Nak, Yuk Shalat (bagian 1)

#odopfor99days #day85

Bismillahirrahmaanirrahiim

Orangtua sangat berharap anaknya menjadi sholeh dan sholihah. Shalat sebagai tiang agama, dan merupakan amal pertama yang akan dihisab, juga harus diajarkan sedini mungkin. Agar merasuk ke jiwanya, dan mereka bisa menikmatinya. Kadang sebagai orangtua terlalu sibuk mengajarkan keduniawian, sampai lupa mengajarkan shalat. Kita memilih agar anak bisa menyanyi, menari, membaca, menulis. Tapi lupa mengajarkan shalat. Astaghfirullah. Tulisan berikut ini sebagai pengingat bagi diri saya sendiri. Semoga bermanfaat.

Mengajarkan shalat pada anak

🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 23 Rajab 1437H / 30 April 2016M
📝 Materi Tematik | Nak, Yuk Shalāt ! (Bagian 1)

〰〰〰〰〰〰〰

NAK, YUK SHALĀT ! (BAGIAN 1)

Salah satu kewajiban orang tua kepada anak adalah mengajarkan agama sejak mereka masih kecil.

Memerintahkan apa yang Allāh perintahkan dan mencegah mereka dari apa yang Allāh larang, sebagaimana firmanNya:

ياأيها الذين أمنوا قو انفسكم وأهليكم نارا وقودها الناس و الحجارة

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari (siksa) neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS At Tahrim: 6)

⇒ Salah satu perintah yang paling penting dalam agama ini adalah shalāt.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda dalam hadīts Mu’ādz bin Jabbal :

رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ

“Pokok agama ini adalah Islam dan tiangnya adalah shalāt” (Arbain Nawawi: 29)

⇒ Shalāt merupakan ibadah yang sangat agung dalam agama Islam.

Banyak sekali dalīl dari Al Qurān dan Sunnah yang menjelaskan kedudukan shalāt yang sangat tinggi dalam Islam.

Rasulullah bersabda yang artinya:

“Perjanjian antara kita dan mereka (orang Munāfiq) adalah shalāt. Barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia telah kāfir”.

Oleh karena itu, Allāh dan Rasūl-Nya secara terang-terangan memerintahkan setiap orang tua untuk menyuruh anaknya mengerjakan shalāt.

Allāh berfirman :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalāt dan bersabarlah (dalam mengerjakannya), Kami tidak meminta rizki darimu, (tetapi) Kamilah yang memberimu rizki”. (QS Thāhā: 132)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مُروا أولادكم بالصلاة لسبع سنين واضربوهم عليها لعشر

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalāt ketika berusia 7 tahun, dan pukullah mereka (jika tidak shalāt ) pada umur 10 tahun”

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan:

من كان عنده صغير مملوك أو يتيم ، أو ولد ؛ فلم يأمُره بالصلاة ، فإنه يعاقب الكبير إذا لم يأمر الصغير، ويُعَــزَّر الكبير على ذلك تعزيراً بليغا، لأنه عصى اللهَ ورسول

“Barangsiapa yang memiliki budak kecil, atau anak yatim, atau anak laki-laki dan tidak memerintahkan shalāt, maka ia dihukum, apabila tidak memerintahkan anak kecilnya (untuk shalāt), dengan hukuman yang keras, karena ia telah bermaksiat kepada Allāh dan Rasūl-Nya.”

Pada prakteknya, memerintahkan anak untuk mendirikan shalāt bukanlah hal yang mudah, sebab, anak bukanlah robot yang selalu menuruti perintah kita, atau adonan yang dapat kita bentuk-bentuk semau kita.

Anak tetaplah manusia dengan sifat dasar dan watak yang berbeda-beda, serta mudah terpengaruh oleh lingkungan.

Perlakuan pada anak yang satu tidak bisa serta merta diterapkan pada anak yang lain. Karena itu, bukanlah jaminan apabila seorang anak senantiasa melihat orang tuanya mengerjakan shalāt kemudian ia juga akan rajin mengerjakan shalāt.

Akan tetapi, tergantung bagaimana orang tua itu memerintahkan anaknya untuk shalāt.

Memerintahkan shalāt kepada anak membutuhkan :

↝ Azzam yang kuat
↝ Ketelatenan
↝ Ilmu dan seni berinteraksi dengan anak.

Bentakan dan pukulan tidak akan menyelesaikan masalah dan tidak akan membuat anak mencintai shalāt sebaliknya hanya membuat anak terpaksa menjalankan shalāt.

Setelah semua itu, selanjutnya adalah bersabar.

Bersabar ketika anak tidak serta merta mengerjakan shalāt, bersabar dengan kebandelan anak, juga bersabar untuk istiqamah dalam memerintah.

Bersabar, karena kita sedang meniti jalan Allāh.

Bersabar, karena beberapa hal berikut:

⑴ Allāh dan Rasūl-Nya lah yang memerintahkan kita untuk melaksanakan hal ini.

⑵ Anak-anak adalah amanah dari Allāh yang wajib kita jaga.

Bila Ia yang telah memberi amanah menyuruh kita untuk memerintahkan anak-anak kita mengerjakan shalāt, maka sudahkah kita memelihara amanah apabila kita mengabaikan hal tersebut?

⑶ Shalāt adalah penghubung antara hamba dan Rabbnya, maka bagaimana kita akan merasa aman terhadap anak kita sepeninggal kita nanti, apabila ia tidak menjaga hubungan antara dirinya dan Rabbnya?

⑷ Apabila kita merasa takut akan kesengsaraan anak kita di dunia, maka tidakkah kita takut akan kesengsaraan mereka di akhirat?

⇒ Tidakkah kita merasa ngeri apabila mereka dimasukkan ke neraka saqar yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang meninggalkan shalāt?

⑸ Shalāt mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka bila kita ingin anak kita terhindar dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, yang paling penting kita lakukan adalah memerintahkan mereka untuk mendirikan shalāt.

Selain itu, sepantasnya kita banyak mencari ilmu tentang cara-cara mengajarkan shalāt kepada anak, baik dengan membaca atau banyak bertanya kepada orang-orang yang berhasil mendidik anak mereka.

⇒ Tanpa ilmu, kita akan terjebak dalam kesulitan, yang bisa jadi, membuat kita putus asa di tengah jalan, atau mengambil tindakan yang tidak tepat.

⇒ Sebaliknya, dengan ilmu, suatu usaha menjadi lebih mudah dan lebih cepat, biidznillāh.

Beberapa hal yang dapat memudahkan kita dalam mendidik anak melaksanakan shalāt adalah:

① Semakin dini kita memulai memerintahkan shalāt, maka akan semakin mudah.

② Memerintah shalāt dimulai sejak anak pertama, karena anak pertama inilah yang akan menjadi contoh bagi adik-adiknya. Bila anak pertama mengerjakan hal-hal yang kita perintahkan, maka adik-adiknya cenderung melakukan hal yang sama.

③ Mengingat pahala yang akan kita dapat dari Allāh, karena selain kita akan mendapat pahala mengajari mereka shalāt, kita juga akan senantiasa mendapatkan pahala shalāt mereka, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, seperti sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam :

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang mengajak orang kepada kebaikan, ia akan mendapat pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka (orang yang mengamalkan itu) sedikitpun.” (HR Muslim 2674)

④ Merendahkan diri di hadapan Allāh dan selalu meminta pertolonganNya dalam melaksanakan hal ini, serta tidak menyandarkan keberhasilan pada usaha kita, dengan memperbanyak doa :

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Yā Allāh jadikanlah aku orang yang mendirikan shalāt dan dari keturunanku. Yā Rabb kami, Engkaulah yang Maha Mengabulkan do’a-do’a.” (QS Ibrāhim: 40)

⑤ Menyebutkan nama-namaNya yang baik dan sifat-sifatNya yang tinggi,ketika berdo’a agar anak kita mendirikan shalāt, terutama dengan namaNya Yaa Dzal Jalaali wal Ikraam, karena Rasūlullāh bersabda yang artinya:

“Perbanyaklah berdo’a dengan Yaa Dzal Jalaali wal Ikraam”. (HR Tirmidzi 3525)

⑥ Jangan berputus asa dari rahmat Allāh, ingatlah bahwa Allāh Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan pertolongan Allāh akan datang dari arah yang tidak kita sangka. Dia Yang Menjadikan anak kita dari tidak ada dan menyempurnakan bentuk dan rupanya, Dia juga lah yang akan menjadikan mereka manusia-manusia shālih yang mendirikan shalāt , selama kita senantiasa berjihad di jalanNya..

[Bersambung ke Bagian 2]

Disarikan dari kutaib berjudul “Kaifa Nuhabbibus Sholah li Abnāinā”, ar-islamway.net

Ummu Sholih, di Madinatu Qur’an, Jonggol
_____________________________
📦Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

📮Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com

Artikel lanjutannya silahkan klik Nak, Yuk Shalat (bagian 2)

 

2 thoughts on “Nak, Yuk Shalat (bagian 1)

  1. Pingback: Nak, Yuk Shalat (bagian 2) | brightsightrads

  2. Pingback: Lebih pantas disebut ‘Curhat Kelulusan’ | brightsightrads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s