Toilet dan Mushola Mall

#odopfor99days #day88
Bismillahirrahmanirrahim

Suatu hari saya pergi ke emol sama temen saya yg kece badai (bos sih sebenernya). Doi ngajak saya jalan-jalan dan makan. Ketika tiba waktunya solat, saya pun mencari mushola terdekat. Apakah di lantai 1, 2, 3 atau basement, atau rooftop??

Saya mau menilai beberapa mushola dan toilet dari beberapa emol. Ga perlu saya sebutkan merk emolnya kan ya. Yang rajin solat mah tau kok.

1. Lokasi mushola di basement
Sangat tidak nyaman, apalagi kalau terbuka dan langsung menyatu dengan parkir kendaraan. Ditambah dengan luasnya yang tidak memadai. Kalo lagi penuh. Mau masuk musholanya juga ngantri.
2. Mushola tiap lantai tapi sempit dan terbuka
Bagus ya menyediakan di setiap lantai. Tapi tetep aja kecil minil, terbuka, tempat wudhu dan solat satu area. Jadi kalau penuh ya penuuhh banget. Eh tapi sudah dipindah musholanya, tapi tetap terbuka deh.
Terbuka? Apa salahnya terbuka? Bagus banget kalo bisa terbuka tapi tetap beratap. Hanya saja, para wanita butuh privasi dari para pria wahai para desainer. Kalau buka kerudung, benerin kerudung, dandan, dan sebagainya, harus jangan terlihat umum dan terlihat sama lawan jenis.
3. Ada mushola yang enak juga sih tapi area basah dan keringnya kurang tepat. Jadi kadang kaki basah-basahan masuk mushola naik karpet. Jadi karpetnya bau deh. Metode pengeringan??
4. Mushola enak sih, tapi pintu keluar masuknya barengan sama lawan jenis juga dan kayak gang. Padettt.
5. Mushola enak, tempat wudhunya bareng sama wc. Waduh, najis gak itu ya.
Masih banyak kasus mushola yang lain.

M U S H O L A
Ada yang menarik dari mushola nya sebuah mall, yang baru. Dia terpisah antara toilet dan mushola sekaligus tempat wudhunya. Ini pembagian zona yang baik. Sehingga meminimalisir adanya najis kesana kemari dari wc ke tempat wudhu. Lantai 1, tempat wudhu. Masih agak terbuka nih. Mungkin di bagian wanita bisa dikasih kaca riben atau kisi-kisi menarik. Untuk pria oke aja nampaknya.

Lantai 2, tempat sholat wanita. Tempatnya enak juga. Hanya saja kaca yang besar ke arah luar jadi mengurangi privasi wanita. Tapi masih ada tempat nyempil buat benerin kerudung, dan lain sebagainya. Dengan kaca yang besarr sekali, sangat memudahkan wanita untuk berkaca. Kebutuhan wanita banget ini.

Lantai 3, tempat solat pria. Saya gak ke atas. Tapi dengan seperti ini, pembagian zonasi juga bagus. Mungkin tangga akses ke lantai 3 bisa ditutup sesuatu supaya gak bisa lihat ke mushola wanita.

Kedua mushola tersambung di bagian kiblat dengan hiasan keramik bertuliskan Allah dengan huruf arab. Tapi jadi agak sulit ya kalau mau berjamaah hehe. Tapi no problem, kan bisa di mushola masing-masing berjamaahnya.

Alangkah lebih baik kalau emol yang besar itu, punya masjid ya. Karena kalau lagi jam jumatan, bisa memudahkan karyawan maupun pengunjungnya. Dan pastinya akan bernilai plus. Pengunjung jadi nyaman. Minimalnya berkapasitas 40 orang (minimal jumlah orang jumatan). Syukur-syukur lebih. Mungkin disesuaikan dengan kapasitas emol juga.

T O I L E T
Nah ini nih penting nih. Sekarang ini kebanyakan emol menggunakan toilet duduk yang tidak ada showernya, eh apa ya, shower spray kayaknya. Kalo gak salah bilangnya eco wash?? Katanya sih, penemuan eco wash ini jadi paperless (ga usah pake tisu) dan dry posterior karena gak ada air yang ‘tumpah’ di lantai.

Buat yang belum tau, kalau kita mau membersihkan area vital setelah BAK ataupun BAB, harus dari depan ke belakang arahnya. Supaya tidak ada kuman yang masuk ke tubuh. Jadi bukankah toilet eco wash itu jadi berlawanan?? Nyiramnya dari belakang ke depan. Jadi lebih baik yang ada shower spraynya kan?

article-1160707-03cd2b36000005dc-856_468x316

Paperless and dry posterior toilet. Sumber: dailymail.co.uk

252

handheld bidet for toilet. Sumber: faucetsinhome.com

Walaupun jadi banjir-banjir di toilet dan basah lantainya, ya kan ada yang suka bersihin toilet kan?? Tapi seharusnya kesadaran masing-masing pengguna toilet lebih tepatnya.

Jadi inti dari postingan ini adalah untuk para desainer mall, atau tempat umum lainnya, yang ingin mendesain mushola dan toilet, harap diperhatikan NAJISnya, keprivasian, kenyamanan, sirkulasi udara baik, dan rapih. So, sudah semestinya yang mendesain sangat mengerti hukum NAJIS.

Berikut ini ada sedikit ulasan juga tentang mushola di mall, mba imunita, saya ijin taruh link tulisannya ya. Mushola Mall di Bandung.

 

One thought on “Toilet dan Mushola Mall

  1. Pingback: Lebih pantas disebut ‘Curhat Kelulusan’ | brightsightrads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s