Kebahagiaan Anak

#odopfor99dayss #day58
Bismillahirrahmanirrahim

Berbicara tentang kebahagiaan anak, akan berakar dari orangtua terlebih dulu. Bagaimanakah orangtua memberikan kebahagiaan kepada anak. Hal ini akan berpengaruh pada perkembangan diri sang anak, bagaimana kreatifitasnya, cara bersosialisasinya, cara mengatur emosinya, cara membaca keadaan sekitarnya, dan seterusnya. Saya ibu dari anak 2 tahun menulis ini dengan harapan bahwa saya bisa melaksanakannya.

Menurut saya, kebahagiaan anak terutama saat masih dalam asuhan adalah bagaimana dia merasa diterima dan merasa bebas. Orangtua yang salah membiarkan anaknya terlalu bebas atau terlalu dikekang. Bagaimana caranya agar bisa di tengah-tengah? Itulah mengapa sebaiknya orangtua mengasuh dan mendidik anak sendiri dan tidak melimpahkan kepada orang lain.

Adapun jika keterpaksaan harus dilimpahkan, maka usaha untuk membersamai anak akan menjadi pertanyaan lanjutannya. Sampai mana usaha untuk terus bisa mendampingi anak?

Pendidikan langsung oleh orangtuanya
Dengan kita mengasuhnya, membersamainya, mendampinginya setiap hari, maka kita akan hafal tentang anak kita, dekat dengannya. Kemudian kita bisa mencari solusi atas permasalahan yang terjadi dengan segala upaya. Pun sang anak akan lekat dengan sang pengasuh yaitu orangtuanya sendiri. Dengan begitu, anak dapat kita arahkan sesuai jalan yang kita mau, ke kiri atau ke kanan, ke depan atau ke belakang, ke atas atau ke bawah. Pilih pula jalan yang baik yang dapat membimbingnya ke surga. (Aamiiin. Ini juga PeeR besar saya).

Mimpi saya salah satunya adalah mengajarkannya Iqro, membaca alQuran, mengajarkan dan mencontohkan akhlakul karimah kepada anak-anak saya. Bayangkan setiap huruf yang dia baca di Alquran, akan membawa pahala juga untuk kita orangtuanya. Setiap perbuatan baik yang ia lakukan atas apa yang kita tanamkan juga menjadi amal jariyah kita nantinya, dan terus mengalir walaupun kita sudah meninggalkan dunia yang fana ini. Selain untuk kebaikannya, ini juga amal jariyah buat di alam kubur saya nantinya. Bukan bermaksud pamrih, tapi memang saya sangat membutuhkan amal jariyah yang saya tanam saat saya masih hidup. Maklumlah saya manusia banyak dosa.

Kedekatan dengan anak
Merasa anak tidak merespon kita? Dipanggil tidak menoleh, kita mengajaknya bermain dia tidak mau, ketika kita berbicara dia tidak memperhatikan. Coba koreksi diri, seberapa perhatian yang kita curahkan kepadanya saat dia memintanya? Terkadang kita terlalu sibuk dengan aktivitas kita, menganggap ‘ah masih kecil, gapapalah gak akan terlalu ngerti kalau orangtuanya sibuk, lama-lama ngerti juga kok‘, sibuk memegang hp saat dia meminta perhatian kita yang padahal tidak ada yang terlalu penting yang kita lihat di hp (Ya Allah, ampuni kami), merasa sok sibuk agar pengasuhan beralih pada orang lain yang padahal sesuatu itu dapat ditunda dulu. Awas, nanti anakmu juga akan menggunakan jurus yang sama terhadap kita orangtuanya, misalnya ‘ya nanti dulu’.

Dilema orangtua bekerja
Inilah yang menjadi tren kegalauan terutama para ibu saat ini. Terutama para ibu yang sudah banyak membaca tentang parenting atau bahkan mengikuti grup medsos tentang parenting. Tapi ada juga orangtua yang cuek-cuek saja, lalu membela diri dengan ‘saya orangnya bosenan, jadi saya harus keluar rumah’. Seperti yang saya bilang di atas, akan berbeda cerita ketika ada alasan syar’i untuk tetap bekerja.

Bagi yang ayah atau ibunya bekerja dan mengalihkan pengasuhan kepada orang lain, sebenarnya masih bisa terus mendampingi anak dengan cara FULL mengasuh saat ada bersama anak. Saat pulang kerja, saat weekend, usahakan selalu bersamanya, ikut aktif dalam kegiatannya. Pasti mereka suka dan akan menempatkan kita di hatinya.

Maksudnya? Pelimpahan terkadang hanya bersifat kebutuhan saja, tanpa bernilai pendidikan. Maka setelah ayah dan ibu pulang dari kantor, segimanapun lelahnya, sapalah anakmu, bermainlah dengannya, tahanlah gadgetmu sebentar, pusatkan perhatianmu kepadanya, tahan kantukmu. *selfnote*selfnote*selfnote*

Saya pikir, para ibu yang ingin sambil berkarya/bekerja, bisa menyambi dengan hal yang tidak terburu waktu, atau kembali bekerja sebagai freelance saa anak sudah mulai sekolah, bisa juga mencari usaha lain yang lebih santai. Rezeki tidak akan tertukar. Kalaupun kita tidak bekerja, rezeki untuk anak tetap ada, karena sudah ditetapkan oleh Allah swt.

Doa untuk anak
Kadang kita juga lupa untuk mendoakannya. Sholat diganggu, kadang langsung beraktifitas tanpa berdzikir, berdoa. Sibuk dengan aktivitas kita dan lupa dengan anak, tentu juga lupa mendoakannya. Astaghfirullah. Ampuni kami.

Jadi apa itu kebahagiaan anak? Ketika anak merasa diterima, ada yang menemaninya, mendampinginya, mengarahkannya, membimbingnya, mendidiknya. Sudahkah kita menjadi sumber kebahagiaan anak? Ah, PeeR saya juga.

Maafkan Ibu ya nak, belum bisa jadi ibu yang baik.

Rabbi habli minashshoolihiin
Robbanaa hablana min azwaajina wadzurriyyaatinaa qurrota a’yuun waj’alna lilmuttaqiina imaamaan
Aamiin

 

One thought on “Kebahagiaan Anak

  1. Pingback: 66 hari odopfor99days | brightsightrads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s