Kulwap: Prestasi Pertama dan Utama Anak Kita

🎩 PROFIL NARASUMBER 🎩

Nopriadi Hermani. Lahir di Negeri Seribu Langgar, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Hidup bersama  1 orang istri dan 3 anak (Shafa, Althof dan Kautsar).

Selepas lulus sekolah menengah atas (SMA) merantau ke kota pelajar Yogyakarta. Di Kota Gudeg ini menunaikan amanah orang tua untuk menjadi seorang sarjana. Tahun 1997 berhasil lulus dari Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Beberapa tahun kemudian menyelesaikan program master di Biomedical Engineering, Nanyang Technological University, Singapura. Selanjutnya, meraih gelar Philosophy of Doctor (Ph.D.) di Tokyo Institute of Technology, Jepang, dengan spesialisasi Pattern Recognition & Machine Learning (Mesin Cerdas).

Sejak kuliah hingga sekarang menyenangi ilmu psikologi, pengembangan diri, agama Islam, manajemen, organisasi, kepemimpinan, ilmu sosial- politik, ekonomi, sejarah, peradaban dan berbagai bidang di luar bidang engineering.

Sehari-hari menjadi dosen dan sekarang diamanahi jabatan Ketua Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Di samping mendidik di lembaga perguruan tinggi, juga mengabdikan diri secara penuh pada pendidikan keluarga dan masyarakat.

Disamping sebagai suami, orang tua, dosen, dan pengemban dakwah, juga menggeluti dunia penulisan. Buku yang telah terbit adalah:

  1. The MODEL, buku pengembangan diri spritual ideologis untuk meraih sukses pribadi dan sukses peradaban. Buku yang ditulis selama 7 tahun ini mensintesis bidang ilmu psikologi, agama Islam dan mesin cerdas yang didalami saat S3 di Jepang.
  2. The MODEL for Smart Parents. Ini adalah buku parenting turunan dari The MODEL. Buku parenting dengan konsep baru dalam mendidik anak, yaitu konsep “Tuning”. Buku ini dipersembahkan untuk orangtua atau calon orangtua dalam menyiapkan generasi muslim masa depan yang sukses, bahagia dan kontributif dalam membangun peradaban barokah.

📒 fanpage: http://www.facebook.com/buku.themodel

📘facebook: http://www.facebook.com/nopriadi.hermani

📔Instagram: @nopriadi.herman

🎩 MATERI 🎩

🎖🎖🎖🎖🎖🎖🎖

Nak Prestasimu Itu… *

(Prestasi Pertama dan Utama Anak Kita)

Oleh : Nopriadi Hermani, Ph.D.

🎓🎗🎓🎗🎓🎗🎓🎗

Saya kumpulkan anak-anak siang itu seperti biasanya. Saya mulai pertemuan halqah dengan salam, hamdalah, dan shalawat kepada baginda Muhammad saw. Kemudian saya buka materi siang itu dengan sebuah pertanyaan,

“Tahukah kalian, prestasi pertama dan utama apa yang harus diraih seorang muslim?”

Saya tunggu beberapa saat. Mereka terlihat berpikir. Baru kali ini saya mengajukan pertanyaan seperti ini.  Terus terang saya agak deg-degan menunggu jawaban mereka. Saya ingin menakar hasil pendidikan kami selama ini. Saya ingin menakar efektivitas tuning yang telah kami lakukan pada diri mereka. Saya ingin menakar hal berharga apakah yang ada dalam pikiran mereka. Di samping ingin menakarnya, saya akan meluruskan bila jawaban mereka keliru. Anda tahu apa jawaban mereka?

Satu per satu kemudian berusaha menjawab. Ada yang mengatakan “Menjadi anak saleh”. Adapula yang menjawab “Memiliki kepribadian Islam”. Alhamdulilllah, walaupun tidak tepat 100% jawaban anak-anak sudah menunjukkan pemahamannya yang lurus.

Ayah Bunda, bertanyalah kepada anak-anak Anda tentang prestasi pertama dan utama yang harus diraih seorang muslim. Terutama yang menjelang atau sudah akil baligh. Dari sana kita bisa menakar hasil dari proses pendidikan selama ini. Dapat mengetahui prioritas apa yang telah tertanam pada mereka. Atau jangan-jangan kita perlu mengevaluasi diri dengan bertanya, “Sudahkah saya memiliki standar prestasi bagi anak-anak tercinta?  Prestasi utama dan pertama apakah yang ingin saya saksikan?” Jangan sampai kita belum memikirkannya. Belum memikirkan berarti kita tidak memiliki target yang ingin diraih.

Betapa banyak orang tua yang tidak mengetahui prestasi utama dan pertama untuk anak-anak mereka. Banyak pula yang keliru mengarahkan prestasi-prestasi buah hati tercinta. Ada yang memaksakan prestasi anak sesuai dengan hasrat pribadi. Prestasi anak adalah ambisi orang tua. Prestasi anak adalah kesenangan orang tua. Kadang-kadang prestasi anak adalah cermin dari cita-cita orang tua yang tak kesampaian.

Banyak orang tua yang beranggapan bahwa prestasi anak adalah memiliki suara emas nan merdu, fasih berbahasa Inggris, piawai memainkan piano, hebat dalam berpidato, pandai melukis atau jago berdagang sejak kecil. Tanpa ragu mereka merogoh kocek yang tidak sedikit demi ambisi ini. Mereka ikutkan anak-anak mereka dengan berbagai macam les seperti piano, bahasa Inggris, dansa, melukis, menyanyi dan lain-lain. Mereka berharap anak-anak mereka memiliki segudang piala dan penghargaan. Terkenal di mana-mana layaknya 10 penyanyi ngetop dunia seperti Chris Brown, Lady Gaga, Michael Jackson, Katy Perry, Cent, Will I Am, Britney Spears, Eminem, Miley Cyrus dan Prince. Atau menjadi seperti 10 selebriti dengan bayaran termahal:  Madonna, Steven Spielberg, Simon Cowell,  E.L James, Howard Stern, Bruce Willis, Glenn Beck, Michael Bay, Jerry Bruckheimer dan Lady Gaga.

Tidakkah mereka lupa dengan kisah-kisah kegagalan hidup orang hebat yang salah dalam memilih prestasi? Tidakkah mereka lupa paradoks kehidupan orang-orang sukses dalam puncak prestasi? Dr. Pearsall dalam bukunya “Toxic Success” telah meneliti banyak orang berprestasi ini. Kesimpulan dia, “Mereka yang sukses (berprestasi) hidupnya menderita.”

Suatu saat ada orang tua bertanya, “Apakah salah dengan prestasi juara kelas atau hafidz Qur’an?” Sebenarnya tidak ada yang salah dengan prestasi seperti juara kelas, pandai matematika, terampil berpidato atau menjadi orang terkenal. Asalkan prestasi utama dan pertama berhasil diraih oleh anak-anak mereka. Orang tua wajib tahu prioritas mana yang menjadi prioritas. First things first.

Kembali ke pertemuan halqah dengan anak-anak. Setelah mereka menyampaikan jawaban, saya menatap mereka satu per satu. Kemudian saya menjelaskan kurang lebih begini, “Nak, prestasi pertama dan utama yang mesti kalian raih adalah saat memasuki usia baligh kalian sudah terikat dengan Islam. Segala yang dilakukan harus sesuai dengan Islam…” Saya terus menjelaskan kepada mereka apa yang dimaksud terikat dengan Islam.

Mungkin ada yang bertanya kenapa saya menggunakan standar saat baligh? Saat baligh inilah segala amal mereka sudah mulai dihisab. Argo pahala-dosa mereka telah dijalankan. Saat inilah seharusnya kita menakar hasil proses pendidikan selama ini. Saat inilah seharusnya kita mengevaluasi capaian prestasi pertama dan utama anak-anak kita. Saat inilah seharusnya kita mengukur prestasi mereka dalam kacamata yang benar (syariat).  Saat baligh adalah saat yang paling menentukan dan mendebarkan, karena kita tahu apakah mereka telah berprestasi ataukah belum.

Mungkin masih ada yang bertanya mengapa prestasi utama dan pertama berupa keterikatan dengan aturan Islam? Mengapa prestasi itu diukur dengan kerelaan mengikatkan cara hidup dengan aturan-aturan ilahiah? Mengapa prestasi itu diukur dari ketaatan kepada Allah swt.? Karena itu menunjukkan sejauh mana mereka telah menjalani hidup sesuai dengan tujuan penciptaan manusia.

“Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (TQS. adz-Dzariyat: 56)

 Ketaatan pada Allah swt. pasti akan membawa mereka pada kehidupan yang baik di dunia. Tentu saja akhirat. Mereka menjadi pribadi saleh dan bertakwa. Tidak melakukan cela dan berbuat baik pada orang tua.  Kehidupan mereka diwarnai dengan keimanan pada Allah swt. dan dihiasi dengan amal saleh. Bukankah ini sebuah prestasi yang hebat? Bukankah ini prestasi yang membanggakan sekaligus membahagiakan? Bukankah ini melebihi capaian apapun selama di dunia?

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS. An-Nahl: 97)

Ayah Bunda, bukankah ini prestasi luar biasa bila anak-anak kita telah menampakkan tanda-tanda memasuki kehidupan yang baik (hayyatan thoyibah)? Kehidupan yang membuat mereka dapat merasakan betapa indahnya dunia. Kehidupan untuk menjemput imbalan terbaik di akhirat sebagaimana janji Allah swt. Sekali lagi, bukankah ini prestasi hebat dalam hidup mereka? Prestasi yang ingin Anda berikan pada buah hati tercinta?

Tataplah wajah tanpa dosa mereka. Dengarkan suara lembut mereka. Belailah kulit halus buah hati tercinta. Rasakan harapan hakiki mereka. Bukankah kehidupan yang baik di bawah ridha Allah swt. adalah prestasi pertama dan utama?

* dicuplik dari buku “The MODEL for Smart Parents”

http://www.facebook.com/buku.themodel

🏅🏵🏅🏵🏅🏵🏅🏵🏅

🎩 TANYA JAWAB 🎩

Tanya:

Bismillah … Saya mau tanya keenan itu 3 thn kurang 2 bulan kalau sama saya dia paham klo saya terangkan sedikit tentang adab islam akan tetapi kalaunketemu ua nya dia suka jadi aga males ? Ada saran ga ya pa ustadz biar keenan sndiri bisa lebih teguh dan metodenya pembelajaran saya nya apa hrs diubah ?

Jawab:

Bunda Nche,                        

Mungkin bisa disampaikan adab Islam apa yang malas dilakukan putra Bunda saat ketemu Ua -nya?                        

Secara umum, anak-anak akan melakukan hal-hal yang menurut dia menyenangkan. Menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan dia.

Ketika Bunda menjelaskan atau mengajarkan tentang adab Islam maka yang sampai pada anak-anak adalah apakah hal tersebut menyenangkan atau tidak bagi dia. Seringkali adab yang kita ajarkan merupakan batasan-batasan yang mengganggu dia. Padahal, usia-usia seperti itu (balita) adalah masa-masa dimana dia senang mengeksplorasi. Dan orang tua di luar ayah bunda biasanya cenderung longgar dengan batasan-batasan. Walhasil, anak-anak seperti mendapat “kesempatan”.Sangat perlu pula berdialog dengan Ua-nya agar kompak tentang adab tersebut.

Anak-anak usia balita belum bisa membedakan mana baik dan mana buruk, terutama menurut Islam. Mereka hanya tahu mana yang menyenangkan dan mana yang tidak. Kelihatannya memang Ua -nya perlu diajak bicara agar bisa kompak dalam mendidik anak-anak. Kalau tidak nantinya akan menimbulkan masalah cukup besar di kemudian.

Tanya:

Bagaimana cara memulai agar target kita thd anak bs tercapai? Semenjak usia berapa anak bisa lebih diarahkan thd target itu?

Jawab:

Untuk Bunda Vivi, Terkait target pribadi anak bisa kita bagi menjadi dua. Pertama adalah target yang terkait kepribadian Islam berupa keterikatan mereka anak-anak pada Islam. Terikat pola pikir dan tindakannya dengan Islam.

Kedua adalah terbentuknya karakter efektif. Karakter efektif ini akan menghantarkan mereka pada kesuksesan yang sering dipahami oleh masyarakat umum. Berupa prestasi-prestasi ‘duniawi’. Duniawi ini tidak berarti negatif Bunda. Nah, saya akan bahas target pertama saja. Target anak seperti ini agar tercapai bisa dimulai sedini mungkin. Caranya adalah mencapai target itu pertama kali. Sebelum mengarahkan anak-anak mencapai tersebut, orang tua harus mencapainya terlebih dahulu. Dengan kata lain kepribadian Islam itu harus dimiliki oleh orang tua. Karena orang tua nantinya akan menjadi tauladan yang sangat berpengaruh pada anak-anak tanpa kita sadari. Mata, telinga anak-anak akan melihat orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Bukan instruksi atau kata-kata kita yang fasih bicara pada mereka, tapi contoh dan keseharian kita yang akan membekas dalam benak mereka. Oleh karena itu, mendidik anak pada dasarnya mendidik diri sendiri.

Tanya:

apa yg hrs orangtua lakukan,  untuk mempersiapkan anak sejak usia dini,  agar di usia baligh nanti siap terikat kepada islam?

Jawab:

Bunda Anna,

Saya ingin sampaikan konsep “Tuning” dalam parenting. Konsep ini saya perkenalkan dalam buku saya “The MODEL” dan “The MODEL for Smart Parents”. Siapa kita, bagaimana kita, bagaimana kepribadian kita, bagaimana pola pikir dan kebiasaan kita sangat tergantung apa yang disebut model diri (self-model) yang ada pada diri kita. Model diri ini penentu bagaimana kita menjalani hidup. Nah, model diri ini dituning atau disetel. Tuning atau setelan selama ini sangat berpengaruh membentuk kepribadian kita.  Ada banyak hal yang men-tuning anak-anak dengan sangat efektif. Salah satunya adalah kebiasaan atau budaya dalam keluarga. Agar anak-anak usia baligh siap terikat kepada Islam, maka orang tua harus sedini mungkin men-tuning keterikatan ini pada anak-anak. Caranya? Bangun interaksi Islami dalam keluarga.

Ayah Bunda harus jadi model atau tauladan di rumah. Agar ketauladanan ini efektif maka orang tua harus memahami konsep-konsep keterikatan pada Islam ini dengan baik. Proses belajar tentang konsep Islam ini akan mempengaruhi prilaku ayah bunda. Selanjutnya akan men-tuning anak-anak tanpa disadari. Apa yang kita lakukan akan terus dilihat dan didengar  oleh anak-anak sehingga kepribadian mereka ter-tuning.

Sedikit tambahan apa saja yang men-tuning anak-anak kita adalah:

https://web.facebook.com/buku.themodel/photos/a.1081171078614238.1073741835.527903000607718/952915231439824/?type=3&theater

Tanya:

Anak saya usia 7 dan 4 th…masih ada kuranglebih 7 th an lagi menuju aqil baligh insya Allah…

persiapan apa sajakah yg harus kami lakukan utk ananda shg prestasinya kelak sesuai dg keinginan Allah

Jawab:

Bunda Fidyah,

Usia 7 tahun sebenarnya adalah lebar baru bagi hidup anak-anak kita. “Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR Ahmad)

Mereka sudah mulai kita beri instruksi dalam menjalankan Islam. Keterikatan pada Islam sudah mulai kita tanamkan dengan baik pada usia ini. Nah, disamping ketauladanan orang tua maka agar mereka mau dengan mudah terikat pada Islam maka aqidah mereka harus ditanamkan sejak dini.                       Maksudnya, penanaman aqidah sudah dilakukan sebelumnya. Bila aqidah dasar sudah ditanamkan, istilah saya dalam buku The MODEL for Smart Parents adalah filosofi hidup, maka keterikatan pada Islam itu akan menjadi mudah.

Modal keterikatan pada Islam itu ada dua, yaitu pemahaman dan yang kedua adalah pembiasaan prilaku.

Tanya:

Apakah masih tidak apa2 ustadz kalau shalat maunya hanya magrib dan subuh dg alasan rakaatnya sedikit? Agak tenang sedikit ketika dilingkungan baru ini ada kawan2 seusianya yg pergi mengaji sebelum magrib sampai bada isya…jadi dia mau shalat magrib dan isya dimasjid…tapi kalau tidak ngaji yaaa tidak shalat

Jawab:

Jangan bunda, usia itu sudah mulai diajarkan shalat sempurna. Sangat dianjurkan, bahkan bisa dikatakan wajib orang tua terutama bapak, memberi contoh dengan pergi ke masjid untuk shalat 5 waktu. Kalau Dzuhur atau ashar tidak bersama, maka ke masjidlah bersama-sama pada shubuh, maghrib dan isya. otomatis shalat anak akan sempurna. Jadi pada usia 7 tahun, pastikan tuning pemahaman dan pembiasaan pada anak-anak.

Tanya:

Maaf ustadz…aqidah dasar yg harus ditanamkan ke anak apa saja ya… #Malu saya…minim ilmu

Jawab:

Saya copy-kan bab 15 dari buku saya terkait Aqidah paling dasar.

Bab 15. Filosofi Hidup (Men-tuning Pondasi Hidup Anak-Anak Kita)

 Bila gedung bertingkat membutuhkan pondasi yang kokoh agar dapat tegak berdiri. Bila pohon membutuhkan akar yang kuat untuk tumbuh subur. Lalu landasan apa yang dibutuhkan anak kita agar dapat menjalani hidup dengan tegar dan benar di masa depan?

Sebelum membahas bagaimana mencetak generasi prestatif, terbaik di antara terbaik, best of the best, atau crème de la crème maka seharusnya tema filosofi hidup terlebih dahulu diperbincangkan. Filosofi hidup inilah yang menjadi landasan bagi anak-anak kita dalam menapaki terjalnya kehidupan. Landasan yang menjadi tempat mereka berpijak dengan kokoh dalam memutar roda hidup. Bila filosofi hidup yang benar bersemayam di dalam jiwa anak-anak maka Insya Allah mereka kelak menjadi pribadi yang kuat di tengah-tengah Era Kegagalan.

Filosofi hidup keluarga muslim adalah aqidah yang lurus dan kuat. Aqidah yang seperti ini terletak pada keyakinan mendasar akan adanya Allah swt., penghayatan terhadap tujuan hidup di dunia serta orientasi akhir kehidupan di akhirat. Aqidah Islam yang mesti dimiliki mampu menjawab dengan benar atas tiga pertanyaan mendasar umat manusia. Tiga pertanyaan mendasar tersebut adalah:

1) Dari mana manusia, alam dan kehidupan ini berasal?

2) Untuk apa manusia, alam dan kehidupan ini ada?

3) Akan ke mana manusia, alam dan kehidupan ini berakhir?

Jawaban yang benar atas tiga pertanyaan di atas harus dimiliki oleh anak kita sedini mungkin. Tidak boleh sekedar menjadi dogma tanpa pemahaman. Tidak cukup hanya memuaskan aspek kognitif (rasio) saja, tetapi harus mampu menyentuh aspek afektif (rasa) dan mewujud pada aspek motorik (gerak). Men-tuning aqidah seperti ini tidak bisa hanya dengan metode hafalan atau ceramah.

Metode men-tuning aqidah agar menjadi filosofi hidup yang kuat adalah menghadirkannya dalam kehidupan nyata. Harus mewarnai keseharian mereka sejak kecil. Dan cara hidup orang tua berbicara jauh lebih keras tentang filosofi hidup ini ketimbang ceramah dengan suara yang lantang. Keseharian orang tua adalah gambaran filosofi hidup yang tertanam di dalam diri anak-anak. Teladan orang tua adalah proses tuning filosofi hidup yang paling efektif.

Maka, berhati-hatilah wahai orang tua. Mata dan telinga anak-anak kita akan selalu lengket dengan kebiasaan kita. Mereka akan merangkai filosofi hidup dari keseharian yang kita tampakkan.

Orang tua dengan landasan hidup yang rapuh, kelak menghasilkan anak yang labil. Orang tua dengan filosofi hidup yang salah, kelak melahirkan anak yang tersesat. Filosofi hidup anak kita sangat tergantung dari cara hidup kita. Cara hidup mereka ditentukan oleh filosofi hidup kita. Jadi, tidak ada tawar menawar di sini. Orang tua harus memiliki filosofi hidup yang benar dan menjalani kehidupan dengan benar pula. Cara hidup kita harus dilandasi oleh aqidah yang lurus dan terikat dengan syariat Islam.

Kami ingin sharing bagaimana menanamkan aqidah ini pada anak-anak kami. Sejak kecil kami kenalkan anak-anak dengan Penciptanya, Allah swt. Mengenalkan keberadaan Allah swt. melalui hasil ciptaan-Nya berupa manusia, alam dan makhluk hidup. Ketika masih dalam gendongan kami ajak berbicara tentang alam dan Penciptanya. Saat melihat daun dan pepohonan maka kami katakan, “Ini daun. Daun ini diciptakan oleh Allah swt. Itu pohon. Pohon ciptaan Allah swt.” Saat melihat apa saja, maka kami kenalkan penciptanya. Ini kami lakukan agar keberadaan Sang Pencipta tertanam dengan kuat dalam benak mereka.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (TQS. Ali Imran: 190)

Metode menunjukkan berbagai ciptaan dan menyebutkan Sang Kreatornya tidaklah cukup. Selanjutnya kami buat sedikit variasi agar tuning- nya lebih efektif. Kami menggunakan metode bertanya pada mereka. Misalnya, ketika melihat bulan dan bintang kami sampaikan begini, “Itu bulan. Itu bintang. Bulan dan bintang ciptaan siapa?” Maka mereka menyahut, “Allah.” Itulah cara kami men-tuning keberadaan Sang Pencipta pada mereka sejak kecil.

Orang tua harus lebih cerewet daripada biasanya saat berbicara dengan anak tentang tema yang berbobot. Dan tema pembicaraan yang bobotnya paling berat adalah perkara aqidah. Pembicaraan aqidah terkait pencipta makhluk yaitu al-khaliq dalam rangka menyentuh akal mereka yang polos dan bersih.

Berikutnya kami juga kenalkan mereka utusan Sang Pencipta, Muhammad saw. Dia adalah seorang nabi yang membimbing manusia agar dapat menjalani hidup dengan benar. Sosok yang ajarannya sangat dibutuhkan hari ini untuk mengubah Era Kegagalan menuju Era Keberkahan.

Ada banyak cara mengenalkan Rasulullah saw. kepada anak-anak. Misalnya, membacakan buku sirah Nabi – seperti karya Ibnu Hisyam, Shafiyurrahman al-Mubarakfury atau Muhammad Rawwas Qal’ahji – sampai menonton video tentang kehidupan Sang Nabi seperti “The Message” atau “Muhammad: The Last Prophet.”

Kami pahamkan bahwa Muhammad saw. membawa risalah dari-Nya berupa Al-Qur’an. Sejak kecil kami biasakan mereka berinteraksi dengan Al-Qur’an. Menghafal dan melafadzkan bacaan ayat-ayat dengan meniru murrotal Al-Ghamidi atau Mishary bin Rashid Alafasy.

Ketika sudah memasuki usia tamyiz kami ajak mereka berdialog tentang Al-Qur’an. Kami bangkitkan proses berpikir mereka dengan menunjukkan bukti-bukti kebenaran bahwa Al- Qur’an itu merupakan firman Allah swt. Bukti yang mengikat pikiran mereka sampai dewasa kelak. Bila mereka paham bahwa Al-Qur’an terbukti berasal dari Pencipta, maka apa pun yang ada di dalam Al- Qur’an pastilah akan mereka benarkan. Dari sanalah mereka akan tahu akan tujuan dari penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada Allah swt. Taat kepadanya tanpa kecuali.

“Tidak Kuciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (TQS. Adz-Dzariat: 60).

Jadi, mereka paham sejak dini bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah beribadah kepada Allah swt. dengan menaati segala yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang.

Menanamkan ketaatan kepada Allah swt tentu saja tidak cukup mengutip ayat QS. Adz-Dzariat: 60 di atas. Tidak cukup hanya dengan 1000 kali dialog atau ceramah. Dialog dan ceramah itu penting, tetapi membuktikan ketaatan itu jauh lebih penting. Ketaatan harus ada dalam kehidupan sehari-hari. Harus tercermin dari kebiasaan orang tua dan pembiasaan pada anak-anak.

Ketaatan itu tidak hanya dalam rangka menunaikan shalat, puasa, zakat, sedekah, berdakwah, belajar, atau berbuat baik kepada manusia. Marah orang tua pun harus selalu karena alasan Islami. Saat anak-anak melakukan pelanggaran akan perintah Allah swt. maka kami akan marah. Marah pada anak seringkali sekadar terekspresi di ucapan, bukan lahir dari dalam hati. Kami paham bahwa mereka belum baligh, jadi belum ada hisab atas amal mereka.

Kami “berpura-pura” marah dan menunjukkan kemarahan itu agar mereka paham bahwa ketidaktaatan kepada Allah swt. adalah perkara besar. Kami berusaha menjadikan ketaatan kepada Allah swt. sebagai budaya keluarga (family culture).

Selanjutnya tentang orientasi akhir hidup manusia. Segala hal yang dilihat pasti akan musnah. Manusia, alam dan kehidupan akan berakhir. Lalu kemana semua ini pergi? Mereka kami pahamkan bahwa kehidupan ini hanya berpindah fase; dari fase dunia menuju fase akhirat. Itulah kenyataan kehidupan yang kami pahamkan pada anak-anak.

“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan di hari kiamat.” (TQS. Al Mukminun: 15-16)

Dengan berbagai uslub (cara) kami, pahamkan tentang akhirat pada mereka. Kami bacakan terjemahan ayat Qur’an terkait akhirat. Kami perdengarkan hadits-hadits tentang surga dan neraka. Dengan begitu kami ingin membuka hijab antara dunia dan akhirat agar mereka melihat dunia-akhirat itu sebagai satu kesatuan.

Inilah yang kami lakukan dalam mengenalkan aqidah sebagai filosofi hidup mereka sejak dini. Tuning tentang filosofi hidup sangat berharga agar mereka bisa hidup dengan benar dan tegar. Filosofi hidup harus menjadi pembicaraan orang tua pertama kali sebelum berbicara tentang prestasi duniawi. Lebih diutamakan ketimbang tema tentang generasi prestatif, terbaik di antara terbaik, best of the best, atau crème de la crème.

Semoga Allah swt. mengokohkan filosofi hidup kita dan anak-anak kita.

Aamiin yaa Rabb.

Tanya:

Ustadz…ortu kdg punya latar belakang pendidikan krg baik dr ortunya,yg otomatis suka muncul di depan anak, bahkan kadang ga disadari. Ortu suka sadar saat anak2 melakukannya, bagaimana mensiasatinya ya, agar anak mau nerima pengarahan qt yg jg sdg berproses berubah

Kedua, jika anak sudah lbh dr 7 thn dan pengaruh luar sudah banyak, apakah msh mudah diarahkan,  jika seandainya ortu terlambat utk mengarahkan dan menjadi the model yg seharusnya. Ada tips dan trik kah?

Jawab:

Bunda Helmi, Kita semua berproses. Namun, kita menjadi teladan (baik atau buruk) tidak bisa kita hindari. Bila kita belum sempurna menjadi orang tua, maka tidak perlu khawatir. Yang penting kita terus berusaha untuk menyempurnakna diri. Belajar Islam dengan sungguh-sungguh, kemudian mempraktekkannya, berusaha menjadi contoh yang baik dan berdo’a pada Allah swt. Yang penting adalah kita harus membersamai hidup anak-anak kita. Bukan hanya bersama secara fisik saja, tapi bersama dengan jiwa mereka. Kita musti keep in touch dengan bathin terdalam mereka. Kita harus berusaha memahami apa yang anak-anak pikirkan dan merasakan apa yang menjadi kegundahan mereka. Artinya, kita ada dalam hidup mereka. Dengan memahami apa yang sedang terjadi pada mereka maka kita akan tahu apa yang harus kita lakukan. Tidak ada kata terlambat, yang ada adalah kata seberapa cepat kita mau berubah menjadi lebih baik.

Alhamdulillahirobbil alamiin

Kita cukupkan Kulwap with Ustadz Nopri malam ini, semoga ilmu yang sudah di sampaikan bermanfaat bagi kita semua

Aamiinn ya robbal alamiinn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s