0

Lulus Matrikulasi, terus?

Bismillah

#odopfor99days2017 #day2

Alhamdulillah sudah lulus matrikulasi. Kuliah online buat para ibu nih. Menurut saya mah penting, karena jadi ibu itu harus banyak ++ nya. Nah gimana caranya biar bisa jadi ++? Silahkan ikuti kelas Matrikulasi, dan kelas-kelas Bunda lainnya yang diadakan oleh Institut Ibu Profesional. Tenang, cuma belajar lewat hp kok, pendaftaran sekali buat seumur hidup. Kalau saya karena tinggal di seputaran Bandung, jadi ikutnya IIP Bandung.

Setelah lulus matrikulasi ini, saya jadi berpikir panjang. Bahwa saya adalah perempuan. Fitrahnya adalah di rumah, dan tidak wajib bekerja. Orangtua, saudara, teman dekat, masih berharap saya terus berkarya lewat bekerja. Selain supaya seorang istri punya penghasilan, memang ga ada yang tau ke depan akan terjadi apa.

PANITIA OPEN HOUSE IIP BANDUNG.jpg

Ada 2 hal yang saya juga masih bingung bin galau dalam mengarungi kehidupan yang fana ini. Tsaaahh. Pertama, saya akan tetap mencari penghasilan, yang juga merupakan salah satu mimpi saya. Kedua, saya akan fokus mencurahkan waktu dan tenaga saya untuk anak dan suami, dan keluarga. Sebenarnya dari kedua hal ini tidak perlu dipertentangkan. Kenapa tidak disatukan saja? Suami saya memang keberatan kalau saya bekerja full time, sehingga waktu untuk anak dan suami tinggal sisa yang gak berkualitas. Saya bisa jadi freelancer, menerima kerjaan yang sifatnya jangka pendek, untuk tetap dalam koridor ‘passion’ saya. Saya pun bisa sambil mengejar apa-apa yang saya inginkan dalam kehidupan ini, yang biasanya menjadi keluhan saat bekerja kantoran, saya tidak bisa melakukannya.

Waktu berjalan terus, jadi yang harus dilakukan adalah yaa tentu saja MAJU TERUS. Apa yang menjadi mimpi, bisa terus dikejar, asalkan FOKUS, TERENCANA, dan DOA yang KUAT. Tapi rupanya saya terlalu banyak keinginan. ALhamdulillah atuh ya punya banyak keinginan. Keinginan yang banyak ini terkadang tidak disertai dengan rencana yang panjang dan baik.

SAYA SEKARANG

Jadi saya teh sekarang, sudah tidak bekerja kantoran, melainkan bekerja dari rumah. Tapi saya punya PeeR besar untuk bisa bekerja dari rumah. Saya masih merasa, bahwa saya tidak bisa bekerja kalau di rumah. Jadi saya harus pergi keluar, supaya tidak ada gangguan anak. Satu hal yang baru saya pahami dari sebuah tulisan Raluca Loteanu dalam blognya, kalau anak memanggil-manggil kita dan mengajak bermain ketika kita sedang sibuk mengerjakan sesuatu, berarti dia butuh kita. Penuhi dulu kebutuhannya, percayakan bahwa kita ada buat dia. Baru nanti dia akan memberikan waktu buat kita untuk mengerjakan hal yang lain. Pemahaman saya yang salah selama ini, menganggap anak sebagai gangguan kalau saya bekerja di rumah. Memenuhi panggilannya dulu akan lebih menenangkan. Beda sedikit ceritanya kalau kita lagi diburu deadline.

Sedikit soal kerjaan, ceritanya kemarin-kemarin (dan sekarang), saya dapet kerjaan yang mempertemukan saya dengan para pengusaha. Ada yang jadi GMnya salah satu merk sepatu, ada juga pengusaha yang merupakan supplier sayur dan buah di supermarket ternama se-kota Bandung. Saya belum sempat wawancara satu-satu, gimana mereka memulai, jatuh-bangunnya. Yang jelas, mereka teh orangnya nyoh-nyoh gitu. Maksud saya, gampang ngasih ke orang lain. Saya pikir, tiru aja dulu sifat baiknya ini ya. Semoga besok-besok saya jadi DIrut sebuah usaha. Aaaamiiiiiinnnn. Jadi supaya sukses seperti mereka, ya usahanya tidak sedikit, perjuangannya juga tidak sedikit. Anggaplah apa yang dijalani sekarang sebagai perjuangan menuju kesuksesan duniawi. Heitss, jangan lupa ukhrowi, suka dikesampingkan gitu sih.

Trus sambil ngerjain kerjaan sampingan, saya nyoba jualan. Entah mungkin saya yang perfeksionis, jadi cukup ribet juga si jualan ini. Eits, saya ngomong ribet ini keluhan bukan ya?hehe. Sedikit ribet tapi asik (terutama pas dapet transferan duit dan good testimony). Diantara keribetan yang saya bikin sendiri adalah memfoto produk satu persatu, zoom in dan zoom out-nya, lalu edit masing-masing produk, kasih kode, unggah produk yang ada beberapa tahap, me-rekap peminat, pembeli, mana yang terjual, mana yang masih ada untuk disiapkan unggah pekan depannya. Oia, saya baru jualan di grup facebook kampus kesayangan aja, segitu ribetnya. Tapi terbayarlah, senang :). Sekarang lagi nyoba untuk merambah ke online via Instagram. Karna saya jualan kebutuhan anak, saya bikin brand yourchilneedsboleh loh dikunjungi dan diboroong.

Trus selain freelancer (arsitek dan arsitek Lanskap), dan jualan online, saya juga gabung di beberapa komunitas online. Yaa kaya IIP ini, yang sekarang lagi bersiap untuk ikut kuliah online Bunda Sayang, yang masa kuliahnya adalah 1 tahun. Jadi ibu bisa kuliah juga kok, online pula, jadi bisa dapet S1 sendiri, karena kuliahnya 4 tahun. Subhanallah luar biasa. Saya sedang tertarik sama komunitas keluarga/parenting, karena merasa kurang banget ilmu saya di sini. Jadi selain ikutan IIP, saya juga sedang mulai berpartisipasi dalam komunitasnya sabumi. Komunitas ini ada blognya dan ada pagenya, yang bisa dikunjungi. Banyak banget pelajaran di sabumi ini. Malah lebih mengangkat ke kemandirian. Jadi saya merasa cocok banget dengan grup ini. Oia sabumi ini, komunitas homeschooling. Sampai saat ini saya belum memutuskan untuk meng-homeschooling-kan anak. Cuma saya ingin ambil ilmu-ilmunya. Bagaimana homeschooling, terutama untuk preschool.

Hubungannya SAYA SEKARANG dengan lulus matrikulasi? Iya, jadi saya teh harus punya target hidup ke depan. Minimalnya adalah bagaimana target saya menjadi Muslimah, istri, ibu, dan anak. Gatau udah berapa kali saya bikin target kaya gini. Keunlah (biarinlah) ya, ALhamdulillah punya target-target tertulis teh.

Muslimah
Saya merasa kualitas ibadah saya jauh menurun, terutama setelah menikah. Tapi karena menikah adalah juga ibadah, jadi saya juga berusaha tetap dalam koridor ibadah. Tapi saya ingin kembali menggiatkan ibadah-ibadah sunnah. Baiklah, target saya sekarang adalah DOA!! Saya maleees banget untuk bertahan duduk lama setelah sholat. Karena Allah suka ngasih saya ide-ide untuk melakukan sesuatu, pas saya lagi sholat. Jadi sholat gak khusyuk, selesainya jadi terburu-buru untuk lanjut yang lain. Jadi kadang, doa teh hanya ritual bacaan arabnya doang, tanpa diresapi maknanya. Trus langsung berdiri, lipet mukena, kembali beraktifitas duniawi. Padahaaal saya sangat butuh momen DOA ini. Trus juga harus membiasakan DOA dimana-mana. Udah ini dulu. Sedikit curhat, saya sedang dikasih banyak ketakutan dan kegelisahan, ini mungkin karena saya kurang dzikir dan DOA. Yaa Allaaaah ampun, jadikan saya mencintai ibadah sebagaimana mencintai diri sendiri…

Istri
Sebagai istri, saya juga kadang masih suka ada kesel-kesel sama suami. Wajarlah ya. Trus saya belum maksimal dalam taat. Saya pernah denger bahwa, turuti aja apa yang suami mau, selama tidak melanggar syar’i. Tapi ada hal-hal yang menurut saya gak perlu dipaksakan, dan berujung kekesalan saya. Mungkin saya kurang DOA itu tadi ya. Dari segi manajemen rumah juga saya masih buruk. Masih suka berharap sama suami, padahal berharap mah sama ALlah aja fin. Syarat istri kalau mau masuk surga cuma satu, tinggal taat ke suami, lalu kalau suami ridho, masuk surga deh. Naaah ini yang susah teh yaaa. Bismillaaahh, sing ikhlas fin. Yaa Allaaaah bimbing saya dan suami saya….

Ibu
Sekarang ini, saya lagi baca buku Bunda Sayang. Dan paling nancleb (menghujam hati) adalah bab kemandirian anak. Naah, mungkin saya gak bisa kerja di rumah juga salah satunya adalah karena kemandirian anak saya belum dilatih dari kecil. Jadiii, sekarang ini saya fokus pada kemandiriannya. Alhamdulillah, toilet training udah lulus, walaupun saya masih takut-takut kalau pergi keluar rumah, di rumah masih harus sering ditawarin untuk ke toilet. Takut gak ada kamar mandi bersih, takutnya ngompol, dan ketakutan lainnya. PeeR kemandirian yang lain adalah makan!! Dengan tidak memilih-milih, harus sambil duduk, dan habis. Woow ini sesuatu banget. Poin makan ini, jadi PeeR tersendiri buat saya supaya bisa masak yang enak. Dalih masih tinggal sama orangtua, jadi weh saya males masak, karna tidak mendesak. Jadi gak putar otak bagaimana supaya anak mau makan dengan lancar jaya. Semoga rumah cepet jadi, bisa pindah dan bisa belajar mandiri terutama buat diri saya sendiri. Dan semoga saya dan anak tidak stress. Yaa Allaaaah mudahkan, kabulkan….

Anak
Birul walidain. Ngerasa ngerepotiiin terus ke orangtua. Makanya sebisa mungkin segera pindah. Bukannya gak mau tinggal bareng ortu. Seneeeng pake banget kalo tinggal sama orangtua teh, tapi saya jadi gak belajar. Orangtua saya biasa mempermudah anaknya. Jadi apa-apa kalau ada yang susah ya dibantuin. Bahkan tanpa diminta pun, dengan inisiatif yang tinggi mereka langsung action. Jadi maluuu banget. Ngerasa juga belum bisa ngasih apa-apa sama orangtua. Salah satu tujuan saya tetap berpenghasilan adalah dengan tujuan, saya punya uang yang banyak, bisa ngasih orangtua. Biar bisa jalan-jalan, ngasih-ngasih orang, ngundang makan-makan, dan lain-lainlah. Ya Allaaah kabulkaaan,, semoga rezeki saya lancar, rezeki orangtua saya juga lancar, rezeki suami lancar, semua lancarlah.

TARGET DUNIAWI, Perlu gitu?
Perlulah, mimpi yang tertulis kan lebih bagus. Kali aja ada yang baca ini, trus Allah mengabulkan mimpi saya lewat beliau. hehe Aaamiiin
– pengen punya mobil yang kecil (katakanlah sebangsa kar*mun GX), jadi bisa pergi kemana-mana sama anak. Bisa berdua aja. Naik transportasi umum di Indonesia belum layak menurut saya. Jadi solusi buat saya sementara adalah bisa nyetir. Jadi mobil ini sebagai motivasi supaya saya bisa cepet bisa.
– Umroh haji sekeluargaaa. Aaamiiin
– Bersih dari RIBA, lunas hutang!!!

Tulisan ini mungkin merupakan tahap-tahap dalam mencapai mimpi di tulisan saya yang berjudul Akan jadi apa saya?. Sekian dulu curhat mimpi dan target saya. Eh hubungannya dengan matrikulasi teh apa tadi ya? Yaa pokonya saya harus jadi ibu profesional ++. Dan itu harus bertarget. Gitulah pokonya…

7 hari menuju Ramadhan

 

0

Ibu, Manajer Keluarga

#ODOPfor99days #1

Bismillahirrahmaanirrahiim

Sebagai ibu, apa sih yang perlu ditekuni di universitas kehidupan ini?                                 Menurut saya adalah Manajemen.
Klise? Iya
Tapi memang itu yang dibutuhkan para ibu.

Saya melihat beberapa contoh kasus di dekat rumah saya saja. Ibunya sibuk ngerumpi dengan tetangga, atau mungkin sibuk bekerja. Ketika bersama anaknya, yang dilakukan cuma nyuapin, mandiin, atau menyuruh sesuatu sambil marah, dan sebagainya. Tapi ada juga sih yang baik, tapi tetep juga keluarga belum menjadi prioritas. Mungkin saya termasuk juga. Capek kerja di kantor. Sampai rumah pengennya leyeh-leyeh istirahat, malem sedikit aja udah ngantuk. Atulaah, kasian anakmu Bu!

POST NHW1.jpg

Manajemen apa sih? Mengambil definisi dari Ricky W. Griffin, bahwa manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. (dari Om Wikipedia)

Saya memilih 2 hal yang penting yaitu Manajemen Waktu dan Manajemen Hati.

Waktu yang bagaikan pedang, tidak bisa terulang dua kali. Dengan segala kebutuhan saya sebagai ibu, istri, dan wanita sosial dan mungkin akan kembali ke ranah pekerjaan (formal/nonformal), maka manajemen waktu sangat penting. Manusia yang sama, waktu yang sama, bisa berbeda kebermanfaatannya. Pada jam yang sama ini, ada yang sedang membaca, atau menonton TV atau tidur atau berolahraga atau tilawah atau kongkow-kongkow, dan sebagainya. Kita bisa menentukan mau pilih kegiatan yang mana pada jam yang sama dengan orang lain.

Jika berandai-andai, dan semoga menjadi nyata, dengan waktu yang sama dengan anda semua, saya harap bisa memberi lebih, melakukan lebih. Berarti manajemen waktu-lah yang saya butuhkan saat ini. Bagaimana menentukan skala prioritas yang cukup sulit dijalankan.

Menikah adalah suatu gerbang kebahagiaan. Tapi bisa jadi kekecewaan manakala disikapi dengan hati yang tertutup, yang tidak mau menerima. Perlu banyak belajar, mengenal karakter, mengetahui yang disukai dan yang tidak disukai oleh pasangan, dan sebagainya.

Begitu juga setelah diamanahi buah hati. Ini lebih sesuatu lagi ya. Karena si mungil ini dari belum bisa apa-apa, kita tidak tau dia maunya apa, hanya bisa meraba-raba dari responnya. Kalau si kecil udah bisa ngomong, dia maunya apa kita maunya apa. Bisa jadi naik darah ini kalo kita gak punya strateginya. Sepulang kerja, kalau ada sesuatu yang tidak mengenakkan hati, bawaannya jadi bad mood. Nah ini nih, udah mah ketemu anak sebentar waktunya, pas ketemu malah emosi. Inilah kebutuhan kedua saya yaitu manajemen hati, bagaimana belajar ikhlas, mengatur emosi yang sedang meluap-luap, atau bahkan yang sampai pengennya teriak-teriak.

Jadi kenapa manajemen?

Bahwa saya punya cita-cita keluarga saya semua bisa mandiri. Pernah suatu kali saya membaca grup Whatsapp yang lain, membahas tentang kematian. Coba bayangkan kalau kita sebagai ibu atau suami kita yaitu ayah dari anak-anak, dipanggil Allah duluan, tapi anak kita masih kecil-kecil. Kasihan mereka segala sesuatu masih disuapin. Nanti dia akan tergantung yang menyuapinya. Dari situ, saya ingin sekali membuat anak menjadi mandiri, bukan hanya dalam memenuhi kebutuhan pribadinya seperti makan, minum, mandi, buang air saja. Tapi lebih kepada bagaimana dia mengenal Rabbnya, mengerti makna hidup untuk apa. Bakal jadi berat kalau kedua bekal tadi tidak saya miliki. Mana mungkin anak saya bisa rajin membaca kalau saya main HP, mana mungkin anak saya pintar menulis kalau saya masih sibuk sama cucian, setrikaan, dan lainnya. Kalau saya masih marah-marah karena anak tidak melakukan yang saya inginkan, bagaimana dia bisa memiliki adab yang baik.

Begitu pula saya terhadap suami saya, maupun suami saya terhadap saya. Sebagai ibu, juga harus bisa membuka pintu rezeki yang lain. Agar tidak tergantung pada suami. Jadi bergantung sama Allah aja. Kebergantungan ini akan mudah kalau kita sudah mengenal Rabb kita. Itu baru satu hal dari segi rezeki. Tapi saya merasa masih jauh. Jadi tetap harus banyak belajar, dimulai dengan ilmu manajemen ini.

Gimana cara belajarnya?

Belajar manajemen atau belajar merencanakan, mengkoordinasikan, perlu pengalaman dan bahkan praktek langsung. Artinya tidak ada yang bisa dilakukan kecuali dimulai dari sekarang.

Kalau boleh dijadikan tahap-tahapnya, saya mulai dengan membuat target per tahun. Resolusi tahun 2017, bisa menjadi acuan. Kemudian akan diturunkan menjadi target bulanan, dan mingguan. Sebenarnya saya seringkali kesulitan kalau membatasi waktu seperti ini. Tapi tidak ada yang tidak mungkin, jadi kita coba lagi :).

Untuk bisa menghargai waktu, perlu membuat target mingguan, yang diturunkan per hari. Lagi-lagi saya bilang, saya seringkali kesulitan kalau membatasi waktu seperti ini. Tapi tidak ada yang tidak mungkin, jadi kita coba lagi :). Sama halnya dengan mengatur emosi. Memiliki target-target pencapaian yang bica dicoba setiap harinya yang dievaluasi setiap akhir hari. Target pertama saya adalah tidak berputus asa mendorong anak melakukan sesuatu yang saya ingin dia lakukan.

Untuk dapat ilmu-ilmu dasarnya, saya perlu membaca lebih banyak. Membaca kisah-kisah, contoh pengaturan waktu, pengasuhan anak, dan seterusnya. Bertanya ke beberapa orang yang lebih oke dalam manajemen waktu dan hati ini. Yang sering saya lupa dan perlu saya ingat lagi adalah mengevaluasi target yang sudah saya pasang.

Apa yang diharapkan?

Harapannya, dalam proses belajar ini, saya bisa lebih memahami bahwa Allah memberikan waktu yang sama, digunakan untuk kebaikan. Semoga saya bisa mengisi waktu lebih baik lagi. Alangkah ruginya kalau kita sama dengan kemarin atau malah lebih buruk. Astaghfirullah, saya masih susah untuk yang ini. Kebaikan yang kita lakukan itu pun harus dengan ilmu. Semoga saya bisa terus membenahi hati supaya menjadi bersih, supaya segala ilmu kebaikan akan bisa masuk dan nerap.

Ayo ibu-ibu kita belajar terus, demi masa depan cerah masuk Surga, Insya Allah. Aamiin.

871 words

0

Materi #1 Matrikulasi IIP Batch 3: Adab Menuntut Ilmu

Bismillahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillah wa syukurilah, akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk ikut dalam kelas Matrikulasi yang diadakan oleh Institut Ibu Profesional dengan penggagasnya ibu Septi Peni Wulandari. Sebagai seorang ibu, kita sangat perlu terus belajar demi ‘kewarasan’ dalam menjalani rumah tangga. Kalau terlalu terpaku dengan tugas kenegaraan (baca: pekerjaan rumah tangga yang bejibun gak ada selesainya, apalagi yang tidak punya ART ya), atau mungkin juga ada pekerjaan kantor, dan tugas yang diemban lainnya, kita mungkin bisa melambai-lambai cari kamera di pojokan alias menyerah saja.

Bersyukur bisa dikumpulkan dengan ibu-ibu hebat luar biasa yang punya komitmen untuk belajar menjadi ibu profesional. Di kota Bandung aja ada 300 orang yang punya kesungguhan untuk ikut kelas ini. Luar Biasa. Sekarang ini sudah angkatan ke-3 programnya. Berdasarkan informasi yang saya dengar, dalam setahun bisa 3-4 kali diadakannya program Matrikulasi ini.

Apa sih Program Matrikulasi Ibu Profesional ini?

Adalah program kuliah para ibu dan calon ibu yang ingin maupun yang sudah lama bergabung di komunitas ibu profesional, agar memiliki kesamaan kompetensi ilmu-ilmu dasar menjadi seorang ‘Ibu Profesional’, serta memahami kultur komunitas.

Siapa aja yang boleh ikut?

Semua ibu atau calon ibu boleh ikut.

Bagaimana proses jalannya perkuliahan?

Program Matrikulasi ini akan berjalan selama 9 kali (dalam 9 pekan) kuliah online via Whatsapp Messenger. Materi akan diposting pada Senin pagi, dan akan banyak diskusi antar peserta maupun tanya jawab dengan fasilitator. Setiap Selasa pagi, akan diberikan ‘Nice Homework’ yang harus dikerjakan peserta dengan batas waktu yang telah ditentukan. Peserta yang lulus, dapat mengikuti tahapan belajar Ibu Profesional selanjutnya.

Saya share di sini materi yang disampaikan di hari pertama kelas Matrikulasi Batch 3

 

KELAS MATRIKULASI BATCH 3

INSTITUT IBU PROFESIONAL – Bandung 1

 

Resume Materi Sesi #1

 

ADAB MENUNTUT ILMU

Senin, 23 Januari 2016

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan

Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

 

☘ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk. Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

 

☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Menuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

 

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.

d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.

e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.

Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

 

Referensi :

Turnomo Raharjo, Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah, 2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

 

Video Pembukaan Matrikulasi Institut Ibu Profesional

https://www.youtube.com/watch?v=bgqJdS6s_fY

Silahkan dibaca diresapi beri waktu diri kita mencerna 😉

 

Resume Tanya Jawab Sesi #1

 

*Pertanyaan 1.* 

Yg sya mau tanyakan, skrg banyak sekali info2 yg tersebar di online.. gmn ya caranya kita menyaringnya? Terkadang info itu bersifat wajar, masuk akal.. tp kita blm tau kebenarannya.. bgmn sikap kita terhadap info tsb?

*Jawab:*

Kalau saya prinsipnya, jangan percaya langsung sama broadcast. Jangan diterima langsung. Karena broadcast message itu tidak jelas sumbernya. lalu kalau info online dari web, lihat sumbernya apakah bisa dipercaya. Jangan terima mentah berita hanya dari satu sumber, kroscek dengan berita dari sumber lain

*Pertanyaan 2.* 

Selain itu, apakah kita blh menyebarkan materi kuliah Ibu Profesional ke teman sesama ibu baru dgn sumbernya kami tuliskan dari Komunitas Ibu Profesional?  Apakah ada peraturannya? Krn nanti materinya akan tersebar..

*Jawab:*

_Berbekal jawaban Ibu Septi pada matrikulasi batch #2_

Program matrikulasi ini program berkelanjutan dg sistem pendampingan. Materi matrikulasi boleh di tulis secara runtut di blog/web pribadi kita masing-masing kemudian di share ke publik. Yang tidak boleh adalah langsung share materi ke salah satu/beberapa grup WA tanpa pendampingan fasilitator.

Karena ini program berkelanjutan, tidak boleh diterima sepotong-potong dengan sistem broadcasting ke sosmed messager (seperti WA, line, telegram dll). Kalau di wall fb, blog, web masih bisa ditelusuri satu persatu. Karena program matrikulasi ini kita lakukan serentak se nasional per 3 bln sekali baik offline maupun online.

*Pertanyaan 3.* 

Mau tanya,  kan lebih baik kalo g pake buku plagiat dan sejenisnya,  tapi bagaimana kalo buat buku kuliah?  Kalo beli aslinya bisa sejuta,  bagaimana kalo kita g ada uang?

*Jawab:*

_teh susi ini jawaban dari aspirasi teman teman fasil mba sukeng, farda_

Ini berhubungan dengan keberkahan ilmu. Makanya Kita sering mengalami begitu mudah lupa dengan ilmu yang kita pelajari. Kecuali sudah meminta ijin penulis dan penerbit. Bisa menghubungi penerbit atau penulisnya.

Jika memang buku tidak tersedia maka kita harus minta ijin untuk meng-copy materinya. Tambah lagi dengan Jika memang ada keterbatasan dana,kita bisa akali dengan pinjam ke perpustakaan atau patungan bbrp teman untuk membeli yang asli.

Yang sering kejadian adalah sistem operasi, program, musik, dan film yang ada di HP dan komputer yang seringnya adalah bajakan.

Ilmu di peroleh untuk sehingga meninggikan derajat kemuliyaan, maka sudah sepatutnya, diperoleh pula dengan cara yang beradab dan mulia.

Mulai sekarang belajar mengurangi plagiatisme, mengkopi, membeli bajakan benda2 sumber ilmu.

*Pertanyaan 4.*

Meskipun ini judulnya ibu profesional.. bisakah saya ingin membagi ilmu dgn suami?? izin share materi ke suami.. krna sy yakin rumah tangga harus sepemahaman jg dgn suami.. kebetulan saya ldr dgn suami jd jarang berkomunikasi langsung.

*Jawab:*

Menurut saya sih malah wajib teh sharing ke pasangan. Karena biar sejalan dengan pasangan dan pasangan tau kita lagi belajar apa. Asal dengan prinsip jawaban pertanyaan nomor 2.

*Pertanyaan 5.*

Kita tau bahwasanya psikolog anak memiliki ilmu yg lbh dalam perihal anak atau bahkan hal yg kita bahas ‘portofolio anak’. Apakah disarankan seorang anak seumur hidup minimal sekali dtg ke psikolog anak?

*Jawab:*

Kalau menurut saya, perlu teh ziyana. Prinsip saya bertanya kepada ahlinya, karena kita minim ilmu. Tapi kuatkan hasil dari psikolog dengan feeling orangtua. Sebenarnya orangtua adalah orang pertama yang memahami anak.

_ini tambahan jawaban pendukung dari seorang psikolog anak, mba hasya_

Sebetulnya ke psikolog itu tdk harus selalu kalau anak “kenapa2”. Sama seperti konsep “check-up” kalau ke dokter, ke psikolog pun bisa juga check up untuk tau gambaran profil anak..

Yang bisa didapatkan kalau melakukan pemeriksaan ke psikolog:

– gambaran potensi kecerdasan anak

– kemampuan berpikir anak

– cara anak belajar

– kemampuan motorik, baik kasar maupun halus

– kemampuan komunikasi/bahasa

– kemampuan ekspresi & mengelola emosi

– kemampuan bersosialisasi

Dari semua poin ini, bisa dilihat aspek2 mana saja yg menonjol pada anak maupun mana yang membutuhkan stimulasi lebih lanjut

*Pertanyaan 6.*

Apakah seseorang yang telah mengaplikasi adab menuntut ilmu dengan baik, pasti akan sejalan dengan keberhasilan  hasil belajar (prestasi)nya?

*Jawab:*

InsyaAllah teh, dengan prinsip menuntut ilmu karena ibadah. lalu jangan terpatok dengan prestasi. Dan ingat Allah menilai proses, kalau ternyata hasilnya ada sebuah prestasi, itu berarti bonus dari Allah.

*Pertanyaan 7.* 

Pada bahasan: adab menuntut ilmu pada diri sendiri, bagaimanakah cara menghilangkan pikiran ‘saya sudah tahu’ ketika menerima sebuah ilmu? Adakah triknya?

*Jawab:*

Kosongkan gelas teh, siap menerima tambahan ilmu & memperbaiki diri. Saya ada analogi begini.

Kita kan udah biasa dong masak nasi goreng. Lalu dapat undangan belajar masak nasi goreng bersama chef hotel. Pada saat belajar sama chef, kita mengkosongkan gelas, menerima ada orang lain yg lebih tau.

*Pertanyaan 8.* 

Bagaimana ya tips bisa membersihkan diri?

*Jawab:*

_berbekal jawaban Ibu Septi pada matrikulasi batch #2_

Tazkiyatun nafs dalam mencari ilmu ada 5 antara lain :

  1. Bersihkan niat, semata-mata untuk meaningkatkan derajat kemuliaan hidup.
  2. Ilmu itu untuk sebuah kemuliaan, maka carilah dg cara-cara yg mulia. Misal tidak menyakiti org yg menjadi sumber ilmunya, tidak membajak karyanya, tidak mengakui tulisannya sbg tulisan kita dll.
  3. Kosongkan kepala dg ilmu yg sdh pernah kita dapatkan dan penuhi dengan rasa ingin tahu. Sehingga kita tidak jadi orang yg sok tahu
  4. Belajar mendengarkan dengan sepenuh hati, ketika ilmu disampaikan.
  5. Hilangkan dendam dan luka lama, sehingga kita tulus dalam menuntut ilmu, krn untuk kerahmatan bagi semesta, bukan krn kepentingan kita

*Pertanyaan 9.* 

Teh,mengenai adab terhdp sumber ilmu point a mhn penjelasan lbh lanjut..

_Pertanyaan serupa:_

  • Saya kurang paham mengenai Adab thdp sumber ilmu poin 1, maksudnya apakah kita jangan menyerap ilmu setengah-setengah / yang belum tuntas dari sebuah buku ketika kita belum menyelesaikan semua bacaannya, atau seperti apa teh? Mohon koreksi dan penjelasannya.
  • Pada poin ADAB TERHADAP SUMBER ILMU disebutkan, tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari. Mohon penjelasan dan contoh konkritnya seperti apa?
  • Teh kalau materi adab tenda sumber ilmu poin a. Tidak meletakkan sembarangan / memberlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari maksudnya gmn yaa?

*Jawab:*

_berbekal jawaban Ibu Septi pada matrikulasi batch #2_

Maksudnya poin a, tidak meletakkan sembarangan sebuah sumber ilmu dalam bentuk buku dg sembarangan adalah sbb :

  1. Buku tidak diletakkan dalam posisi yg mudah terinjak secara langsung.
  2. Buku yg sdg dipelajari dilipat-dilipat halamannya.
  3. Dan banyak lagi perbuatan lain yg selayaknya tidak kita lakukan thd sumber ilmu.

Bagi yg beragama Islam, pernah dapat ilmu kan untuk tdk memperlakukan Al Qur’an dg sembarangan. Nah sejatinya di adab menuntut ilmu, hampir semua sumber ilmu harus diperlakukan dg bijak. Silakan dirasakan kalau kita pernah menulis sebuah buku, kemudian buku tsb diperlakukan seenaknya oleh orang yg membacanya, pasti rasanya sakit.

*Pertanyaan 10.*

Bagaimana cara mengkroscek sumber ilmu yang benar dan beradab? Mengingat ilmu di era digital saat ini banyak sekali dan dari sumber-sumber yang kita tidak tahu kebenarannya. Atau bahkan kita terjebak dengan ilmu yang telah tercampur dengan mitos (misalnya).

Dan mungkin latar belakang penyampai ilmu yang tidak kita ketahui. (Sekarang kan banyak ya orang-orang yang mengaku ‘berilmu’ tapi begitulah…)

*Jawab:*

Hampir sama dengan jawaban no 1 ya

Prinsipnya jangan taklid pada sesuatu, jangan hanya karena ikut ikutan. Begitu pun dengan sumber informasi.

*Pertanyaan 11.* 

Ilmu apa yg pertama kali harus dipelajari oleh seorang ibu?

*Jawab:*

Menurut saya, ilmu manajemen emosi teh. Emosi itu mempengaruhi segala kehidupan.

*Pertanyaan 12.*

Jika menuntut ilmu adalah untuk berubah perilaku ke arah yang lebih baik, kenapa saat ini ada orang yang ‘ngakunya’ sudah sekolah tinggi tapi kenyataannya malah membuat akhlaqnya tidak terpuji?

*Jawab:*

saya pernah, sering diskusi sama suami. kita ini ada _generasi doing & generasi learning_

learning : belajar, berprestasi, memiliki nilai, tetapi tidak mengamalkan.

doing : belajar & mengamalkan.

contoh sederhana lihat di jalan saat lampu merah. Masih banyak ya kita lihat yang tdk mengamalkan ‘kalau lampu merah berhenti’

*Pertanyaan 13.* 

Faktor apakah yang membuat akhlaqnya menjadi seperti itu?

*Jawab:*

banyak faktor mba. niat, iman, lingkungan.

Contoh lampu merah.

niat : ah ga ada mobil koq, terobos ah

iman : ga ada polisi, aman (padahal Allah Maha Melihat)

lingkungan : ikut ikutan, atau mungkin meniru orangtuanya pernah begitu.

*Pertanyaan 14.* 

Seperti yang kita tahu jenis ilmu itu ada banyak. Ada ilmu parenting, ilmu bisnis, dan ilmu lainnya yg berkaitan dengan hobi seorang ibu tertentu misalnya. Nah, bagaimana cara kita mempelajari ilmu2 tersebut dengan baik, apakah bisa fokus mempelajari banyak ilmu berbarengan secara harmonis dan ‘menguasai’nya, atau harus menguasai salah satu dulu baru pindah ke yg lainnya? Terimakasih

*Jawab:*

_berbekal jawaban Ibu Septi pada matrikulasi batch #2_

Tentukan mata kuliah apa yg akan kita ambil di universitas kehidupan ini. Setelah ketemu, FOKUS di bidang tersebut. Maka gunakan prinsip : Menarik tapi TIDAK tertarik untuk godaan ilmu yang lain.

Totalitas dalam mencari ilmu di jurusan ilmu kita. Setiap info yang masuk gunakan sceptical thinking terlebih dahulu. Default jawaban di otak kita selalu “TIDAK PERCAYA” sebelum mendapatkan dari sumber yang valid. Cari sumber validnya. Sehingga ilmu tsb baik dan benar. Setelah itu amalkan.

Setiap selesai mendapatkan sebuah ilmu baru, saya dan pak dodik segera menuliskan, apa perubahan yg harus kita lakukan mulai esok hari berkaitan dg ilmu tsb.

*Pertanyaan 15.*

Gimana sikap kita atau adab dengan guru yg notabene uda profesor, kadang mereka lupa klo mereka pun tdk selalu benar, tp klo kita mengingatkan koq kesannya kita tidak menghargai beliau?

*Jawab:*

_share jawaban fasil rini mardia_

Yang pertama balik lagi ke adab menuntut ilmu, menerima dengan lapang dada, lalu pake skeptical thingking untuk tabayun.

Gunakan adab ketika menegur, karena profesor, mungkin kita bisa bawa beberapa referensi untuk diskusi lanjutan.

*Pertanyaan 16.* 

Bagaimana caranya ttp istiqomah dlm menuntut ilmu tanpa melupakan adab2nya

*Jawab:*

Biasanya ilmu yg sesuai dengan fokus saya, saya catat, dengan harapan saya lebih mudah membaca tulisan saya, setelah itu saya sediakan waktu khusus membacanya. Ketika siap, saya praktekan, evaluasi. Begitu terus mba, jatuh bangun mengulangnya.

Ini ada jawaban tambahan:

_share jawaban ibu Septi_

pertama kali, carilah alasan terkuat mengapa kita harus belajar ilmu tsb. Hal ini sering disebut sbg

start from the finish line

Setelah itu buat milestone nya, shg kita paham perjln menuntut ilmu kita ini sdh sampai dimana.

Memang tidak mudah, tapi kita bisa membuatnya menyenangkan dan penuh semangat

*Pertanyaan 17.* 

Bagaimana cara untuk  ikhlas dan memulainya?apakah ikhlas disini adalah dengan takdir Allah dan kapasitas diri? Hal apa saja yg berkaitan dengan sesuatu yang harus diikhlaskan?

*Jawab:*

Mba, pertanyaannya super sekali, tapi saya tidak memiliki tips atau cara khusus. Ikhlas itu ilmu tingkat tinggi dan mengamalkannya sangat sulit. Menurut saya, ikhlas itu menerima setiap ritme hidup yang ditakdirkan dibarengi dengan ikhtiar. Misal, kita sudah makan minum jaga istirahat ternyata takdirnya kita sakit, ketika kita ikhlas sakit kita jadi penggugur dosa, kita barengi ikhlas kita dengan ikhtiar ke dokter, minum obat, jaga makan, jaga istirahat.

Mungkin terlihat simpel ya, tapi dalam prakteknya butuh perjuangan. Yang pasti memulainya, ikhlas memilih satu saja ilmu yg ingin kita fokus pelajari diantara banyaknya keinginan.

*Pertanyaan 18.* 

Jika berkenan mohon diberikan tips soal menghargai waktu utamanya tepat waktu.

*Jawab:*

_share jawaban ibu Septi_

Urusan manajemen waktu yg harus dibenahi. Bagi waktu kita :

  1. Mendidik anak
  2. Pengembangan diri
  3. Sosial masyarakat/bekerja

Selama 24 jam, gunakan masa transisi antar waktu tsb untuk mengembalikan energi kita.

Misal saat anak2 sdh tidur ke pengembangan diri, bersiap sepenuh hati, dg cara memberdihkan diri, ganti lokasi dan suasana. Masa transisi dari bekerja ke rumah mendidik anak, maka panggil suasana bahagia, percantik diri. Krn saat berangkat kerja kita cantik maka pulang harus lebih cantik. Berangkat kerja kita sabar, pulang harus lebih sabar.

Sejatinya hanya anak dan suami kita yg paling berhak mendapatkan kondisi terbaik kita. Jangan dibalik.

Dengan menerapkan hal tsb yg saya rasakan Allah memberikan bonus energi luar biasa untuk kita. Prinsipnya,

Jangan pernah menuntut apa yg seharusnya kita dapatkan, tapi pikirkanlah apa yg bisa kita berikan.

*Pertanyaan 19.* 

Jika ada suatu majlis ilmu dan dirasa ilmunya sangat penting tapi guru berkeberatan untuk membawa anak apakah lebih baik tidak datang ke majlis ilmu tsb?

*Jawab:*

_share dari Ibu Septi_

ADAB MEMBAWA ANAK KE MAJELIS ILMU

Seorang ibu yang semangat menuntut ilmu tentu saja segala rintangan akan dihadapinya untuk mendapatkan ilmu tersebut. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kalau kita memiliki anak kecil-kecil, yang tidak bisa ditinggal.Mari kita pelajari adabnya :

  1. Tanyakan ke penyelenggara apakah kelas ini mengijinkan anak-anak masuk diruangan atau tidak?

DON’T ASSUME.

Misal: “Ah, pasti boleh, ini kan komunitas Ibu-ibu/keluarga dan pasti punya anak kecil, jelas boleh lah”, ini ASSUME namanya.

Harus di CLARIFY (klarifikasi) di awal. Tidak semua guru ridha kelasnya ada anak-anak dengan berbagai alasan kuat masing-masing.

  1. Apabila tidak diijinkan anak-anak di dalam kelas, maka kita tidak boleh memaksakan diri. Memilih alternatif untuk tidak berangkat, kalau memang tidak ada kids corner atau saudara yang dititipi.
  1. Apabila diijinkan, maka kita harus tahu diri, tidak melepas anak begitu saja, berharap ada orang lain yang mengawasi, sedangkan kita fokus belajar, ini namanya EGOIS. Dampingi anak kita terus menerus, apabila anda merasa sikap dan suara anak-anak mengganggu kelas, maka harus cepat tanggap, untuk menggendongnya keluar dari kelas, dan minta maaf.

Meskipun tidak ada yang menegur, kita harus tahu diri, bahwa orang lain pasti akan merasa sangat terganggu. Jangan diam di tempat, hanya semata-mata kita tidak ingin ketinggalan sebuah ilmu.

KEMULIAAN ANAK KITA DI MATA ORANG LAIN, JAUH LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN ILMU YANG KITA DAPATKAN.

Maka Jaga Kemuliaannya, dengan tidak sering-sering membawa ke forum orang dewasa yang perlu waktu lama. Karena sejatinya secara fitrah rentang konsentrasi anak hanya 1 menit x umurnya.

Untuk itu andaikata kita punya anak usia 5 tahun, menghadiri majelis ilmu yang perlu waktu 30 menit, maka siapkan 6 amunisi permainan atau aktivitas yang harus dikerjakan anak-anak. Kalau ternyata anak cepat bosan dari rentang konsentrasinya, segera undur diri dan fokus ke anak kita.

*Pertanyaan 20.* 

Untuk yg sudah berpasangan apakah tazkiyatun nafs harus kedua2nya?

*Jawab:*

Mba evi kita tidak bisa menuntut & memaksakan orang lain untuk melakukan sesuatu, tetapi kita bisa menularkan. Kita boleh mengingatkan dengan  baik, tetapi kita yang harus memulainya terlebih dahulu. For things to change, i must change first.

 

Selesai Materi #1. Semoga bermanfaat.

0

Bagaimana Ibu Mengatur Emosi dalam Mengasuh Anak (bagian 1)

header posting.jpg

#dayx #odopfor99days #odopsemester2

Tugas ibu yang demikian banyak tiada tara, menuntut kesabaran yang juga tak berbatas. Ada saja hal-hal yang tidak bisa ibu ‘selesaikan’ dalam mendidik anaknya. Tentu tidak ada yang sempurna. Proses belajar menjadi ibu yang profesional dan sholehah, harus senantiasa dipupuk agar selalu ingat, ingat, dan ingat, serta dapat menerapkannya dalam kehidupan.

Begitu banyak kiblat pengasuhan anak (parenting) saat ini. Tapi kiblat itu janganlah menjadi kiblat utama. Tetaplah cari dan belajar berbagai materi pengasuhan anak dari berbagai sumber, yang sesuai tuntunan Al-Quran dan Sunnah, agar senantiasa berada di jalan yang benar. Karena kita sebagai ibu perlu banyak ilmu untuk jadi tameng dalam menjalani kehidupan yang semakin banyak tantangannya. Eits, para ayah, jangan tinggalkan sang istri berjuang sendiri ya. Ayo kerjasama. Supaya anak-anak kita menjadi sholeh-sholehah, bisa mendoakan kita saat kita sudah tidak di dunia lagi, dan menjadi amal jariah buat kita (tabungan akhirat kita yang sangat mahal harganya).

Berbekal dari keterbatasan saya dalam mengasuh anak, saya mencoba berbagi beberapa tanya jawab dengan beberapa orang yang saya anggap merupakan ibu yang baik secara pribadi, maupun baik dan berhasil dalam mengasuh serta mendidik anaknya.

Tanya jawab Narasumber 1

Saya: Teh, pengen tau dong target pribadi teteh apa aja. Terutama dalam hal ibadah. saya ibadah turun banget sejak nikah

Narasumber 1: Target ibadah? 🙈 Whua…malu saya.. Anaknya usia berapa teh?

S: 19 bulan the. Masih kicil.

N1: Dulu, awal2 punya bayi pertama dan bekerja, saya juga sama. Keteteran dua bulan. Lalu berpikir, ga boleh gini terus. Karena ‘kering’ rasanya. Akhirnya saya putuskan untuk ‘keras’ sama diri sendiri. Saya set target. Saya set konsekuensi klo targetnya missed. Misal: target tilawah 1juz, dilalah hanya tercapai setengah juz. Maka esoknya, target saya jadi 1½ juz. Karena punya hutang yang kemarinnya.

S: Mungkin memang harus dipaksa ya teh, pelan-pelan.

N1: Iya teh. Berproses saja. J

S: Anak teteh yang 3 tahun udah diajarin apa aja teh? Saya bingung kalo mau ngajarin keagamaan ke anak, mulainya darimana ya?

N1: Bingungnya kenapa? 😅 Buat rencana belajarnya teh…

S: Ah iya ya teh, mungkin karna saya ga bikin rencananya jadi saya bingung

N1: Ini program HS anak2 saya saat usianya <6thn:

– Shalat (anak laki-laki belajar ke masjid tepat waktu/anak perempuan di rumah)

– Hafalan: Doa harian, Hadits, Qur’an

– Olahraga: tiap hari jalan2 keliling/senam sama bunda di rumah/berenang

Home chores activity (sapu-sapu, bersih-bersih kamar, bersih-bersih halaman, cuci piring, dll)

Fine motors: main pasir, dough, amplas huruf dll

Pre reading activity: baca buku, main logico, bercerita (circle time)

Pre math activity: main lego, main puzzle, main sains, geometri, main biji lengkeng, dll

– Jalan-jalan/field trip:  2minggu/1x

Art & craft

Materi utama:

  1. Aqidah (rukun islam-rukun iman-kalimat thayyibah
  2. Akhlak (belajar adab, sosial emosional, dll)
  3. Fiqh (belajar ibadah mahdhah)
  4. Tarikh (belajar kisah nabi)

Usia 19 bln, mulai dgn kalimat tauhiid. Perdengarkan yang sering. Kalo bisa, sehari-hari stel murattal.

S: Soal disiplin anak. Mulainya dari umur berapa ya? Misalnya waktunya bangun dan waktunya tidur. Sekarang ini anak saya kalau diajak tidur pengennya main. Harus dilayani aja gitu?

N1: Yang saya tahu, disiplin itu sejak sangat dini diterapkannya teh…nanti boleh melonggar seiring pertumbuhan anak. Asumsinya, anak yang sudah terbiasa disiplin sejak dini, ketika bertumbuh sudah paham arti disiplin dan sudah bisa menerapkannya tanpa harus terus dikontrol ketat. 😊

S: Ooh gitu ya. Menurut teteh atau yang teteh ngerti, sebaiknya disiplin dalam hal apa aja ya di usia masih 2 tahun? Saya pribadi ingin mendisiplinkan tidur malam dan bangun paginya. Tapi kadang itu juga dipengaruhi tidur siangnya kan ya? Apa teteh ada saran?

N1: Usia 2 tahun, disiplin sederhana teh:

– makan saat waktu makan

– tidur saat waktu tidur

– bereskan mainan bila sdh selesai

– simpan baju kotor di tempatnya

– dll

S: Biar tepat, gak apa-apa dipaksa pas awal gitu ya?

N1: Ga usah dipaksa teh, dibiasakan aja. Dibersamai secara rutin.

S: Teteh pernah gak pengen marah sama anak? Pasti pernah ya, gimana cara ngatasi nya ya teh??

N1: Pasti pernah atuh teh…da saya bukan malaikat 😂. Kalau pas marah dan sedang sadar mah, biasanya istighfar dulu, terus tarik nafas panjang-tahan-hembus lewat mulut. Hitungannya  4-3-7. Atau pakai teknik tumbukan tangan utk release emosi negatifnya dulu.

Nanti udah tenang baru ngobrol sama anaknya pake pola pertanyaan.

Tapi sekali lagi, itu pas lagi sadar…hehe, pas lagi ga sadar (semoga Allah lindungi), kadang ada aja yg ga pas 😞. Yg istighfar tapi ga pake hati lah…yg ‘ngomel’ bari ga jelas ngomong apa. Haha, namanya juga manusia 🙈. Mohon aja sama Allah untuk selalu dijaga agar tetep sadar dan berlindung dari syetan saat emosi ga stabil.

S: Trus kalo anak lagi pengen sesuatu, yang menurut kita gak boleh tapi keukeuh sampe nangis-nangis, apa kita biarin dia nangis aja, atau gimana?

N1: Kalau aturannya ‘gak boleh’, apalagi kalau sudah pernah diberitahu sebelumnya. Untuk anak tertentu saya biarin aja nangis sampai berhenti, baru ngobrol dan dijelaskan. Untuk anak yang lain, dipeluk sampai selesai, lalu dijelaskan. Jadi, tergantung tipe anaknya. Selama nunggu dia selesai dengan emosinya, kitanya kudu banyak2 istighfar we 🙈, biar ga kepancing.

Tapi yang pasti, anak-anak saya tidak akan pernah mendapat apapun kalau minta sambil menangis/tantrum.

S: Trus kalo anak harus melakukan sesuatu, tapi dia gak mau, harus kita apain???

N1: Kalau bukan hal yg prinsip, ya dibiarin aja saya mah. Anak kan juga manusia, sama kayak kita.  Ada saatnya semangat, ada saatnya males. Jadi kalau sekedar masalah mandi misalnya, ga mau mandi sore sekali2 ya gak apa-apa.

Yang penting tetap paham bahwa ada aturan baku yang harus ditaati, contohnya bab shalat untuk yang sudah 7 thn. Mereka tetap harus shalat. Karena itu prinsip. Jadi buat saya mah, ada yg ‘wajib’, ada yang ‘sunnah’ teh.

Da kita juga kadang gitu kan ya. Ada saatnya males masak, males mandi 🙈, shalat ga di awal waktu 🙈🙈. Namanya juga manusia 😂😂 #alesan

S: Oia satu lagi, kalo anak perempuan teteh diajak solat dari umur berapa? Dan kalo pas dia lagi gak mau solat, gimana??

N1: Mulai duduk di samping saat kita shalat sih sejak bayi. Dia mulai ikutan shalat sejak 4 tahun. Sekarang 6thn, kadang kalau lagi bener-bener gak semangat shalat (udah diajak 2x masih cuek) biasanya saya biarin aja dulu. Lalu jadi PR buat saya introspeksi diri, berarti shalat blm jadi hal yg menyenangkan buat dia. Mulai deh malam sebelum tidur ngobrol panjang, gali perasaannya, lalu masukkan dikit-dikit apa nikmatnya shalat.

Saya ga saklek sih teh, kecuali nanti dia sudah 7 tahun ya, akan lebih strict. Harus shalat meski kadang ga di awal waktu misalnya. Bertahap sampai di 10 tahun dia siap komitmen untuk selalu shalat di awal waktu.

Dulu waktu kakaknya yg laki-laki begitu sih teh. Karena laki-laki kan pembiasaannya ke masjid, jadi dulu begitu. Yang dipikirkan awalnya adalah gimana supaya dia cinta ke masjid. Sejak 2 tahun ikut ayahnya ke masjid dan terus terbiasa jadinya. Di usia 5 tahun udah ga lepas dari masjid, meski kadang masih harus ditanya ‘mau di masjid atau di rumah?’ kalau dia mulai santai-santai berangkat ke masjidnya 😅.

Tapi beda anak kan beda pendekatan ya hehe. Anak sulung saya dengan anak kedua saya beda jauh kepribadiannya, jadi pola tarik ulurnya juga beda 😁😁.

Semoga Allah karuniai kita kesabaran tak berbatas ya teh…insya Allah hadiahnya surga 😍😍😘😘

Bersambung ke tanya jawab dengan narasumber berikutnya ya.

0

Berbagai resep bumbu dasar, penting buat emak di dapur

Cuma mau copas, buat catatan saya sendiri. Berbagai macam bumbu dasar. 🙂

PASTA BAWANG
(Bumbu Bawang Siap Pakai)

Bahan 1 :
500 g bawang merah di kupas
200 g bawang putih di kupas
1 sdm garam

Bahan 2 :
200 ml air hangat (untuk menghaluskan)
200 minyak goreng (mungkin maksudnya 200 ml ?)
100 ml air (untuk menanakan)

Cara membuat :
– Haluskan bahan 1 dan 200 ml air hangat hingga benar-benar halus.
– Panaskan minyak hingga panas benar.
– Tumis bawang yang di haluskan hingga harum dan matang.
– Tanakan dengan 100 ml air hingga bumbu beraroma baik.
– Dinginkan, masukkan dalam toples bertutup rapat.
– Bumbu dapat di pergunakan untuk berbagai masakan.

1 sendok pasta bawang setara dengan 8 bawang merah dan 3 bawang putih. Ini bisa jadi patokan untuk masak berbagai resep yang menggunakan bawang merah & bawang putih

BUMBU BALI
》Haluskan:
3 buah cabe merah besar buang bijinya
2 buah cabe merah keriting
6 buah bawang merah
5 siung bawang putih
2 buah kemiri sangrai
1 cm jahe
》Saat Menumis:
1 sdm gula merah
1 sdm kecap manis
Garam secukupnya
Gula secukupnya

BUMBU LODEH
》Haluskan:
8 buah bawang merah
6 siung bawang putih
1 cm jahe
1 cm kunyit
1 buah cabe merah besar buang bijinya
》Saat Menumis:
1 cm lengkuas geprek
3 lembar daun salam
2 lembar daun jeruk
Garam, gula secukupnya

BUMBU LAPIS DAGING
》Haluskan:
7 siung bawang putih
5 buah bawang merah
7 buah kemiri sangrai
1 butir telor ayam
3 buah cabe merah besar buang bijinya
1/2 sdt merica
》Saat Menumis:
3 sdm kecap manis
Garam.gula secukupnya

BUMBU KRENGSENGAN
》Haluskan:
7 buah bawang merah
5 buah bawang putih
1/2 sdr merica
2 buah cabe merah besar buang bijinya
1 sdm petis
Garam.gula secukupnya

BUMBU RAWON
》Haluskan:
10 buah bawang merah
6 siung bawang putih
2 buah cabe merah besar
2 sdt kerumbar sangrai
1/2 sdt jinten
2 cm jahe
2 cm kunyit
4 buah kemiri sangrai
5 kluwak remdam dengan sedikit air panas
》Saat Menumis:
2 batang serai geprek
3 cm lengkuas geprek
5 lembar daun jeruk buang tulangnya
Garam.gula secukupnya

BUMBU OPOR
》Haluskan:
8 buah bawang merah
6 siung bawang putih
1 cm jahe
3 buah kemiri sangrai
1 sdm ketumbar sangrai
1/4 sdt jinten sangrai
1/2 sdt merica bubuk
》Saat Menumis:
4 lembar daun jeruk buang tulangnya
2 batang serai geprek
3 lembar daun salam
2 cm lengkuas geprek
Garam.gula secukupnya

BUMBU KARE
》Haluskan:
8 buah bawang merah
6 siung bawang putih
3 cm kunyit
5 buah kemiri sangrai
1 sdt ketumbar sangrai
1/4 sdt jinten sangrai
1/2 sdt merica
2 cm jahe
》Saat Menumis:
3 lembar daun salam
3 cm lengkuas geprek
2 lembar daun jeruk buang tulangnya
2 batang serai geprek
Garam.gula secukupnya

BUMBU SOTO
》Haluskan:
6 buah bawang merah
5 siung bawang putih
5 cm kunyit
1 cm jahe
1 sdt merica
1 sdt ketumbar
3 butir kemiri sangrai (skip jika ingin soto bening)
》Saat Menumis:
3 cm lengkuas geprek
2 batang serai geprek
3 lembar daun jeruk buang tulangnya
Garam.gula secukupnya

(Resep dikalikan sesuai kebutuhan)
》》CARA MEMASAK BUMBU《《
Masak bumbu halus hingga kering pastikan airnya habis baru ditambah minyak goreng tumis hingga harum tidak bau langu.
Tunggu dingin baru kemasi diplastik kalo saya per plastik 3 sendok makan setelah itu masuk frezer ya biar tahan berbulan-bulan
Kalo mau masak tinggal ambil 1 plastik bumbu.

0

Kulwap: Prestasi Pertama dan Utama Anak Kita

🎩 PROFIL NARASUMBER 🎩

Nopriadi Hermani. Lahir di Negeri Seribu Langgar, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Hidup bersama  1 orang istri dan 3 anak (Shafa, Althof dan Kautsar).

Selepas lulus sekolah menengah atas (SMA) merantau ke kota pelajar Yogyakarta. Di Kota Gudeg ini menunaikan amanah orang tua untuk menjadi seorang sarjana. Tahun 1997 berhasil lulus dari Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Beberapa tahun kemudian menyelesaikan program master di Biomedical Engineering, Nanyang Technological University, Singapura. Selanjutnya, meraih gelar Philosophy of Doctor (Ph.D.) di Tokyo Institute of Technology, Jepang, dengan spesialisasi Pattern Recognition & Machine Learning (Mesin Cerdas).

Sejak kuliah hingga sekarang menyenangi ilmu psikologi, pengembangan diri, agama Islam, manajemen, organisasi, kepemimpinan, ilmu sosial- politik, ekonomi, sejarah, peradaban dan berbagai bidang di luar bidang engineering.

Sehari-hari menjadi dosen dan sekarang diamanahi jabatan Ketua Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Di samping mendidik di lembaga perguruan tinggi, juga mengabdikan diri secara penuh pada pendidikan keluarga dan masyarakat.

Disamping sebagai suami, orang tua, dosen, dan pengemban dakwah, juga menggeluti dunia penulisan. Buku yang telah terbit adalah:

  1. The MODEL, buku pengembangan diri spritual ideologis untuk meraih sukses pribadi dan sukses peradaban. Buku yang ditulis selama 7 tahun ini mensintesis bidang ilmu psikologi, agama Islam dan mesin cerdas yang didalami saat S3 di Jepang.
  2. The MODEL for Smart Parents. Ini adalah buku parenting turunan dari The MODEL. Buku parenting dengan konsep baru dalam mendidik anak, yaitu konsep “Tuning”. Buku ini dipersembahkan untuk orangtua atau calon orangtua dalam menyiapkan generasi muslim masa depan yang sukses, bahagia dan kontributif dalam membangun peradaban barokah.

📒 fanpage: http://www.facebook.com/buku.themodel

📘facebook: http://www.facebook.com/nopriadi.hermani

📔Instagram: @nopriadi.herman

🎩 MATERI 🎩

🎖🎖🎖🎖🎖🎖🎖

Nak Prestasimu Itu… *

(Prestasi Pertama dan Utama Anak Kita)

Oleh : Nopriadi Hermani, Ph.D.

🎓🎗🎓🎗🎓🎗🎓🎗

Saya kumpulkan anak-anak siang itu seperti biasanya. Saya mulai pertemuan halqah dengan salam, hamdalah, dan shalawat kepada baginda Muhammad saw. Kemudian saya buka materi siang itu dengan sebuah pertanyaan,

“Tahukah kalian, prestasi pertama dan utama apa yang harus diraih seorang muslim?”

Saya tunggu beberapa saat. Mereka terlihat berpikir. Baru kali ini saya mengajukan pertanyaan seperti ini.  Terus terang saya agak deg-degan menunggu jawaban mereka. Saya ingin menakar hasil pendidikan kami selama ini. Saya ingin menakar efektivitas tuning yang telah kami lakukan pada diri mereka. Saya ingin menakar hal berharga apakah yang ada dalam pikiran mereka. Di samping ingin menakarnya, saya akan meluruskan bila jawaban mereka keliru. Anda tahu apa jawaban mereka?

Satu per satu kemudian berusaha menjawab. Ada yang mengatakan “Menjadi anak saleh”. Adapula yang menjawab “Memiliki kepribadian Islam”. Alhamdulilllah, walaupun tidak tepat 100% jawaban anak-anak sudah menunjukkan pemahamannya yang lurus.

Ayah Bunda, bertanyalah kepada anak-anak Anda tentang prestasi pertama dan utama yang harus diraih seorang muslim. Terutama yang menjelang atau sudah akil baligh. Dari sana kita bisa menakar hasil dari proses pendidikan selama ini. Dapat mengetahui prioritas apa yang telah tertanam pada mereka. Atau jangan-jangan kita perlu mengevaluasi diri dengan bertanya, “Sudahkah saya memiliki standar prestasi bagi anak-anak tercinta?  Prestasi utama dan pertama apakah yang ingin saya saksikan?” Jangan sampai kita belum memikirkannya. Belum memikirkan berarti kita tidak memiliki target yang ingin diraih.

Betapa banyak orang tua yang tidak mengetahui prestasi utama dan pertama untuk anak-anak mereka. Banyak pula yang keliru mengarahkan prestasi-prestasi buah hati tercinta. Ada yang memaksakan prestasi anak sesuai dengan hasrat pribadi. Prestasi anak adalah ambisi orang tua. Prestasi anak adalah kesenangan orang tua. Kadang-kadang prestasi anak adalah cermin dari cita-cita orang tua yang tak kesampaian.

Banyak orang tua yang beranggapan bahwa prestasi anak adalah memiliki suara emas nan merdu, fasih berbahasa Inggris, piawai memainkan piano, hebat dalam berpidato, pandai melukis atau jago berdagang sejak kecil. Tanpa ragu mereka merogoh kocek yang tidak sedikit demi ambisi ini. Mereka ikutkan anak-anak mereka dengan berbagai macam les seperti piano, bahasa Inggris, dansa, melukis, menyanyi dan lain-lain. Mereka berharap anak-anak mereka memiliki segudang piala dan penghargaan. Terkenal di mana-mana layaknya 10 penyanyi ngetop dunia seperti Chris Brown, Lady Gaga, Michael Jackson, Katy Perry, Cent, Will I Am, Britney Spears, Eminem, Miley Cyrus dan Prince. Atau menjadi seperti 10 selebriti dengan bayaran termahal:  Madonna, Steven Spielberg, Simon Cowell,  E.L James, Howard Stern, Bruce Willis, Glenn Beck, Michael Bay, Jerry Bruckheimer dan Lady Gaga.

Tidakkah mereka lupa dengan kisah-kisah kegagalan hidup orang hebat yang salah dalam memilih prestasi? Tidakkah mereka lupa paradoks kehidupan orang-orang sukses dalam puncak prestasi? Dr. Pearsall dalam bukunya “Toxic Success” telah meneliti banyak orang berprestasi ini. Kesimpulan dia, “Mereka yang sukses (berprestasi) hidupnya menderita.”

Suatu saat ada orang tua bertanya, “Apakah salah dengan prestasi juara kelas atau hafidz Qur’an?” Sebenarnya tidak ada yang salah dengan prestasi seperti juara kelas, pandai matematika, terampil berpidato atau menjadi orang terkenal. Asalkan prestasi utama dan pertama berhasil diraih oleh anak-anak mereka. Orang tua wajib tahu prioritas mana yang menjadi prioritas. First things first.

Kembali ke pertemuan halqah dengan anak-anak. Setelah mereka menyampaikan jawaban, saya menatap mereka satu per satu. Kemudian saya menjelaskan kurang lebih begini, “Nak, prestasi pertama dan utama yang mesti kalian raih adalah saat memasuki usia baligh kalian sudah terikat dengan Islam. Segala yang dilakukan harus sesuai dengan Islam…” Saya terus menjelaskan kepada mereka apa yang dimaksud terikat dengan Islam.

Mungkin ada yang bertanya kenapa saya menggunakan standar saat baligh? Saat baligh inilah segala amal mereka sudah mulai dihisab. Argo pahala-dosa mereka telah dijalankan. Saat inilah seharusnya kita menakar hasil proses pendidikan selama ini. Saat inilah seharusnya kita mengevaluasi capaian prestasi pertama dan utama anak-anak kita. Saat inilah seharusnya kita mengukur prestasi mereka dalam kacamata yang benar (syariat).  Saat baligh adalah saat yang paling menentukan dan mendebarkan, karena kita tahu apakah mereka telah berprestasi ataukah belum.

Mungkin masih ada yang bertanya mengapa prestasi utama dan pertama berupa keterikatan dengan aturan Islam? Mengapa prestasi itu diukur dengan kerelaan mengikatkan cara hidup dengan aturan-aturan ilahiah? Mengapa prestasi itu diukur dari ketaatan kepada Allah swt.? Karena itu menunjukkan sejauh mana mereka telah menjalani hidup sesuai dengan tujuan penciptaan manusia.

“Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (TQS. adz-Dzariyat: 56)

 Ketaatan pada Allah swt. pasti akan membawa mereka pada kehidupan yang baik di dunia. Tentu saja akhirat. Mereka menjadi pribadi saleh dan bertakwa. Tidak melakukan cela dan berbuat baik pada orang tua.  Kehidupan mereka diwarnai dengan keimanan pada Allah swt. dan dihiasi dengan amal saleh. Bukankah ini sebuah prestasi yang hebat? Bukankah ini prestasi yang membanggakan sekaligus membahagiakan? Bukankah ini melebihi capaian apapun selama di dunia?

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS. An-Nahl: 97)

Ayah Bunda, bukankah ini prestasi luar biasa bila anak-anak kita telah menampakkan tanda-tanda memasuki kehidupan yang baik (hayyatan thoyibah)? Kehidupan yang membuat mereka dapat merasakan betapa indahnya dunia. Kehidupan untuk menjemput imbalan terbaik di akhirat sebagaimana janji Allah swt. Sekali lagi, bukankah ini prestasi hebat dalam hidup mereka? Prestasi yang ingin Anda berikan pada buah hati tercinta?

Tataplah wajah tanpa dosa mereka. Dengarkan suara lembut mereka. Belailah kulit halus buah hati tercinta. Rasakan harapan hakiki mereka. Bukankah kehidupan yang baik di bawah ridha Allah swt. adalah prestasi pertama dan utama?

* dicuplik dari buku “The MODEL for Smart Parents”

http://www.facebook.com/buku.themodel

🏅🏵🏅🏵🏅🏵🏅🏵🏅

🎩 TANYA JAWAB 🎩

Tanya:

Bismillah … Saya mau tanya keenan itu 3 thn kurang 2 bulan kalau sama saya dia paham klo saya terangkan sedikit tentang adab islam akan tetapi kalaunketemu ua nya dia suka jadi aga males ? Ada saran ga ya pa ustadz biar keenan sndiri bisa lebih teguh dan metodenya pembelajaran saya nya apa hrs diubah ?

Jawab:

Bunda Nche,                        

Mungkin bisa disampaikan adab Islam apa yang malas dilakukan putra Bunda saat ketemu Ua -nya?                        

Secara umum, anak-anak akan melakukan hal-hal yang menurut dia menyenangkan. Menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan dia.

Ketika Bunda menjelaskan atau mengajarkan tentang adab Islam maka yang sampai pada anak-anak adalah apakah hal tersebut menyenangkan atau tidak bagi dia. Seringkali adab yang kita ajarkan merupakan batasan-batasan yang mengganggu dia. Padahal, usia-usia seperti itu (balita) adalah masa-masa dimana dia senang mengeksplorasi. Dan orang tua di luar ayah bunda biasanya cenderung longgar dengan batasan-batasan. Walhasil, anak-anak seperti mendapat “kesempatan”.Sangat perlu pula berdialog dengan Ua-nya agar kompak tentang adab tersebut.

Anak-anak usia balita belum bisa membedakan mana baik dan mana buruk, terutama menurut Islam. Mereka hanya tahu mana yang menyenangkan dan mana yang tidak. Kelihatannya memang Ua -nya perlu diajak bicara agar bisa kompak dalam mendidik anak-anak. Kalau tidak nantinya akan menimbulkan masalah cukup besar di kemudian.

Tanya:

Bagaimana cara memulai agar target kita thd anak bs tercapai? Semenjak usia berapa anak bisa lebih diarahkan thd target itu?

Jawab:

Untuk Bunda Vivi, Terkait target pribadi anak bisa kita bagi menjadi dua. Pertama adalah target yang terkait kepribadian Islam berupa keterikatan mereka anak-anak pada Islam. Terikat pola pikir dan tindakannya dengan Islam.

Kedua adalah terbentuknya karakter efektif. Karakter efektif ini akan menghantarkan mereka pada kesuksesan yang sering dipahami oleh masyarakat umum. Berupa prestasi-prestasi ‘duniawi’. Duniawi ini tidak berarti negatif Bunda. Nah, saya akan bahas target pertama saja. Target anak seperti ini agar tercapai bisa dimulai sedini mungkin. Caranya adalah mencapai target itu pertama kali. Sebelum mengarahkan anak-anak mencapai tersebut, orang tua harus mencapainya terlebih dahulu. Dengan kata lain kepribadian Islam itu harus dimiliki oleh orang tua. Karena orang tua nantinya akan menjadi tauladan yang sangat berpengaruh pada anak-anak tanpa kita sadari. Mata, telinga anak-anak akan melihat orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Bukan instruksi atau kata-kata kita yang fasih bicara pada mereka, tapi contoh dan keseharian kita yang akan membekas dalam benak mereka. Oleh karena itu, mendidik anak pada dasarnya mendidik diri sendiri.

Tanya:

apa yg hrs orangtua lakukan,  untuk mempersiapkan anak sejak usia dini,  agar di usia baligh nanti siap terikat kepada islam?

Jawab:

Bunda Anna,

Saya ingin sampaikan konsep “Tuning” dalam parenting. Konsep ini saya perkenalkan dalam buku saya “The MODEL” dan “The MODEL for Smart Parents”. Siapa kita, bagaimana kita, bagaimana kepribadian kita, bagaimana pola pikir dan kebiasaan kita sangat tergantung apa yang disebut model diri (self-model) yang ada pada diri kita. Model diri ini penentu bagaimana kita menjalani hidup. Nah, model diri ini dituning atau disetel. Tuning atau setelan selama ini sangat berpengaruh membentuk kepribadian kita.  Ada banyak hal yang men-tuning anak-anak dengan sangat efektif. Salah satunya adalah kebiasaan atau budaya dalam keluarga. Agar anak-anak usia baligh siap terikat kepada Islam, maka orang tua harus sedini mungkin men-tuning keterikatan ini pada anak-anak. Caranya? Bangun interaksi Islami dalam keluarga.

Ayah Bunda harus jadi model atau tauladan di rumah. Agar ketauladanan ini efektif maka orang tua harus memahami konsep-konsep keterikatan pada Islam ini dengan baik. Proses belajar tentang konsep Islam ini akan mempengaruhi prilaku ayah bunda. Selanjutnya akan men-tuning anak-anak tanpa disadari. Apa yang kita lakukan akan terus dilihat dan didengar  oleh anak-anak sehingga kepribadian mereka ter-tuning.

Sedikit tambahan apa saja yang men-tuning anak-anak kita adalah:

https://web.facebook.com/buku.themodel/photos/a.1081171078614238.1073741835.527903000607718/952915231439824/?type=3&theater

Tanya:

Anak saya usia 7 dan 4 th…masih ada kuranglebih 7 th an lagi menuju aqil baligh insya Allah…

persiapan apa sajakah yg harus kami lakukan utk ananda shg prestasinya kelak sesuai dg keinginan Allah

Jawab:

Bunda Fidyah,

Usia 7 tahun sebenarnya adalah lebar baru bagi hidup anak-anak kita. “Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR Ahmad)

Mereka sudah mulai kita beri instruksi dalam menjalankan Islam. Keterikatan pada Islam sudah mulai kita tanamkan dengan baik pada usia ini. Nah, disamping ketauladanan orang tua maka agar mereka mau dengan mudah terikat pada Islam maka aqidah mereka harus ditanamkan sejak dini.                       Maksudnya, penanaman aqidah sudah dilakukan sebelumnya. Bila aqidah dasar sudah ditanamkan, istilah saya dalam buku The MODEL for Smart Parents adalah filosofi hidup, maka keterikatan pada Islam itu akan menjadi mudah.

Modal keterikatan pada Islam itu ada dua, yaitu pemahaman dan yang kedua adalah pembiasaan prilaku.

Tanya:

Apakah masih tidak apa2 ustadz kalau shalat maunya hanya magrib dan subuh dg alasan rakaatnya sedikit? Agak tenang sedikit ketika dilingkungan baru ini ada kawan2 seusianya yg pergi mengaji sebelum magrib sampai bada isya…jadi dia mau shalat magrib dan isya dimasjid…tapi kalau tidak ngaji yaaa tidak shalat

Jawab:

Jangan bunda, usia itu sudah mulai diajarkan shalat sempurna. Sangat dianjurkan, bahkan bisa dikatakan wajib orang tua terutama bapak, memberi contoh dengan pergi ke masjid untuk shalat 5 waktu. Kalau Dzuhur atau ashar tidak bersama, maka ke masjidlah bersama-sama pada shubuh, maghrib dan isya. otomatis shalat anak akan sempurna. Jadi pada usia 7 tahun, pastikan tuning pemahaman dan pembiasaan pada anak-anak.

Tanya:

Maaf ustadz…aqidah dasar yg harus ditanamkan ke anak apa saja ya… #Malu saya…minim ilmu

Jawab:

Saya copy-kan bab 15 dari buku saya terkait Aqidah paling dasar.

Bab 15. Filosofi Hidup (Men-tuning Pondasi Hidup Anak-Anak Kita)

 Bila gedung bertingkat membutuhkan pondasi yang kokoh agar dapat tegak berdiri. Bila pohon membutuhkan akar yang kuat untuk tumbuh subur. Lalu landasan apa yang dibutuhkan anak kita agar dapat menjalani hidup dengan tegar dan benar di masa depan?

Sebelum membahas bagaimana mencetak generasi prestatif, terbaik di antara terbaik, best of the best, atau crème de la crème maka seharusnya tema filosofi hidup terlebih dahulu diperbincangkan. Filosofi hidup inilah yang menjadi landasan bagi anak-anak kita dalam menapaki terjalnya kehidupan. Landasan yang menjadi tempat mereka berpijak dengan kokoh dalam memutar roda hidup. Bila filosofi hidup yang benar bersemayam di dalam jiwa anak-anak maka Insya Allah mereka kelak menjadi pribadi yang kuat di tengah-tengah Era Kegagalan.

Filosofi hidup keluarga muslim adalah aqidah yang lurus dan kuat. Aqidah yang seperti ini terletak pada keyakinan mendasar akan adanya Allah swt., penghayatan terhadap tujuan hidup di dunia serta orientasi akhir kehidupan di akhirat. Aqidah Islam yang mesti dimiliki mampu menjawab dengan benar atas tiga pertanyaan mendasar umat manusia. Tiga pertanyaan mendasar tersebut adalah:

1) Dari mana manusia, alam dan kehidupan ini berasal?

2) Untuk apa manusia, alam dan kehidupan ini ada?

3) Akan ke mana manusia, alam dan kehidupan ini berakhir?

Jawaban yang benar atas tiga pertanyaan di atas harus dimiliki oleh anak kita sedini mungkin. Tidak boleh sekedar menjadi dogma tanpa pemahaman. Tidak cukup hanya memuaskan aspek kognitif (rasio) saja, tetapi harus mampu menyentuh aspek afektif (rasa) dan mewujud pada aspek motorik (gerak). Men-tuning aqidah seperti ini tidak bisa hanya dengan metode hafalan atau ceramah.

Metode men-tuning aqidah agar menjadi filosofi hidup yang kuat adalah menghadirkannya dalam kehidupan nyata. Harus mewarnai keseharian mereka sejak kecil. Dan cara hidup orang tua berbicara jauh lebih keras tentang filosofi hidup ini ketimbang ceramah dengan suara yang lantang. Keseharian orang tua adalah gambaran filosofi hidup yang tertanam di dalam diri anak-anak. Teladan orang tua adalah proses tuning filosofi hidup yang paling efektif.

Maka, berhati-hatilah wahai orang tua. Mata dan telinga anak-anak kita akan selalu lengket dengan kebiasaan kita. Mereka akan merangkai filosofi hidup dari keseharian yang kita tampakkan.

Orang tua dengan landasan hidup yang rapuh, kelak menghasilkan anak yang labil. Orang tua dengan filosofi hidup yang salah, kelak melahirkan anak yang tersesat. Filosofi hidup anak kita sangat tergantung dari cara hidup kita. Cara hidup mereka ditentukan oleh filosofi hidup kita. Jadi, tidak ada tawar menawar di sini. Orang tua harus memiliki filosofi hidup yang benar dan menjalani kehidupan dengan benar pula. Cara hidup kita harus dilandasi oleh aqidah yang lurus dan terikat dengan syariat Islam.

Kami ingin sharing bagaimana menanamkan aqidah ini pada anak-anak kami. Sejak kecil kami kenalkan anak-anak dengan Penciptanya, Allah swt. Mengenalkan keberadaan Allah swt. melalui hasil ciptaan-Nya berupa manusia, alam dan makhluk hidup. Ketika masih dalam gendongan kami ajak berbicara tentang alam dan Penciptanya. Saat melihat daun dan pepohonan maka kami katakan, “Ini daun. Daun ini diciptakan oleh Allah swt. Itu pohon. Pohon ciptaan Allah swt.” Saat melihat apa saja, maka kami kenalkan penciptanya. Ini kami lakukan agar keberadaan Sang Pencipta tertanam dengan kuat dalam benak mereka.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (TQS. Ali Imran: 190)

Metode menunjukkan berbagai ciptaan dan menyebutkan Sang Kreatornya tidaklah cukup. Selanjutnya kami buat sedikit variasi agar tuning- nya lebih efektif. Kami menggunakan metode bertanya pada mereka. Misalnya, ketika melihat bulan dan bintang kami sampaikan begini, “Itu bulan. Itu bintang. Bulan dan bintang ciptaan siapa?” Maka mereka menyahut, “Allah.” Itulah cara kami men-tuning keberadaan Sang Pencipta pada mereka sejak kecil.

Orang tua harus lebih cerewet daripada biasanya saat berbicara dengan anak tentang tema yang berbobot. Dan tema pembicaraan yang bobotnya paling berat adalah perkara aqidah. Pembicaraan aqidah terkait pencipta makhluk yaitu al-khaliq dalam rangka menyentuh akal mereka yang polos dan bersih.

Berikutnya kami juga kenalkan mereka utusan Sang Pencipta, Muhammad saw. Dia adalah seorang nabi yang membimbing manusia agar dapat menjalani hidup dengan benar. Sosok yang ajarannya sangat dibutuhkan hari ini untuk mengubah Era Kegagalan menuju Era Keberkahan.

Ada banyak cara mengenalkan Rasulullah saw. kepada anak-anak. Misalnya, membacakan buku sirah Nabi – seperti karya Ibnu Hisyam, Shafiyurrahman al-Mubarakfury atau Muhammad Rawwas Qal’ahji – sampai menonton video tentang kehidupan Sang Nabi seperti “The Message” atau “Muhammad: The Last Prophet.”

Kami pahamkan bahwa Muhammad saw. membawa risalah dari-Nya berupa Al-Qur’an. Sejak kecil kami biasakan mereka berinteraksi dengan Al-Qur’an. Menghafal dan melafadzkan bacaan ayat-ayat dengan meniru murrotal Al-Ghamidi atau Mishary bin Rashid Alafasy.

Ketika sudah memasuki usia tamyiz kami ajak mereka berdialog tentang Al-Qur’an. Kami bangkitkan proses berpikir mereka dengan menunjukkan bukti-bukti kebenaran bahwa Al- Qur’an itu merupakan firman Allah swt. Bukti yang mengikat pikiran mereka sampai dewasa kelak. Bila mereka paham bahwa Al-Qur’an terbukti berasal dari Pencipta, maka apa pun yang ada di dalam Al- Qur’an pastilah akan mereka benarkan. Dari sanalah mereka akan tahu akan tujuan dari penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada Allah swt. Taat kepadanya tanpa kecuali.

“Tidak Kuciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (TQS. Adz-Dzariat: 60).

Jadi, mereka paham sejak dini bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah beribadah kepada Allah swt. dengan menaati segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang.

Menanamkan ketaatan kepada Allah swt tentu saja tidak cukup mengutip ayat QS. Adz-Dzariat: 60 di atas. Tidak cukup hanya dengan 1000 kali dialog atau ceramah. Dialog dan ceramah itu penting, tetapi membuktikan ketaatan itu jauh lebih penting. Ketaatan harus ada dalam kehidupan sehari-hari. Harus tercermin dari kebiasaan orang tua dan pembiasaan pada anak-anak.

Ketaatan itu tidak hanya dalam rangka menunaikan shalat, puasa, zakat, sedekah, berdakwah, belajar, atau berbuat baik kepada manusia. Marah orang tua pun harus selalu karena alasan Islami. Saat anak-anak melakukan pelanggaran akan perintah Allah swt. maka kami akan marah. Marah pada anak seringkali sekadar terekspresi di ucapan, bukan lahir dari dalam hati. Kami paham bahwa mereka belum baligh, jadi belum ada hisab atas amal mereka.

Kami “berpura-pura” marah dan menunjukkan kemarahan itu agar mereka paham bahwa ketidaktaatan kepada Allah swt. adalah perkara besar. Kami berusaha menjadikan ketaatan kepada Allah swt. sebagai budaya keluarga (family culture).

Selanjutnya tentang orientasi akhir hidup manusia. Segala hal yang dilihat pasti akan musnah. Manusia, alam dan kehidupan akan berakhir. Lalu kemana semua ini pergi? Mereka kami pahamkan bahwa kehidupan ini hanya berpindah fase; dari fase dunia menuju fase akhirat. Itulah kenyataan kehidupan yang kami pahamkan pada anak-anak.

“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan di hari kiamat.” (TQS. Al Mukminun: 15-16)

Dengan berbagai uslub (cara) kami, pahamkan tentang akhirat pada mereka. Kami bacakan terjemahan ayat Qur’an terkait akhirat. Kami perdengarkan hadits-hadits tentang surga dan neraka. Dengan begitu kami ingin membuka hijab antara dunia dan akhirat agar mereka melihat dunia-akhirat itu sebagai satu kesatuan.

Inilah yang kami lakukan dalam mengenalkan aqidah sebagai filosofi hidup mereka sejak dini. Tuning tentang filosofi hidup sangat berharga agar mereka bisa hidup dengan benar dan tegar. Filosofi hidup harus menjadi pembicaraan orang tua pertama kali sebelum berbicara tentang prestasi duniawi. Lebih diutamakan ketimbang tema tentang generasi prestatif, terbaik di antara terbaik, best of the best, atau crème de la crème.

Semoga Allah swt. mengokohkan filosofi hidup kita dan anak-anak kita.

Aamiin yaa Rabb.

Tanya:

Ustadz…ortu kdg punya latar belakang pendidikan krg baik dr ortunya,yg otomatis suka muncul di depan anak, bahkan kadang ga disadari. Ortu suka sadar saat anak2 melakukannya, bagaimana mensiasatinya ya, agar anak mau nerima pengarahan qt yg jg sdg berproses berubah

Kedua, jika anak sudah lbh dr 7 thn dan pengaruh luar sudah banyak, apakah msh mudah diarahkan,  jika seandainya ortu terlambat utk mengarahkan dan menjadi the model yg seharusnya. Ada tips dan trik kah?

Jawab:

Bunda Helmi, Kita semua berproses. Namun, kita menjadi teladan (baik atau buruk) tidak bisa kita hindari. Bila kita belum sempurna menjadi orang tua, maka tidak perlu khawatir. Yang penting kita terus berusaha untuk menyempurnakna diri. Belajar Islam dengan sungguh-sungguh, kemudian mempraktekkannya, berusaha menjadi contoh yang baik dan berdo’a pada Allah swt. Yang penting adalah kita harus membersamai hidup anak-anak kita. Bukan hanya bersama secara fisik saja, tapi bersama dengan jiwa mereka. Kita musti keep in touch dengan bathin terdalam mereka. Kita harus berusaha memahami apa yang anak-anak pikirkan dan merasakan apa yang menjadi kegundahan mereka. Artinya, kita ada dalam hidup mereka. Dengan memahami apa yang sedang terjadi pada mereka maka kita akan tahu apa yang harus kita lakukan. Tidak ada kata terlambat, yang ada adalah kata seberapa cepat kita mau berubah menjadi lebih baik.

Alhamdulillahirobbil alamiin

Kita cukupkan Kulwap with Ustadz Nopri malam ini, semoga ilmu yang sudah di sampaikan bermanfaat bagi kita semua

Aamiinn ya robbal alamiinn

0

Challenge: merchandise PON PEPARNAS 2016

Iseng-iseng pake Bismillah, di sebuah grup WA ada yang nawarin untuk menyediakan merchandise untuk perhelatan olahraga nasional di Jawa Barat ini (penawaran ini kalau gak salah sekitar bulan Mei-Juni 2016). Walau agak maju mundur cantik, akhirnya saya nekat untuk ikutan sebagai supplier. Heheh supplier. Biasanya juga konsumen. Sekali nyemplung, sekalian tenggelam aja deh. Dulu melalui beberapa proses verifikasi kalau produk saya diterima untuk dijual, saya mikir panjang, ini gimana cara produksi yang tepat.

Hari berganti hari, di tengah kesibukan saya di kantor, baru sadar kalau tanggal 10 September itu sudah dekat. Awal bulan, saya langsung coba buat 1 produk, yang kemudian akhirnya saya produksi juga dengan ke sana kemari bulak balik. Ke tempat cetak, ke tempat potong kertas, cari plastik, pesen online, cari tali, dan sebagainya. Saya produksi dan cari ini itu kira-kira dalam waktu seminggu!! wew

Oia merchandise ini katanya sih official. Tapi entah gimana, sepertinya ga jadi official. Ah ya sudahlah. Produk yang saya ajukan adalah mini notes dan bookmark. Dari dulu saya pengen banget bikin notes untuk merchandise yang bertemakan Indonesia. Yaa sebagai souvenir buat para bule. Atau kita mau ngasih cinderamata buat yang ada di luar negeri sana. Awalnya di gelaran PON ini dulu kali yaa.

Semua anggota keluarga, bapak, ibu, kakak, kakak ipar, dan suami, semua ikut ngerjain nih. Dan akhirnya tanggal pengumpulan pun tiba. Jeng jeeeng

Mininote_radsDesign2.jpgBookmark_radsDesign2.jpg

Saya persembahkan untuk acara PON dan PEPARNAS 2016 ini. Dibuatnya juga pake hati ini mah. Gak laku? ya gapapa lah. Buat awalan, buat pelajaran. Paling tidak saya sudah berhasil menchallenge diri saya. Semoga barokah semua usaha ini dan begitupun hasilnya. Aamiiin