2

Akan jadi apa saya?

#odopfor99days #day99
Bismillahirrahmanirrahim

Tulisan kali ini bukan sekedar tulis. Tapi harapan dan impian saya. Rencana-rencana ke depan memang banyak. Mungkin kalau semua tertulis gak beres-beres juga.

Life begin at 40
Katanya begitu. Sekarang umur saya menuju 29 tahun. Untuk umur segini, rasanya saya belum cukup jadi ‘orang’. Mungkin usaha saya masih kurang. Para pembalap motoGP ataupun F1, usianya masih muda-muda, tapi sudah mendulang prestasi. Pun teman-teman saya ada beberapa yang sudah melakukan pencapaian-pencapaian keren. Ini adalah penilaian versi duniawi ya.

Tapi saya memang mau menulis rencana di dunia, yang semoga nilainya bisa ukhrowi. Berikut ini beberapa poin yang menjadi harapan dan impian saya.

mother

Ibu Rumah Tangga ++

Ya. Dalam waktu dekat, inilah yang saya pilih. Segera setelah urusan saya selesai, saya ingin menjadi ibu rumah tangga ++. Tanda ++ ini tentu saja saya maksud bukan thok jadi ibu rumah tangga. Tapi menjadi ibu yang produktif. Produktifnya bisa macam-macam. Menulis berkreasi, jualan online, atau bahkan proyek santai. Tapi prioritas ada di rumah. Karena ini untuk anak-anak saya. Saya bertekad mendidik mereka sendiri. Walaupun akan banyak jungkir baliknya nanti. Harapan saya adalah anak-anak yang sholeh dan sholehah. Sekarang ini saya ikut grup-grup parenting, tapi belum bisa menerapkan semuanya. Semoga nanti bisa. Status ini, sebisa mungkin sampai anak sekolah. Lalu saya bisa kembali berkarya.

entrepreneur 0

Enterpreneur

Memang untuk menjadi seorang enterpreneur harus serius, kalau disambi menjadi kurang maksimal. Tapi masa sih gak bisa? Saya yakin itu bisa. Tapi prioritas tidak terlalu banyak. Semoga. Ini sebagai modal untuk masa depan keuangan dan jiwa mandiri. Supaya tidak tergantung pada siapapun kecuali Allah saja.

landscape architect

Arsitek lansekap

Saya menyukai bidang ini. Dibanding gelar S1, saya masih lebih menyukai lansekap. Mungkin karena alam-alam gitulah. Jadi saya suka. Ditambah lagi setelah kerja di konsultan lansekap, trus kuliah lansekap dan dapet proyek-proyek lansekap juga. Semakin saya suka. Banyak tantangannya. Harus banyak belajar untuk bisa ahli. Apalagi di Indonesia, perkembangan infrastruktur yang membutuhkan bidang ini terus meningkat. Jadi intinya proyek lansekap itu banyak. Sedangkan ahlinya belum sebanyak arsitek. Padahal mungkin proyek lansekap akan lebih banyak dibutuhkan dibanding arsitektur. Lalu banyak kasus proyek ini dikerjakan oleh orang yang bukan ahlinya. Malah jadi asal dan hanya buang-buang duit negara aja.
Oia satu lagi, bidang ini juga sebenarnya melahirkan banyak kebutuhan. Di samping posisi sebagai desainer, sedang banyak dibutuhkan pula pengajar lansekap. Kalau Allah mengijinkan, saya juga mau mengajar. Supaya jadi amal jariyah. Bisnis? Bisa nih. Bisnis nursery. Ada satu peluang yang dari dulu ingin sekali dibangun. Tapi belum juga dilaksanakan oleh instansi terkait. Yaitu toko online dengan penyediaan berbagai jenis bibit tanaman. Ya. Online nursery, tapi bedanya dengan nursery lain adalah berlokasi di seluruh Indonesia.

investor

Investor

Menjadi investor ini sebenarnya tujuan silaturahim dan memperbanyak link. Dengan memperbanyak link, insyaAllah jalan hidup juga lebih terbuka. Bisa banyak membantu orang. Tentunya investor untuk hal-hal kebaikan dan banyak untungnya bagi banyak orang.

traveler

Traveler

Ini impian juga nih. Sejak pertama kali ke luar negeri, saya merasa kalo traveling itu banyak ilmunya. Melihat bumi Allah yang lain, mengambil banyak hikmah, ilmu menjelajah, ilmu bertahan hidup, ilmu berkomunikasi, dapet visual library yang keren dan mungkin baru. Bisa jadi bahan cerita, pengalaman, dan ilmu tadi. Bagaimana merencanakan itinerary yang banyak pertimbangan. Tapi jadi inget kata-kata di film ‘bedanya liburan dengan traveling, kalau traveling itu semuanya tanpa rencana. Semua terjadi mengalir gitu aja’. Berarti kalau gitu, saya lebih suka liburan deh hehehe.

Garis besar Akan jadi apa saya?, terwakili di ke-5 poin di atas. Semoga Allah memberkahi apapun yang saya jalani, dan apapun yang Allah Kehendaki saya menjadi apa. Dari garis besar di atas yang sifatnya duniawi, tentunya harapan saya paling besar adalah menjadi muslimah bertaqwa. Aamiiin. Semoga yang membaca ini juga harapan dan impian baiknya tercapai. Aamiiin.

Bagaimana dengan anda?

Advertisements
8

Harapan di Penghujung Nafas

#odopfor99days #day59

dnamoraga1

Bismillahirrahmanirrahim

Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian”. (QS Ali `Imran: 185).

Berharap saat itu sudah memiliki banyak bekal untuk menunggu dan menghadapi hisab di alam akhirat. Sudah kita ketahui bersama bahwa kematian adalah rahasia Allah. Jadi saya pun rasanya tidak ingin diberi tahu kalau ternyata umur saya hanya bersisa 192 jam saja atau 8 hari lagi. Pasti saya akan kaget dan panik, lalu saya malah kelimpungan mana yang akan saya kerjakan lebih dulu.

Tapi kematian itu pasti datang. Saya harap sisa umur 8 hari itu, saya bisa lebih rileks dalam menjalani kehidupan. Mengalir saja seperti tidak ada apa-apa di depan. Namun, saya juga ingin Allah membimbing pada waktu singkat itu, sesuai dengan harapan. Harapan-harapan itu terangkai dengan manis di setiap menit dan detiknya. Tidak ada yang terlewat sia-sia. Bahkan sepersekian detiknya pun sebisa mungkin sedang saya pasrahkan kehidupan ini hanya kepadaNya.

Harapan pertama adalah saya telah melunasi semua hutang. Baik itu hutang materi maupun non materi (janji, amanah yang sedang diemban, puasa, dan sebagainya). Saya juga ingin semua harta pribadi saya bisa diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan, sehingga tidak ada beban harta, toh kita lahir pun tidak punya apapun, dengan harapan bisa menambah bekal lagi dan dapat dihitung sebagai kebaikan.

Berkunjung ke lokasi proyek terbesar yang pernah saya kerjakan untuk yang terakhir kalinya. Melihat kenyataan bahwa proyek itu sudah membawa manfaat bagi orang banyak, sudah membuat lingkungan lebih baik, sudah menjadikan keburukan berubah menjadi kebaikan, sudah mengubah kehidupan orang banyak menjadi lebih baik dari sisi dunia dan akhiratnya. Indahnya berbagi, menebar manfaat, melegakan hati, dan ini juga sebagai tabungan akhirat saya.

Berkumpul bersama keluarga untuk berlibur. Kemana saja, yang penting bisa bercanda tawa, sambil melihat anak-anak dengan pandangan kasih yang dalam. Memeluk, mencium, bermain bersama mereka untuk terakhir kalinya walau itu tanpa kami sadari. Memandang kehangatan bapak dan ibu bersenda gurau, menikmati kebahagiaan bersama.

Berbagai permasalahan dunia seringkali menjadikan saya kurang ikhlas terhadap apapun. Maka harapan saya yang lain adalah ingin sekali merasakan keikhlasan di setiap detik yang saya lewati. Menikmati menjadi anak, istri, ibu, serta anggota masyarakat yang berakhlak mulia. Bahkan sebagai hamba Allah, menikmati keikhlasan dalam beribadah yang cukup sulit bagi saya mempraktekkannya selama ini. Di akhir hayat, ingin sekali menikmati kedamaian hati, ketentraman, melalui ikhlas dan tawakal kepada Allah.

Ada hal lain yang saya inginkan yaitu bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Saya terlalu egois memikirkan kehidupan pribadi selama ini. Sampai lupa untuk bersyukur, mengenal Allah SWT serta mengenal Rasul. Hasil menamatkan sirah adalah keinginan untuk bertemu Rasulullah.‘Rabb, ijinkan hamba bertemu Rasulullah Muhammad SAW. Aku terkagum atas apa yang Engkau limpahkan dan takdirkan kepadaNya. Ah, sungguh tidak sopan, seharusnya saya lebih rindu bertemu Allah SWT. Yang menciptakan Muhammad, yang lebih hebat, yang sudah jelas memberikan rezeki. Ampuni hamba-Mu ya Allah.’

Daftar negara yang ingin saya kunjungi, sudah saya catat. Tapi kerinduan mendalam hanya untuk pergi ke rumah Allah. Saya sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk bisa menikmati jamuan Allah di tanah suci. Maka di sisa hari akhir hayat, saya pun berangkat. Besar harapan saya hanya pergi bersama suami saja (kalau dia masih ada atau anak laki-laki saya). Sanak saudara dan kerabat tidak perlulah melihat jasad saya di depan mereka ketika sudah tak ada nafas dalam tubuh ini. Biarlah kehidupan saya berakhir di sini, di rumah Allah, di tempat Rasulullah Muhammad SAW lahir, berjuang, berdakwah, dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Sisa hari lainnya, saya melakukan rukun-rukun umroh berulang kali. Seraya memohon ampun atas segala kekhilafan sejak saya baligh. Bagaimana dosa-dosa saya kepada Allah dan Rasul seperti menunda ibadah, syirik, berzina. Lalu dosa kepada orangtua, tidak patuh, membangkang, menyakiti hatinya, merepotkannya. Kepada suami, belum menjadi istri yang baik, tidak memenuhi haknya, tidak melayani dengan sempurna. Kepada anak-anak, belum menjadi ibu yang baik, egois. Kepada sanak saudara, kerabat, dan kawan, seringkali menyakiti hati, berghibah, berbohong, menyusahkan. Astaghfirullahal’adziim, Ampuni hamba-Mu ya Allah.

Di sela kegiatan di tanah suci, saya pun menikmati kebersamaan dengan suami. Menikmati melayani dengan penuh cinta, memandang dengan pandangan kasih. Berharap bisa membayar semua kekurangan sebagai istri di akhir hayat ini. Bulan madu kesekian kalinya dan semoga berlanjut di jannahNya nanti. Berkumpul kembali bersama keluarga terkasih. Aaamiiin.

Hembusan terakhir di saat sujud panjang yang memasrahkan segalanya kepadaMu, sedang mengingatMu, sedang memohon ampun kepadaMu, mengagungkanMu ya Rabb, itulah impian terbesar setiap muslim.

Mungkin terdengar standar, tidak istimewa, tapi memang itu sejatinya bukan? Pastilah kita berharap akhir yang baik. Itulah mengapa kematian itu rahasia Allah, yang kita tidak akan tahu kapan, dimana, dan sedang apa kita saat itu. Hanya bisa berharap dan berharap agar penghujung nafas kita khusnul khotimah.

Harapan di Penghujung Nafas, menjadi catatan, pengingat atas kematian yang tidak tahu kapan tiba waktunya, pengingat untuk selalu berada di jalanNya.

Tulisan ini diikutkan dalam dnamora Giveaway