0

Ibu, Manajer Keluarga

#ODOPfor99days #1

Bismillahirrahmaanirrahiim

Sebagai ibu, apa sih yang perlu ditekuni di universitas kehidupan ini?                                 Menurut saya adalah Manajemen.
Klise? Iya
Tapi memang itu yang dibutuhkan para ibu.

Saya melihat beberapa contoh kasus di dekat rumah saya saja. Ibunya sibuk ngerumpi dengan tetangga, atau mungkin sibuk bekerja. Ketika bersama anaknya, yang dilakukan cuma nyuapin, mandiin, atau menyuruh sesuatu sambil marah, dan sebagainya. Tapi ada juga sih yang baik, tapi tetep juga keluarga belum menjadi prioritas. Mungkin saya termasuk juga. Capek kerja di kantor. Sampai rumah pengennya leyeh-leyeh istirahat, malem sedikit aja udah ngantuk. Atulaah, kasian anakmu Bu!

POST NHW1.jpg

Manajemen apa sih? Mengambil definisi dari Ricky W. Griffin, bahwa manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. (dari Om Wikipedia)

Saya memilih 2 hal yang penting yaitu Manajemen Waktu dan Manajemen Hati.

Waktu yang bagaikan pedang, tidak bisa terulang dua kali. Dengan segala kebutuhan saya sebagai ibu, istri, dan wanita sosial dan mungkin akan kembali ke ranah pekerjaan (formal/nonformal), maka manajemen waktu sangat penting. Manusia yang sama, waktu yang sama, bisa berbeda kebermanfaatannya. Pada jam yang sama ini, ada yang sedang membaca, atau menonton TV atau tidur atau berolahraga atau tilawah atau kongkow-kongkow, dan sebagainya. Kita bisa menentukan mau pilih kegiatan yang mana pada jam yang sama dengan orang lain.

Jika berandai-andai, dan semoga menjadi nyata, dengan waktu yang sama dengan anda semua, saya harap bisa memberi lebih, melakukan lebih. Berarti manajemen waktu-lah yang saya butuhkan saat ini. Bagaimana menentukan skala prioritas yang cukup sulit dijalankan.

Menikah adalah suatu gerbang kebahagiaan. Tapi bisa jadi kekecewaan manakala disikapi dengan hati yang tertutup, yang tidak mau menerima. Perlu banyak belajar, mengenal karakter, mengetahui yang disukai dan yang tidak disukai oleh pasangan, dan sebagainya.

Begitu juga setelah diamanahi buah hati. Ini lebih sesuatu lagi ya. Karena si mungil ini dari belum bisa apa-apa, kita tidak tau dia maunya apa, hanya bisa meraba-raba dari responnya. Kalau si kecil udah bisa ngomong, dia maunya apa kita maunya apa. Bisa jadi naik darah ini kalo kita gak punya strateginya. Sepulang kerja, kalau ada sesuatu yang tidak mengenakkan hati, bawaannya jadi bad mood. Nah ini nih, udah mah ketemu anak sebentar waktunya, pas ketemu malah emosi. Inilah kebutuhan kedua saya yaitu manajemen hati, bagaimana belajar ikhlas, mengatur emosi yang sedang meluap-luap, atau bahkan yang sampai pengennya teriak-teriak.

Jadi kenapa manajemen?

Bahwa saya punya cita-cita keluarga saya semua bisa mandiri. Pernah suatu kali saya membaca grup Whatsapp yang lain, membahas tentang kematian. Coba bayangkan kalau kita sebagai ibu atau suami kita yaitu ayah dari anak-anak, dipanggil Allah duluan, tapi anak kita masih kecil-kecil. Kasihan mereka segala sesuatu masih disuapin. Nanti dia akan tergantung yang menyuapinya. Dari situ, saya ingin sekali membuat anak menjadi mandiri, bukan hanya dalam memenuhi kebutuhan pribadinya seperti makan, minum, mandi, buang air saja. Tapi lebih kepada bagaimana dia mengenal Rabbnya, mengerti makna hidup untuk apa. Bakal jadi berat kalau kedua bekal tadi tidak saya miliki. Mana mungkin anak saya bisa rajin membaca kalau saya main HP, mana mungkin anak saya pintar menulis kalau saya masih sibuk sama cucian, setrikaan, dan lainnya. Kalau saya masih marah-marah karena anak tidak melakukan yang saya inginkan, bagaimana dia bisa memiliki adab yang baik.

Begitu pula saya terhadap suami saya, maupun suami saya terhadap saya. Sebagai ibu, juga harus bisa membuka pintu rezeki yang lain. Agar tidak tergantung pada suami. Jadi bergantung sama Allah aja. Kebergantungan ini akan mudah kalau kita sudah mengenal Rabb kita. Itu baru satu hal dari segi rezeki. Tapi saya merasa masih jauh. Jadi tetap harus banyak belajar, dimulai dengan ilmu manajemen ini.

Gimana cara belajarnya?

Belajar manajemen atau belajar merencanakan, mengkoordinasikan, perlu pengalaman dan bahkan praktek langsung. Artinya tidak ada yang bisa dilakukan kecuali dimulai dari sekarang.

Kalau boleh dijadikan tahap-tahapnya, saya mulai dengan membuat target per tahun. Resolusi tahun 2017, bisa menjadi acuan. Kemudian akan diturunkan menjadi target bulanan, dan mingguan. Sebenarnya saya seringkali kesulitan kalau membatasi waktu seperti ini. Tapi tidak ada yang tidak mungkin, jadi kita coba lagi :).

Untuk bisa menghargai waktu, perlu membuat target mingguan, yang diturunkan per hari. Lagi-lagi saya bilang, saya seringkali kesulitan kalau membatasi waktu seperti ini. Tapi tidak ada yang tidak mungkin, jadi kita coba lagi :). Sama halnya dengan mengatur emosi. Memiliki target-target pencapaian yang bica dicoba setiap harinya yang dievaluasi setiap akhir hari. Target pertama saya adalah tidak berputus asa mendorong anak melakukan sesuatu yang saya ingin dia lakukan.

Untuk dapat ilmu-ilmu dasarnya, saya perlu membaca lebih banyak. Membaca kisah-kisah, contoh pengaturan waktu, pengasuhan anak, dan seterusnya. Bertanya ke beberapa orang yang lebih oke dalam manajemen waktu dan hati ini. Yang sering saya lupa dan perlu saya ingat lagi adalah mengevaluasi target yang sudah saya pasang.

Apa yang diharapkan?

Harapannya, dalam proses belajar ini, saya bisa lebih memahami bahwa Allah memberikan waktu yang sama, digunakan untuk kebaikan. Semoga saya bisa mengisi waktu lebih baik lagi. Alangkah ruginya kalau kita sama dengan kemarin atau malah lebih buruk. Astaghfirullah, saya masih susah untuk yang ini. Kebaikan yang kita lakukan itu pun harus dengan ilmu. Semoga saya bisa terus membenahi hati supaya menjadi bersih, supaya segala ilmu kebaikan akan bisa masuk dan nerap.

Ayo ibu-ibu kita belajar terus, demi masa depan cerah masuk Surga, Insya Allah. Aamiin.

871 words