil baju berlumur muntahan heuheuu.

Dokternya bilang, kenapa Raida? muntah nih dok dari pagi. diare gak? panas gak? Enggak dok. Pergi-pergi kemana gitu kemarin-kemarin? mungkin keanginan capek.
periksa sana-sini. AKhirnya dikasih resep sama dokternya. Ini saya kasih obat anti mual ya, sama oralit, oia sama lacto B kalau diare. Jadi kenapa ini dok anak saya? ya masuk angin mungkin, biasanya sih ini gejala mau diare, kan lagi musim tuh sekarang.

Sampe rumah, minum obat anti mual itu, eehh muntah lagi. ya udah akhirnya langsung makan aja. Nasi doang. ternyata setelah itu memang dia diare. Plus panas juga badannya.

Syafakillah, Get well soon my daughter. Aamiiin

Berikut obat yang diresepin sama bu dokter:
VOMETA Domperidone drop, diminum 1/2 jam sebelum makan, 3 x 1 cc
Oralit sachet 10 bungkus
Lacto B –> ga ditebus karna memang pas periksa ga diare

Periksanya ke dr. Niken Sawitri
di RS Mitra Kasih
Jadwal prakteknya Senin- Jumat jam 14-16.

Tadinya mau pake BPJS, tapi ternyata harus minta surat rujukan dulu ke puskesmas. RIbet yak. Ya sudahlah, langsung aja periksa.

Oia, kalau di Mitra kasih mau periksa ke dr. Niken ini, kita bisa daftar awal. misal daftar dari pagi. jadi nanti dapet antriannya juga awal. Jadi tadi antri dari jam 14.20 an baru kebagian jam 15.30 an.

0

Berkeluarga

my new family

my new family

Bismillahirrahmaanirrahiiim

Kali ini saya ingin menulis tentang keluarga. Keluarga yang merupakan sumber cinta kasih dari setiap individunya. Yang menjadi penyejuk jiwa, atau cahaya hati ketika sedang bimbang dan galau (seharusnya).

Sekarang ini alhamdulillah banyak sekali yang sadar bahwa berkeluarga lebih cepat lebih baik. Ketimbang pacaran berlama-lama dan gak jadi-jadi. Lagipula memang sunnahnya menikah itu disegerakan (3 hal yg harus disegerakan:
menikah, membayar hutang, dan mengurus jenazah sampai menguburkannya. –> mohon koreksi kalau salah)

Tapi mungkin sebagian orang terlambat menyadari bahwa menikah tidak semudah seperti saat kita menjadi anak dalam keluarga. Bedaaa banget. Penyerahan diri, pengorbanan, pengabdian untuk keluarga, perubahan ke arah yang lebih baik, sangat terasa ketika berkeluarga.

Juga keegoisan masing-masing, baik suami atau istri bahkan anak harus bisa di-manage dengan baik. Ketika punya hobi dan kebiasaan berbeda, selayaknya bisa menyeimbangkan atau minimal mendukung dan meluruskan yang kurang/salah.

Pergi dengan teman, untuk jalan-jalan, makan, nonton, atau acara hepi lainnya, seringkali lupa pamit ke ortu atau bahkan baru bilang setelah sampai di rumah. Tapi ketika berkeluarga, ada istri/suami dan anak yang menunggu-nunggu di rumah. Paling tidak memberi kabar agar tidak khawatir.

Ya, ini sangat terasa ketika kita berkeluarga (subjektif saya). Banyak kekhawatiran yang muncul ketika anggota keluarga belum sampai di rumah. Orangtua yang selalu menanyakan anggota keluarga yang belum pulang(selalu terima sms dari ibu tercinta waktu magrib ketika saya belum sampai di rumah), terasa juga oleh saya ketika suami belum juga pulang (walaupun jelas pergi ke kantor, :D)

Lebih terasa berkeluarga lagi adalah ketika kehadiran sang buah hati tiba. Kekhawatiran akan berbagai hal mulai dari pendidikan, bimbingan, penjagaan kita sebagai orangtua terhadap anak. Apalagi nanti ketika disidang di pengadilan tertinggi oleh Yang Maha Kuasa. “Bagaimana kau mendidik anakmu?”. Akan menjadi apa anak kita ketika dewasanya, tergantung pada apa yang kita berikan saat penjagaan terhadapnya. Sungguh berat menjadi orang tua.

Saat-saat baby blues yang seringkali dialami ibu baru (seperti saya), nampaknya muncul karena belum siap akan kenyataan itu, belum siap karena banyak kekhawatiran yang muncul. Asupan semangat keluarga terutama suami, dan asupan secara psikologis dari sumber manapun sangat membantu sang ibu keluar dari baby blues ini. (Haha malah curhat)

Pada intinya, berkeluarga adalah hal yang luar biasa, yang memang tidak bisa bermain-main. Ketulusan, keikhlasan dan kesabaran sangat diperlukan. Jadi, bekal berkeluarga bukan sehari dua hari sebelum menikah, bukan pula mencoba mencari orang yang sempurna, tapi menurut saya adalah kesiapan akan segala hal, yang kita pelajari jauh-jauh hari.

Semoga Allah memberkahi keluarga saya dan keluarga anda semua. Aaamiiin…
Selamat berbahagia bersama keluarga 🙂