Mindfulness-nya Para Ibu

#odopfor99days #day71

Bismillahirrahmaanirrahiim

mindfulness mom.jpg

Alhamdulillah, sudah menginjak 5 posting PeeR odop. Ide cerita udah banyak bermunculan dari minggu lalu sebenarnya. Tapi apa daya tangan tak sampai, mata tak melek, badan pun tak tegak alias bobok (capek udah kerja pulangnya sama anak). Ataukah itu hanya alasan? Hehe

Hutang ini berawal ketika hari senin lalu, saya ingat punya tulisan yang belum dirampungkan untuk publish. Biasanya saya sempatkan saja saat di kantor untuk bisa menulis dan post it. Tapi senin lalu, saya merasa harus fokus dengan pekerjaan saya. Di samping memang sedang dikejar deadline yang gak ada habisnya, tapi entah kenapa saya juga merasa sedang ingin berpikir untuk pekerjaan. Oya, ada alasan lain sih kenapa saya berhenti dulu menulis. Hari Rabu lalu, saya menempati meja baru dengan PC server. Kenapa? Karena saya merasa kurang produktif bekerja dengan laptop. Mungkin koneksi dari server ke laptopnya agak bermasalah, atau entah kenapa. Jadi saya bekerja di ruang satu lagi bersama para junior. Aish, malu dong kalau saya kerja sambil buka ini dan itu. Soalnya di ruangan ini layout mejanya seperti di warnet, berjajar samping-sampingan.

Maka saya berhenti dulu dari menulis ini. Walaupun sebenernya ide-ide udah pada ketok pintu, saya mau tulis ini, itu, dan seterusnya. Kefokusan saya berlangsung sampai hari ini tadi. Alhamdulillah, kerjaan lebih lancar, komunikasi dengan adik junior juga lebih intensif, saya pun lebih fokus berpikir.

Mindfulness Para Ibu

Kebetulan hari ini, bahkan malam ini alias barusan, ada kulwap di IIP BANUT bersama mas Adjie Silarus dengan mindfulness-nya. Dua hari lalu, saya sudah japri pertanyaan ke teh Uput. Rupanya jawaban dari mas Adjie cukup mencelongkan hati saya. Berikut pertanyaan saya dan jawaban dari beliau.

Pertanyaan ke-5 dalam kulwap:

a.Mas Adjie, sebagaimana diketahui bersama kalau kerjaan ibu2 itu selangit. Ditambah yang ibu bekerja. Untuk melakukan mindfulness memang tidak mudah. Pasti lagi apa kepikiran apa. Gitu terus. Dan tetap si pekerjaan selangit itu belum turun juga jadi setengah langit. Bagaimana tipsnya melakukan pekerjaan dg fokus, tapi dalam sehari bisa sangat efektif.

b.Pertanyaan kedua, pasti mas adjie sudah punya jadwal dengan mindfulnessnya kan? Boleh dong di-share jadwal kesehariannya dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Terimakasih

Jawaban 5a:

Cukup sering saya dapat pertanyaan serupa ☺ Tapi saya pun salut dengan ibu-ibu yang tangguh hadapi kerjaan selangit.

Mindfulness bisa membantu. Tipsnya adalah dengan menilai apakah pekerjaan selangit itu semuanya memang benar-benar penting. Atau ada kegiatan-kegiatan yang sebenarnya bisa dikurangi. Tidak akan bisa fokus dan efektif kalau dalam sehari terlalu banyak kegiatannya.

Di sini perlu kemampuan untuk ikhlas merelakan pergi kegiatan-kegiatan yang tidak benar-benar penting, mengikhlaskan kegiatan-kegiatan yang hanya memuaskan keinginan.

Kalau perlu ditulis setiap hari dalam bentuk daftar. Istilah saya, MIT, Most Important Task.

Jawaban 5b:

Latihan dasar mindfulness ada 4:

duduk hening: Duduk hening saya lakukan pagi hari sebelum melakukan rutinitas yang lain, selama 20 menit.

makan sadar: Makan sadar kalau ga pas sarapan, ya makan siang, atau malam. Lebih sering pas sarapan.

gerak sadar: Gerak sadar biasanya saya jalan kaki pagi, atau yoga.

fokus berkarya: Latihan fokus berkarya saya lakukan sepanjang hari.

Tidak selalu mindful, adakalanya ga mindful, namanya juga latihan ☺

Baiklah, dari jawaban itu, saya mengambil beberapa pelajaran yang perlu ibu-ibu sekalian pahami dan mengerti (semoga saya juga paham dan mengerti serta melaksanakan):

  • Prioritas untuk FOKUS

Memiliki prioritas adalah penting. Maka sebagai ibu juga harus punya prioritas. Ketika ngasuh anak atau mencuci baju, ketika ada suami mau makan menemaninya atau membaca buku, dan contoh lainnya. Intinya sih bagaimana kita memilih, dan pilihan ini harus dengan bijak dan sesuai dengan kita. Jangan selalu dibandingkan dengan keluarga lain, karena kita tidak sama. (Gak sama lo Fin *talktomyself)

  • Ikhlas dalam memilih prioritas

Ikhlas ini memang ilmu yang luar biasa kita harus sering berlatih. Setiap hal dan langkah kita bisa menjadi latihan untuk ikhlas. Bangun tidur kepagian karena anak udah bangun, ikhlaslah, tidur kemaleman karena suami baru pulang, ikhlaslah, masak tapi ga laku, ikhlaslah hehe, macet di jalan, ikhlaslah, ada orang yang berkendara tidak sesuai dengan aturan dan mengganggu kita, ya ikhlaslah, kerjaan rumah ga beres tapi suami minta tolong bantuin kerjaannya, ikhlaslah. Dengan ikhlas hati menjadi tenang. *talktomyself *talktomyself *talktomyself

Dulu anak saya jam tidurnya teratur sekali. Tapi seiring berjalan, ternyata tidurnya gak selalu di jam itu. Jadilah saya kesal, “dooh, kenapa sih ga tidur-tidur”. Alhasil saya nemenin sambil kecewa. Padahal ya kalau inget Aagym dulu pernah ceramah bilang gini, “Kalau Allah belum ngasih kita kehendakNya untuk punya rumah, ya berarti rumah itu bukan rejeki kita. Gak perlu jadi kecewa karena rumahnya sudah kebeli sama orang lain. Mungkin Allah mau ngasih yang lebih baik lagi.” Ah memang ya, Allah rupanya belum mengijinkan sang anak tidur sekarang, jadi ya sudah terima aja. Ajak main seru-seruan aja, atau ajak main yang bikin dia capek biar cepet tidur hehe. Ya lumayan, saya sekarang ga pernah kesel lagi kalau anak belum tidur. Cuma sayanya yang gak kuat nemenin, kadang nemenin sambil tidur.

Jangan dikira kita ini sendiri. Kalau kata teh Ninih, libatkan Allah. Emang kalau yang satu ini saya harus lebih banyak belajar. Belajar melibatkan Allah di setiap kesempatan. Melibatkan di sini adalah menghadirkan Allah. Dulu dicontohkannya adalah ketika membaca Al-quran. Hadirkan Allah. Bayangkan yang hadir adalah pencipta kita. Maka kita harus mempersiapkan segalanya dengan baik. Kalau ketemu dosen atau klien aja, persiapan kita jauh hari dan memberikan yang terbaik supaya luluh. Nah ini sama Allah yang Maha Pemberi, yang Maha Pengasih dan Penyayang. Teori ikhlas ini udah ada di kepala saya, tapi ternyata sulit juga untuk menerapkannya. Mari kita sama-sama belajar.

  • Happy (tambahan teori hasil baca)

Happy ini bukan dari jawabannya mas Adjie sih. Tapi dari surat elektronik langganan dari mas Adjie. Bahwa kita harus sadar penuh hadir utuh di sini-kini (mindfulness). Maka kita fokus dengan saat ini. Kita sedang makan, nikmati makan, kita sedang baca whatsapp, bacalah dengan nyaman, kita sedang bermain dengan anak, hadirkan kesenangan, keceriaan, jiwa dan raga kita utuh untuknya, kita sedang bekerja, hadirkan kesenangan dalam bekerja, dan sebagainya. Ada orang yang raganya di sini, tapi jiwanya tidak sedang hadir di sini. Ketika nyuapin anak memikirkan ‘cucian baju belum dijemur tapi besok harus dipakai yang artinya hari ini harus kering dan kemudian nanti malam larut harus setrika semoga aja gak kebablasan tidur kalaupun kebablasan harus bangun pagi kalau bangunnya kesiangan aaah tidaaaak’. Itu baru pas lagi nyuapin anak, belum yang lain.

Happy ini juga kita harus belajar loh ibu-ibu. Anak gak mau makan, ya udah dibikin happy, tanyain maunya apa, beli apa, atau masak bareng, atau mungkin mau main dulu baru makan, dan seterusnya. Dengan happy, maka pikiran jadi lebih jernih dan kita gak grasah-grusuh dalam menyikapi setiap hal. Teorinya bagus yah! (nyengir sambil nyumput dipojokan) *talktomyself *talktomyself *talktomyself

Udah sih menurut saya 3 poin itu yang bisa bikin ibu waras dan seimbang, inilah postingan Mindfulness Para Ibu.

Semoga saya dan ibu-ibu lain bisa menerapkannya. Eh iya ini teorinya bisa digunakan siapa saja sih, gak hanya ibu-ibu. Siapapun bisa praktek teori ini. Apakah anda berminat mencobanya?

Special thanks to Allah, mas Adjie atas wejangannya dan IIP Banut🙂

 

3 thoughts on “Mindfulness-nya Para Ibu

  1. Teh upuutt.. Meni udah mampir aja. Haturnuhuun. Ya padahal cuma bahas pertanyaan sayaah hehee. Semalem ngerjain utang tapi baru 2. Masih ada 3. Hehee. Oia maaciiih teh uput kulwapnya kemariiin🙂

  2. Pingback: Lebih pantas disebut ‘Curhat Kelulusan’ | brightsightrads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s