Tentang: Sabtu Bersama Bapak (Film)

Bismillahirrahmaanirrahiim

Naah, akhirnya, nonton juga si novel karya Adhitya Mulya ini. Siang tadi saya nonton bersama suami. Memang sudah kami rencanakan jauh hari untuk menonton film ini begitu tau kalau dibuat filmnya karena kita sama-sama baca novelnya. Sebelum filmnya rilis, sempat ada lomba menulis dengan tema ‘Sabtu Bersama Bapak’ ini. Tapi sayang, waktunya kurang pas buat saya, karena lagi banyak kerjaan. Jadi ya sudahlah.

Disutradarai oleh Monty Tiwa, film ini mendapat penilaian dari IMDB, ratenya 8.3 (per tanggal 9 Juli 2016 jam 23.12). Kalau dari saya?? Sebenarnya saya belum pernah ngasih penilaian terhadap film. Tapi saya coba ulas dari sisi yang saya ngerti aja ya. Oia, ini mah sekedar penilaian dari saya. Dari orang lain bisa berbeda lagi.

513940_620

Sumber gambar: m.tempo.co

Penilaian

Dengan dibuatnya film ini, merupakan sebuah prestasi yang bagus. Sebuah novel dengan berbagai nilai kebaikan di dalamnya. Tapi ya seperti film-film lainnya, yang mengangkat cerita dari novel, selalu tidak sebagus di bukunya. Tapi setidaknya cukup tergambarkan untuk satu buku Sabtu Bersama Bapak ini.

Pemilihan pemeran untuk novel ini, menurut saya banyak kurang pasnya. Pemeran utama cukup oke, tapi pemeran pendukungnya kurang greget. Padahal pemeran pendukung ini juga bikin suasana tambah menarik sebenarnya. Misalnya karakter Miku dan Ryan anaknya Satya dan Risa. Agak kurang menguasai panggung dramanya, meskipun secara lisan mereka hafal dan dapat mengucapkan percakapan dengan baik. Karakter keduanya juga kurang ‘mirip’? mungkin bisa dicari yang agak-agak mirip sama perawakan bapak ibunya gitu.

Alur ceritanya, cukup oke, meskipun terkesan dikejar waktu untuk sekali tayang. Mungkin kalau dibuat 2 episode atau 3 jam (haha mana mau atuh produsernya), bisa lebih dramatis sedikit lagilah. Momen-momennya kurang menggigit. Walaupun sih sebenarnya saya berurai air mata berkali-kali sepanjang film. hehe. Ada beberapa cerita yang tidak sejalan dan baru muncul di film yaitu momen anaknya Satya dan Risa diculik. Mungkin tujuannya biar bisa memuncakkan emosi Satya ke Risa.

Untuk nilai-nilai yang diangkat, ini juga kurang ditekankan. Kayanya cerita Laskar Pelangi, nilai-nilainya lebih terasa saat adegan-adegannya walaupun tidak diungkapkan. Nilai-nilai parenting sebenarnya bisa masuk di film ini lebih banyak, supaya bisa memberikan pesan lebih banyak lagi buat penonton. Kurang cocok menonton dengan anak di bawah umur dan yang belum menikah, soalnya ada kiss-kiss nyah. ya walaupun di dalam cerita, itu adegan suami kepada istri, tapi teuteup weh menurut saya mah kurang pas. Padahal gak mesti ada gitunya juga bisa keren kok.

Sesuai novelnya, jalan cerita yang lebih membuat saya tertarik adalah adegan Cakra. Okelah untuk pemeran Cakra dan jalan ceritanya.

Keseluruhan penilaian, saya pikir so far so good, untuk mengisi waktu liburan, mengisi ingatan bahwa dalam hidup gak selalu berjalan mulus. Gak semua sesuai rencana. Manusia yang berencana Allah yang menentukan, jadi ya gimana Allah aja kan. Untuk film ini saya nilai bagus. Sekian review dari saya.

Bagi yang mau baca review novel yang saya buat, dimana saya ceritakan beberapa percakapan pentingnya, ada di tautan postingan Tentang: Sabtu Bersama Bapak (Novel).

3 thoughts on “Tentang: Sabtu Bersama Bapak (Film)

  1. Begitulah kalau sudah baca novelnya, pasti novelnya lebih bagus. Kalau film ini saya tahunya si Abimana ternyata gak pernah ketemu bapak kandung sebelum film ini mau keluar. Udah itu aja🙂 thanks for sharing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s