Bismillahirrahmaanirrahiim

Baiklah tanpa berlama lagi, karena prolognya sudah disampaikan di Seminar Parenting ‘Singkat’ yang Padat dari Abah Ihsan – part 01, saya akan melanjutkan part 02 dengan menyalin isi catatan yang saya tulis dan juga isi kepala saya hasil dari ikut seminar Abah Ihsan kemarin.

Pertama kali, abah memulai dengan pertanyaan buat apa sih belajar parenting? Wong orang tua kita dulu aja yang ga punya ilmu parenting, yang ga sekolah, ga kuliah, bisa mendidik saya sampai saya jadi ‘orang’. Hellooow, beda jaman brooh.

Jaman dulu anak pasti nurut sama orang tua. Kenapa? Karena pengaruh dari luar itu kecil. Jaman dulu belum ada TV, adanya cuma radio. Isinya pun acara berbobot. Lalu TV muncul 1 channel yaitu TVRI. Isinya juga bermanfaat dan bagus. Jadi kalau kita nonton TV seharian (yang padahal dulu TV juga gak 24 jam), ya gak apa-apa lah. Coba sekarang? Kalau kita nonton TV dari pagi sampai malem, gimana? Acara apa yang kita tonton? Okelah berita. Tapi berita jaman sekarang tuh bukan menginspirasi. Dulu, kita kalau abis nonton berita di TVRI, jadi terinspirasi sesuatu. Nah sekarang, berita cuma 2 kalimat, bisa jadi sebulan pembahasannya. Jadi bumbunya terlalu banyak dan bikin pusing. Itu malah jadi informasi sampah. Sampai dibikin debat (apa ini, ga ada contohnya), dicari-cari segala kesalahan, sebab akibat. Ah itu mah udah ada yang bertugas. Kita mah ga usah sedetail itu. Jadi nonton berita mending cari yang headline aja. Kalau ada ayah yang beralasan nonton berita, mana yang berita? Itu cuma informasi sampah aja. Intinya cuma sedikit. Atau misalnya informasi kayak ‘7 hal misterius di dunia’, emangnya itu bisa bikin kita jadi berilmu gitu? Jadi ahli informasi gitu? Anak kita disuruh nonton kaya gitu jadi pinter gitu?

Jadi pengaruh lingkungan terhadap pendidikan anak, sekarang ini udah sangat banyak. Gimana dong cara membentenginya? Ya udah, Cuma satu aja. Orang tua!! Jadilah orangtua betulan, bukan asal-asalan. Jadilah orang tua yang bukan hanya PENGASIH (apa-apa dikasih), tapi juga PENYAYANG (mendidik anak sesuai fitrahnya). Kenapa mau jadi orangtua kalau gak mau ribet?

Menuntut ilmu itu penting. IQRO – Bacalah. Apa maksudnya? Ya ini adalah perintah Allah. Kita sebagai manusia harus membaca, belajar. Pemikiran itu didapat dari belajar. Orang yang berhenti belajar akan berhenti kebaikannya. Mulai dari berhenti belajar, malas ikut seminar, malas ikut kajian, malas membaca, jadi malas berbuat baik, lalu jadi memulai toleransi terhadap keburukan kecil, akhirnya jadi suka berbuat keburukan.

Indonesia itu katanya negara liberal yang paling liberal. Karena aturan itu dibuat untuk dilanggar. Biasanya yang paling galak adalah yang paling bersalah, dan orang baik yang tertindas. Contohnya di angkot, seorang ibu mau menegur bapak-bapak yang merokok, eh si bapak malah bilang ‘kalau mau udara bersih, ya pake mobil sendiri dong buu’. Di Jepang, kalau ada yang terima telepon di kereta itu bakal dimarahin, karena mengganggu khalayak, karena orang-orang istirahatnya pas di kereta. Di Amerika atau Eropa, suami istri yang berantem sampai mengganggu lingkungan, itu bakal jadi urusan polisi, karena ‘hey suara kamu itu polusi tauuuk!!’. Jadi hal-hal yang menyangkut hak individu sangat dilindungi. Sedangkan di Indonesia? Biasanya ya itu, yang salah yang paling galaklah.

Tidak ada satupun orang yang menginginkan keburukan. Tidak ada makhluk yang mencintai keburukan. Kecuali TERDESAK. Contoh, perampok. Kalau perampok punya pilihan mencari kekayaan dengan cara yang baik, mana yang akan dia pilih? Pasti milih yang baik. Dia karena kepepet butuh, jadi merampok/mencuri. Orang yang berbuat jahat pun, kalau ditanya ‘kamu mau gak dijahatin orang?’ pasti ga mau. Fitrahnya manusia itu baik. Maka mendidik anak itu akan sulit dan lelah di awalnya. Mengajarkan hak individu juga sulit pembiasaannya.

Abah cerita bahwa sejak anaknya bisa bicara, mulai saat itulah hak individunya dimulai, hukum dimulai. Jadi kalau ada yang rebutan mainan, si peminjam harus bilang kepada yang punya. Misalnya adik mau pinjam mainan kakak, si adik harus izin dulu dan bilang mau pinjam. Kalau kakak gak kasih, ya udah ga usah pinjam. Itu mah udah hak kepemilikan. Kalau yang punya gak ngasih ya udah. Jadi tidak ada kamus ‘mengalah’ sama adiknya, karena kasian si kakak jadi terampas jiwa kepemilikannya. Begitu juga temannya yang mau pinjam mainan miliknya. Sama keluarga aja harus izin, apalagi ini sama orang lain. Apa pelajaran dari hal ini? Anak-anak harus diajarkan ‘meminta izin’ jadi tidak sembarangan mengambil milik orang lain. Ini sangat penting untuk karakter dia saat dewasa. Dia tidak akan mengambil hak/milik orang lain yang bukan miliknya. Seperti yang sekarang pada koruptor lakukan dengan bangganya. Atau juga pergaulan remaja yang ‘sembarangan merampas kepemilikan temannya’ pegang-pegang sembarangan, dan seterusnyalah.

Abah juga mencontohkan dengan kue atau hanya minuman botol yang tersimpan di kulkas. Sang anak yang melihat ada botol minuman di kulkas saat siang hari dan ingin meminumnya. Dia akan bertanya dulu  ke umminya. Kalau umminya tidak di tempat, dia akan berusaha dengan menelepon. Itu usahanya meminta izin dan tidak meminum dulu baru bilang izin. ‘Ummi, itu minuman n* greentea di kulkas punya siapa??’ – ‘punya ummi.’ – ‘boleh buat adek? / boleh adek minta?’ – dst. Abah dan ambunya pun tidak berani mengambil kue milik anaknya, sekalipun itu yang membelikan adalah orangtuanya. Maka adab meminta izin ini penting untuk ditanamkan sejak bisa berbicara. Saat itulah hukum berlaku.

Seringkali kita mendengar kalimat seperti ini ‘alah, ambil aja. Sama keluarga ini, kaya sama siapa aja’ Ternyata kalimat ini jadi dasar karakter juga ya. Walaupun milik ibu, ayah, kakak, adik, maka harus tetap izin. Sekecil apapun barangnya, seremeh apapun barangnya. Apa akibat hal ini? Kalau ke keluarga aja berani mengambil yang bukan miliknya tanpa izin, maka nanti di luar/lingkungan dia juga akan terinspirasi begitu. ‘ah gapapalah ya ambil sedikit’, ‘ah gapapalah ya parkir di sini sebentar’, ‘ah gapapalah ya cuma 100 perak ga usah dikembaliin’. Heyy, D.O.S.A.

Balik lagi ke peraturan belajar bersama Abah ihsan pertama adalah jangan JAIM. Kalau mau ketawa ya ketawa aja, ga usah ditahan-tahan. Kalau mau nangis ya nangis jangan ditahan. Belajar itu harus bahagia. Kalau gak bahagia, isi pelajarannya gak akan masuk. Orang yang berbahaya itu adalah orang yang banyak diam, orang yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Kalau ada pepatah diam itu emas. Itu salah!! Yang benar kata hadits juga adalah ‘Berbicaralah yang baik, kalau tidak bisa, diam’. Apa yang duluan disuruh? BICARA, bukan DIAM. Coba liat Hitler, teroris, dan pelaku kejahatan lainnya, mereka biasanya pendiam, jarang ngomong. Jadi yang diam dan memendam perasaannya itu akan berbahaya. Jadilah bom waktu bagi diri dan lingkungannya. Maka itu, kalau punya uneg-uneg, keluarkan saja. Pekerjaan orang gila sebelum gila adalah diam, pekerjaan orang bunuh diri sebelum bunuh diri adalah diam (terlalu banyak merenungi diri, memendam perasaan). Jadi bicaralah. Bicara yang baik itu adalah Shodaqoh.

Bicara yang ga penting dengan keluarga itu adalah penting. Jadi kalau ngobrol sama keluarga, jangan yang penting-penting aja. Istri akan bosan kalau yang dibahas adalah nasehat terus dari bangun tidur sampai tidur lagi. Anak juga bosan kalau yang dibahas adalah hanya kesalahan-kesalahannya saja. Apalagi anak ya, dia jadi gak betah di rumah. Karena yang dibicarakan isinya hanya nasehaaat aja. Ga ada yang bercanda, yang ga penting, yang cuma haha hihi.

Jiwa anak 50 % sudah terpegang oleh ayah ibunya kalau rajin ngobrol sama orang tuanya. Tentu saja ngobrol yang gak penting juga. Apapun dibahas. Terutama orang tua terhadap anak, kalau anaknya diam, maka orang tua harus mengajak ngomong, bukan diomongin terus anaknya. Kalau anaknya ngajak ngomong, responlah dengan serius, sebagaimana kalau kita ingin direspon serius oleh orang lain ketika kita bicara. Banyak anak remaja yang jauh dari orangtua karena momen itu hanya saat ada masalah aja. ‘kenapa nilai kamu jelek? Kenapa kamu bikin masalah di sekolah? Kenapa kamu mencuri?’. Isinya hanya nasehat terus bukan hal-hal yang ga penting atau sifatnya keseharian. Jadi demi kesehatan JIWA, jangan JAIM. Apalagi bapak-bapak yang main sama anaknya. Sekedar bikin kata-kata bodoh di depan anaknya dan membuat dia tertawa terpingkal-pingkal. Berarti membuat dia bahagia. Membuat dia terikat oleh kita orangtuanya. Jangan dipikir ‘ah ga usahlah saya kaya badut-badut gitu, malu-maluin aja’. Sadar ya pada ayah, anaknya butuh hiburan dari orangtuanya. Pakailah imajinasi ayah dan ibu saat bermain dengan anaknya.

Peraturan selanjutnya ketika belajar bersama Abah Ihsan adalah terlibat. (Jadi di awal materi, sebenernya Abah baru mengenalkan bagaimana adab menuntut ilmu dan kayaknya kemaren isi materi sesungguhnya cuma 10% ya haha, tapi tetap berbobot dan nyambung sama bagaimana mendidik anak). 80% materi ceramah, akan hilang di hari ke-2. Maka, supaya tidak hilang apa yang didapat harus:

  1. Sunnah Rasul, MENULIS/MENCATAT.
  2. MEMBAGIKAN/SHARE
  3. MENJAWAB ketika ditanya, MELAKUKAN apa yang diminta. Supaya masuk kea lam bawah sadar.

Mencatat ini penting, karena ingatan manusia itu terbatas. Maka catatan inilah yang akan membantu kita. Sebagaimana hutang-piutang yang harus tercatat bahkan seperak pun, sesuai dalam kalam Allah di Al Quran.

Kenapa harus dibagi/di-share? Karena dengan membaginya, maka kita akan semakin malu jika kita tidak melakukannya. Tujuannya adalah supaya dilaksanakan apa yang sudah didapat. Tentu saja supaya orang lain juga mendapat manfaatnya apa yang di-share.

Di poin ketiga, Abah mencontohkannya dengan anak. Anak kecil yang baru bicara, akan banyak bertanya. Karena sebenarnya fitrah anak itu pintar, dan pasti ingin tau. Jadi pasti banyak bertanya. Bahkan dia akan bertanya berulang kali. ‘ayah itu apa, buat apa, kenapa gitu’ ‘ibu, besok hari apa? Senin, abis senin apa? Selasa, abis selasa apa? Rabu, abis rabu apa? Kamis, dan seterusnya sampai berputar lagi beberapa kali’. Apa yang Abah lakukan ketika anaknya bertanya hal remeh temeh yang menurut kita cukup sekali? Demi Allah Abah akan jawab terus pertanyaanmu nak! Kenapa begitu? Ya supaya masuk ke alam bawah sadarnya. Penanaman akhlak atau pemikiran atau apapun itu, butuh proses tidak cukup sekali. Anak mungkin akan bertanya hal yang sama berulang kali, atau mengulang hal yang dia baru tau berkali-kali. Biarkan itu menjadi tertanam di alam bawah sadarnya, selama itu kebaikan. Cape jawab? Ya. Tapi Abah yakin bahwa:

  1. Anak itu manusia, gak mungkin gak cape. Nanti juga berhenti nanyanya.
  2. Memalukan orang dewasa kalau tidak menjawab pertanyaan anak.
  3. Mumpung ada waktu/mood. Kadang-kadang kita lagi gak punya waktu, atau mood kita lagi buruk, jadi ya jawab sajalah segala pertanyaan anak.

Bermain bersama anak jadikan prioritas, jadikan penting. Sediakan waktu. Gak punya waktu? Anda bohong!!! Atau berarti anda tidak menganggap anak anda sebagai prioritas. Sediakan waktu khusus main dengan anak.

Coba ya para ibu, dalam sehari anda bersama anak itu berapa jam, terutama yang ibu rumah tangga. Bersama anak loh ya, bukan di sebelah anak. Artinya kita benar-benar fokus dengan anak. Tanpa ada kotak-kotak yang lain (pegang HP, kompor, mesin cuci, dsb). Sekarang aja nyuci dulu, trus pas anak main, kita memang di sebelahnya, tapi pegang HP. Liat aja nanti anaknya kalau udah gede gitu juga gimana?

Coba ya para ayah yang bekerja, luangkan waktu sama anak. Sampai di rumah itu kasih waktu full bersama anak, jangan pegang HP terus, atau hiburan nonton TV yang isinya informasi sampah. ‘ya ini kan urusan kantor’ Ya masa sih udah kerja seharian masih juga ngurusin kantor di rumah? Sekarang itu jaman serba cepat. Dulu bikin laporan aja harus di print, bisa berpuluh atau ratus lembar, sekarang tinggal jadi pdf aja udah beres, kirim ke atasan. Selesai. Atau komunikasi dengan hp juga jadi lebih efisien, mau rapat tapi ga jadi bisa dikabarin lewat HP, gampang. Makanya kalau di rumah masih lembur juga, perlu dipertanyakan di kantornya ngapain aja. Apa sudah full bekerja? Atau sambil-sambil yang lain?

Kasihlah waktu sama anak. Anak sudah menunggu bermain dengan orang tuanya. Jangan sampai dia sibuk bermain sama temannya atau yang bukan orang tua, sehingga dia keasyikan membentuk bonding bukan dengan orang tuanya. Jadi nanti pengaruh kita akan kecil terhadap anak. Kita tidak punya pegangan terhadap anak, sehingga kita gak bisa ngatur anak. Anak itu adalah makhluk yang paling sabar. Coba belajar dari mereka. Tidak perlu 24 jam kita membersamai anak kok. Yang penting ada setiap harinya dan fokus.

1821B.jpg
Program 18-21 yang digagas oleh Abah Ihsan

Poin selanjutnya dalam belajar bersama Abah adalah fokus dan konsentrasi. Orang Indonesia itu terkenal banyak ilmunya, tapi tidak ahli dalam satu ilmu pun. Jadi semua hal tau, tapi ga punya ilmu yang spesifik. Fokuslah dalam belajar, dan jangan terburu-buru. Jangan terlalu banyak multitasking. Membersamai anak juga begitu. Jangan buru-buru, jangan multitasking, sambil pegang HP, sambil masak, dan sebagainya. Pegang HP itu ngapain sih? Sekarang ini sudah terlalu banyak informasi sampah. Di grup WA, banyak info yang diulang-ulang. Kita lihat HP mau lihat apa? Update status teman?  Update WA grup ada info apa? Sedangkan update anak kita gimana? Habis waktu kita untuk menyimak informasi yang sangat banyak, tapi kita tidak menyaringnya. Makanya matikan Handphone saat kajian/seminar/pelatihan.

Orang yang berhenti belajar akan berhenti kebaikannya dan performanya. Rajin ibadah, tapi gak belajar (gak ikut kajian, pelatihan, gak menelaah alquran hadits, dsb), sama aja menurun performanya. Coba lihat Nokia, Blackberry, mereka memang sempat booming di pasaran, akhirnya kalah karena tidak ada inovasi, tergerus dengan android. Teruslah belajar bapak, ibu!

Balik lagi ke JAIM. Pendidikan dari ayah itu dari kredibilitas dan tanggung jawabnya, bukan jaga image. Suka berlebay-lebay sama orang lain, tapi gak pernah berlebay-lebay sama pasangan sendiri. Hey, lebay sama pasangan itu halal. Tidak pernah minta maaf sama istri dan anak, itu namanya bukan manusia. Sombong. Alias iblis. Alias makhluk halus. Jangan jaim sama anak! Orang yang sombong akan direndahkan oleh Allah. Yang berani sombong adalah syetan. Berarti kalau kita sombong ya kita syetan alias iblis. Ah da kita mah apa. Orang yang sombong ga pernah belajar. Mau jadi orang sombong di rumah dengan jaga image, karena takut rusak?

Selanjutnya, kenapa sih kita belajar parenting? Karena perubahan jaman. Jaman dulu itu semua serba safe, serba aman. Berita jaman dulu menginspirasi, berita jaman now bikin ‘sakit’. Jaman dulu info terbatas. Sumber informasi yang benar terbatas. Maka orang tua dan guru sangat dimuliakan karena dari merekalah kita banyak mendapat ilmu. Segala hal diverifikasi ke orang tua maupun guru. Jaman now?? Informasi sudah sangat receh. Sumber yang benar kita tidak tahu, bahkan media saja sudah keberpihakan. Anak kita mau disuguhin informasi sampah? Maka kita sebagai orang tua harus selalu update ilmu. Bagaimana ilmu mendidik anak di jaman sekarang. Yang tantangannya semakin banyak. Sekarang banyak anak yang berani sama orang tua, dan orang tua takur sama anaknya. Apa cirinya? ‘habis gimana, kalau gak dikasih, nanti dia ngamuk-ngamuk’ atau ‘kasian nanti dia gak sama dengan teman-temannya’ dan sebagainya. Jadi kalau kita ‘memberi apa yang diminta anak’ harus diperhatikan dulu cara memintanya, dan kebutuhannya.

Otoritas menguasai anak, tapi jangan mengatur anak. Maksudnya? Ya kita sebagai orangtua sebagai pemegang otoritas. Jangan sampai kita yang takut sama anak. Kita harus bisa mengendalikan anak. Tapi jangan ‘mengatur’ anak. Seperti halnya rumah, renovasi itu lebih mahal pak, bu, daripada membangun dari awal. Anak yang sudah sulit diatur orang tuanya, akan lebih susah mengubahnya daripada membangun kelekatan dengan anak sejak kecil. Jadi bersabarlah mendidik anak. Tegas itu wajib, kasar itu haram, lembut itu wajib, lembek itu haram.

Salah satu ciri kiamat adalah ketika banyak budak yang melalaikan majikannya. Sekarang ini banyak anak yang berani sama orang tuanya. Jadi orang tua hanya PENGASIH tapi tidak penyayang, maka ini disebut juga menjadi budak anak. Kita cuma ngasih-ngasih apa yang diminta anak, tapi tidak sayang dengan membatasi permintaannya. Misal membatasi anak dari nonton TV, video, main game, dan keinginan lainnya.

Abah IHsan cerita lagi tentang di rumahnya. Beliau punya pembantu dan supir di rumah. Tapi anak-anaknya dilarang meminta tolong kepada pembantu dan supir, KECUALI tidak bisa melakukan sendiri, meminta dengan lembut dan baik, dan tentu saja izin kepada yang memberikan gaji alias orangtua. Jadi anak-anak abah belajar mandiri. Tidak menyuruh-nyuruh pembantu maupun supir. Ini menarik ya. Kita sebagai orang tua harus mempersiapkan anak berpisah dengan orangtua, bukan ketergantungan dengan orangtua. Maka dari itu, yang penting diajarkan sejak dini itu adalah akhlak, kemandirian, bukan membaca, matematika, calistung, bahasa inggris, menari, karate, dan sebagainya. Pelajaran itu bisa dipelajari dengan cepat kok kalau akhlak anak sudah terbentuk. Umur 7 tahun, anak abah sudah harus punya tugas rumah tangga. Misalnya mencuci piring sehabis makan, ataupun tugas lainnya seperti mengunci pagar, membuang sampah, membuka gorden, beres-beres ruang tengah, dapur, tentu disesuaikan dengan usianya. Membentuk karakter anak itu butuh bertahun-tahun. Tidak bisa instan, sekali kita minta, harapan kita selalu dilakukan anak. Tidak bisa. Maka harus sabar dan terus menerus.

Anak durhaka itu dihasilkan dari orangtua durhaka. Jadi kalau ada orang yang ga bener misal mencuri, narkoba, hamil di luar nikah, itu pasti, PASTI, gara-gara orang tuanya. Pasti mereka jarang mengobrol dengan orang tuanya. Pasti tiap ketemu orang tuanya cuma diem, atau cuma isi nasehat aja. Jaman dulu, teladan saja sudah cukup, karena informasi dari keteladanan. Jaman sekarang, teladan saja tidak cukup. Ajarkan anak untuk bermanfaat untuk sekitar, bukan malah merugikan sekitar. Ajarkan kebaikan untuk masyarakat, bukan hanya untuk diri sendiri. Coba tengok, ada yang orangtuanya pemuka agama, tapi anaknya bangsat, ibunya hijaber tapi anaknya kurang bahan, dan sebagainya. Maka keteladanan saja tidak cukup di jaman sekarang ini.

Lanjut lagi, masih dengan kenapa belajar parenting? Supaya tidak tersesat. Kalau kita belajar, maka kita jadi punya peta atau GPS. Mendidik anak itu cape. Kalau kita mendidik anak tanpa arah maka capenya dua kali. Udah mah cape, gak terarah lagi. Supaya arah pendidikan jelas, jadi harus belajar!! Tentu saja dua-duanya ya, ayah dan ibu. Supaya sama suhunya. Coba misalnya dari bandung mau ke garut, anggaplah kita belum pernah dan belum tau jalannya. Kita bandingkan antara yang pakai peta/GPS dengan yang tidak. Mana yang akan cepat sampai dan sesuai tujuan dengan selamat? Tentu saja yang menggunakan peta kan? Sama halnya mendidik anak. Supaya sesuai tujuan, belajarlah parenting agak gak salah arahnya.

Alasan selanjutnya kenapa belajar parenting adalah supaya tidak celaka. Untuk mengoperasikan alat-alat berat saja ada SOPnya. Untuk punya anak bertahun-tahun juga harus ada SOPnya. Bagaimana kalau anak begini kalau anak begitu, kita harus apa, apa yang harus ditanamkan dulu, dan sebagainya. Hey para ayah! Luangkan waktumu sama keluarga. Ya memang anda ini memberi nafkah. Tapi yang disebut nafkah itu bukan hanya duit. Nafkah itu lahir dan batin. Jangan lahirnya saja yang dipenuhi, batinnya juga harus dipenuhi. Punya anak diurus gak? Atau hanya ngurusin kerjaan kantor aja? Apakah mencari nafkah itu (terutama uang) satu-satunya kewajiban atau hanya salah satu dari kewajiban?

Maka dari itu ya ibu-ibu, kalau mau nikah calonnya ditanya dulu. Coba ibu yang pacaran sebelum nikah udah berapa tahun? Atau yang taaruf, berapa bulan? Nanya gak ke calonnya pertanyaan seperti ‘menurutmu, gimana sih peran laki-laki saat mendidik anak’ bukan diisi dengan ‘eh hobi kita sama ya’, ‘eh warna kesukaan kita sama ya’, trus kalau beda, kita nyari orang lain yang hobinya sama dan ngobrol panjang lebar soal itu. Jadi memilih pasangan itu pertama adalah AGAMA. Kalau gak seagama itu bakal ribetlah. Yang kedua adalah dilihat NASABnya, dari keluarga baik atau bukan. Dia dibesarkan dengan cara yang baik atau tidak, gimana pengasuhan orangtuanya dulu di rumah. POLA ASUH!! Ya, ini penting banget. Memperhatikan pola asuh calon kita oleh orangtuanya. Karena ini akan mempengaruhi pola asuhnya ke anak kita.

Rela training ke Jakarta, ke Bali, luar negri bahkan, tapi untuk anak ga mau ikut training, ga mau belajar. ‘tapi kan saya kerja untuk anak’ BOHONG! Kalau untuk anak, pentingkan juga batinnya. Ingat, jangan hanya jadi PENGASIH, tapi juga PENYAYANG. Kalau orangtua gak mampu belajar mendidik anak, maka anak akan dikuasai LINGKUNGAN.

Lalu ketika orangtua tidak belajar mendidik anak, maka yang terjadi adalah trial (meraba-raba), jadi mendidik dengan trial saja. Atau warisan alias parenting duplication dari pola asuh orangtuanya dulu. ‘Dulu orangtua saya begini, saya juga bisa begitu ke anak supaya jadi kaya saya’. Ketika TERDESAK, maka akan terpanggil memori lama, dan itu berasal dari pola asuh orang tua kita. Untuk itu, bagi yang pola asuhnya dirasa kurang baik, segeralah install ulang program pola asuh di otak kita. Bagaimana caranya? Ya makanya BELAJAR!

Abah baru menjelaskan materi sesuai judul:

Anak itu awalnya ANUGRAH, tapi bisa jadi musibah, gara-gara orangtua tidak punya SKILL mendidik. Handphone sudah dimana-mana, bagaimana kita mengatur anak dengan handphone? Menurut abah, handphone itu boleh. Kasih aja yang bisa telpon dan sms, sampai dia cukup umur. Kalau dia perlu untuk pelajaran, maka kasihlah atau pinjamkan laptop, bukan smartphone. Smartphone barulah boleh setelah usia 18 tahun. Bill gates, steve jobs, tidak memberikan smartphone kepada anaknya sebelum 15 tahun. Di Indonesia sekarang anak-anak SD aja udah punya smartphone, bahkan punya akun instagram, facebook, twitter, line, dsb. Jadi infomasi yang belum sesuai umurnya sudah bisa dia akses. Bagaimana mungkin orangtua tega membiarkan anaknya menjelajah isi dunia melalui smartphone-nya, melihat hal-hal yang tidak bisa disaring? Kenapa coba SIM di seluruh dunia itu diperbolehkan setelah usia 17 tahun? Padahal di Indonesia anak SD, SMP aja udah pada bisa naik motor? Itu karena pertimbangan usia kematangan.

Sebenarnya fitrah anak itu mau belajar, mandiri, disiplin, kreatif, dan patuh. Tugas orangtua itu menumbuhkembangkan kebaikan anak. ANAK GAGAP TEKNOLOGI LEBIH BAIK DARIPADA GAGAP AKHLAK. Teman itu adalah akibat bukan sebab. Kalau anak terpengaruh teman, itu hanya akibat saja, yaitu akibat dari pola asuh orangtua yang salah! Coba tanyakan 1 hal pada orang yang bermasalah ‘seberapa sering kamu ngobrol sama orangtuamu?’

Untuk memenuhi harga diri, maka anak harus melakukan banyak hal, dan itu harus bersama orang tua. Jangan sampai bersama orang lain atau mungkin temannya. Jika itu terjadi, maka anak akan lebih mencari harga dirinya kepada temannya, bukan di keluarga, di dalam rumahnya sendiri. Jadi anak akan sering keluyuran. Pelajarilah cara menasehati anak!!!

Smartphone di bawah umur itu boleh asal 3D, dibutuhkan (misal untuk mencari tugas, dsb), didampingi (jangan dibiarkan/dilepas), dan dipinjamkan. Tentu saja jadi harus berada dekat orang tua, tidak di kamar, dan sebagainya.

Anak-anak yang kecanduan gadget itu biasanya, banyak diem, kalau ditanya jawabnya sedikit, susah bersosialisasi, suka rewel. Nah, pelan-pelan yuk tinggalkan gadget. Suruh anak main, keluar rumah, main sepeda, main sama temannya. Dari situ dia akan belajar bersosialisasi, bekerja sama, dan karakter lingkungan lainnya yang tidak didapat dari gadget.

Fiuuuuhh, selesai juga apa yang saya dapat dari seminar parenting Abah Ihsan kemarin.  Ada beberapa improvisasi kata-kata dari saya. Dan saya pengen ikutan lagi! Semoga bermanfaat ya.

Advertisements