Tentang: Sabtu Bersama Bapak (Novel)

#odopfor99days #day79
Bismillahirrahmanirrahim

Ada yang belum baca bukunya? Ayo cepetan baca, sebentar lagi main di bioskop. Kabarnya sekitar lebaran 2016. Saya juga baru baca sih, padahal terbit perdananya Juni 2014. Sebagai warga Indonesia, kita harus mendukung film anak bangsa. Supaya kita bangga sebagai warga Indonesia. Apalagi film ini dari buku laris manis karyanya Adhitya Mulya. Buku bergenre novel ini bercerita tentang peran ayah dalam kehidupan. Bagaimana ayah mendidik kedua anaknya hanya tatap muka melalui video seminggu sekali. Setiap hari sabtu.

Adhitya Mulya menggambarkan bahwa sang ayah yang umurnya bersisa 2 x 360 hari itu, memiliki perencanaan yang sangat matang untuk keluarganya. Tabungan dan asuransi untuk anaknya. Tabungan untuk istrinya. Video untuk anak-anak nya sampai mereka menikah.

Mendidik anak melalui video. Bagaimana ya? Saya kebayangnya, sang ayah bikin outline video. Hari ini apa, besok apa, lusa apa. Yaa itu masih fiksi ya. Kalau kenyataan, mungkin harus dijadwalkan. Hehe

Terdapat enam tokoh utama dalam novel yang diterbitkan oleh penerbit Gagas Media ini yaitu Pak Gunawan dan Ibu Itje, kedua anaknya yaitu Satya dan Cakra, ditambah Rissa istrinya Satya dan Ayu gebetan serta calon istri Cakra. Bahasa yang ditumpahkan dalam novel ini cukup enak untuk dinikmati.

Menurut saya, pribadi Cakra digambarkan lebih bagus karakternya dan kehidupannya dibanding kakaknya Satya. Jauh sebelum dia menikah, dia sudah mempersiapkan segalanya. Beda dengan Satya, yang mempunyai pengalaman agak kurang baik, tapi dalamnya diceritakan memiliki karakter kuat serta motivasi tinggi dalam perbaikan dirinya menjadi lebih baik terutama sebagai seorang ayah dan suami.

Nilai-nilai yang diceritakan juga baik diantaranya:

1. Berbakti kepada ibu (orangtua)

2. Jangan membela yang salah

3. Tidak merepotkan orang lain

4. Perencanaan matang dalam hidup

5. Be a good man for your wife

Dan masih ada nilai lainnya, yang bisa kita gali lebih banyak.

Berikut percakapan yang saya suka di dalam novel ini:
1. Cuplikan Video Bapak

“Bukan berarti seseorang harus kaya dulu sebelum nikah. Tapi kalian harus punya rencana. Punya persiapan.
Sejak itu, Bapak selalu punya rencana.
Rencana untuk kita semua. Bahkan kanker ini pun, Bapka siap. Bapak punya rencana.
Menikah itu banyak tanggung jawabnya.
Rencanakan.
Rencanakan untuk kalian.
Rencanakan untuk anak-anak kalian.
Semoga cerita ini membuat kalian menjadi bapak yang lebih baik untuk anak kalian.
Bapak sayang kalian.”

Komentar:
Ini kata-kata pak Gunawan yang ngena buat saya. Suka lupa perencanaan dalam beberapa hal penting. Harus diingat terus.

2. Cuplikan percakapan Ibu Itje, Satya dan Cakra.

“Kita udah bahas ini berkali-kali. Kalian ingin support Mamah. Nyatanya Mamah juga mampu, kok. Malah, lebih mampu dari kalian.”
Mereka terdiam. Yang satu ini, sang Ibu memang benar. Pemilik 8 rumah makan memang berpenghasilan lebih besar dari oil engineer yang expat di luar negeri sekali pun. Atau bankir di bank asing.
“Di budaya kita, anak membantu orangtua,” ujar si Bungsu. Si sulung mengangguk setuju.
“Dan di keluarga kita, kita gak nyusahin orang lain.” Sang Ibu menatap mereka. “Waktu kecil kalian gak nusahin Mamah. Sekarang Mamah, gak nyusahin kalian.” Dia kembali menggendong cucunya.

Komentar:
Jadi ibu single fighter gini aja keren, bisa punya 8 rumah makan. Yah walaupun cuma cerita. Usaha seorang ibu untuk mandiri dan tidak menyusahkan orang lain, merupakan suatu tindakan yang sangat diacungi jempol. Yuk ah, belajar mandiri.

3. Videocam Satya dan Rissa, ceritanya LDM (Long Distance Marriage)

“Kakang jadinya kapan pulang?”
“Hihi, baru juga nyampe. Kangen ya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Kok, nanya kenapa?”
“….”
“Soalnya kamu kemarin beda.”
“Beda gimana?”
Better.”
Satya tersenyum
“Nanti kalau pulang mau dimasakin apa?”
“Apa aja, deh.”
“Tapi dimakan, ya”
“Iya. Saya makan apa aja. Selama dessert-nya kamu.”
“Hiih! Otak me**m!”
“Haha. OK. Sekarang udah waktunya saya ngomong sama anak-anak. Saya tutup window kamu, ya. Ryan udah send invitation dari komputer di kamarnya, nih. Udah halo-halo dari tadi.”
“Iya, dari kamar sini juga kedengeran.”
“OK, Say. Bye. Love you.”
Love you too.”

Komentar:
Hehe, mengingatkan kalo lagi jauh aja sih ini mah.🙂

3. Percakapan Cakra dan Ayu saat blind date.

“Kamu cantik. Lebih… bersinar dari biasanya.”
“Thanks.”
Ada hening mengudara.
“Kok… Retna?” tanya Cakra.
“Nama kecil. Kan nama panjangku, Ayu Retnaningtyas.”
Cakra mengangguk terdiam.
“Kata ibu saya, Retna ini highly recommended.”
“Kata ibu saya, Saka ini juga.”
Mereka terdiam lama. Mereka saling tatap. Mereka menahan tawa. Akhirnya Cakra dan Ayu tertawa bersama.
“Kok, bisaaa ya….” Cakra garuk-garuk kepala.
“Iya, aneh,” ujar Ayu.
“Sumpah gak ngira. Soalnya fotonya aja gak ada. Nomer kontak baru dikasih tadi.”
“Iya, sama.”
“….”
You owe me an explanation,” ujar Ayu.
“Untuk?”
“Mas kan udah ngajakin aku jadi pacar. Kenapa Mas setuju untuk blind date juga?”
“Owh… eh iya, ya.” Cakra mengubah sikap duduknya.
“Hehehe… jujur, saya tahu saya gak mendekati kamu dengan baik.”
“….”
“Kayaknya saya salah kasih impresi.”
“….”
“Saya bilang sama Ibu saya, kayaknya saya gak ada harapan sama Ayu ini. Abisnya gak nunjukkin tanda apa-apa gitu. Padahal saya suka banget sama Ayu ini. Di sisi lain, Ibu saya sudah lama ingin mengenalkan saya pada anak dari teman-teman dia. Ya, sudahlah.”
Ayu tersenyum dan mengangguk. “Mas ngerasa sama aku kemarin gak ada harapan?”
“Oh, come on. Memangnya ada?”
Ayu terdiam tidak menjawab.
“Eh, sebentar! Kamu lebih parah. Udah ada dua orang yang ngajakin kamu pacaran. Kamu sendiri ngapain masih mau dikenalin?”
“Aku… aku orangnya gak enak nolak Ibu.”
“Alhamdulillah,” ujar Cakra.
Ayu tertawa.
OK. I promise you one thing,” ujar Cakra.
“Apa tuh?”
Cakra menunjukkan dua tiket tur Wisata Kota Tua.
I’m going to make your day.”

Komentar:
Entah gimana, saya merasa percakapan ini akan menjadi percakapan dua insan yang bikin dag dig dug. Berbunga-bunga. Senyum-senyum. Soalnya saya aja bacanya senyum-senyum sendiri. Jadi inget pas taaruf juga, yang banyaaak cerita di baliknya.

Nah kan, seru kan? Yuk bersiap nonton filmnya. Saya kasih lagilah poster film dan juga trailer-nya.

poster-film-sabtu-bersama-bapak

Poster film dari movie.co.id

Kalau dari trailernya, kelihatannya sedih ya ceritanya. Tapi entah saya lebih menikmati cerita Cakra yang bikin saya ketawa dan senyum-senyum. hehe. Tapi tetep sih ada hujan air mata.

Selamat membaca buat yang belum, selamat menunggu filmnya buat semua.🙂

Thanks to Adhitya Mulya.

 

2 thoughts on “Tentang: Sabtu Bersama Bapak (Novel)

  1. Pingback: Lebih pantas disebut ‘Curhat Kelulusan’ | brightsightrads

  2. Pingback: Tentang: Sabtu Bersama Bapak (Film) | brightsightrads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s