Bismillahirrahmanirrahim

Pukul 05.00

Sofia baru saja terbangun dari tidur singkatnya, sambil meregangkan tangan-tangannya yang terlipat di atas meja berpenggaris mekanik ketika tidur pukul 02.00 dini hari tadi. Kemudian ia meraih kacamata di meja coklat sisi kirinya dan melihat sekeliling.

Ada beberapa suara yang sedang bercengkrama. Namun yang lain masih terlelap di posisi tidurnya masing-masing. Ia beranjak ke toilet yang berada di sebelah tangga dan kemudian menuju mushola lantai 5 untuk solat Shubuh.

Dalam mushola, ada Eki dan Dono yang juga masih terlelap.

Mungkin mereka baru saja tidur‘ gumam Sofia sambil menggunakan kain solatnya.

Setelah solat, ternyata Eki terbangun dan sedikit membuka matanya.

Eh Sop (panggilan akrab untuk Sofia oleh teman-temannya), dah beres lo?

Ya udahin ajalah, pusing juga mau nambahin apalagi. Yang penting poin-poin yang diminta udah ada walaupun belum beres. Ada yang lo print gak Ek?” jawab Sofia sambil melipat kain solat serta memakai kacamatanya.

Gak sempet gua, udahlah seadanya aja. Tapi gua ada maket studi sih. Anak 2008 yang ngerjain. Tau tuh dah beres apa belum gua belum liat. Mereka kerja di lantai 4” Eki bangun lalu duduk bersandar di mushola lantai 5 itu.

Mayan bangetlah itu mah. Bisa kerasa ruangnya, paling gak nanti bisa dikomenin dari maket lu. Gue 3D blom beres. Jadi montage aja deh, suasana-suasana aja. Moga kebayang deh sama para dosen. Gue cabut ya mau ambil prinan di DU.” Sofia berlalu dari Eki sambil menutup pintu koboy khas mushola gedung Arsitektur labtek IXB.

Yoo.. tiati lo Sop.” Jawab Eki sambil sedikit berteriak.

Pukul 06.10

Sofia tiba di Sultan Global. Tempat print andalannya di Dipatiukur yang buka 24 jam dan murah meriah serta ramah. Jarang sekali tempat print yang bisa print ukuran besar tapi buka 24 jam.

Mas, mau ambil prinan aku yang A1 dong. Semalem udah dikirim. Udah beres kan?” tanyanya.

Yang 2 lembar udah beres teh, satu lagi masih proses. Soalnya tadi printernya error, warnanya jadi merah semua. Jadi isi tinta dulu.” Jawab si mas-mas Sultan Global.

Wajah Sofia sudah mulai tampak cemas. Udah mulai berdebar-debar jantungnya karena takut tidak selesai dan terlambat kembali ke kampus. Karena ia belum mempersiapkan panel untuk Sidang keduanya ini.

Tapi tak lama si mas-mas itu menenangkan, “Tenang teh, 5 menit lagi beres kok.”

Alhamdulillaah.. si mas mah bikin deg-degan aja. Mau tampil nih pagi-pagi.” Jawabnya sambil sedikit berkelakar dengan si mas-mas Sultan Global yang sudah ia kenal.

Ya udah saya bayar dulu aja biar cepet. Jadi berapa?” tanyanya sambil mengeluarkan dompet panjang berwarna biru navy.

Jadi 53 rebu ya sama yang A4. Diskon jadi 50 rebu aja buat langganan.” kata si mas-mas sambil menyerahkan nota pembayaran.

Aseekk. Sering-sering ya mas. hehehe” Jawab Sofia sambil terkekeh-kekeh.

Pukul 06.45

Sofia memarkirkan motornya di parkiran SR yang sudah hampir penuh. Setibanya di labtek IXB, dia langsung menuju lift yang ternyata sudah memenuhi kapasitasnya. Lalu Sofia memutar balik badannya dan bersegera menaiki tangga menuju lantai 5.

Sop, lu dicari sama Mima.” kata Eki dari biliknya.

Mana si Mima? Dia minta gue presentasi awal. Gilak. Cukup apa engga nih. Belum mandi gue.” Sofia menjawab sambil sibuk mempersiapkan panel dan memasang gambar-gambar yang diambilnya tadi.

Elaahh,, lu mah, masih mikirin mandi. Tar aja mandi kalo dah lulus. Hahaha” jawab Dono dari kejauhan sambil terbahak-bahak.

Sofia tampak sibuk memasang panelnya. Mima tak lama datang dengan membawa beberapa makanan basah serta gulungan kertas miliknya.

Sop, gapapa ya lo dulu, soalnya pak Ridwan datangnya agak telat katanya. Tapi dia pengen liat gue presentasi full. Jadi terpaksa lo dulu. Sini gue bantuin masang. Lo ngemil aja dulu nih Sop. Barusan ke gue ke bang Ed.” Kata Mima sambil sigap menaruh makanan di mejanya dan membantu menempel gambar-gambar milik Sofia ke panel.

Pukul 07.20

Pak Budi masuk ke ruang sidang lantai 3 sebelah lift. Sofia, Mima dan teman satu grupnya sedang menyusun urutan panel sesuai dengan urutan presentasi.

Pak, nanti saya urutan pertama, karena Pak Ridwan agak telat katanya, baru landing di Husein jam 7.45. Tapi katanya langsung ke sini pak.” lapor Sofia kepada dosen pembimbingnya Pak Budi.

Iya, semalem pak Ridwan udah japri ke saya. Dah siap Sof?” kata pak Budi sambil duduk dan matanya memeriksa ponsel genggam miliknya.

Ya pak insyaAllah.” jawab Sofia mantap.

Pukul 08.00

Mungkin itu saja yang bisa saya presentasikan pada pagi ini. Saya harapkan saran dan kritik dari bapak dan ibu agar bisa menjadi masukan untuk saya.” Sofia telah menyelesaikan presentasinya sambil berjalan menuju sisi kiri dari panelnya dan melihat ke arah pada dosen penguji.

Tampak Pak Ridwan di ujung pintu, datang dengan berjalan cepat yang tetap elegan ditambah kacamatanya yang bikin tambah keren.

Assalamu’alaikuuum. Waduh maaf sekali nih pak Budi, bu Rini, saya terlambat. Pesawat saya diundur jadi pagi ini. Padahal jadwalnya kemarin. Saya udah lari lo dari gerbang sampai gedung. Silahkan-silahkan dilanjutkan, saya sambil menyimak.” Pak Ridwan langsung duduk di tempatnya sambil terengah-engah kemudian mengambil tablet miliknya dan memperhatikan ke panel-panel di hadapannya.

Gapapa pak Ridwan. Santai saja.” kata pak Budi yang kemudian meneruskan perkataannya. “Baik untuk mempersingkat waktu, silahkan bu Rini terlebih dahulu kalau ada pertanyaan dan komentar terkait presentasi dari Sofia.

Baik terimakasih pak Budi.. Eee.. tadi sudah dijelaskan Sofia.. eee.. bahwa Sekolah ini konsepnya alam. Tapi saya lihat analisis potensi alamnya tersebut belum ada. Mungkin bisa diceritakan dulu apa saja potensinya dan bagaimana pengaruhnya terhadap desain anda. Silahkan dijawab.” kata bu Rini salah seorang dosen senior yang kata-katanya singkat, padat, dan selalu elegan.

Baik bu, tadi saya baru menjelaskan sedikit tentang analisis sitenya. Jadi di dalam site ini, terdapat beberapa pohon dan juga tanaman eksisting lain yang dipertahankan. Bla..bla..bla..” Jawab Sofia dengan lancar.

Tampak Mima dan teman lainnya menulis beberapa pertanyaan dari dosen, yang kemudian dikaitkan dengan tugas akhir mereka masing-masing.

Pukul 11.00

Semua peserta sidang telah selesai dan dosen penguji pun sudah memberikan nilai untuk mereka.

Tampak para lelaki sibuk mempersiapkan diri untuk bergegas pergi Sholat Jum’at.

PDAM Don?” Tanya Eki.

Pastinyaa…” Jawab Dono.

Masjid PDAM yang lokasinya berada di jalan Ciungwanara ini, dikenal lebih ‘kilat’ solat Jumatnya dibandingkan masjid Salman. Karena banyak mahasiswa yang ingin lebih cepat selesai, mereka memilih untuk solat jumat di Masjid PDAM ini dibandingkan masjid Salman.

Penampakan Masjid PDAM dahulu, yang saat ini sudah direnovasi dengan nama Masjid  Maaimmaskuub. Sumber Foto dan juga ada tulisan tentang masjid ini ada di tulisan milik pak Rinaldi Munir

Eh nitip doong, beliin Es Emil ya pulangnya, Ek” kata Mima pada Eki.

“Gue juga mau ya, tapi ga pake durian. Es coklatnya aja, toppingnya komplit.” samber Sofia

Boleh, tapi mana duitnya? Gua lagi ga ada duit nih. Beli koran aja ngutang gua ke Dono.” Jawab Eki sambil memakai sendal jepit hijau miliknya yang entah sudah berapa lama belum dia cuci.

Nih gue traktir lo sekalian lah.” Ujar Mima sambil memberikan selembar uang 50 ribuan pada Eki.

Es Emil ini sebenarnya julukan angkatan mereka saja kepada tukang penjual es krim gerobak durian di Jalan Ciung wanara, karena pernah melihat pak Emil membeli es tersebut selepas Sholat Jum’at di Salman.

Ilustrasi pedagang es krim durian gerobak di Jalan Ciung Wanara setiap Pasar Jum’at sekitar Masjid Salman ITB. Sumber gambar: dari link ini

Pukul 13.30

Bu Dedah terlihat keluar dari ruang TU lantai 2 menuju papan pengumuman nilai untuk memasang hasil dari sidang ke-2 Tugas Akhir. Tak lama berselang pun mahasiswa tingkat akhir itu berkerumun di belakang bu Dedah sampai beliau terlihat kesusahan untuk keluar dari kerumunan.

Yess, saatnya mandi dan bobok.” teriak kata Eki ketika melihat kata LULUS di sebelah nama lengkapnya dalam daftar tersebut.

Wadaw,, gue dapet T.. Ah parah sih ini. gara-gara pertanyaan dosen banyak banget jadi aja gue dapet T nih.” ujar Dono sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.

Sofia pun beranjak dari meja bundar di depan ruang perpustakaan untuk melihat hasilnya. Ia pun menemukan namanya yang terpampang.

Alhamdulillah, tinggal sidang akhir nih.. harus tancap gas.” gumamnya. Lalu dia pun mencari nama Mima sahabatnya. Terlihat huruf T di sebelah nama Mima, tapi Sofia tak menemukan dia di dekatnya.

Rupanya Mima tengah terduduk di anak tangga pertama menuju lantai dasar. Dia sedang menunduk menangis.

Sofia hanya duduk di sebelahnya, mengelus-elus punggung Mima tanpa berkata sedikit pun. Tak lama pun, kepala Mima mendarat di pundak Sofia.

Gue udah berusaha Sof. Gue takut ga lulus nanti.” Mima menceritakan isi hatinya sambil tersedu-sedu.

Tenang Mim, tadi gue liat lo presentasi cuma kurang dikit aja kok konsepnya, pasti nanti pas sidang susulan, lo bisa lebih baik lagi. InsyaAllah kita bisa lulus bareng bulan Oktober ya Mim. Lo pasti bisa! Nanti gue bantuin ya.” jawab Sofia menenangkan Mima. Ketakutan para mahasiswa tingkat akhir adalah ketika tidak lulus dan harus mengulang selama satu semester tapi bukan bersama teman-teman angkatannya.

-end-

Disclaimer: cerita di atas hanya fiksi yang berlatar di gedung labtek IXB kampus Gajah Mbandung


Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret 2022 dengan tema Cerita Fiksi (Dengan Unsur ITB). Semoga Bermanfaat.


Alhamdulillah dapet penghargaan dari mamah-mamah Gajah Ngeblog, termasuk artikel paling nostalgic untuk tantangan bulan Maret 2022 lalu ini. Terimakasih MGN 🧡