Kulwap: Raising Readers

Sayang kalau disimpan di bookmark WA, saya share ya..

🍂🍃Resume Kulwapp🍃🍂
Rabu, 5 Oktober 2016
Pk.10.20 – 12.20

“Raising Readers”
by Thasya Sugito
👩🏻 Profil Narasumber:

Thasya Sugito, Ibu dari tiga orang anak. Berlatar belakang pendidikan, ilmu komunikasi, dan psikologi yang kini menjalani keseharian sebagai IRT sekaligus konselor di Smart Talent –sebuah lembaga yang berfokus di bidang pengembangan diri, konsultansi pendidikan, dan juga evaluasi psikologis. Hal ini didasari oleh cintanya pada dunia psikologi pendidikan. Disinilah, ia berkesempatan berbagi ilmu dan bertemu dengan banyak orangtua di Indonesia (di Jawa, Sumatra, Kalimantan). Berbagi dengan mereka adalah hal yang membahagiakan baginya. Dari sini juga, ia semakin meyakini bahwa anak-anak adalah anugerah terbesar yang dimiliki setiap orangtua, dan betapa setiap anak adalah bintang di kehidupannya sendiri.

Founder dan owner Smart Talent Consultant ini, kini juga diamanahi sebagai Ketua Umum Islamic Parenting Community, serta Parenting dan Academic Advisor di Prime Smart Islamic Montessori School.

Cita-citanya adalah menjadi pribadi yang penuh manfaat untuk orang lain, serta dapat berkontribusi positif di dunia pendidikan dan parenting.
🖊Materi:

📕📗📘📙📕📗📘📙
Raising A Reader – Menumbuhkan Minat Baca Anak Sejak Dini
By. Thasya Sugito

Raising A Reader
Membaca adalah kebiasaan orang2 sukses. Bagi seorang muslim, membaca juga adalah perintah pertama yang Allah turunkan. IQRA’. Membaca dalam perintah Allah SWT tersebut bukan hanya membaca kertas-buku…namun juga membaca lingkungan, alam sekitar, perilaku orang lain, dll.
Untuk meyakinkan kita betapa pentingnya menumbuhkan kecintaan membaca sejak dini, mari kita lihat pointers berikut:
‼Mengapa Membaca Itu Penting‼
1. Membaca mengembangkan otak. Otak butuh ‘latihan’. Memahami bahasa tulisan, adalah salah satu cara untuk melatih otak
2. Kita hidup di era ‘banjir informasi’, sehingga bila kita tidak memiliki keterampilan membaca yang baik, akan sulit untuk memilah informasi serta mengedukasi diri
3. Membaca meningkatkan imajinasi
4. Membaca dapat meningkatkan kemampuan fokus dan konsentrasi
5. Membaca membantu diri mengembangkan self image yang baik
6. Membaca meningkatkan kosakata, sehingga dapat membantu juga meningkatkan kemampuan verbal
7. Meningkatkan daya ingat
8. Membaca itu MENCERDASKAN!

Karenanya tentu yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: “HOW TO RAISE A READER?”

Ceritanya, anak pertama saya (12thn), memiliki hobi membaca ensiklopedi, siroh nabawiyah, dll. Buku2 teks setebal 700-900 halaman dapat diselesaikan dalam waktu 2 hari saja. Secara sadar saya sadari bahwa hobi ini tidak serta merta hadir begitu saja. Maka izinkan saya berbagi dengan sahabat2 disini.

Apa saja ikhtiar saya dalam mengasuh anak menjadi pencinta buku:
1⃣ Jadilah TELADAN! MEMBACALAH!
2⃣ Sisihkan waktu setiap hari untuk membacakan buku/membaca bersama anak2 meski hanya 10-15mnt/hari
3⃣ Penuhi lingkungan anak dengan bahan bacaan bergizi dan bervariasi
4⃣ Jadwalkan ‘Family Reading Time’
5⃣ Jadikan membaca sebagai bagian integral aktivitas anak2 (misal: saat berjalan2, saat belanja, saat memasak, dll)
6⃣ Kembangkan kebiasaan ‘cinta perpustakaan’, bawa mereka mengunjungi perpustakaan lokal secara berkala. Ajarkan ‘library skill’ pada mereka
7⃣ Perhatikan perkembangan kemampuan membaca anak (pastikan buku yang dibacanya sesuai dengan perkembangan kemampuan membaca mereka)
8⃣ Pastikan anak tidak memiliki kesulitan/hambatan belajar membaca, bila ada, segera lakukan intervensi dini. Segera bantu ia mengatasi kesulitannya, agar membaca tidak menjadi momok baginya.
9⃣ Minta anak menceritakan bacaannya, dan bersikaplah antusias-positif saat anak menceritakan bacaannya.

Hasan al-Bashri berkata, “Sungguh saya telah berjumpa dengan beberapa orang, mereka lebih bersungguh-sungguh dalam menjaga waktu daripada kesungguhan kalian untuk mendapatkan dinar dan dirham.” (Syarhus Sunnah, juz: 14).
Hammam bin al-Haris berdoa, “Ya Allah, cukupkanlah diriku dengan sedikit tidur dan anugerahkan kepadaku bangun malam dalam ketaatan.” (Sifatus Shafwah, 3:22). Mungkin doa yang dipanjatkan Hammam ini tidak pernah terpikirkan di benak kita, bagaimana seseorang bisa terpikir berdoa kepada Allah agar dicukupi dengan sedikit tidur demi memanfaatkan waktunya untuk beribadah kepada Allah. Kita lebih sering meminta agar tidur kita pulas dan nyenyak dan tidak jarang tertinggal shalat subuh di masjid.
Ibnu Aqil al-Hanbali mengisahkan perjalanannya menuntut ilmu dan fokus terhadap apa yang ia cita-citakan sehingga ia menjadi seorang ulama yang terpandang. Beliau mengatakan, “Tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat saja dari umurku, tatkala lisanku telah membaca dan berdiskusi, mataku lelah membaca, maka aku menggunakan pikiranku dalam keadaan beristirahat dan berbaring. Sehingga aku berdiri dalam keadaan ide-ide yang banyak dalam benakku lalu, aku tuangkan ide tersebut dalam tulisan. Aku dapati kesungguhanku dalam belajar lebih kuat saat aku berusia 80 tahun dibanding waktu aku berumur 20 tahun.” (al-Muntadzim fi Tarikhil Umam, juz: 9).

Buibu…pasti pengen punya putra putri seperti ulama shalih terdahulu dong ya?
Rata-rata mereka menguasai banyak cabang ilmu dan unggul pada bbrp bidang sekaligus.
Kalau bahasa sundanya mah: kabita
Nah sepakat kan kl sumber ilmu itu salah satu nya buku?
Gimana sih bikin anak cinta ilmu, cinta buku?
Mari berbagi ^_^

Konon, M.Hatta sang proklamator mulai mengoleksi buku sejak berusia 17thn, dan pada saat menikah, maharnya adalah 17 peti buku..
Seorang Hasan Al Banna lain lagi.. Putra putrinya diberikan 3 jenis uang saku:
3 qirsy utk harian
10 ma’dain uang pekanan
50 qirsy utk bulanan
Yang paling banyak ini dialokasikan untuk apa?
Yaitu untuk beli buku dan mengisi perpustakaan pribadi anak2nya
Sekali lagi, yang pertama dan paling efektif tentu saja adalah: KETELADANAN.
Dari siapa? Tentu dari kita, orangtuanya.
Kenapa? Karena bila anak terbiasa melihat, akan lebih mudah menumbuhkan ketertarikannya pada bahan bacaan

📕📗📘📙📕📗📘📙
🎯 Tanya Jawab:

1⃣ Ulfah_Banut2
saya ulfah, ibu dari afnan (2y). Mau tanya teh.. 1) maksud menjadi teladan dalan “membaca” ini contoh teknisnya sperti apa ya? Apakah menunjukkan diri saat sedang membaca buku pada anak? 2) saat membaca buku biasanya afnan lebih fokus pada gambarnya, malah tak jarang ia mengomentari di luar konteks cerita & jadi cerita kemana2. bagaimana respon yg tepat menanggapinya? Hatur nuhuuun

1⃣
Teh Ulfah yang baik, menjadi teladan artinya mencontohkan, bukan menyuruh. Artinya, kita sebagai orangtuanya mencontohkan suka membaca, rajin membaca. Teknisnya di rumah saya, di setiap ruangan ada rak buku, dan kami (ortunya) hampir selalu bawa buku kemana2, sehingga kapanpun bisa membaca. Saat mereka sedang main, biasanya saya duduk disitu nemenin mereka sambil baca buku juga (meski gak fokus karena sambil nemenin main juga). Plus, saya punya jam membaca khusus bareng anak2. Alhamdulillah sekarang, semua anak saya ternyata menduplikasi tanpa diminta. Mereka jadi hobi membaca dan membuka buku, sejak mereka bahkan belum bisa membaca.
Afnan baru 2 tahun yaa….fokus pada gambar dan mengomentari itu tanda awal ia mulai tertarik membaca teh. Jadi, lanjutkan saja membaca bersamanya. Ikuti flow-nya Afnan… 😉

2⃣ Afina_Banut2
Teh Thasyaa, ikutan nanya..
1. Gimana ya caranya supaya anak kinestetik mau duduk baca (sebenernya belum tau persis dia memang kinestetik apa bukan karna baru 2,5 tahun, tapi anaknya ga bisa diem kecuali sedang nonton). Ya minimal dengerin pas ibunya baca. Ah sebenernya sih udah lama ga bacain ke anak. Karna lihat anaknya gak bisa diem, jadi sebenernya dia bisa sibuk sendiri. Dan sayah jadi males. Gimana teteh bikin program bacanya?

2. Gimana teh Thasya mencontohkan membaca di depan anak? Apa pas mereka main kita baca, atau pas gimana? Maaf ini teknis pisan pertanyaannya.

3. Oia berarti bacanya jangan dari hape yah? Kalo teteh gimana bisa tetep online tapi bisa tetep baca?
2⃣
Fina….hihi, kalau anak 2,5tahun diem aja ntar fina malah bingung lho 😄. Kalau teteh, sejak anak2 bayi emang suka aja baca di deket mereka, lama2 mereka jadi tertarik juga dengan bukunya. Lalu mulailah kasih mereka buku bantal, terus naik ke board book, dst. Jadi sebetulnya program utamanya bukan gimana supaya mereka membaca, tapi gimana supaya saya bisa membaca meski ditengah kehebohan sebagai Ibu. Dan ternyata efektif, mereka jadi kebawa seneng baca juga. Memang ternyata kuncinya: kitanya gak boleh males fin, haha…😄

Pertanyaan nmr 2 sudah terjawab di pertanyaannya teh Ulfah tadi ya🙂

Baca buku dan baca hape itu beda bangeet…hehe. kalau bacanya hape, ntar anak tertariknya ya sama hape 🙊.
Jadi tetap harus baca buku, meski ada ilmu yg kita dapatkan via HP juga. Kalau teteh, memang selalu punya target bacaan fin, jadi online ya disaat lain. Sekarang ini memang porsi online’an jadi lebih banyak dari sebelumnya, karena ada amanah2 yang harus dilakukan via online. Tapi target baca buku teteh alhamdulillah tetap tercapai dengan strategi2 tadi (baca sambil nemenin main, baca di kamar mandi, baca di jalan, baca pas antri sesuatu, dan baca pas me-time’an tengah malam) 😘

3⃣ Putri_Bansel
Teh Sya.. agak OOT sedikit, Saya suka baca, terutama fiksi. Dan kemampuan membaca Saya lumayan cepat. Buku setebal Harry Potter bisa Saya habiskan kurang lebih satu hari satu malam. Untuk buku non fiksi bisa memakan waktu lbh lama. Namun, terkadang Saya agak lama menangkap isi buku. Pertanyaannya adakah teknik baca cepat yang bisa dipraktekkan sendiri di rumah? Supaya lebih mudah menangkap/merangkum isi buku.

Hatur nuhun

3⃣
Hai Pu, setiap orang sesuai dengan modalitas/gaya belajarnya pasti punya cara masing2. Identifikasi dulu gaya belajar peoe, lalu gunakan teknik yang pas. Contohnya, teteh ini dominan auditori, maka kalau teteh baca buku yang agak berat, teteh suka bikin mind map2an (lebih tepat disebut coret2an sih) sambil ngomong sendiri (menjelaskan ke diri sendiri). Teknisnya, tth baca satu bab atau satu sub bab, terus coret2 sambil presentasi ringan ke diri sendiri. Untuk tth itu efektif.
Nah, peoe harus temukan dulu modalitas belajar peoe apa, baru cari metode yg paling tepat, ok? 😉


4⃣ Edwina_Banut2
1. Umur berapa seorang anak bisa diketahui terkena disleksia?
2. Anak saya seneng dibacain buku. Skrg sudah mulai mengenal angka dan huruf. Kadang menulisnya suka kebalik2 trs kalau menyebutkan angka suka ada yg kelewat. Kata gurunya itu krn konsep kanan kirinya blm konsisten. Tp kalau bisa dideteksi sedini mungkin, penanganannya jg bisa cepat. Umur 4th 8bln.

4⃣
Teh Edwina, sependek yang saya tahu, seorang anak mulai bisa didiagnosa mengidap dyslexia di usia 7 thn. Namun kita bisa melihat gejalanya pada usia preschooler /4-5thn (saat anak2 pada umumnya sudah pandai berbahasa). Betul, kita bisa bantu sejak dini, karena intervensinya paling efektif bila dilakukan dibawah usia 8thn.
Usia 4.8thn masih wajar kalau belum sempurna pengenalan huruf&angkanya teh. Yang harus lebih diperhatikan di usia ini adakah kemampuan berbahasanya. Karena dari situ biasanya tanda2 awal dyslexia terlihat. Semoga tetap semangat mendampingi anaknya ya teh 😘


5⃣ Niakuri_Banut1
Saya titip pertanyaan yaa kalau anaknya t tasya laki laki atau perempuan yaa? Pertanyaan saya sejak kapan yaa anak laki laki mulai sadar baca? Soalny anak anak saya lebih memilih aktivitas motorik kasar dibanding baca, mau sih baca tapi rasanya masih jauh dibandingkan anak perempuan. Kalau mendengarkan dongeng memang sudah dari sejak bayi dikenalkan buku dan cerita. Tapi mereka lebih memilih didongengin😄.

5⃣ Teh Nia yang keren….anak saya dua laki2 dan satu perempuan teh, hehe.. #info gak penting😄
Sejak kapan anak laki2 sadar baca? Saya belum pernah baca penelitiannya, tapi anak pertama (laki2) saya mulai hobi baca di usia 2thn-bisa baca di usia 4thn. Yang ketiga (laki2), hobi baca mulai usia 3thn, sekarang 4.5thn belum bisa baca tapi sudah sangat suka membaca. Yang perempuan, hobi baca mulai usia 3thn, hingga bisa baca di usia 5thn.

Mungkin, anak2 teh Nia mah karena ibunya jago banget ngedongeng, jadi mereka merasa lebih asyik didongengin ya….beda sama saya yang kemampuan mendongengnya standar..haha..😄😄

6⃣ Lely_banut 1
Teh tasya anak saya suka dibacain buku n suka pura2 baca sampai saya kewalahan nyuruh berhenti…pertanyaannya yang gak rutin baca itu adalah emaknya…waktu sdh habis untuk tugas domestik n tugas usaha snack dirumah. Jadi membaca butuh meluangkan waktu banget disela2. Mohon masukan teteh dalam membagi waktu.

6⃣ Hai teh Lely,
Membagi waktu utk membaca bagi kita sebagai IRT+MomPeneur emang gampang2 susah ya 😁

Saya pribadi, membaca yg betul2 fokus itu memang tengah malam & di kamar mandi teh 🙊. Itu me-time nya saya. Pagi-malam, karena bareng anak2, membacanya sekadarnya. Inti yang saya rasakan, selipkan saja di tengah2 aktivitas membersamai anak. 😘

7⃣ Anisa_banut1
Assalamualaikum teh sya, teh manik hatur nuhun udh diperbolehkan bertanya. To the point yaa 😁 anak saya laki2 usia 2,5thn yg ingin saya tanyakan buku bertema apakah yg cocok untuk dikenalkan pada anak seusia nya? Lalu apakah ada tingkatan pengenalan buku sesuai tahapan usia anak?
Nuhuunn sebelumnya teh sya 😘

7⃣ wa’alaykumussalam teh Anisa…untuk tema, yang paling pas adalah yang sesuai dengan tujuan pengasuhan kita.
Tingkatan pengenalan buku, ada teh:
Buku bantal/soft book – buku bertekstur – board book – dst, meningkat ke buku dewasa.

Untuk konten, mulai dari yang jumlah katanya sedikit dan didominasi gambar, sedikit2 meningkat ke buku yang lebih banyak katanya. 😊

8⃣ Vita _Banut1
👉🏽Teh Sya.. Bagaimana jika menghadapi gaya belajar anak (6 thn) yang cenderung auditory kinestetik, jadi dia lebih suka dibacakan buku2 daripada membaca sendiri. Padahal juga sudah lancar membaca sendiri teh 😁
Nhun.

8⃣
Teh Vita shalihah, qadarullah anak kedua saya auditori kinestetik, dan saya sendiri juga auditori banget.
Saya suka arahkan anak saya untuk bercerita ulang…itu cukup menantang untuk dia. Sehingga, saya bikin sesi presentasi sederhana untuk anak2. Mereka akan membaca, lalu menceritakan apa yang mereka baca. 😘

9⃣ Manik_banut1
Sejak kapan teh Thasya hobi membaca? apa yang menyebabkan teteh sangat suka membaca?

9⃣ Manik… 😁
Saya gak begitu ingat sejak kapan saya hobi membaca, tapi yang saya ingat…orang tua saya dulu suka ngajak saya beli buku bekas di cikapundung dan kadang2 di gramedia. Selain itu, dulu tempat usaha papa-mama saya tepat di samping gramedia merdeka, nah…setiap hari, saya suka ‘dititipkan’ di gramedia 🙈. Saya hanya pulang ke kantor papa saat jam makan, sisanya…saya keliling gramedia: membaca. Dulu buku2 disana gak diplastikin, jadi, saya bisa bebas ambil beberapa buku, lalu duduk di ruangan kasirnya untuk baca 😊. Begitu awalnya nik.. 😁

1⃣0⃣ Nirmala_Bansel
Td d jawaban pertanyaan no.4 ad kalimat bisa terlihat tanda awal dialeksia dr kemampuan berbahasanya? Apa aja tandanya?

1⃣0⃣ Nisa…tanda awal ini beragam, diantaranya:
– sering kebalik2 saat mengucapkan sebuah kata, misal: kaki jadi kika, Minum jadi munim, dst
– suka salah menyebut nama benda, misal: kita minta tolong ambilkan garpu, dia ambilkan sendok
– susah mengikuti perintah, contohnya: kita minta dia ambil jaket dan sepatu, tapi yang dia lakukan hanya ambil sepatu saja.

Ada banyak lagi…tapi, itu diantaranya nis 😊

1⃣1⃣Mira_banut1
1. Kedua anakku seneng baca. Tapi pada satu waktu buku2 itu d jadiin maenan rumah2n atau kereta2n. Gmn teh cara kasih tau nya? Usia yg pertama 4,5 th dan yg kedua 2,5 th.
2. Benarkah sakit step (kejang) dapat mempengaruhi kecerdasan seseorang? Kelas 6, ada yang belum mampu baca. Abjad hafal sampai huruf e. Setelah huruf e,, hanya tebak2n saja smpai z. Semua pelajaran yg sifatny kognitif itu low
1⃣1⃣ teh Mira..
1. Untuk anak usia 2.5 thn biasanya masih saya kasih board book, sehingga cukup aman dipakai bermain. Tapi tetap sambil di-sounding ‘bagaimana memperlakukan barang sesuai fungsinya’. 😉
2. Hmm, sependek yang saya tpelajari tentang kejang demam (kd) sederhana, KD itu ga menimbulkan komplikasi thdp ssp (susunan syaraf pusat). Memang tampak menakutkan, tapi sebetulnya tidak berbahaya. Jadi, setahu saya, tidak sampai mempengaruhi kecerdasan teh, cmiiw 😊

1⃣2⃣Edwina_Banut2
Teh ai pertanyaan lanjutan boleh?
Untuk bicara anak saya sudah lancar tp kadang kebalik2 misalnya dompet jd dempot, rapih jadi rapet, sulap jadi sit up 😅. Jd kadang penggunaan kosakatanya ga sesuai konteks. Wajar ga teh yg seperti itu di usia 4,8 thn?

1⃣2⃣ teh edwina…itu yang tadi saya bilang di jawaban utk pertanyaannya nirmala nisa. Tapi, sekali lagi…itu baru ‘kemungkinan’ gejala dyslexia, belum bisa dibilang terdiagnosa dyslexia 😊. Jadi… semangat saja mengarahkan dan menstimulusnya ya 😘

🌾🌾🌾 Sekian 🌾🌾🌾

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s