Bismillahirrahmanirrahim

Ini topik yang cukup sulit, karena masih saja ada hal-hal yang belum bisa saya kontrol dalam menjalankan parenting. Masih banyak hal yang saya pikirkan jauh dari standar apalagi ideal. Walaupun memang tidak ada manusia yang ideal, ya gak sih. Jadi postingan ini mungkin lebih kepada isi pikiran dan curahan hati alias curhat maah…

Bahwa semua orang tua pasti menginginkan keluarga yang bahagia. Bahagia dengan standarnya masing-masing. Misalnya menikah, punya anak, bermain bersama anak, anak pintar dan sukses, liburan bersama, dan segudang kisah bahagia lainnya.

Tapi realita jauh berbeda. Perbedaan antara suami dan istri beserta keluarga masing-masing, tak kunjung dikaruniai keturunan, anak yang susah makan, gak nurut, waktu habis untuk mengurus pekerjaan rumah tangga, emosi antar anggota keluarga, masalah warisan, dan segudang permasalahan keluarga lainnya.

Masalah komunikasi yang seringkali menjadi momok permasalahan rumah tangga. Komunikasi verbal, fisik, maupun batin. Hal ini bisa merembet kemana-mana, bahkan sampai ke perpisahan. Nauzubillahi mindzalik.

Tidak ada kursus parenting. Kalaupun ada mungkin hanya kulitnya saja. Untuk dapat menguasainya hanya dengan satu cara, menjalankannya dengan bekal ilmu yang terus digali serta trial and error.

Pedoman hidup

Iya, secara teori begitu. Supaya hidup kita tidak salah arah, tentu kita harus mengikuti pedoman yang ada. Hanya saja kita terlalu sibuk untuk mengambil ilmu atau pedoman lainnya, bukan ilmu pedoman hidup. Yaa gimana lagi, terkadang kita sebagai manusia lebih sibuk dengan tuntutan hidup di dunia yang mengharuskan kita begitu.

Kata para ulama, kalau kita sedang ada permasalahan APAPUN, maka kita harus memperbaiki dulu hubungan dengan Yang Maha Pengasih. Misal kita memiliki masalah dengan suami, maka memperbaiki hubungan dengan Pemilik jiwa suami perlu didahulukan. Begitu pula kalau memiliki masalah dengan anak-anak maka memperbaiki hubungan dengan Pemilik jiwa anak-anak perlu didahulukan.

Diambil dari statusnya temen @umminyai

Bisa dibilang dari gambar grafik hubungan di atas atau kebalikan dari paragraf yang saya tulis sebelumnya adalah ketika kita sedang ada masalah dengan suami dan anak-anak, artinya kita sedang jauh dari Sang Pemilik Jiwa. Allah yang Maha Berkuasa.

Masalah yang bertubi-tubi, mungkin kita yang selama ini tidak serius dalam beribadah, tidak khusyuk dan sekedar menunaikan kewajiban. Astaghfirullah, kapan saya tobatnya ya.

Masih banyak manusia yang mengkotak-kotakan kehidupan ini. Urusan politik gak usah bawa-bawa Tuhan, urusan kerjaan gak usah bawa-bawa Tuhan, urusan keluarga apalagi warisan gak usah bawa-bawa Tuhan. Padahal pedoman hidup aslinya kita dapatkan dari-Nya.

Berbuat yang terbaik dan bermanfaat

Berbuat yang terbaik versi saya, dan tentu belum yang benar-benar terbaik. Karena masih saja ada leha-leha nya disaat genting, ada maksiatnya ketika sendirian, berpikir hal yang salah, dan lain-lain.

Bagaimana peran saya sebagai anak, istri dan ibu, seringkali terjadi benturan-benturan yang melingkar. Sehingga untuk menyelesaikan satu hal cukup sulit karena terkait dengan hal lainnya. Tapi saya terus berusaha sebaik yang saya bisa.

Ingin terlihat sudah melakukan yang terbaik. Ups.. masih ingin dilihat manusia. Ya begitulah nafsu masih ingin kelihatan bahwa saya nih sudah ini dan itu, lihat dong! Mengharapkan pujian dan pengakuan dari manusia. Astaghfirullah.

Ada niatan lain. Ketika saya menjadi ibu, misalnya saya ingin memberi contoh bahwa saya suka belajar. Saya mengikuti beberapa kelas online. Agar anak-anak dapat melihat semangat saya belajar. Semoga hal ini dapat dilihat sebagai sebuah usaha untuk menjadikan saya orangtua yang baik dan semoga Allah mengirimkan semangat belajar yang lebih membara kepada anak-anak.

Tentang kebermanfaatan. Berbuat yang terbaik dan bermanfaat bagi sekitar selalu ingin saya lakukan karena merupakan kebahagiaan saya juga. Lingkup manfaat ini sangat luas. Ada yang merasa bermanfaat di tempat kerjanya, lingkungan masyarakatnya, tapi ternyata belum bisa bermanfaat bagi keluarganya sendiri.

Ingin rasanya memiliki proyek sosial bermanfaat yang dilakukan bersama keluarga. Rasanya akan muncul kebahagiaan yang tak terkira. Mungkin di keluarga lainnya sudah sering dilakukan. Sedangkan di keluarga saya, masih dirancang dalam kepala saya hehe.

Parent-me

Seperti yang sudah sering kita dengar bahwa anak adalah cerminan kita. Maka parenting sejatinya adalah bagaimana kita belajar menjadi lebih baik dalam rangka mengupayakan anak-anak kita menjadi lebih baik daripada kita orangtuanya.

Membuat istilah baru buat saya pribadi boleh ya? Mohon koreksinya kalau ternyata ada istilah untuk ini. Parent-me yang saya maksudkan adalah meng-orangtua-kan saya, yang artinya proses menjadikan saya orangtua yang menjalankan tugas orangtua sebagaimana mestinya.

Untuk itu, saya sedang berusaha menjadi lebih baik terus menerus dengan berbagai peran saya sebagai anak, istri, ibu, pekerja, pelajar di kelas online, bagian dari masyarakat, dan lainnya. Tujuannya adalah menjadi pribadi yang baik di mata Sang Pemilik jiwa ini serta memproses diri menjadikan orangtua yang lebih bijak dalam mendampingi anak-anak dan keluarga.

Jadi saya tidak punya tips yang saat ini ingin saya bagikan. Karena menurut saya kata parenting merupakan hal yang sangat berat. Semoga tulisan ini bukan merupakan keluhan saya belaka, tapi menjadikan semangat untuk menjadi lebih baik lagi dan lagi.


Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni 2022 dengan tema Parenting Mamah. Semoga dapat diambil yang baik dan benarnya.