bismillahirrrahmaanirrahiim

Tulisan di bulan Januari ini dimulai dengan memperkenalkan diri ‘agak’ dalam. Saya dengan status seorang istri dari suami yang dulu sama-sama bersekolah di tempat yang sama tanpa disadari selama 13 tahun. Baru ketemu ketika mau nikah aja. Sebelumnya belum kenal dan ataupun ketemu langsung. Amanah dua anak perempuan pun saya (dan suami) jalani saat ini, dengan harapan mereka menjadi anak-anak yang shalihah, bermanfaat bagi keluarga, bangsa, dan agama.

Keluarga pembentuk karakter diri

Saya lahir dari keluarga sederhana. Bapak dan ibu yang merantau di Bandung setelah lulus sekolah tingkat menengah atas. Hidup apa adanya, membuat saya harus mengerti dengan keadaan keluarga. Meminta sebuah mainan mahal tentu saja diurungkan, karena orangtua tidak punya cukup uang untuk membelikannya. Jadi seringkali ‘pindah’ ke jajan di warung dekat rumah. Untungnya jaman dulu belum ada swalayan yang seperti sekarang. Bisa habis berapa banyak kalau jajannya saja di swalayan.

Meskipun kami hidup yang bisa dibilang pas-pasan, orangtua selalu menggaungkan sekolah harus nomor satu. Oleh karena itulah, saya dan kakak masuk ke sekolah swasta di usia dini. Baik TK maupun SD. Bayaran sekolah yang lumayan itu, selalu diusahakan yang pertama oleh orangtua.

Keluarga saya ketika berfoto di depan Gedung Merdeka Bandung

Tapi karena pendidikan sekolah selalu dinomorsatukan, ada satu hal yang sedikit saya pertanyakan. Mengapa orangtua saya tidak membiarkan saya bekerja keras dalam housechores. Bukan berarti saya tidak diberi tugas oleh orangtua untuk melakukan housechores. Tapi ketika tugas sekolah menumpuk, atau sedang menghadapi ujian, orangtua senantiasa mengalah, dan menyuruh kami belajar saja yang fokus.

Alhasil, saat ini, meskipun semua housechores bisa saya kerjakan, tapi saya cenderung mudah menyerah dalam melakukannya. Terlebih punya anak kecil yang bisa dibayangkan, rumah yang isinya tidak berbentuk. Selimut di karpet, mangkuk di meja belajar, gelas-gelas dapur yang pindah ke dus mainan, printilan mainan di seluruh sudut rumah dan segala bentuk tidak pada tempatnya yang lain. Mungkin yang harus saya katakan adalah Alhamdulillaaah. Walaupun ketika melihatnya Astaghfirullaah.

Saya sebagai seorang lulusan Arsitektur, tentu tidak terima rumah yang tidak instagrammable ini. Tapi karena seisi rumah menganggapnya biasa saja, bahkan suami pun mengganggap ‘ya gapapa namanya juga punya anak, wajar kalau berantakan‘, jadilah saya pun menurunkan kembali ekspektasi saya.

Kembali ke karakter, mungkin di luar sana, ada atau banyak keluarga yang bonding-nya kurang. Saya akui bahwa saya dan keluarga (yaitu orangtua dan kakak), sering berkumpul di rumah. Bahkan ketika liburan kami tidak pergi kemana-mana, atau seringnya keluarga berkunjung ke rumah dan sebaliknya, membuat bonding keluarga menjadi lebih hangat. Dan hal tersebut terasa sampai saat ini. Ketika kami saling bantu satu sama lain, saling support ketika mengambil sebuah keputusan. Alhamdulillaaah.

Hobi yang tak terejawantahkan

Entah ini apakah benar atau tidak secara kata-kata. Dari dulu, saya tidak pernah mengetahui hobi saya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hobi adalah sebuah kesenangan istimewa yang dilakukan di waktu senggang. Karena yang saya lakukan tidak ada yang istimewa, dan seringkali ketika senggang ya cari kegiatan saja, tidak secara khusus melakukan sesuatu. Jadi sampai saat ini saya tidak tahu benar apa hobi saya. Walaupun ketika sekolah, diminta menulis hobi, ada saja yang saya tulis seperti menyanyi, menulis, membaca, dan lain-lain yang sebenarnya tidak selalu dilakukan.

Sejak dulu saya suka menulis apapun di kertas. Ketika SMP, seringkali saya membuat catatan kecil untuk dimasukkan ke dalam saku seragam sekolah. Isi catatan tersebut adalah daftar yang perlu saya kerjakan hari itu. Gaya banget ya, masih SMP aja sudah punya to do list. Padahal tulisannya seperti ‘mengembalikan buku cetak ke si X, membayar SPP, jajan susu murni dan cakue, belajar kelompok sebelum pulang sekolah, piket, pulang naik angkot hijau biar bisa ngobrol sama temen-temen‘. Hal itu terbawa sampai saat ini dan saya pun menikmatinya.

Tulisan harapan kehidupan di buku mimpi

Apakah perlu saya tetapkan kalau hobi saya adalah menulis? Oh sepertinya tidak bisa, karena blog saya hanya terisi sebulan sekali. Instagram juga jarang saya posting, status atau story juga tidak saya gunakan untuk menulis sesuatu.

Kesimpulannya, biarkanlah saya melakukan apa yang saya inginkan. Bebas orang akan menyebut itu hobi atau bukan.

Masa kuliah dan kultur pembentuk

Memang kampus gajah ini membuat pola pikir saya jadi berkembang. Bagaimana membaca orang lain, menerka apa yang mereka sukai dan tidak, menjadi lebih berhati-hati dalam bersikap, dan saya cenderung yang tidak mengambil resiko tinggi terutama dalam berorganisasi. Karena tidak ingin punya masalah dengan orang lain.

Foto depan kampus, bareng komunitas lari angkatan

Lebih baik mengasah diri, bagaimana supaya saya bisa X, bisa Y, dan lain-lain. Mengasah diri dalam hal akademis maupun softskill. Rupanya itulah saya saat ini. Saya lebih suka belajar memahami orang lain, dalam hal bagaimana supaya tidak terlibat konflik berkepanjangan. Sehingga ketika ada satu kesalahan kecil yang saya buat, yang menurut orang itu biasa saja, bisa jadi membuat hati saya tidak nyaman berhari-hari. Saat ini juga saya masih mengasah diri bagaimana meningkatkan ilmu sebagai anak, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai tetangga, sebagai seorang desainer.

Jadilah saya saat ini, yang terbentuk dari bagaimana keluarga saya mendidik dan membesarkan saya. Bagaimana lingkungan sekolah dan kampus yang memperkaya pengalaman serta mempengaruhi pola pikir saya. Semoga esok selalu menjadi diri yang lebih baik dari sebelumnya. Meskipun kita semua itu sulit. Saya akan berusaha!


Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Januari 2022 dengan tema Tentang Dirimu, Mamah Gajah. Semoga Bermanfaat.