0

Menjawab Kekhawatiran

Sudah masuk bulan Juni 2017. Berarti sudah hampir 4 tahun usia pernikahan saya dengan sang kekasih. Ditambah dengan anggota keluarga baru, Raida (3y 2m), sebagai penyemangat kami berdua.

Sebagai mahmud alias mamah muda, saya dilanda kekhawatiran atas manusia kecil yang Allah amanahkan kepada kami. Dunia yang kejam, pergaulan bebas, kriminalitas, kebodohan, kemiskinan, remaja-remaja galau, dan kondisi-kondisi lainnya yang membuat kepala pening kalau dipikirkan. 

Maka sejak ananda menangis pertama kalinya, saya terus cari ilmu, sebagai bekal saya menemani, mendidik, membimbingnya. Sesekali terlintas juga kalau misal salah satu atau kami berdua dipanggil lebih dulu ke hadapan Yang Maha Kasih, bagaimana anak saya nanti hidup. *Cirambaay*

Berbagai ilmu parenting yang saya dapat sedikit demi sedikit, membuat saya berpikir bahwa hidup di dunia hanya sebentar. Apalagi sebagai ibu, tidak ada kewajiban untuk mencari nafkah. Walaupun ada tuntutan diri untuk berbakti kepada orangtua, menjadi pertimbangan yang cukup pelik. Dunia cuma sebentar untuk mencari sebongkah berlian. Apa artinya kalau anak terbengkalai. 

Ketika menjelang 3 tahun usianya bulan Maret yang lalu, saya memutuskan untuk menjadi freelancer. Ya seperti yang saya harapkan sebelumnya. Ini adalah hasil dari ilmu-ilmu yang saya dapat dari parenting. Anak yang lucu dan menggemaskan, dan berusia emas ini cuma sebentar. Maka saya ingin menemaninya sampai ia melewatinya. Selepas itu, saya berharap bisa kembali beraktifitas (bekerja) untuk dapat mengabdikan diri atas ilmu yang dimiliki. 

Hampir segala buku parenting saya beli. Walaupun belum semua saya khatamkan. Seringkali setiap hampir selesai, malah pindah ke buku lainnya lagi. Ikut grup berbagai macam demi mendapatkan berbagai ilmu yang harus jadi bekal buat saya pribadi. Segala kulwap parenting saya masuki, demi pencerahan. Menjapri beberapa ibu-ibu hebat, demi mendapatkan semangatnya dalam mengarungi kehidupan berumahtangga, terutama mendidik anak. Selalu merasa kurang ilmu, bagaimana, bagaimana, dan bagaimana. Semoga bekalnya cukup dan bisa dipraktekkan, bisa ditularkan, bisa menjadi manfaat, dan berkah.

Syaqiq Al Balkhi berkata,

الدخول في العمل بالعلم والثبات فيه بالصبر والتسليم إليه بالإخلاص فمن لم يدخل فيه بعلم فهو جاهل

“Masuk dalam amalan hendaklah diawali dengan ilmu. Lalu terus mengamalkan ilmu tersebut dengan bersabar. Kemudian pasrah dalam berilmu dengan ikhlas. Siapa yang tidak memasuki amal dengan ilmu, maka ia jahil (bodoh).” (Hilyatul Auliya’, 8: 69).

Sumber: https://muslim.or.id/18866-ilmu-dipelajari-untuk-diamalkan.html

Jadi kesimpulan sementara adalah, terus cari ilmu, terus amalkan, terus bersabar, terus belajar IKHLAS.

Bismillahirrahmanirrahim

#odopfor99days2017 #day3 

0

Lulus Matrikulasi, terus?

Bismillah

#odopfor99days2017 #day2

Alhamdulillah sudah lulus matrikulasi. Kuliah online buat para ibu nih. Menurut saya mah penting, karena jadi ibu itu harus banyak ++ nya. Nah gimana caranya biar bisa jadi ++? Silahkan ikuti kelas Matrikulasi, dan kelas-kelas Bunda lainnya yang diadakan oleh Institut Ibu Profesional. Tenang, cuma belajar lewat hp kok, pendaftaran sekali buat seumur hidup. Kalau saya karena tinggal di seputaran Bandung, jadi ikutnya IIP Bandung.

Setelah lulus matrikulasi ini, saya jadi berpikir panjang. Bahwa saya adalah perempuan. Fitrahnya adalah di rumah, dan tidak wajib bekerja. Orangtua, saudara, teman dekat, masih berharap saya terus berkarya lewat bekerja. Selain supaya seorang istri punya penghasilan, memang ga ada yang tau ke depan akan terjadi apa.

PANITIA OPEN HOUSE IIP BANDUNG.jpg

Ada 2 hal yang saya juga masih bingung bin galau dalam mengarungi kehidupan yang fana ini. Tsaaahh. Pertama, saya akan tetap mencari penghasilan, yang juga merupakan salah satu mimpi saya. Kedua, saya akan fokus mencurahkan waktu dan tenaga saya untuk anak dan suami, dan keluarga. Sebenarnya dari kedua hal ini tidak perlu dipertentangkan. Kenapa tidak disatukan saja? Suami saya memang keberatan kalau saya bekerja full time, sehingga waktu untuk anak dan suami tinggal sisa yang gak berkualitas. Saya bisa jadi freelancer, menerima kerjaan yang sifatnya jangka pendek, untuk tetap dalam koridor ‘passion’ saya. Saya pun bisa sambil mengejar apa-apa yang saya inginkan dalam kehidupan ini, yang biasanya menjadi keluhan saat bekerja kantoran, saya tidak bisa melakukannya.

Waktu berjalan terus, jadi yang harus dilakukan adalah yaa tentu saja MAJU TERUS. Apa yang menjadi mimpi, bisa terus dikejar, asalkan FOKUS, TERENCANA, dan DOA yang KUAT. Tapi rupanya saya terlalu banyak keinginan. ALhamdulillah atuh ya punya banyak keinginan. Keinginan yang banyak ini terkadang tidak disertai dengan rencana yang panjang dan baik.

SAYA SEKARANG

Jadi saya teh sekarang, sudah tidak bekerja kantoran, melainkan bekerja dari rumah. Tapi saya punya PeeR besar untuk bisa bekerja dari rumah. Saya masih merasa, bahwa saya tidak bisa bekerja kalau di rumah. Jadi saya harus pergi keluar, supaya tidak ada gangguan anak. Satu hal yang baru saya pahami dari sebuah tulisan Raluca Loteanu dalam blognya, kalau anak memanggil-manggil kita dan mengajak bermain ketika kita sedang sibuk mengerjakan sesuatu, berarti dia butuh kita. Penuhi dulu kebutuhannya, percayakan bahwa kita ada buat dia. Baru nanti dia akan memberikan waktu buat kita untuk mengerjakan hal yang lain. Pemahaman saya yang salah selama ini, menganggap anak sebagai gangguan kalau saya bekerja di rumah. Memenuhi panggilannya dulu akan lebih menenangkan. Beda sedikit ceritanya kalau kita lagi diburu deadline.

Sedikit soal kerjaan, ceritanya kemarin-kemarin (dan sekarang), saya dapet kerjaan yang mempertemukan saya dengan para pengusaha. Ada yang jadi GMnya salah satu merk sepatu, ada juga pengusaha yang merupakan supplier sayur dan buah di supermarket ternama se-kota Bandung. Saya belum sempat wawancara satu-satu, gimana mereka memulai, jatuh-bangunnya. Yang jelas, mereka teh orangnya nyoh-nyoh gitu. Maksud saya, gampang ngasih ke orang lain. Saya pikir, tiru aja dulu sifat baiknya ini ya. Semoga besok-besok saya jadi DIrut sebuah usaha. Aaaamiiiiiinnnn. Jadi supaya sukses seperti mereka, ya usahanya tidak sedikit, perjuangannya juga tidak sedikit. Anggaplah apa yang dijalani sekarang sebagai perjuangan menuju kesuksesan duniawi. Heitss, jangan lupa ukhrowi, suka dikesampingkan gitu sih.

Trus sambil ngerjain kerjaan sampingan, saya nyoba jualan. Entah mungkin saya yang perfeksionis, jadi cukup ribet juga si jualan ini. Eits, saya ngomong ribet ini keluhan bukan ya?hehe. Sedikit ribet tapi asik (terutama pas dapet transferan duit dan good testimony). Diantara keribetan yang saya bikin sendiri adalah memfoto produk satu persatu, zoom in dan zoom out-nya, lalu edit masing-masing produk, kasih kode, unggah produk yang ada beberapa tahap, me-rekap peminat, pembeli, mana yang terjual, mana yang masih ada untuk disiapkan unggah pekan depannya. Oia, saya baru jualan di grup facebook kampus kesayangan aja, segitu ribetnya. Tapi terbayarlah, senang :). Sekarang lagi nyoba untuk merambah ke online via Instagram. Karna saya jualan kebutuhan anak, saya bikin brand yourchilneedsboleh loh dikunjungi dan diboroong.

Trus selain freelancer (arsitek dan arsitek Lanskap), dan jualan online, saya juga gabung di beberapa komunitas online. Yaa kaya IIP ini, yang sekarang lagi bersiap untuk ikut kuliah online Bunda Sayang, yang masa kuliahnya adalah 1 tahun. Jadi ibu bisa kuliah juga kok, online pula, jadi bisa dapet S1 sendiri, karena kuliahnya 4 tahun. Subhanallah luar biasa. Saya sedang tertarik sama komunitas keluarga/parenting, karena merasa kurang banget ilmu saya di sini. Jadi selain ikutan IIP, saya juga sedang mulai berpartisipasi dalam komunitasnya sabumi. Komunitas ini ada blognya dan ada pagenya, yang bisa dikunjungi. Banyak banget pelajaran di sabumi ini. Malah lebih mengangkat ke kemandirian. Jadi saya merasa cocok banget dengan grup ini. Oia sabumi ini, komunitas homeschooling. Sampai saat ini saya belum memutuskan untuk meng-homeschooling-kan anak. Cuma saya ingin ambil ilmu-ilmunya. Bagaimana homeschooling, terutama untuk preschool.

Hubungannya SAYA SEKARANG dengan lulus matrikulasi? Iya, jadi saya teh harus punya target hidup ke depan. Minimalnya adalah bagaimana target saya menjadi Muslimah, istri, ibu, dan anak. Gatau udah berapa kali saya bikin target kaya gini. Keunlah (biarinlah) ya, ALhamdulillah punya target-target tertulis teh.

Muslimah
Saya merasa kualitas ibadah saya jauh menurun, terutama setelah menikah. Tapi karena menikah adalah juga ibadah, jadi saya juga berusaha tetap dalam koridor ibadah. Tapi saya ingin kembali menggiatkan ibadah-ibadah sunnah. Baiklah, target saya sekarang adalah DOA!! Saya maleees banget untuk bertahan duduk lama setelah sholat. Karena Allah suka ngasih saya ide-ide untuk melakukan sesuatu, pas saya lagi sholat. Jadi sholat gak khusyuk, selesainya jadi terburu-buru untuk lanjut yang lain. Jadi kadang, doa teh hanya ritual bacaan arabnya doang, tanpa diresapi maknanya. Trus langsung berdiri, lipet mukena, kembali beraktifitas duniawi. Padahaaal saya sangat butuh momen DOA ini. Trus juga harus membiasakan DOA dimana-mana. Udah ini dulu. Sedikit curhat, saya sedang dikasih banyak ketakutan dan kegelisahan, ini mungkin karena saya kurang dzikir dan DOA. Yaa Allaaaah ampun, jadikan saya mencintai ibadah sebagaimana mencintai diri sendiri…

Istri
Sebagai istri, saya juga kadang masih suka ada kesel-kesel sama suami. Wajarlah ya. Trus saya belum maksimal dalam taat. Saya pernah denger bahwa, turuti aja apa yang suami mau, selama tidak melanggar syar’i. Tapi ada hal-hal yang menurut saya gak perlu dipaksakan, dan berujung kekesalan saya. Mungkin saya kurang DOA itu tadi ya. Dari segi manajemen rumah juga saya masih buruk. Masih suka berharap sama suami, padahal berharap mah sama ALlah aja fin. Syarat istri kalau mau masuk surga cuma satu, tinggal taat ke suami, lalu kalau suami ridho, masuk surga deh. Naaah ini yang susah teh yaaa. Bismillaaahh, sing ikhlas fin. Yaa Allaaaah bimbing saya dan suami saya….

Ibu
Sekarang ini, saya lagi baca buku Bunda Sayang. Dan paling nancleb (menghujam hati) adalah bab kemandirian anak. Naah, mungkin saya gak bisa kerja di rumah juga salah satunya adalah karena kemandirian anak saya belum dilatih dari kecil. Jadiii, sekarang ini saya fokus pada kemandiriannya. Alhamdulillah, toilet training udah lulus, walaupun saya masih takut-takut kalau pergi keluar rumah, di rumah masih harus sering ditawarin untuk ke toilet. Takut gak ada kamar mandi bersih, takutnya ngompol, dan ketakutan lainnya. PeeR kemandirian yang lain adalah makan!! Dengan tidak memilih-milih, harus sambil duduk, dan habis. Woow ini sesuatu banget. Poin makan ini, jadi PeeR tersendiri buat saya supaya bisa masak yang enak. Dalih masih tinggal sama orangtua, jadi weh saya males masak, karna tidak mendesak. Jadi gak putar otak bagaimana supaya anak mau makan dengan lancar jaya. Semoga rumah cepet jadi, bisa pindah dan bisa belajar mandiri terutama buat diri saya sendiri. Dan semoga saya dan anak tidak stress. Yaa Allaaaah mudahkan, kabulkan….

Anak
Birul walidain. Ngerasa ngerepotiiin terus ke orangtua. Makanya sebisa mungkin segera pindah. Bukannya gak mau tinggal bareng ortu. Seneeeng pake banget kalo tinggal sama orangtua teh, tapi saya jadi gak belajar. Orangtua saya biasa mempermudah anaknya. Jadi apa-apa kalau ada yang susah ya dibantuin. Bahkan tanpa diminta pun, dengan inisiatif yang tinggi mereka langsung action. Jadi maluuu banget. Ngerasa juga belum bisa ngasih apa-apa sama orangtua. Salah satu tujuan saya tetap berpenghasilan adalah dengan tujuan, saya punya uang yang banyak, bisa ngasih orangtua. Biar bisa jalan-jalan, ngasih-ngasih orang, ngundang makan-makan, dan lain-lainlah. Ya Allaaah kabulkaaan,, semoga rezeki saya lancar, rezeki orangtua saya juga lancar, rezeki suami lancar, semua lancarlah.

TARGET DUNIAWI, Perlu gitu?
Perlulah, mimpi yang tertulis kan lebih bagus. Kali aja ada yang baca ini, trus Allah mengabulkan mimpi saya lewat beliau. hehe Aaamiiin
– pengen punya mobil yang kecil (katakanlah sebangsa kar*mun GX), jadi bisa pergi kemana-mana sama anak. Bisa berdua aja. Naik transportasi umum di Indonesia belum layak menurut saya. Jadi solusi buat saya sementara adalah bisa nyetir. Jadi mobil ini sebagai motivasi supaya saya bisa cepet bisa.
– Umroh haji sekeluargaaa. Aaamiiin
– Bersih dari RIBA, lunas hutang!!!

Tulisan ini mungkin merupakan tahap-tahap dalam mencapai mimpi di tulisan saya yang berjudul Akan jadi apa saya?. Sekian dulu curhat mimpi dan target saya. Eh hubungannya dengan matrikulasi teh apa tadi ya? Yaa pokonya saya harus jadi ibu profesional ++. Dan itu harus bertarget. Gitulah pokonya…

7 hari menuju Ramadhan

 

3

Mindfulness-nya Para Ibu

#odopfor99days #day71

Bismillahirrahmaanirrahiim

mindfulness mom.jpg

Alhamdulillah, sudah menginjak 5 posting PeeR odop. Ide cerita udah banyak bermunculan dari minggu lalu sebenarnya. Tapi apa daya tangan tak sampai, mata tak melek, badan pun tak tegak alias bobok (capek udah kerja pulangnya sama anak). Ataukah itu hanya alasan? Hehe

Hutang ini berawal ketika hari senin lalu, saya ingat punya tulisan yang belum dirampungkan untuk publish. Biasanya saya sempatkan saja saat di kantor untuk bisa menulis dan post it. Tapi senin lalu, saya merasa harus fokus dengan pekerjaan saya. Di samping memang sedang dikejar deadline yang gak ada habisnya, tapi entah kenapa saya juga merasa sedang ingin berpikir untuk pekerjaan. Oya, ada alasan lain sih kenapa saya berhenti dulu menulis. Hari Rabu lalu, saya menempati meja baru dengan PC server. Kenapa? Karena saya merasa kurang produktif bekerja dengan laptop. Mungkin koneksi dari server ke laptopnya agak bermasalah, atau entah kenapa. Jadi saya bekerja di ruang satu lagi bersama para junior. Aish, malu dong kalau saya kerja sambil buka ini dan itu. Soalnya di ruangan ini layout mejanya seperti di warnet, berjajar samping-sampingan.

Maka saya berhenti dulu dari menulis ini. Walaupun sebenernya ide-ide udah pada ketok pintu, saya mau tulis ini, itu, dan seterusnya. Kefokusan saya berlangsung sampai hari ini tadi. Alhamdulillah, kerjaan lebih lancar, komunikasi dengan adik junior juga lebih intensif, saya pun lebih fokus berpikir.

Mindfulness Para Ibu

Kebetulan hari ini, bahkan malam ini alias barusan, ada kulwap di IIP BANUT bersama mas Adjie Silarus dengan mindfulness-nya. Dua hari lalu, saya sudah japri pertanyaan ke teh Uput. Rupanya jawaban dari mas Adjie cukup mencelongkan hati saya. Berikut pertanyaan saya dan jawaban dari beliau.

Pertanyaan ke-5 dalam kulwap:

a.Mas Adjie, sebagaimana diketahui bersama kalau kerjaan ibu2 itu selangit. Ditambah yang ibu bekerja. Untuk melakukan mindfulness memang tidak mudah. Pasti lagi apa kepikiran apa. Gitu terus. Dan tetap si pekerjaan selangit itu belum turun juga jadi setengah langit. Bagaimana tipsnya melakukan pekerjaan dg fokus, tapi dalam sehari bisa sangat efektif.

b.Pertanyaan kedua, pasti mas adjie sudah punya jadwal dengan mindfulnessnya kan? Boleh dong di-share jadwal kesehariannya dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Terimakasih

Jawaban 5a:

Cukup sering saya dapat pertanyaan serupa ☺ Tapi saya pun salut dengan ibu-ibu yang tangguh hadapi kerjaan selangit.

Mindfulness bisa membantu. Tipsnya adalah dengan menilai apakah pekerjaan selangit itu semuanya memang benar-benar penting. Atau ada kegiatan-kegiatan yang sebenarnya bisa dikurangi. Tidak akan bisa fokus dan efektif kalau dalam sehari terlalu banyak kegiatannya.

Di sini perlu kemampuan untuk ikhlas merelakan pergi kegiatan-kegiatan yang tidak benar-benar penting, mengikhlaskan kegiatan-kegiatan yang hanya memuaskan keinginan.

Kalau perlu ditulis setiap hari dalam bentuk daftar. Istilah saya, MIT, Most Important Task.

Jawaban 5b:

Latihan dasar mindfulness ada 4:

duduk hening: Duduk hening saya lakukan pagi hari sebelum melakukan rutinitas yang lain, selama 20 menit.

makan sadar: Makan sadar kalau ga pas sarapan, ya makan siang, atau malam. Lebih sering pas sarapan.

gerak sadar: Gerak sadar biasanya saya jalan kaki pagi, atau yoga.

fokus berkarya: Latihan fokus berkarya saya lakukan sepanjang hari.

Tidak selalu mindful, adakalanya ga mindful, namanya juga latihan ☺

Baiklah, dari jawaban itu, saya mengambil beberapa pelajaran yang perlu ibu-ibu sekalian pahami dan mengerti (semoga saya juga paham dan mengerti serta melaksanakan):

  • Prioritas untuk FOKUS

Memiliki prioritas adalah penting. Maka sebagai ibu juga harus punya prioritas. Ketika ngasuh anak atau mencuci baju, ketika ada suami mau makan menemaninya atau membaca buku, dan contoh lainnya. Intinya sih bagaimana kita memilih, dan pilihan ini harus dengan bijak dan sesuai dengan kita. Jangan selalu dibandingkan dengan keluarga lain, karena kita tidak sama. (Gak sama lo Fin *talktomyself)

  • Ikhlas dalam memilih prioritas

Ikhlas ini memang ilmu yang luar biasa kita harus sering berlatih. Setiap hal dan langkah kita bisa menjadi latihan untuk ikhlas. Bangun tidur kepagian karena anak udah bangun, ikhlaslah, tidur kemaleman karena suami baru pulang, ikhlaslah, masak tapi ga laku, ikhlaslah hehe, macet di jalan, ikhlaslah, ada orang yang berkendara tidak sesuai dengan aturan dan mengganggu kita, ya ikhlaslah, kerjaan rumah ga beres tapi suami minta tolong bantuin kerjaannya, ikhlaslah. Dengan ikhlas hati menjadi tenang. *talktomyself *talktomyself *talktomyself

Dulu anak saya jam tidurnya teratur sekali. Tapi seiring berjalan, ternyata tidurnya gak selalu di jam itu. Jadilah saya kesal, “dooh, kenapa sih ga tidur-tidur”. Alhasil saya nemenin sambil kecewa. Padahal ya kalau inget Aagym dulu pernah ceramah bilang gini, “Kalau Allah belum ngasih kita kehendakNya untuk punya rumah, ya berarti rumah itu bukan rejeki kita. Gak perlu jadi kecewa karena rumahnya sudah kebeli sama orang lain. Mungkin Allah mau ngasih yang lebih baik lagi.” Ah memang ya, Allah rupanya belum mengijinkan sang anak tidur sekarang, jadi ya sudah terima aja. Ajak main seru-seruan aja, atau ajak main yang bikin dia capek biar cepet tidur hehe. Ya lumayan, saya sekarang ga pernah kesel lagi kalau anak belum tidur. Cuma sayanya yang gak kuat nemenin, kadang nemenin sambil tidur.

Jangan dikira kita ini sendiri. Kalau kata teh Ninih, libatkan Allah. Emang kalau yang satu ini saya harus lebih banyak belajar. Belajar melibatkan Allah di setiap kesempatan. Melibatkan di sini adalah menghadirkan Allah. Dulu dicontohkannya adalah ketika membaca Al-quran. Hadirkan Allah. Bayangkan yang hadir adalah pencipta kita. Maka kita harus mempersiapkan segalanya dengan baik. Kalau ketemu dosen atau klien aja, persiapan kita jauh hari dan memberikan yang terbaik supaya luluh. Nah ini sama Allah yang Maha Pemberi, yang Maha Pengasih dan Penyayang. Teori ikhlas ini udah ada di kepala saya, tapi ternyata sulit juga untuk menerapkannya. Mari kita sama-sama belajar.

  • Happy (tambahan teori hasil baca)

Happy ini bukan dari jawabannya mas Adjie sih. Tapi dari surat elektronik langganan dari mas Adjie. Bahwa kita harus sadar penuh hadir utuh di sini-kini (mindfulness). Maka kita fokus dengan saat ini. Kita sedang makan, nikmati makan, kita sedang baca whatsapp, bacalah dengan nyaman, kita sedang bermain dengan anak, hadirkan kesenangan, keceriaan, jiwa dan raga kita utuh untuknya, kita sedang bekerja, hadirkan kesenangan dalam bekerja, dan sebagainya. Ada orang yang raganya di sini, tapi jiwanya tidak sedang hadir di sini. Ketika nyuapin anak memikirkan ‘cucian baju belum dijemur tapi besok harus dipakai yang artinya hari ini harus kering dan kemudian nanti malam larut harus setrika semoga aja gak kebablasan tidur kalaupun kebablasan harus bangun pagi kalau bangunnya kesiangan aaah tidaaaak’. Itu baru pas lagi nyuapin anak, belum yang lain.

Happy ini juga kita harus belajar loh ibu-ibu. Anak gak mau makan, ya udah dibikin happy, tanyain maunya apa, beli apa, atau masak bareng, atau mungkin mau main dulu baru makan, dan seterusnya. Dengan happy, maka pikiran jadi lebih jernih dan kita gak grasah-grusuh dalam menyikapi setiap hal. Teorinya bagus yah! (nyengir sambil nyumput dipojokan) *talktomyself *talktomyself *talktomyself

Udah sih menurut saya 3 poin itu yang bisa bikin ibu waras dan seimbang, inilah postingan Mindfulness Para Ibu.

Semoga saya dan ibu-ibu lain bisa menerapkannya. Eh iya ini teorinya bisa digunakan siapa saja sih, gak hanya ibu-ibu. Siapapun bisa praktek teori ini. Apakah anda berminat mencobanya?

Special thanks to Allah, mas Adjie atas wejangannya dan IIP Banut 🙂

 

0

Kebutuhan Ibu baru: baju menyusui

#postinganbebas
#rara15bulan

Bismillahirrahmaanirrahiim

nursing wear

Nyahahaa.. apalah tiba2 judul postingannya ini..
Kalo saya sih yes. Karna baju menyusui itu puentiiing banget.
Dalam rangka upaya menghindari aurat yang terbuka di khalayak umum.
Suka sedih liat ibu2 nyusuin anaknya sambil ngeliat2in gentongnya..
Maaakk.. Dont do that.. Buat suaminya aja atuh bu.

Sekarang baju menyusui juga udah banyak modelnya.
ada yang baju kutung, lengan pendek, lengan panjang, gamis, dan lain-lain dengan berbagai model.
Kalo ada model yang ga sesuai, ya beli aja satu buat contoh, dan jahit sendiri.
(mungkin ini buat yang pecinta fashion, atau punya kain berlebih atau beli kain lucu2 skalian dibikin baju)

Kenapa pake baju menyusui?? karna sebenernya jadi ga ribet lo.
Kita ga perlu pusing pake penutup (apron) yang segede2 gaban itu.
Plus kalo lupa bawa, gimana dong.
Terus juga ga ribet juga nutupin PD pas nyusuinnya.
Apalagi yang pake jilbab, jelas nambah kain buat nutupin kalo lagi nyusuin.

Saya pribadi, memilih beli jadi deh. ribet ternyata kalo harus jahit2 mah.
Soalnya harus pergi beli bahan, trus pergi ke tailor, trus nunggu, trus ambil lagi di tailor. lama dan kadang malah jadi lebih mahal deh karna ditambah ongkos nunggu dan ongkos transport.
Soalnya pernah sekali beli bahan buat dibikin baju menyusui.
Trus ke tailor dan mbaknya bilang, ini kainnya jangan yang katun gini, yang strecth harusnya mah.
Karena namanya juga menyusui, tarik ulur baju deh. Hahaa salah deh beli kain.
Kebetulan si mbak langganan juga ga bisa ngejaitin bahan stretch. yaahh salah sekali lah.
Udah gitu, di FJB grup kampus ada yang jual baju menyusui dengan harga murah saja.
Cepe dapet 2.. woow kaan.
Kalo kita ngejaitin ke tailor, itu cuma ongkos jaitnya aja palingan.

Intinya saya menyarankan, mengajak para ibu-ibu yang menyusui untuk punya baju menyusui yaah. Penting banget. Dalam rangka menjaga asset negara yang sangat muahaall.
Bagi para calon ibu, baju menyusui harus masuk dalam list yang persiapan kehadiran si kecil yah.
Bagi para ayah, tolong istrinya dibelikan baju menyusui yaah.
#kodesemogadibaca
Bagi para teman2 sang ibu baru, bisa juga beliin baju menyusui sebagai alternatif hadiah.
Kadang2 kita beliin kado buat anaknya yaah, ibunya suka dilupakan. kaciaaan..

Sekian dan terima kasih. Semoga manfaat.
Aamiiin