0

Workshop Montessori at Home for Kids bersama dr. Pinansia Finska Poetri

20017832_10213510311941666_8209801665929434738_oFlyer digital, iklan workshop yang bikin saya tertarik ingin tau

Bismillahirrahmanirrahim
Weekend yang lalu, saya ikut 2 acara yang menurut saya penting banget buat para orang tua. Pertama adalah workshop Montessori, dan kedua seminar kesehatan. Untuk seminar kesehatan, karena materinya banyak dan penting, insyaAllah saya tulis di postingan selanjutnya.

Workshop Montessori at Home for Kids

Jadi awalnya saya dapet iklan dari teh Rahma di grup fesbuk kesayangan itbmh. Acara ini diselenggarakan oleh parents.edu. Parents.edu ini adalah media edukasi untuk keluarga melingkupi bidang Pendidikan, Kesehatan dan Kewirausahaan. Bisa diklik ini untuk blognya dan ini untuk Instagramnya. Acara ini diselenggarakan di dehakids jalan Teuku Angkasa no.33 Bandung, dan disponsori oleh Botanina.

Berhubung sayah telat datang, (padahal kayanya yang penting adalah materi awalnya huksss) jadi saya share materi yang saya ikuti ya. Atau ya paling gak saya copy paste kan materi dari modulnya. Semoga penyampaian saya benar. Kalau salah, mohon koreksinya ya.

Filosofi Montessori ###
Montessori adalah sebuah metode pengajaran anak usia dini yang dicetuskan oleh dr. Maria Montessori (1870-1952). Prinsipnya adalah ‘Children teach themselves‘. Sedangan orangtua bertugas untuk memberikan perhatian, percaya, sabar, dan menghargai proses.

Usia 0-3 tahun unconscious mind
Usia 3-6 tahun conscious mind
Setiap anak punya spiritual embrio
Setiap anak akan mengalami fase sensitive
Stop melabeli anak, stop membandingkan anak

(Nah materi filosofi ini saya 0 banget. Huhuhu)

Material ###
Jadi dalam Montessori, material yang digunakan adalah material asli. Semua benda asli dalam ukuran yang kecil. Misal mengajarkan tentang sapi, carilah miniaturnya yang sama persis dari mulai warna, komposisi bentuknya, detailnya. Bendanya yang konkrit baru ke abstrak. Benda yanng simpel ke kompleks.

Contohnya mengajarkan tentang sapi tadi. Biasakan untuk menjelaskan secara rinci. Dari tekstur, bagaimana bentuk sapi sambil disentuh diraba, penggunaan mata, apa warnanya, bentuknya bagaimana, pengenalan terhadap kosakata yang berhubungan dengan sapi, pengenalan kata atau huruf, untuk mengetahui membaca dan menulis kata per kata dari sapi.

Banyak bercerita ini bertujuan untuk melatih visualisasi anak. Seringkali kita saat sekolah, bingung sekali saat diminta guru untuk mengarang cerita. Maka kita sebagai orang tua yang mengajarkan anak, bercerita detail itu akan membantunya untuk berpikir detail, dan rinci. Tujuan lainnya juga adalah agar melatih anak dapat mengungkapkan secara detail apa yang ada dipikirannya.

Montessori ini sangat menghargai proses panjang. Jadi memang pembelajaran dimulai sejak lahir, dan kalau tidak bisa, belum beralih ke hal yang selanjutnya. Harus sering dicoba, diasah. Ini mah kaya inti hidup aja sih yam kalau kita mau bisa ya kudu belajar terus yang rajin.

Kalau kita mau ngajarin angka ke anak 1-10. Pastikan dia mengerti konsep angka tersebut. 1 itu segimana, 2 itu sebesar atau sebanyak apa, 7 itu lebih besar atau lebih kecil dari 6 dan 8, dan seterusnya. Makanya material untuk belajar math ini, cukup detail. Sayang saya gak foto euy. Hehe

5 (2)

Kira-kira kaya ginilah, bisa disearch aja dari nama-nama materialnya ya. (sumber gambar dari sini)

Selain itu, saat belajar, selalu mengulang ritme yaitu kiri-kanan, atas-bawah. 1 material digunakan untuk 1 tujuan. Maksudnya?? Jadi 1 alat permainan, itu hanya digunakan untuk 1 hal saja. Misalnya balok pink tower (kebetulan contohnya pink warnanya). Jadi pink tower ini hanya untuk belajar berhitung 1-10, konsep di dalamnya, baik itu besar kecil, menyusun dari 1-10 dan seterusnya. Lalu, sebelum anak memulai bermain, orang tua melakukan demo dulu bagaimana cara memainkannya. Jangan dengan berbicara, tapi dilakukan saja. Agar anak tidak bingung, dia disuruh mendengar atau memperhatikan (semoga bener penjelasan saya ini). Saat anak melakukan kegiatannya, minimal interupsi.

Practical life ###
Konsep Montessori ini sebenarnya juga melatuh anak dalam practical lifenya, yang kelihatannya hanya permainan. Diajarkan kepada anak mulai dari cara berjalan, membuka-tutup pintu, hingga membuka-tutup mat. Oia mat ini harus ada sebagai area kerjanya. Anak harus tau area kerjanya hanya di situ. Jika keluar dari area kerja, harus dibereskan.

Pengajaran practical life ini berguna untuk melatih kemandirian, konsentrasi, fokus, koordinasi, dan mengikuti perintah. Katanya sih, konsep ini dapat diikuti oleh seluruh negara di dunia yang memiliki berbagai culture.

Pengajaran practical life dimulai mungkin saat anak sudah bisa duduk dan dapat diminta melakukan sesuatu. Dimulai dari kegiatan menyendok, menuang, dan transfer benda menggunakan tongs, pipet, penjepit jemuran, dan klip. Ketiga hal ini akan banyak ditemui di kehidupan. Maka perlu diasah dari kecil. Dan yang paling dekat adalah berlatih makan.

Contoh kegiatannya adalah sebagai berikut:
1. Buka alas mat
2. Simpan tray di depan anak
3. Siapkan beras berwarna, atau bisa diganti dengan kacang hijau, terigu, atau pasir kinetik, atau apapun
4. Siapkan 3 mangkuk, 2 mangkuk berukuran/bentuk sama, 1 mangkuk berukuran/bentuk berbeda.
5. Urutan mangkuknya seperti gambar ini ya

IMG_20170724_091657Susunan mangkuk dan peralatannya untuk latihan practical life

6. Cara melakukannya adalah. Beras di mangkuk 1, dipindahkan ke mangkuk 2 dengan disendok, sampai penuh. Lalu setelah di mangkuk 2 penuh, baru isi mangkuk 3.

IMG_20170724_091758Anak saya lagi coba untuk melakukan instruksi saya, dari menyendok dari mangkuk 1 ke 2 lalu ke 3, dan balik lagi semua ke mangkuk 1, trus dia bilang udahan 😀

7. Setelah semua beras habis di mangkuk 1, kembalikan lagi beras dari mangkuk 2 dan 3 ke mangkuk 1. Ingat urutannya selalu kiri-kanan, atas-bawah. Kenapa begitu? Untuk melatih membiasakan menulis dari kiri-kanan dan dari atas-bawah.
8. Lalu tukar posisi mangkuk seperti pada gambar.
9. Pindahkan lagi dengan urutan yang sama seperti tadi.

9 langkah tadi untuk konsep simpel. Yang lebih kompleks, bisa dengan memberi garis batas pada mangkuk. Jadi anak diminta untuk mengisi beras ke mangkuk sampai batas yang diberikan. Permainan atau demo ini bermanfaat banyak diantaranya melatih menyendok (berguna saat dia makan, memindahkan makanan dari piring satu ke yang lainnya), melatih kekuatan tangannya saat menulis. Jadi tidak bosan, dan kuat menulis lama. Latihan koordinasi mata dan tangan, fokus terhadap yg dikerjakannya, belajar ukuran (banyak dan sedikit, ada dan habis) dan masih banyak lagi.

Untuk belajar makan misalnya, anak juga bisa diajak bermain transfer benda menggunakan sumpit. Misalnya memindahkan pompom, atau playdough yang dibentuk kecil-kecil seperti makanan, dan sebagainya.

Sensori ###
Kegiatan menyendok, menuang, dan transfer benda ini juga berguna merangsang sensorinya, belajar konsep besar-kecil, komparasi, tingkatan, gradasi, dan sebagainya. Usia 3 tahun bisa mulai latihan membaca dan menulis. Caranya dengan pengenalan benda sekitar dan menyusun hurufnya. Ada pula saran menulis dulu baru membaca. Ada banyak material yang dapat digunakan untuk melatih sensori anak diantaranya knop cylinder, pink tower, broad stair, long rods, knobless cylinder, colour box 1,2,3.

Bahasa###
Sebagaimana penjelasan awal, untuk melatih bajasa pada anak, maka setiap memberi tau anak sesuatu, jelaskan secara terperinci dan detail.
Ini….
Mana….
Coba sebut ini apa….
Persiapan membaca dan menulis diantaranya kegiatan menyendok menuang dan transfer benda tadi bisa sebagai persiapannya juga. Membacakan buku sedini mungkin adalah flsalah satu fase mempelajari sesuatu sebelum masuk ke fase baca tulis. Misalnya ikut program 1000 buku dalam 3 tahun. Bisa juga dengan storytelling (baca dengan bahasa yang disesuaikan), read aloud (membaca sambil menunjuk yang sedang dibaca), dongeng (bercerita tanpa buku), dan bernyanyi. Ada banyak juga material untuk persiapan baca tulis ini, dan bisa dikreasikan di rumah masing-masing.

Matematika###
Untuk pengajaran matematika, konsepnya pun sama. Ada beberapa material misalnya number rods, sandpaper number, number rods and cards, spindle box, cards and counters, golden beads.

Culture###
Untuk culture bisa disesuaikan dengan kita. Misalnya mau ngajarin solat. Biarkan anak melihat kita solat. Kasih peralatan solat. Latih memakai dan mempersiapkan untuk solat.

Outcome####
Anak yang belajar dengan metode Montessori, akan memiliki berbagai kelebihan diantaranya:
#disiplin dan mematuhi aturan
# percaya diri
# orangtua tahu kelebihan dan kekurangan anak sedari dini
# menghargai proses
# mencintai sekitar
# berpikiran logis
# kreatif

Tapi perlu diperhatikan juga kekurangan yang sangat mungkin timbul diantaranya
# perfeksionis
# kurang bisa dikritik
# berbeda dari anak yang lain
# ego trap

Kesimpulan saya pribadi dari Montessori ini adalah bagaimana proses belajar anak menjaadikan karakternya dia dari kecil, dengan konsisten tentunya. Konsep pembelajaran apapun di dunia ini kalau konsisten insyaAllah akan bisa.

Selamat belajar. Semangaat yang penting happy laah. Ambil yang bermanfaat yaa. 🙂

workshop montessoriPara ibu yang ikutan workshop Montessori di dehakids Bandung
0

Pentingnya Komunikasi Produktif dengan Anak

#odopfor99days2017 #day4

Bismillahirrahmanirrahim
Komunikasi adalah kebutuhan utama manusia dalam hidup. Dari mulai menghirup udara dunia, sampai dengan hembusan nafas terakhir, komunikasi merupakan hal yang akan terus dilakukan.

Komunikasi banyak macamnya. Bisa komunikasi tubuh, tulisan, ucapan, dan sebagainya. Targetnya pun bisa siapa saja. Bisa jadi salah paham kalau komunikasi tidak dilakukan dengan benar.

Terlebih kepada orang terdekat yaitu pasangan dan anak-anak. Kepada pasangan juga sangat memungkinkan terjadinya kesalahpahaman, akibat komunikasi yang buruk, dan mungkin juga keduanya saling bergantung. Sedangkan dengan anak, perlu komunikasi yang khas, yang sesuai dengan karakternya, dan mungkin sebagi ibu harus punya ilmu psikologi anak, agar komunikasi menjadi produktif.

Tantangan kelas Bunda Sayang IIP di materi pertama ini, mengubah pikiran saya selama ini. Saya yang cepat naik darah kalau anak melakukan sesuatu yang saya tidak suka, tidak setuju, tidak sesuai, dan sebagainya. Kadang itu hanya hal kecil, sehingga membuat saya berpikiran, “Duh, anakku kok ga mau dikasih tau ya”. Rupanya bentuk komunikasi yang belum tepat, menjadi permasalahan saya.

Setelah saya memutuskan untuk bekerja dari rumah (untuk saat ini), saya fokus memikirkan tumbuh kembang anak. Saya ingin sekali anak saya bisa mandiri sejak kecil. Materi kemandirian anak ini memang akan menjadi materi selanjutnya. Tapi saya akan jadikan tema besar saya dalam kelas bunda sayang selama satu tahun ke depan.

Setelah menjalani game level 1 Komunikasi Produktif selama 12 hari. Saya merasakan ada beberapa perubahan baik di diri saya maupun anak. Tapi diri saya yang utama, karena anak akan melihat perubahan itu, dan berharap ikut berubah juga.

Dari 12 hari itu, saya belajar mengelola emosi, menahan marah, menempatkan apa yang penting. Kadang saya masih suka ambil hati kalau anak saya mulai memukul saya. Tapi sekarang saya sadar berarti ada yang salah dengan komunikasi saya, atau pembiasaan anak sehari-hari nya.

Dari 12 hari itu juga, saya belajar menamai emosi anak. Terutama saat kesal, marah, senang dan sedih. Keempatnya saya coba ulang setiap ada suatu kejadian. Anak pun jadi bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya. Kadang dia pun menanyakan perasaan saya. Dududuhh, sesuatuu banget.

Dari 12 hari itu, saya belajar menghindari kata-kata negatif seperti jangan dan tidak. Tapi, ini susah sekali. Karena seringkali dihadapkan pada hal-hal yang tidak pas, jadi reflek saya untuk mengatakan hal itu. Minimal, saya harus bisa menahan untuk tidak langsung bicara, memikirkan apa yang harus saya katakan, baru bicara. Semoga bisa.

Dari 12 hari itu, saya belum mempraktekkan komunikasi produktif kepada suami. Karena saya merasa kami bisa mengungkapkan apa yang kami suka atau tidak dengan sadar. Pernah sih beberapa kali menerapkan komunikasi produktif dengan meminta sesuatu langsung, tanpa kode-kode.

Sedangkan anak butuh banyak belajar dalam memahami emosi pribadinya. Bagaimana harusnya bersikap, dan sebagainya yang menjadi peer buat saya.

Dengan menuliskan game setiap hari atau setiap melewatinya, saya merasa ada sebuah evaluasi yang konsisten, dan juga target otomatis yang terpasang untuk keesokan harinya. Semoga bisa menjadi evaluasi untuk seterusnya.

IMG_20170615_165454

Dalam gamelevel1 ini, saya juga berhasil menyelesaikan 1 buku yang juga menjadi pengaruh dalam mengelola emosi saya. Buku Happy Little Soul milik @retnohening, menjadi santapan saya di saat-saat saya ingin marah. Semoga menjadi amal kebaikannya mba Retno. Cukup ampuh untuk self healing kalau saya lagi marah ke anak. Apalagi setelah saya selesai membaca, saya baru melihat Instagram beliau yanh didominasi oleh bintangnya yaitu Kirana. Usianya yang tidak jauh berbeda dengan Rara, membuat saya berpikir, banyak hutang yang harus saya bayar ke anak. Waktu, belajar, bermain, mengajarkan kebaikan, dan masih banyak lagi. Alhamdulillah.

Setelah ini, saya jadi ingin punya target 1 buku selesai saat materi selesai. Semoga bisa yaa. Aamiiin

Semangat Komunikasi Produktif!!! 🙂

#Gamelevel1
#KelasBunsayIIP
#BundaSayang
#IIP
#Komunikasi produktif
#Aliranrasalevel1

0

Menjawab Kekhawatiran

Sudah masuk bulan Juni 2017. Berarti sudah hampir 4 tahun usia pernikahan saya dengan sang kekasih. Ditambah dengan anggota keluarga baru, Raida (3y 2m), sebagai penyemangat kami berdua.

Sebagai mahmud alias mamah muda, saya dilanda kekhawatiran atas manusia kecil yang Allah amanahkan kepada kami. Dunia yang kejam, pergaulan bebas, kriminalitas, kebodohan, kemiskinan, remaja-remaja galau, dan kondisi-kondisi lainnya yang membuat kepala pening kalau dipikirkan. 

Maka sejak ananda menangis pertama kalinya, saya terus cari ilmu, sebagai bekal saya menemani, mendidik, membimbingnya. Sesekali terlintas juga kalau misal salah satu atau kami berdua dipanggil lebih dulu ke hadapan Yang Maha Kasih, bagaimana anak saya nanti hidup. *Cirambaay*

Berbagai ilmu parenting yang saya dapat sedikit demi sedikit, membuat saya berpikir bahwa hidup di dunia hanya sebentar. Apalagi sebagai ibu, tidak ada kewajiban untuk mencari nafkah. Walaupun ada tuntutan diri untuk berbakti kepada orangtua, menjadi pertimbangan yang cukup pelik. Dunia cuma sebentar untuk mencari sebongkah berlian. Apa artinya kalau anak terbengkalai. 

Ketika menjelang 3 tahun usianya bulan Maret yang lalu, saya memutuskan untuk menjadi freelancer. Ya seperti yang saya harapkan sebelumnya. Ini adalah hasil dari ilmu-ilmu yang saya dapat dari parenting. Anak yang lucu dan menggemaskan, dan berusia emas ini cuma sebentar. Maka saya ingin menemaninya sampai ia melewatinya. Selepas itu, saya berharap bisa kembali beraktifitas (bekerja) untuk dapat mengabdikan diri atas ilmu yang dimiliki. 

Hampir segala buku parenting saya beli. Walaupun belum semua saya khatamkan. Seringkali setiap hampir selesai, malah pindah ke buku lainnya lagi. Ikut grup berbagai macam demi mendapatkan berbagai ilmu yang harus jadi bekal buat saya pribadi. Segala kulwap parenting saya masuki, demi pencerahan. Menjapri beberapa ibu-ibu hebat, demi mendapatkan semangatnya dalam mengarungi kehidupan berumahtangga, terutama mendidik anak. Selalu merasa kurang ilmu, bagaimana, bagaimana, dan bagaimana. Semoga bekalnya cukup dan bisa dipraktekkan, bisa ditularkan, bisa menjadi manfaat, dan berkah.

Syaqiq Al Balkhi berkata,

الدخول في العمل بالعلم والثبات فيه بالصبر والتسليم إليه بالإخلاص فمن لم يدخل فيه بعلم فهو جاهل

“Masuk dalam amalan hendaklah diawali dengan ilmu. Lalu terus mengamalkan ilmu tersebut dengan bersabar. Kemudian pasrah dalam berilmu dengan ikhlas. Siapa yang tidak memasuki amal dengan ilmu, maka ia jahil (bodoh).” (Hilyatul Auliya’, 8: 69).

Sumber: https://muslim.or.id/18866-ilmu-dipelajari-untuk-diamalkan.html

Jadi kesimpulan sementara adalah, terus cari ilmu, terus amalkan, terus bersabar, terus belajar IKHLAS.

Bismillahirrahmanirrahim

#odopfor99days2017 #day3 

0

Lulus Matrikulasi, terus?

Bismillah

#odopfor99days2017 #day2

Alhamdulillah sudah lulus matrikulasi. Kuliah online buat para ibu nih. Menurut saya mah penting, karena jadi ibu itu harus banyak ++ nya. Nah gimana caranya biar bisa jadi ++? Silahkan ikuti kelas Matrikulasi, dan kelas-kelas Bunda lainnya yang diadakan oleh Institut Ibu Profesional. Tenang, cuma belajar lewat hp kok, pendaftaran sekali buat seumur hidup. Kalau saya karena tinggal di seputaran Bandung, jadi ikutnya IIP Bandung.

Setelah lulus matrikulasi ini, saya jadi berpikir panjang. Bahwa saya adalah perempuan. Fitrahnya adalah di rumah, dan tidak wajib bekerja. Orangtua, saudara, teman dekat, masih berharap saya terus berkarya lewat bekerja. Selain supaya seorang istri punya penghasilan, memang ga ada yang tau ke depan akan terjadi apa.

PANITIA OPEN HOUSE IIP BANDUNG.jpg

Ada 2 hal yang saya juga masih bingung bin galau dalam mengarungi kehidupan yang fana ini. Tsaaahh. Pertama, saya akan tetap mencari penghasilan, yang juga merupakan salah satu mimpi saya. Kedua, saya akan fokus mencurahkan waktu dan tenaga saya untuk anak dan suami, dan keluarga. Sebenarnya dari kedua hal ini tidak perlu dipertentangkan. Kenapa tidak disatukan saja? Suami saya memang keberatan kalau saya bekerja full time, sehingga waktu untuk anak dan suami tinggal sisa yang gak berkualitas. Saya bisa jadi freelancer, menerima kerjaan yang sifatnya jangka pendek, untuk tetap dalam koridor ‘passion’ saya. Saya pun bisa sambil mengejar apa-apa yang saya inginkan dalam kehidupan ini, yang biasanya menjadi keluhan saat bekerja kantoran, saya tidak bisa melakukannya.

Waktu berjalan terus, jadi yang harus dilakukan adalah yaa tentu saja MAJU TERUS. Apa yang menjadi mimpi, bisa terus dikejar, asalkan FOKUS, TERENCANA, dan DOA yang KUAT. Tapi rupanya saya terlalu banyak keinginan. ALhamdulillah atuh ya punya banyak keinginan. Keinginan yang banyak ini terkadang tidak disertai dengan rencana yang panjang dan baik.

SAYA SEKARANG

Jadi saya teh sekarang, sudah tidak bekerja kantoran, melainkan bekerja dari rumah. Tapi saya punya PeeR besar untuk bisa bekerja dari rumah. Saya masih merasa, bahwa saya tidak bisa bekerja kalau di rumah. Jadi saya harus pergi keluar, supaya tidak ada gangguan anak. Satu hal yang baru saya pahami dari sebuah tulisan Raluca Loteanu dalam blognya, kalau anak memanggil-manggil kita dan mengajak bermain ketika kita sedang sibuk mengerjakan sesuatu, berarti dia butuh kita. Penuhi dulu kebutuhannya, percayakan bahwa kita ada buat dia. Baru nanti dia akan memberikan waktu buat kita untuk mengerjakan hal yang lain. Pemahaman saya yang salah selama ini, menganggap anak sebagai gangguan kalau saya bekerja di rumah. Memenuhi panggilannya dulu akan lebih menenangkan. Beda sedikit ceritanya kalau kita lagi diburu deadline.

Sedikit soal kerjaan, ceritanya kemarin-kemarin (dan sekarang), saya dapet kerjaan yang mempertemukan saya dengan para pengusaha. Ada yang jadi GMnya salah satu merk sepatu, ada juga pengusaha yang merupakan supplier sayur dan buah di supermarket ternama se-kota Bandung. Saya belum sempat wawancara satu-satu, gimana mereka memulai, jatuh-bangunnya. Yang jelas, mereka teh orangnya nyoh-nyoh gitu. Maksud saya, gampang ngasih ke orang lain. Saya pikir, tiru aja dulu sifat baiknya ini ya. Semoga besok-besok saya jadi DIrut sebuah usaha. Aaaamiiiiiinnnn. Jadi supaya sukses seperti mereka, ya usahanya tidak sedikit, perjuangannya juga tidak sedikit. Anggaplah apa yang dijalani sekarang sebagai perjuangan menuju kesuksesan duniawi. Heitss, jangan lupa ukhrowi, suka dikesampingkan gitu sih.

Trus sambil ngerjain kerjaan sampingan, saya nyoba jualan. Entah mungkin saya yang perfeksionis, jadi cukup ribet juga si jualan ini. Eits, saya ngomong ribet ini keluhan bukan ya?hehe. Sedikit ribet tapi asik (terutama pas dapet transferan duit dan good testimony). Diantara keribetan yang saya bikin sendiri adalah memfoto produk satu persatu, zoom in dan zoom out-nya, lalu edit masing-masing produk, kasih kode, unggah produk yang ada beberapa tahap, me-rekap peminat, pembeli, mana yang terjual, mana yang masih ada untuk disiapkan unggah pekan depannya. Oia, saya baru jualan di grup facebook kampus kesayangan aja, segitu ribetnya. Tapi terbayarlah, senang :). Sekarang lagi nyoba untuk merambah ke online via Instagram. Karna saya jualan kebutuhan anak, saya bikin brand yourchilneedsboleh loh dikunjungi dan diboroong.

Trus selain freelancer (arsitek dan arsitek Lanskap), dan jualan online, saya juga gabung di beberapa komunitas online. Yaa kaya IIP ini, yang sekarang lagi bersiap untuk ikut kuliah online Bunda Sayang, yang masa kuliahnya adalah 1 tahun. Jadi ibu bisa kuliah juga kok, online pula, jadi bisa dapet S1 sendiri, karena kuliahnya 4 tahun. Subhanallah luar biasa. Saya sedang tertarik sama komunitas keluarga/parenting, karena merasa kurang banget ilmu saya di sini. Jadi selain ikutan IIP, saya juga sedang mulai berpartisipasi dalam komunitasnya sabumi. Komunitas ini ada blognya dan ada pagenya, yang bisa dikunjungi. Banyak banget pelajaran di sabumi ini. Malah lebih mengangkat ke kemandirian. Jadi saya merasa cocok banget dengan grup ini. Oia sabumi ini, komunitas homeschooling. Sampai saat ini saya belum memutuskan untuk meng-homeschooling-kan anak. Cuma saya ingin ambil ilmu-ilmunya. Bagaimana homeschooling, terutama untuk preschool.

Hubungannya SAYA SEKARANG dengan lulus matrikulasi? Iya, jadi saya teh harus punya target hidup ke depan. Minimalnya adalah bagaimana target saya menjadi Muslimah, istri, ibu, dan anak. Gatau udah berapa kali saya bikin target kaya gini. Keunlah (biarinlah) ya, ALhamdulillah punya target-target tertulis teh.

Muslimah
Saya merasa kualitas ibadah saya jauh menurun, terutama setelah menikah. Tapi karena menikah adalah juga ibadah, jadi saya juga berusaha tetap dalam koridor ibadah. Tapi saya ingin kembali menggiatkan ibadah-ibadah sunnah. Baiklah, target saya sekarang adalah DOA!! Saya maleees banget untuk bertahan duduk lama setelah sholat. Karena Allah suka ngasih saya ide-ide untuk melakukan sesuatu, pas saya lagi sholat. Jadi sholat gak khusyuk, selesainya jadi terburu-buru untuk lanjut yang lain. Jadi kadang, doa teh hanya ritual bacaan arabnya doang, tanpa diresapi maknanya. Trus langsung berdiri, lipet mukena, kembali beraktifitas duniawi. Padahaaal saya sangat butuh momen DOA ini. Trus juga harus membiasakan DOA dimana-mana. Udah ini dulu. Sedikit curhat, saya sedang dikasih banyak ketakutan dan kegelisahan, ini mungkin karena saya kurang dzikir dan DOA. Yaa Allaaaah ampun, jadikan saya mencintai ibadah sebagaimana mencintai diri sendiri…

Istri
Sebagai istri, saya juga kadang masih suka ada kesel-kesel sama suami. Wajarlah ya. Trus saya belum maksimal dalam taat. Saya pernah denger bahwa, turuti aja apa yang suami mau, selama tidak melanggar syar’i. Tapi ada hal-hal yang menurut saya gak perlu dipaksakan, dan berujung kekesalan saya. Mungkin saya kurang DOA itu tadi ya. Dari segi manajemen rumah juga saya masih buruk. Masih suka berharap sama suami, padahal berharap mah sama ALlah aja fin. Syarat istri kalau mau masuk surga cuma satu, tinggal taat ke suami, lalu kalau suami ridho, masuk surga deh. Naaah ini yang susah teh yaaa. Bismillaaahh, sing ikhlas fin. Yaa Allaaaah bimbing saya dan suami saya….

Ibu
Sekarang ini, saya lagi baca buku Bunda Sayang. Dan paling nancleb (menghujam hati) adalah bab kemandirian anak. Naah, mungkin saya gak bisa kerja di rumah juga salah satunya adalah karena kemandirian anak saya belum dilatih dari kecil. Jadiii, sekarang ini saya fokus pada kemandiriannya. Alhamdulillah, toilet training udah lulus, walaupun saya masih takut-takut kalau pergi keluar rumah, di rumah masih harus sering ditawarin untuk ke toilet. Takut gak ada kamar mandi bersih, takutnya ngompol, dan ketakutan lainnya. PeeR kemandirian yang lain adalah makan!! Dengan tidak memilih-milih, harus sambil duduk, dan habis. Woow ini sesuatu banget. Poin makan ini, jadi PeeR tersendiri buat saya supaya bisa masak yang enak. Dalih masih tinggal sama orangtua, jadi weh saya males masak, karna tidak mendesak. Jadi gak putar otak bagaimana supaya anak mau makan dengan lancar jaya. Semoga rumah cepet jadi, bisa pindah dan bisa belajar mandiri terutama buat diri saya sendiri. Dan semoga saya dan anak tidak stress. Yaa Allaaaah mudahkan, kabulkan….

Anak
Birul walidain. Ngerasa ngerepotiiin terus ke orangtua. Makanya sebisa mungkin segera pindah. Bukannya gak mau tinggal bareng ortu. Seneeeng pake banget kalo tinggal sama orangtua teh, tapi saya jadi gak belajar. Orangtua saya biasa mempermudah anaknya. Jadi apa-apa kalau ada yang susah ya dibantuin. Bahkan tanpa diminta pun, dengan inisiatif yang tinggi mereka langsung action. Jadi maluuu banget. Ngerasa juga belum bisa ngasih apa-apa sama orangtua. Salah satu tujuan saya tetap berpenghasilan adalah dengan tujuan, saya punya uang yang banyak, bisa ngasih orangtua. Biar bisa jalan-jalan, ngasih-ngasih orang, ngundang makan-makan, dan lain-lainlah. Ya Allaaah kabulkaaan,, semoga rezeki saya lancar, rezeki orangtua saya juga lancar, rezeki suami lancar, semua lancarlah.

TARGET DUNIAWI, Perlu gitu?
Perlulah, mimpi yang tertulis kan lebih bagus. Kali aja ada yang baca ini, trus Allah mengabulkan mimpi saya lewat beliau. hehe Aaamiiin
– pengen punya mobil yang kecil (katakanlah sebangsa kar*mun GX), jadi bisa pergi kemana-mana sama anak. Bisa berdua aja. Naik transportasi umum di Indonesia belum layak menurut saya. Jadi solusi buat saya sementara adalah bisa nyetir. Jadi mobil ini sebagai motivasi supaya saya bisa cepet bisa.
– Umroh haji sekeluargaaa. Aaamiiin
– Bersih dari RIBA, lunas hutang!!!

Tulisan ini mungkin merupakan tahap-tahap dalam mencapai mimpi di tulisan saya yang berjudul Akan jadi apa saya?. Sekian dulu curhat mimpi dan target saya. Eh hubungannya dengan matrikulasi teh apa tadi ya? Yaa pokonya saya harus jadi ibu profesional ++. Dan itu harus bertarget. Gitulah pokonya…

7 hari menuju Ramadhan

 

0

Ibu, Manajer Keluarga

#ODOPfor99days #1

Bismillahirrahmaanirrahiim

Sebagai ibu, apa sih yang perlu ditekuni di universitas kehidupan ini?                                 Menurut saya adalah Manajemen.
Klise? Iya
Tapi memang itu yang dibutuhkan para ibu.

Saya melihat beberapa contoh kasus di dekat rumah saya saja. Ibunya sibuk ngerumpi dengan tetangga, atau mungkin sibuk bekerja. Ketika bersama anaknya, yang dilakukan cuma nyuapin, mandiin, atau menyuruh sesuatu sambil marah, dan sebagainya. Tapi ada juga sih yang baik, tapi tetep juga keluarga belum menjadi prioritas. Mungkin saya termasuk juga. Capek kerja di kantor. Sampai rumah pengennya leyeh-leyeh istirahat, malem sedikit aja udah ngantuk. Atulaah, kasian anakmu Bu!

POST NHW1.jpg

Manajemen apa sih? Mengambil definisi dari Ricky W. Griffin, bahwa manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. (dari Om Wikipedia)

Saya memilih 2 hal yang penting yaitu Manajemen Waktu dan Manajemen Hati.

Waktu yang bagaikan pedang, tidak bisa terulang dua kali. Dengan segala kebutuhan saya sebagai ibu, istri, dan wanita sosial dan mungkin akan kembali ke ranah pekerjaan (formal/nonformal), maka manajemen waktu sangat penting. Manusia yang sama, waktu yang sama, bisa berbeda kebermanfaatannya. Pada jam yang sama ini, ada yang sedang membaca, atau menonton TV atau tidur atau berolahraga atau tilawah atau kongkow-kongkow, dan sebagainya. Kita bisa menentukan mau pilih kegiatan yang mana pada jam yang sama dengan orang lain.

Jika berandai-andai, dan semoga menjadi nyata, dengan waktu yang sama dengan anda semua, saya harap bisa memberi lebih, melakukan lebih. Berarti manajemen waktu-lah yang saya butuhkan saat ini. Bagaimana menentukan skala prioritas yang cukup sulit dijalankan.

Menikah adalah suatu gerbang kebahagiaan. Tapi bisa jadi kekecewaan manakala disikapi dengan hati yang tertutup, yang tidak mau menerima. Perlu banyak belajar, mengenal karakter, mengetahui yang disukai dan yang tidak disukai oleh pasangan, dan sebagainya.

Begitu juga setelah diamanahi buah hati. Ini lebih sesuatu lagi ya. Karena si mungil ini dari belum bisa apa-apa, kita tidak tau dia maunya apa, hanya bisa meraba-raba dari responnya. Kalau si kecil udah bisa ngomong, dia maunya apa kita maunya apa. Bisa jadi naik darah ini kalo kita gak punya strateginya. Sepulang kerja, kalau ada sesuatu yang tidak mengenakkan hati, bawaannya jadi bad mood. Nah ini nih, udah mah ketemu anak sebentar waktunya, pas ketemu malah emosi. Inilah kebutuhan kedua saya yaitu manajemen hati, bagaimana belajar ikhlas, mengatur emosi yang sedang meluap-luap, atau bahkan yang sampai pengennya teriak-teriak.

Jadi kenapa manajemen?

Bahwa saya punya cita-cita keluarga saya semua bisa mandiri. Pernah suatu kali saya membaca grup Whatsapp yang lain, membahas tentang kematian. Coba bayangkan kalau kita sebagai ibu atau suami kita yaitu ayah dari anak-anak, dipanggil Allah duluan, tapi anak kita masih kecil-kecil. Kasihan mereka segala sesuatu masih disuapin. Nanti dia akan tergantung yang menyuapinya. Dari situ, saya ingin sekali membuat anak menjadi mandiri, bukan hanya dalam memenuhi kebutuhan pribadinya seperti makan, minum, mandi, buang air saja. Tapi lebih kepada bagaimana dia mengenal Rabbnya, mengerti makna hidup untuk apa. Bakal jadi berat kalau kedua bekal tadi tidak saya miliki. Mana mungkin anak saya bisa rajin membaca kalau saya main HP, mana mungkin anak saya pintar menulis kalau saya masih sibuk sama cucian, setrikaan, dan lainnya. Kalau saya masih marah-marah karena anak tidak melakukan yang saya inginkan, bagaimana dia bisa memiliki adab yang baik.

Begitu pula saya terhadap suami saya, maupun suami saya terhadap saya. Sebagai ibu, juga harus bisa membuka pintu rezeki yang lain. Agar tidak tergantung pada suami. Jadi bergantung sama Allah aja. Kebergantungan ini akan mudah kalau kita sudah mengenal Rabb kita. Itu baru satu hal dari segi rezeki. Tapi saya merasa masih jauh. Jadi tetap harus banyak belajar, dimulai dengan ilmu manajemen ini.

Gimana cara belajarnya?

Belajar manajemen atau belajar merencanakan, mengkoordinasikan, perlu pengalaman dan bahkan praktek langsung. Artinya tidak ada yang bisa dilakukan kecuali dimulai dari sekarang.

Kalau boleh dijadikan tahap-tahapnya, saya mulai dengan membuat target per tahun. Resolusi tahun 2017, bisa menjadi acuan. Kemudian akan diturunkan menjadi target bulanan, dan mingguan. Sebenarnya saya seringkali kesulitan kalau membatasi waktu seperti ini. Tapi tidak ada yang tidak mungkin, jadi kita coba lagi :).

Untuk bisa menghargai waktu, perlu membuat target mingguan, yang diturunkan per hari. Lagi-lagi saya bilang, saya seringkali kesulitan kalau membatasi waktu seperti ini. Tapi tidak ada yang tidak mungkin, jadi kita coba lagi :). Sama halnya dengan mengatur emosi. Memiliki target-target pencapaian yang bica dicoba setiap harinya yang dievaluasi setiap akhir hari. Target pertama saya adalah tidak berputus asa mendorong anak melakukan sesuatu yang saya ingin dia lakukan.

Untuk dapat ilmu-ilmu dasarnya, saya perlu membaca lebih banyak. Membaca kisah-kisah, contoh pengaturan waktu, pengasuhan anak, dan seterusnya. Bertanya ke beberapa orang yang lebih oke dalam manajemen waktu dan hati ini. Yang sering saya lupa dan perlu saya ingat lagi adalah mengevaluasi target yang sudah saya pasang.

Apa yang diharapkan?

Harapannya, dalam proses belajar ini, saya bisa lebih memahami bahwa Allah memberikan waktu yang sama, digunakan untuk kebaikan. Semoga saya bisa mengisi waktu lebih baik lagi. Alangkah ruginya kalau kita sama dengan kemarin atau malah lebih buruk. Astaghfirullah, saya masih susah untuk yang ini. Kebaikan yang kita lakukan itu pun harus dengan ilmu. Semoga saya bisa terus membenahi hati supaya menjadi bersih, supaya segala ilmu kebaikan akan bisa masuk dan nerap.

Ayo ibu-ibu kita belajar terus, demi masa depan cerah masuk Surga, Insya Allah. Aamiin.

871 words

0

Materi #1 Matrikulasi IIP Batch 3: Adab Menuntut Ilmu

Bismillahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillah wa syukurilah, akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk ikut dalam kelas Matrikulasi yang diadakan oleh Institut Ibu Profesional dengan penggagasnya ibu Septi Peni Wulandari. Sebagai seorang ibu, kita sangat perlu terus belajar demi ‘kewarasan’ dalam menjalani rumah tangga. Kalau terlalu terpaku dengan tugas kenegaraan (baca: pekerjaan rumah tangga yang bejibun gak ada selesainya, apalagi yang tidak punya ART ya), atau mungkin juga ada pekerjaan kantor, dan tugas yang diemban lainnya, kita mungkin bisa melambai-lambai cari kamera di pojokan alias menyerah saja.

Bersyukur bisa dikumpulkan dengan ibu-ibu hebat luar biasa yang punya komitmen untuk belajar menjadi ibu profesional. Di kota Bandung aja ada 300 orang yang punya kesungguhan untuk ikut kelas ini. Luar Biasa. Sekarang ini sudah angkatan ke-3 programnya. Berdasarkan informasi yang saya dengar, dalam setahun bisa 3-4 kali diadakannya program Matrikulasi ini.

Apa sih Program Matrikulasi Ibu Profesional ini?

Adalah program kuliah para ibu dan calon ibu yang ingin maupun yang sudah lama bergabung di komunitas ibu profesional, agar memiliki kesamaan kompetensi ilmu-ilmu dasar menjadi seorang ‘Ibu Profesional’, serta memahami kultur komunitas.

Siapa aja yang boleh ikut?

Semua ibu atau calon ibu boleh ikut.

Bagaimana proses jalannya perkuliahan?

Program Matrikulasi ini akan berjalan selama 9 kali (dalam 9 pekan) kuliah online via Whatsapp Messenger. Materi akan diposting pada Senin pagi, dan akan banyak diskusi antar peserta maupun tanya jawab dengan fasilitator. Setiap Selasa pagi, akan diberikan ‘Nice Homework’ yang harus dikerjakan peserta dengan batas waktu yang telah ditentukan. Peserta yang lulus, dapat mengikuti tahapan belajar Ibu Profesional selanjutnya.

Saya share di sini materi yang disampaikan di hari pertama kelas Matrikulasi Batch 3

 

KELAS MATRIKULASI BATCH 3

INSTITUT IBU PROFESIONAL – Bandung 1

 

Resume Materi Sesi #1

 

ADAB MENUNTUT ILMU

Senin, 23 Januari 2016

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan

Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

 

☘ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk. Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

 

☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Menuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

 

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.

d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.

e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.

Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

 

Referensi :

Turnomo Raharjo, Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah, 2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

 

Video Pembukaan Matrikulasi Institut Ibu Profesional

https://www.youtube.com/watch?v=bgqJdS6s_fY

Silahkan dibaca diresapi beri waktu diri kita mencerna 😉

 

Resume Tanya Jawab Sesi #1

 

*Pertanyaan 1.* 

Yg sya mau tanyakan, skrg banyak sekali info2 yg tersebar di online.. gmn ya caranya kita menyaringnya? Terkadang info itu bersifat wajar, masuk akal.. tp kita blm tau kebenarannya.. bgmn sikap kita terhadap info tsb?

*Jawab:*

Kalau saya prinsipnya, jangan percaya langsung sama broadcast. Jangan diterima langsung. Karena broadcast message itu tidak jelas sumbernya. lalu kalau info online dari web, lihat sumbernya apakah bisa dipercaya. Jangan terima mentah berita hanya dari satu sumber, kroscek dengan berita dari sumber lain

*Pertanyaan 2.* 

Selain itu, apakah kita blh menyebarkan materi kuliah Ibu Profesional ke teman sesama ibu baru dgn sumbernya kami tuliskan dari Komunitas Ibu Profesional?  Apakah ada peraturannya? Krn nanti materinya akan tersebar..

*Jawab:*

_Berbekal jawaban Ibu Septi pada matrikulasi batch #2_

Program matrikulasi ini program berkelanjutan dg sistem pendampingan. Materi matrikulasi boleh di tulis secara runtut di blog/web pribadi kita masing-masing kemudian di share ke publik. Yang tidak boleh adalah langsung share materi ke salah satu/beberapa grup WA tanpa pendampingan fasilitator.

Karena ini program berkelanjutan, tidak boleh diterima sepotong-potong dengan sistem broadcasting ke sosmed messager (seperti WA, line, telegram dll). Kalau di wall fb, blog, web masih bisa ditelusuri satu persatu. Karena program matrikulasi ini kita lakukan serentak se nasional per 3 bln sekali baik offline maupun online.

*Pertanyaan 3.* 

Mau tanya,  kan lebih baik kalo g pake buku plagiat dan sejenisnya,  tapi bagaimana kalo buat buku kuliah?  Kalo beli aslinya bisa sejuta,  bagaimana kalo kita g ada uang?

*Jawab:*

_teh susi ini jawaban dari aspirasi teman teman fasil mba sukeng, farda_

Ini berhubungan dengan keberkahan ilmu. Makanya Kita sering mengalami begitu mudah lupa dengan ilmu yang kita pelajari. Kecuali sudah meminta ijin penulis dan penerbit. Bisa menghubungi penerbit atau penulisnya.

Jika memang buku tidak tersedia maka kita harus minta ijin untuk meng-copy materinya. Tambah lagi dengan Jika memang ada keterbatasan dana,kita bisa akali dengan pinjam ke perpustakaan atau patungan bbrp teman untuk membeli yang asli.

Yang sering kejadian adalah sistem operasi, program, musik, dan film yang ada di HP dan komputer yang seringnya adalah bajakan.

Ilmu di peroleh untuk sehingga meninggikan derajat kemuliyaan, maka sudah sepatutnya, diperoleh pula dengan cara yang beradab dan mulia.

Mulai sekarang belajar mengurangi plagiatisme, mengkopi, membeli bajakan benda2 sumber ilmu.

*Pertanyaan 4.*

Meskipun ini judulnya ibu profesional.. bisakah saya ingin membagi ilmu dgn suami?? izin share materi ke suami.. krna sy yakin rumah tangga harus sepemahaman jg dgn suami.. kebetulan saya ldr dgn suami jd jarang berkomunikasi langsung.

*Jawab:*

Menurut saya sih malah wajib teh sharing ke pasangan. Karena biar sejalan dengan pasangan dan pasangan tau kita lagi belajar apa. Asal dengan prinsip jawaban pertanyaan nomor 2.

*Pertanyaan 5.*

Kita tau bahwasanya psikolog anak memiliki ilmu yg lbh dalam perihal anak atau bahkan hal yg kita bahas ‘portofolio anak’. Apakah disarankan seorang anak seumur hidup minimal sekali dtg ke psikolog anak?

*Jawab:*

Kalau menurut saya, perlu teh ziyana. Prinsip saya bertanya kepada ahlinya, karena kita minim ilmu. Tapi kuatkan hasil dari psikolog dengan feeling orangtua. Sebenarnya orangtua adalah orang pertama yang memahami anak.

_ini tambahan jawaban pendukung dari seorang psikolog anak, mba hasya_

Sebetulnya ke psikolog itu tdk harus selalu kalau anak “kenapa2”. Sama seperti konsep “check-up” kalau ke dokter, ke psikolog pun bisa juga check up untuk tau gambaran profil anak..

Yang bisa didapatkan kalau melakukan pemeriksaan ke psikolog:

– gambaran potensi kecerdasan anak

– kemampuan berpikir anak

– cara anak belajar

– kemampuan motorik, baik kasar maupun halus

– kemampuan komunikasi/bahasa

– kemampuan ekspresi & mengelola emosi

– kemampuan bersosialisasi

Dari semua poin ini, bisa dilihat aspek2 mana saja yg menonjol pada anak maupun mana yang membutuhkan stimulasi lebih lanjut

*Pertanyaan 6.*

Apakah seseorang yang telah mengaplikasi adab menuntut ilmu dengan baik, pasti akan sejalan dengan keberhasilan  hasil belajar (prestasi)nya?

*Jawab:*

InsyaAllah teh, dengan prinsip menuntut ilmu karena ibadah. lalu jangan terpatok dengan prestasi. Dan ingat Allah menilai proses, kalau ternyata hasilnya ada sebuah prestasi, itu berarti bonus dari Allah.

*Pertanyaan 7.* 

Pada bahasan: adab menuntut ilmu pada diri sendiri, bagaimanakah cara menghilangkan pikiran ‘saya sudah tahu’ ketika menerima sebuah ilmu? Adakah triknya?

*Jawab:*

Kosongkan gelas teh, siap menerima tambahan ilmu & memperbaiki diri. Saya ada analogi begini.

Kita kan udah biasa dong masak nasi goreng. Lalu dapat undangan belajar masak nasi goreng bersama chef hotel. Pada saat belajar sama chef, kita mengkosongkan gelas, menerima ada orang lain yg lebih tau.

*Pertanyaan 8.* 

Bagaimana ya tips bisa membersihkan diri?

*Jawab:*

_berbekal jawaban Ibu Septi pada matrikulasi batch #2_

Tazkiyatun nafs dalam mencari ilmu ada 5 antara lain :

  1. Bersihkan niat, semata-mata untuk meaningkatkan derajat kemuliaan hidup.
  2. Ilmu itu untuk sebuah kemuliaan, maka carilah dg cara-cara yg mulia. Misal tidak menyakiti org yg menjadi sumber ilmunya, tidak membajak karyanya, tidak mengakui tulisannya sbg tulisan kita dll.
  3. Kosongkan kepala dg ilmu yg sdh pernah kita dapatkan dan penuhi dengan rasa ingin tahu. Sehingga kita tidak jadi orang yg sok tahu
  4. Belajar mendengarkan dengan sepenuh hati, ketika ilmu disampaikan.
  5. Hilangkan dendam dan luka lama, sehingga kita tulus dalam menuntut ilmu, krn untuk kerahmatan bagi semesta, bukan krn kepentingan kita

*Pertanyaan 9.* 

Teh,mengenai adab terhdp sumber ilmu point a mhn penjelasan lbh lanjut..

_Pertanyaan serupa:_

  • Saya kurang paham mengenai Adab thdp sumber ilmu poin 1, maksudnya apakah kita jangan menyerap ilmu setengah-setengah / yang belum tuntas dari sebuah buku ketika kita belum menyelesaikan semua bacaannya, atau seperti apa teh? Mohon koreksi dan penjelasannya.
  • Pada poin ADAB TERHADAP SUMBER ILMU disebutkan, tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari. Mohon penjelasan dan contoh konkritnya seperti apa?
  • Teh kalau materi adab tenda sumber ilmu poin a. Tidak meletakkan sembarangan / memberlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari maksudnya gmn yaa?

*Jawab:*

_berbekal jawaban Ibu Septi pada matrikulasi batch #2_

Maksudnya poin a, tidak meletakkan sembarangan sebuah sumber ilmu dalam bentuk buku dg sembarangan adalah sbb :

  1. Buku tidak diletakkan dalam posisi yg mudah terinjak secara langsung.
  2. Buku yg sdg dipelajari dilipat-dilipat halamannya.
  3. Dan banyak lagi perbuatan lain yg selayaknya tidak kita lakukan thd sumber ilmu.

Bagi yg beragama Islam, pernah dapat ilmu kan untuk tdk memperlakukan Al Qur’an dg sembarangan. Nah sejatinya di adab menuntut ilmu, hampir semua sumber ilmu harus diperlakukan dg bijak. Silakan dirasakan kalau kita pernah menulis sebuah buku, kemudian buku tsb diperlakukan seenaknya oleh orang yg membacanya, pasti rasanya sakit.

*Pertanyaan 10.*

Bagaimana cara mengkroscek sumber ilmu yang benar dan beradab? Mengingat ilmu di era digital saat ini banyak sekali dan dari sumber-sumber yang kita tidak tahu kebenarannya. Atau bahkan kita terjebak dengan ilmu yang telah tercampur dengan mitos (misalnya).

Dan mungkin latar belakang penyampai ilmu yang tidak kita ketahui. (Sekarang kan banyak ya orang-orang yang mengaku ‘berilmu’ tapi begitulah…)

*Jawab:*

Hampir sama dengan jawaban no 1 ya

Prinsipnya jangan taklid pada sesuatu, jangan hanya karena ikut ikutan. Begitu pun dengan sumber informasi.

*Pertanyaan 11.* 

Ilmu apa yg pertama kali harus dipelajari oleh seorang ibu?

*Jawab:*

Menurut saya, ilmu manajemen emosi teh. Emosi itu mempengaruhi segala kehidupan.

*Pertanyaan 12.*

Jika menuntut ilmu adalah untuk berubah perilaku ke arah yang lebih baik, kenapa saat ini ada orang yang ‘ngakunya’ sudah sekolah tinggi tapi kenyataannya malah membuat akhlaqnya tidak terpuji?

*Jawab:*

saya pernah, sering diskusi sama suami. kita ini ada _generasi doing & generasi learning_

learning : belajar, berprestasi, memiliki nilai, tetapi tidak mengamalkan.

doing : belajar & mengamalkan.

contoh sederhana lihat di jalan saat lampu merah. Masih banyak ya kita lihat yang tdk mengamalkan ‘kalau lampu merah berhenti’

*Pertanyaan 13.* 

Faktor apakah yang membuat akhlaqnya menjadi seperti itu?

*Jawab:*

banyak faktor mba. niat, iman, lingkungan.

Contoh lampu merah.

niat : ah ga ada mobil koq, terobos ah

iman : ga ada polisi, aman (padahal Allah Maha Melihat)

lingkungan : ikut ikutan, atau mungkin meniru orangtuanya pernah begitu.

*Pertanyaan 14.* 

Seperti yang kita tahu jenis ilmu itu ada banyak. Ada ilmu parenting, ilmu bisnis, dan ilmu lainnya yg berkaitan dengan hobi seorang ibu tertentu misalnya. Nah, bagaimana cara kita mempelajari ilmu2 tersebut dengan baik, apakah bisa fokus mempelajari banyak ilmu berbarengan secara harmonis dan ‘menguasai’nya, atau harus menguasai salah satu dulu baru pindah ke yg lainnya? Terimakasih

*Jawab:*

_berbekal jawaban Ibu Septi pada matrikulasi batch #2_

Tentukan mata kuliah apa yg akan kita ambil di universitas kehidupan ini. Setelah ketemu, FOKUS di bidang tersebut. Maka gunakan prinsip : Menarik tapi TIDAK tertarik untuk godaan ilmu yang lain.

Totalitas dalam mencari ilmu di jurusan ilmu kita. Setiap info yang masuk gunakan sceptical thinking terlebih dahulu. Default jawaban di otak kita selalu “TIDAK PERCAYA” sebelum mendapatkan dari sumber yang valid. Cari sumber validnya. Sehingga ilmu tsb baik dan benar. Setelah itu amalkan.

Setiap selesai mendapatkan sebuah ilmu baru, saya dan pak dodik segera menuliskan, apa perubahan yg harus kita lakukan mulai esok hari berkaitan dg ilmu tsb.

*Pertanyaan 15.*

Gimana sikap kita atau adab dengan guru yg notabene uda profesor, kadang mereka lupa klo mereka pun tdk selalu benar, tp klo kita mengingatkan koq kesannya kita tidak menghargai beliau?

*Jawab:*

_share jawaban fasil rini mardia_

Yang pertama balik lagi ke adab menuntut ilmu, menerima dengan lapang dada, lalu pake skeptical thingking untuk tabayun.

Gunakan adab ketika menegur, karena profesor, mungkin kita bisa bawa beberapa referensi untuk diskusi lanjutan.

*Pertanyaan 16.* 

Bagaimana caranya ttp istiqomah dlm menuntut ilmu tanpa melupakan adab2nya

*Jawab:*

Biasanya ilmu yg sesuai dengan fokus saya, saya catat, dengan harapan saya lebih mudah membaca tulisan saya, setelah itu saya sediakan waktu khusus membacanya. Ketika siap, saya praktekan, evaluasi. Begitu terus mba, jatuh bangun mengulangnya.

Ini ada jawaban tambahan:

_share jawaban ibu Septi_

pertama kali, carilah alasan terkuat mengapa kita harus belajar ilmu tsb. Hal ini sering disebut sbg

start from the finish line

Setelah itu buat milestone nya, shg kita paham perjln menuntut ilmu kita ini sdh sampai dimana.

Memang tidak mudah, tapi kita bisa membuatnya menyenangkan dan penuh semangat

*Pertanyaan 17.* 

Bagaimana cara untuk  ikhlas dan memulainya?apakah ikhlas disini adalah dengan takdir Allah dan kapasitas diri? Hal apa saja yg berkaitan dengan sesuatu yang harus diikhlaskan?

*Jawab:*

Mba, pertanyaannya super sekali, tapi saya tidak memiliki tips atau cara khusus. Ikhlas itu ilmu tingkat tinggi dan mengamalkannya sangat sulit. Menurut saya, ikhlas itu menerima setiap ritme hidup yang ditakdirkan dibarengi dengan ikhtiar. Misal, kita sudah makan minum jaga istirahat ternyata takdirnya kita sakit, ketika kita ikhlas sakit kita jadi penggugur dosa, kita barengi ikhlas kita dengan ikhtiar ke dokter, minum obat, jaga makan, jaga istirahat.

Mungkin terlihat simpel ya, tapi dalam prakteknya butuh perjuangan. Yang pasti memulainya, ikhlas memilih satu saja ilmu yg ingin kita fokus pelajari diantara banyaknya keinginan.

*Pertanyaan 18.* 

Jika berkenan mohon diberikan tips soal menghargai waktu utamanya tepat waktu.

*Jawab:*

_share jawaban ibu Septi_

Urusan manajemen waktu yg harus dibenahi. Bagi waktu kita :

  1. Mendidik anak
  2. Pengembangan diri
  3. Sosial masyarakat/bekerja

Selama 24 jam, gunakan masa transisi antar waktu tsb untuk mengembalikan energi kita.

Misal saat anak2 sdh tidur ke pengembangan diri, bersiap sepenuh hati, dg cara memberdihkan diri, ganti lokasi dan suasana. Masa transisi dari bekerja ke rumah mendidik anak, maka panggil suasana bahagia, percantik diri. Krn saat berangkat kerja kita cantik maka pulang harus lebih cantik. Berangkat kerja kita sabar, pulang harus lebih sabar.

Sejatinya hanya anak dan suami kita yg paling berhak mendapatkan kondisi terbaik kita. Jangan dibalik.

Dengan menerapkan hal tsb yg saya rasakan Allah memberikan bonus energi luar biasa untuk kita. Prinsipnya,

Jangan pernah menuntut apa yg seharusnya kita dapatkan, tapi pikirkanlah apa yg bisa kita berikan.

*Pertanyaan 19.* 

Jika ada suatu majlis ilmu dan dirasa ilmunya sangat penting tapi guru berkeberatan untuk membawa anak apakah lebih baik tidak datang ke majlis ilmu tsb?

*Jawab:*

_share dari Ibu Septi_

ADAB MEMBAWA ANAK KE MAJELIS ILMU

Seorang ibu yang semangat menuntut ilmu tentu saja segala rintangan akan dihadapinya untuk mendapatkan ilmu tersebut. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kalau kita memiliki anak kecil-kecil, yang tidak bisa ditinggal.Mari kita pelajari adabnya :

  1. Tanyakan ke penyelenggara apakah kelas ini mengijinkan anak-anak masuk diruangan atau tidak?

DON’T ASSUME.

Misal: “Ah, pasti boleh, ini kan komunitas Ibu-ibu/keluarga dan pasti punya anak kecil, jelas boleh lah”, ini ASSUME namanya.

Harus di CLARIFY (klarifikasi) di awal. Tidak semua guru ridha kelasnya ada anak-anak dengan berbagai alasan kuat masing-masing.

  1. Apabila tidak diijinkan anak-anak di dalam kelas, maka kita tidak boleh memaksakan diri. Memilih alternatif untuk tidak berangkat, kalau memang tidak ada kids corner atau saudara yang dititipi.
  1. Apabila diijinkan, maka kita harus tahu diri, tidak melepas anak begitu saja, berharap ada orang lain yang mengawasi, sedangkan kita fokus belajar, ini namanya EGOIS. Dampingi anak kita terus menerus, apabila anda merasa sikap dan suara anak-anak mengganggu kelas, maka harus cepat tanggap, untuk menggendongnya keluar dari kelas, dan minta maaf.

Meskipun tidak ada yang menegur, kita harus tahu diri, bahwa orang lain pasti akan merasa sangat terganggu. Jangan diam di tempat, hanya semata-mata kita tidak ingin ketinggalan sebuah ilmu.

KEMULIAAN ANAK KITA DI MATA ORANG LAIN, JAUH LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN ILMU YANG KITA DAPATKAN.

Maka Jaga Kemuliaannya, dengan tidak sering-sering membawa ke forum orang dewasa yang perlu waktu lama. Karena sejatinya secara fitrah rentang konsentrasi anak hanya 1 menit x umurnya.

Untuk itu andaikata kita punya anak usia 5 tahun, menghadiri majelis ilmu yang perlu waktu 30 menit, maka siapkan 6 amunisi permainan atau aktivitas yang harus dikerjakan anak-anak. Kalau ternyata anak cepat bosan dari rentang konsentrasinya, segera undur diri dan fokus ke anak kita.

*Pertanyaan 20.* 

Untuk yg sudah berpasangan apakah tazkiyatun nafs harus kedua2nya?

*Jawab:*

Mba evi kita tidak bisa menuntut & memaksakan orang lain untuk melakukan sesuatu, tetapi kita bisa menularkan. Kita boleh mengingatkan dengan  baik, tetapi kita yang harus memulainya terlebih dahulu. For things to change, i must change first.

 

Selesai Materi #1. Semoga bermanfaat.

0

Bagaimana Ibu Mengatur Emosi dalam Mengasuh Anak (bagian 1)

header posting.jpg

#dayx #odopfor99days #odopsemester2

Tugas ibu yang demikian banyak tiada tara, menuntut kesabaran yang juga tak berbatas. Ada saja hal-hal yang tidak bisa ibu ‘selesaikan’ dalam mendidik anaknya. Tentu tidak ada yang sempurna. Proses belajar menjadi ibu yang profesional dan sholehah, harus senantiasa dipupuk agar selalu ingat, ingat, dan ingat, serta dapat menerapkannya dalam kehidupan.

Begitu banyak kiblat pengasuhan anak (parenting) saat ini. Tapi kiblat itu janganlah menjadi kiblat utama. Tetaplah cari dan belajar berbagai materi pengasuhan anak dari berbagai sumber, yang sesuai tuntunan Al-Quran dan Sunnah, agar senantiasa berada di jalan yang benar. Karena kita sebagai ibu perlu banyak ilmu untuk jadi tameng dalam menjalani kehidupan yang semakin banyak tantangannya. Eits, para ayah, jangan tinggalkan sang istri berjuang sendiri ya. Ayo kerjasama. Supaya anak-anak kita menjadi sholeh-sholehah, bisa mendoakan kita saat kita sudah tidak di dunia lagi, dan menjadi amal jariah buat kita (tabungan akhirat kita yang sangat mahal harganya).

Berbekal dari keterbatasan saya dalam mengasuh anak, saya mencoba berbagi beberapa tanya jawab dengan beberapa orang yang saya anggap merupakan ibu yang baik secara pribadi, maupun baik dan berhasil dalam mengasuh serta mendidik anaknya.

Tanya jawab Narasumber 1

Saya: Teh, pengen tau dong target pribadi teteh apa aja. Terutama dalam hal ibadah. saya ibadah turun banget sejak nikah

Narasumber 1: Target ibadah? 🙈 Whua…malu saya.. Anaknya usia berapa teh?

S: 19 bulan the. Masih kicil.

N1: Dulu, awal2 punya bayi pertama dan bekerja, saya juga sama. Keteteran dua bulan. Lalu berpikir, ga boleh gini terus. Karena ‘kering’ rasanya. Akhirnya saya putuskan untuk ‘keras’ sama diri sendiri. Saya set target. Saya set konsekuensi klo targetnya missed. Misal: target tilawah 1juz, dilalah hanya tercapai setengah juz. Maka esoknya, target saya jadi 1½ juz. Karena punya hutang yang kemarinnya.

S: Mungkin memang harus dipaksa ya teh, pelan-pelan.

N1: Iya teh. Berproses saja. J

S: Anak teteh yang 3 tahun udah diajarin apa aja teh? Saya bingung kalo mau ngajarin keagamaan ke anak, mulainya darimana ya?

N1: Bingungnya kenapa? 😅 Buat rencana belajarnya teh…

S: Ah iya ya teh, mungkin karna saya ga bikin rencananya jadi saya bingung

N1: Ini program HS anak2 saya saat usianya <6thn:

– Shalat (anak laki-laki belajar ke masjid tepat waktu/anak perempuan di rumah)

– Hafalan: Doa harian, Hadits, Qur’an

– Olahraga: tiap hari jalan2 keliling/senam sama bunda di rumah/berenang

Home chores activity (sapu-sapu, bersih-bersih kamar, bersih-bersih halaman, cuci piring, dll)

Fine motors: main pasir, dough, amplas huruf dll

Pre reading activity: baca buku, main logico, bercerita (circle time)

Pre math activity: main lego, main puzzle, main sains, geometri, main biji lengkeng, dll

– Jalan-jalan/field trip:  2minggu/1x

Art & craft

Materi utama:

  1. Aqidah (rukun islam-rukun iman-kalimat thayyibah
  2. Akhlak (belajar adab, sosial emosional, dll)
  3. Fiqh (belajar ibadah mahdhah)
  4. Tarikh (belajar kisah nabi)

Usia 19 bln, mulai dgn kalimat tauhiid. Perdengarkan yang sering. Kalo bisa, sehari-hari stel murattal.

S: Soal disiplin anak. Mulainya dari umur berapa ya? Misalnya waktunya bangun dan waktunya tidur. Sekarang ini anak saya kalau diajak tidur pengennya main. Harus dilayani aja gitu?

N1: Yang saya tahu, disiplin itu sejak sangat dini diterapkannya teh…nanti boleh melonggar seiring pertumbuhan anak. Asumsinya, anak yang sudah terbiasa disiplin sejak dini, ketika bertumbuh sudah paham arti disiplin dan sudah bisa menerapkannya tanpa harus terus dikontrol ketat. 😊

S: Ooh gitu ya. Menurut teteh atau yang teteh ngerti, sebaiknya disiplin dalam hal apa aja ya di usia masih 2 tahun? Saya pribadi ingin mendisiplinkan tidur malam dan bangun paginya. Tapi kadang itu juga dipengaruhi tidur siangnya kan ya? Apa teteh ada saran?

N1: Usia 2 tahun, disiplin sederhana teh:

– makan saat waktu makan

– tidur saat waktu tidur

– bereskan mainan bila sdh selesai

– simpan baju kotor di tempatnya

– dll

S: Biar tepat, gak apa-apa dipaksa pas awal gitu ya?

N1: Ga usah dipaksa teh, dibiasakan aja. Dibersamai secara rutin.

S: Teteh pernah gak pengen marah sama anak? Pasti pernah ya, gimana cara ngatasi nya ya teh??

N1: Pasti pernah atuh teh…da saya bukan malaikat 😂. Kalau pas marah dan sedang sadar mah, biasanya istighfar dulu, terus tarik nafas panjang-tahan-hembus lewat mulut. Hitungannya  4-3-7. Atau pakai teknik tumbukan tangan utk release emosi negatifnya dulu.

Nanti udah tenang baru ngobrol sama anaknya pake pola pertanyaan.

Tapi sekali lagi, itu pas lagi sadar…hehe, pas lagi ga sadar (semoga Allah lindungi), kadang ada aja yg ga pas 😞. Yg istighfar tapi ga pake hati lah…yg ‘ngomel’ bari ga jelas ngomong apa. Haha, namanya juga manusia 🙈. Mohon aja sama Allah untuk selalu dijaga agar tetep sadar dan berlindung dari syetan saat emosi ga stabil.

S: Trus kalo anak lagi pengen sesuatu, yang menurut kita gak boleh tapi keukeuh sampe nangis-nangis, apa kita biarin dia nangis aja, atau gimana?

N1: Kalau aturannya ‘gak boleh’, apalagi kalau sudah pernah diberitahu sebelumnya. Untuk anak tertentu saya biarin aja nangis sampai berhenti, baru ngobrol dan dijelaskan. Untuk anak yang lain, dipeluk sampai selesai, lalu dijelaskan. Jadi, tergantung tipe anaknya. Selama nunggu dia selesai dengan emosinya, kitanya kudu banyak2 istighfar we 🙈, biar ga kepancing.

Tapi yang pasti, anak-anak saya tidak akan pernah mendapat apapun kalau minta sambil menangis/tantrum.

S: Trus kalo anak harus melakukan sesuatu, tapi dia gak mau, harus kita apain???

N1: Kalau bukan hal yg prinsip, ya dibiarin aja saya mah. Anak kan juga manusia, sama kayak kita.  Ada saatnya semangat, ada saatnya males. Jadi kalau sekedar masalah mandi misalnya, ga mau mandi sore sekali2 ya gak apa-apa.

Yang penting tetap paham bahwa ada aturan baku yang harus ditaati, contohnya bab shalat untuk yang sudah 7 thn. Mereka tetap harus shalat. Karena itu prinsip. Jadi buat saya mah, ada yg ‘wajib’, ada yang ‘sunnah’ teh.

Da kita juga kadang gitu kan ya. Ada saatnya males masak, males mandi 🙈, shalat ga di awal waktu 🙈🙈. Namanya juga manusia 😂😂 #alesan

S: Oia satu lagi, kalo anak perempuan teteh diajak solat dari umur berapa? Dan kalo pas dia lagi gak mau solat, gimana??

N1: Mulai duduk di samping saat kita shalat sih sejak bayi. Dia mulai ikutan shalat sejak 4 tahun. Sekarang 6thn, kadang kalau lagi bener-bener gak semangat shalat (udah diajak 2x masih cuek) biasanya saya biarin aja dulu. Lalu jadi PR buat saya introspeksi diri, berarti shalat blm jadi hal yg menyenangkan buat dia. Mulai deh malam sebelum tidur ngobrol panjang, gali perasaannya, lalu masukkan dikit-dikit apa nikmatnya shalat.

Saya ga saklek sih teh, kecuali nanti dia sudah 7 tahun ya, akan lebih strict. Harus shalat meski kadang ga di awal waktu misalnya. Bertahap sampai di 10 tahun dia siap komitmen untuk selalu shalat di awal waktu.

Dulu waktu kakaknya yg laki-laki begitu sih teh. Karena laki-laki kan pembiasaannya ke masjid, jadi dulu begitu. Yang dipikirkan awalnya adalah gimana supaya dia cinta ke masjid. Sejak 2 tahun ikut ayahnya ke masjid dan terus terbiasa jadinya. Di usia 5 tahun udah ga lepas dari masjid, meski kadang masih harus ditanya ‘mau di masjid atau di rumah?’ kalau dia mulai santai-santai berangkat ke masjidnya 😅.

Tapi beda anak kan beda pendekatan ya hehe. Anak sulung saya dengan anak kedua saya beda jauh kepribadiannya, jadi pola tarik ulurnya juga beda 😁😁.

Semoga Allah karuniai kita kesabaran tak berbatas ya teh…insya Allah hadiahnya surga 😍😍😘😘

Bersambung ke tanya jawab dengan narasumber berikutnya ya.