Bismillahirrahmaanirrahiim

Too excited! Ketika dosen wali mengajak angkatan kami Magister Arsitektur Lanskap untuk trip ke luar negeri. Beliau bilang, kita perlu jalan-jalan ke negara lain untuk bisa mengambil banyak pelajaran. Kami pun membuat daftar pilihan negara yang kemungkinan akan menjadi perjalanan yang seru dan tentu saja mendapat banyak manfaat. Akhirnya pilihan pun jatuh ke China. Sebuah negara komunis dengan tulisan keriting nan asing bagi kami. Hanya xie xie saja modal kami untuk berangkat ke sana.

Teman satu angkatan

Persiapan

Saya yang belum pernah naik pesawat dan ke luar negeri, tentu sangat sangat sangat bersemangat menyambut ajakan ini, karena akan menjadi sebuah cerita yang tidak akan terlupakan sepanjang hidup. MaasyaAllah Tabarakallah.

Tak tanggung-tanggung, demi terwujudnya trip ini, dosen wali kami pun membantu mencarikan proyek dan juga sponsor. Singkat cerita, kami mendapat sebuah proyek dan beberapa sponsor yang dapat membiayai kami selama perjalanan ke China.

Proposal sponsor perjalanan ke China

Persiapan lainnya adalah membuat itinerary. Sempat ada pikiran apa kami pakai travel agent saja ya? Secara kita tidak mengerti bahasa mereka dan kita tidak tahu satu hal pun di sana. Tapi berbekal nekat, kami akhirnya memutuskan untuk jadi nekad traveller.

Mulai dari mencari tiket promo, mencari destinasi yang berhubungan dengan bidang lanskap, transportasi selama di sana, bahkan bagaimana ibadah serta makanan halal kami cari. Bisa dibilang, saya berperan banyak dalam pembuatan itinerary tersebut. Mungkin karena too excited-nya saya serta si otak detail melankolis ini meronta menemukan informasi-informasi tersebut.

Ada seorang adik kelas saya sewaktu sarjana, yang saat itu dia sedang bekerja di Shanghai. Langsung saja saya memintanya menjadi tour guide selama di kota Shanghai saja. Tak dinyana, si adik kelas dengan titel mahasiswa berprestasi itu, sekarang sudah menjadi selebgram dengan akun biasalahanakmuda yang isinya membahas desain rumah secara arsitektur maupun secara psikologis.

My First …

Tahun 2012 menjadi tahun bersejarah saya. Ketika sampai di bandara Soekarno Hatta saja, saya sangat senang. Untuk orang yang belum pernah naik pesawat, memasuki area check-in bandara saja akan menjadi wow.

Perjalanan pertama yaitu dari Jakarta ke Malaysia. Karena pakai pesawat promo, jadi singgah dulu sebentar hanya di dalam bandara saja. Tapi tidak mengapa, kan saya jadi empat kali naik pesawat pulang pergi. Sungguh perjalanan yang mendebarkan dan saaangat menyenangkan. Ingin sekali mengulang perjalanan ini. Semoga Allah kabulkan.

Momen pertama kali naik pesawat, kereta, dan tobogan

Begitu pesawat take-off, saya berdoa banyak-banyak semoga diselamatkan selama perjalanan dan dilancarkan. Saya lupa apa yang saya lakukan ketika di pesawat. Yang pasti melihat-lihat interior pesawat, melihat penumpang lainnya berbuat apa, melihat jendela luar, dan tentu saja tidur karena perjalanan memasuki waktu malam hari.

Perjalanan ini benar-benar pertama untuk semua hal, ya naik pesawat, ke luar negeri, naik tram, naik shinkansen-nya China, kereta gantung dan tobogan (kereta luncur di Great Wall Beijing). Alhamdulillah.

Bahasa yang membingungkan

Beruntung kami berangkat bersama-sama, sehingga komunikasi menjadi kebingungan bersama. Bahkan ketika pesawat mendarat di bandara Internasional Hangzhou, kami naik taksi sambil kebingungan bagaimana menjelaskan lokasi hotel. Bahkan pak supir taksi pun bingung kami bilang apa. Ditambah lagi kami sampai di bandara tengah malam, sehingga tidak bisa membayangkan sedang berada di mana.

Tentu saja smart phone kami belum bisa nyambung untuk berselancar ataupun melihat peta, karena tidak tahu caranya. Hal itu karena China memiliki akses yang ketat dalam hal internet, bahkan di google maps saja, kita tidak bisa melihat street view-nya. Ada satu taksi teman kami yang tersesat berputar-putar mencari hotel, walaupun akhirnya mereka sampai juga berbeda sekitar setengah jam.

Tempat yang dikunjungi

Kami mengunjungi tiga kota yaitu Hangzhou, Shanghai dan Beijing. Kota tempat kami mendarat adalah Hangzhou, yang menurut kami merupakan kota yang adem, sunyi, dan bersih. Berbeda dengan Shanghai yang merupakan kota metropolitan, penuh orang, berantakan, cenderung kurang bersih. Adanya guide lokal alias sang adik kelas di kota Shanghai sangat membantu perjalanan kami. Lain halnya dengan Beijing, yang merupakan kota lama. Dari segi keramaiannya mungkin di antara Hangzhou dan Shanghai.

Saat membuat itinerary, kami mencari sebanyak mungkin objek wisata yang berhubungan dengan studi kami yaitu arsitektur lanskap. Ternyata banyak sekali taman-taman atau destinasi yang benar-benar well design. Beberapa objek wisata yang menurut saya bagus dan layak untuk bisa dihadirkan juga di Indonesia diantaranya adalah West Lake di Hangzhou, Houtan Park di Shanghai, dan 798 art zone di Beijing.

West Lake merupakan ikon kota Hangzhou yang memiliki pemandangan indah dan sangat kental dengan budaya China. Konon ada cerita legenda di danau ini yang menguatkan aura romantisme. Di sekitar danau ini, terdapat ruang-ruang terbuka yang digunakan oleh masyarakat untuk berolahraga, berjalan-jalan, senam, bersepeda, dan aktifitas lainnya.

West Lake, danau bersejarah nan romantis di Hangzhou

Shanghai Houtan Park adalah satu dari banyak proyek lingkungan di China. Dibangun di atas lahan bekas industri dengan kondisi air yang memprihatinkan dan kemudian dibuat sebuah taman dengan pengendalian banjir ekologis, material industri yang direklamasi, serta pertanian perkotaan. Desain tersebut berperan dalam pengolahan air sungai yang tercemar dan memulihkan area tepi laut. Keren!

Shanghai Houtan Park yang merupakan satu dari sekian banyak proyek lingkungan China

Satu lagi destinasi yang menurut saya unik adalah 798 art zone, yang merupakan kompleks bangunan pabrik militer berusia 50 tahun yang telah dinonaktifkan. Di area ini, ditampung sejumlah komunitas artistik yang berkembang di Dashanzi, Distrik Chaoyang dari Beijing.

798 Art Zone yang berisikan seni dari berbagai bidang di Beijing

Ibadah dan makanan halal

Negara komunis yang memiliki sejarah panjang dalam kepercayaan dan mungkin didominasi oleh Konghucu, Tao dan Buddha, membuat kami cukup kesulitan menemukan makanan halal serta masjid. Tapi kami sudah mencari terlebih dulu saat membuat itinerary, dengan mengaitkan lokasi wisata, tempat menginap, serta masjid dan makanan halal yang dapat dicapai dengan berjalan kaki.

Alhamdulillah kami sempat mengunjungi dua masjid ketika di Hangzhou dan Beijing. Awalnya saya berpikir, untuk sholat di China saja mungkin sulit, apalagi untuk sholat Jumat. Tapi karena dosen saya juga menyarankan untuk wisata masjid, akhirnya dua hari Jumat ketika kami di sana, disempatkan untuk mengunjungi masjid yang waktunya pas sholat jumat.

Masjid Phoenix dan Kedai Makanan Halal di Hangzhou
Suasana setelah sholat Jumat di Masjid Niujie Beijing

Sholat wajib lainnya, kami mencari area terbuka yang kami anggap bersih seperti plaza atau rumput. Berbekal sajadah, kami sholat di area itu dengan mencari pojok yang agak sepi supaya tidak menjadi pusat perhatian. Walaupun tetap saja ada momen kami dipandangi oleh orang-orang.

Sholat di plaza atau lapangan rumput yang jauh dari keramaian serta salah satu kedai makanan halal di Beijing

Sejauh yang saya kunjungi, China sebagai destinasi wisata bisa menjadi pilihan bagi para traveller yang suka ke luar negeri. Tanpa travel agent pun perjalanan lebih asik dan menantang. Dalam 13 hari perjalanan pulang pergi ke China, saya pikir itu sangat cukup untuk mengatakan saya rindu Indonesia. Rindu makanannya dan juga suara adzan.

________________________________________

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Januari 2022 dengan tema Pengalaman Travel Berkesan. Semoga Bermanfaat.