Perjalanan ASI sampai menyapih

#odopfor99days #day40

Pertama kali menyusui

Setelah operasi caesar selesai pada 26 Maret 2014, para suster menyodorkan bayi saya untuk melakukan IMD, tapi mata saya sudah tidak ada tenaga untuk membuka, jadi saya hanya membuka mata sesekali saja. Kayaknya gak IMD juga sih, cuma langsung disodorin aja bayinya ke PD. Tapi disitu saya merasa senaaaanngg sekali, akhirnya yang ditunggu keluar juga, dan pertama kali menyusui!

Selama 4 hari 3 malam di rumah sakit, saya merasa tenang-tenang saja saat anak saya menangis, lalu saya menyusuinya. Anak saya pun terlihat oke-oke aja. Tapi ternyata sepulang dari RS ke rumah, malam harinya dia rewel hebat tidak berhenti. Lalu memutuskan kembali lagi ke . Anak saya pun sudah diam, tenang saat masih di perjalanan hingga pulang. Dokter jaga pun bilang, anak saya tidak apa-apa. Besoknya, anak saya seharian rewel, pas di hari banyaknya tamu yang datang, saya malah sibuk dengan menenangkan anak saya. Sore, saya kembali ke RS yang lain, untuk second opinion barangkali salah. Di RS kedua ini malah anak saya disuruh di opname? What?? Big NO, langsung saja saya pulang. fiuuh,, kenapa kamu nak.

Baiklah setelah RS tidak mengetahui apa penyebab anak saya nangis tidak henti-hentinya, saya berencana untuk datang ke bidan dekat rumah. Entahlah mungkin karena ke dokter jaga ya. Jadi mereka tidak terlalu persis tahu apa dan bagaimana.

Doa dan doa semoga anak saya baik-baik saja. Pagi, saya langsung menuju bidan terdekat. Sang bidan sedang menangani lahiran seorang ibu. Setelah selesai dan giliran saya, langsung saja saya menceritakan kronologisnya. Jawaban ibu bidan ketika itu hanya satu dan itu yang memang membuat saya ragu dari awal meninggalkan RS,”ASI nya keluar gak?” jedaaangg, iya ya keluar gak ya.

Di hari itulah saya diajarkan bu bidan untuk memerah ASI dengan tangan. Saya sudah cukup tenang karena tau masalah utamanya karena ASI saya belum juga keluar. fiuuh. Maka setelah pulang dari bidan. Ibu saya langsung gempur saya dengan berbagai makanan untuk booster ASI. Sudah sempat beli susu formula, kalau-kalau ternyata ASI saya gak keluar juga. Alhamdulillah, Allah memberikan saya izin untuk menyusui anak saya.

Menyapih

Sudah sekitar 3-4 hari ini putri tersayang gak ngASI lagi. Dan baru hari kemarin dia berumur 23 bulan.

Suami sudah bilang untuk menyusui si kecil sampai 3 tahun, biar kaya ayahnya katanya. Saya sebenarnya gak terlalu masalah, karena bagian yang paling saya sukai, kangeni, dan ikhlas dalam pengasuhan anak adalah menyusui. Saya merasa sangat dekaaaatt sekali dengan anak saya, saya merasa anak saya sangat butuuuhh banget saya.

Hal inilah yang membuat saya sedih setelah menyapih, I love to breastfeed my baby, a lot. Saya bekerja sejak umur si kecil menginjak usia 7 bulan. Kenapa saya bekerja? Semata-mata untuk birul walidain (Ah birul walidain kok masih ngerepotin). Kalau saya hidup berdua dengan suami dan anak saja, saya masih ingin memilih untuk tinggal dan mengurus anak saja. Masih ada kewajiban saya terhadap orangtua, jadi saya memutuskan kembali bekerja. Tapi memang ada keinginan untuk mengamalkan ilmu yang saya punya, belajar lagi dari proyek yang didapat. Eh ngelantur yak.

Sebulan pertama saya bekerja, setiap pulang kantor dan sampai di rumah, saya langsung pompa ASI. Karena di kantor tidak memungkinkan saya untuk memompa, bisa habis waktu saya berhubung jam kerjanya cuma dari jam 9-14 aja. Sayangnya, saya tidak konsisten untuk langsung memompa setelah sampai di rumah. Langsung saja saya sodorkan ke anak, jadi sudah habis. Setelah itu baru saya memutuskan untuk memberikan susu formula. Dicoba sekali, dan memang anaknya juga lahap dan mau. Sampai usia 23 bulan kemarin, begitu terus, kalau ada saya ya ngASI, kalau saya bekerja ya sufor.

Motivasi menyapih

1.Allah bersabda dalam Alquran kalau menyapih 2 tahun
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah member makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya, dan seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum 2 tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” QS Al Baqarah 233
2.secara medis, sudah berkurang kandungan gizinya.
3.Bahwa saya tidak ingin anak saya manja. Harus menuruti apa yang menjadi kemauannya terus. Entah alasan ini benar atau tidak. Tapi ini jadi motivasi saya yang paling kuat.

Karena anak saya sudah terbiasa dengan sufor, ternyata memang tidak terlalu sulit untuk mengalihkannya. Saya pikir menyapih akan membutuhkan waktu lama untuk sounding, usaha untuk mengalihkan, dan lain sebagainya. Tapi rupanya anak saya dapat melalui tahap demi tahap tanpa rewel yang menjadi-jadi. Berikut ini tahap yang dilalui anak saya dalam penyapihan:
Tahap 1: sounding bahwa anak sudah besar, tidak lagi ‘mimik’
Tahap 2: setiap ngASI, saya bilang ‘sedikit aja ya, buat nanti lagi, biar gak abis’ Jadi dia sebentar aja
Tahap 3: sounding bahwa teman-temannya di sekitar rumah juga udah gak mimik lagi. saya sebutkan satu persatu nama temannya, kadang tetangga saya yang sudah besar juga saya sebut saja, bahkan sekalian juga saudara jauh. Dia pun senyum.
Tahap 4: menawarkan minuman alternatif, susu atau air putih atau teh atau lainnya. Nah untuk ini terasa lebih mudah, karena anak saya sudah bisa bilang mimik susu botol. Tapi ini jadi tantangan saya juga untuk mengganti botol dengan gelas.
Tahap 5: berikan perhatian lebih saat bermain, untuk menunjukkan bahwa kita sangat menyayanginya.

Tahap-tahap itu pun bisa saya lalui hanya beberapa hari saja, yang awalnya saya perkirakan yaa sekitar seminggu-dua minggu bahkan sebulan. Saya jadi sedih bin very sad. Karena anak saya jadi nyari ibu saya untuk minum susu botol. Tambahlah rasa bersalah saya. Kenapa terasa terburu-buru. Tapi saya yakin ini hanya sementara aja. Maafkan ibu ya nak. Bukannya ibu gak mau, tapi kamu sudah besar.

dan ini ada sepotong tulisan yang saya ambil dari sebuah link:

“Perlu diingat bahwa penyapihan adalah bentuk cinta kita kepada anak. Tidak perlu merasa bahwa kita telah menyakiti anak dengan menghentikan penyusuan, membuat dia menangis karena tidak diberi ASI, semua itu adalah proses yang harus dilalui. Karena dalam kehidupan selanjutnya pun anak akan menemui batasan-batasan, dan disapih adalah batasan pertama yang harus dia lalui. Selain itu menyapih anak setelah dua tahun adalah bentuk cinta kita kepada Allah SWT, yaitu menjalankan firman-Nya. ”
Sumber potongan tulisannya disini.

Robbi Habli Minas Sholihin (Ya Tuhanku karuniakanlah aku anak yang sholih).Aamiin.

Sekian (sambil masih sedih).

3 thoughts on “Perjalanan ASI sampai menyapih

  1. Pingback: 66 hari odopfor99days | brightsightrads

  2. alhamdulillah,setelah baca tulisan ini saya makin mantap untuk terus menyapih Vania(27months).Diawali dengan Basmallah,semoga proses ini berjalan dgn lancar san spt yg qt harapkan,vania makin mandiri,pinter dan makin banyak maemnya,krn slm menyusu dy sangat susah maemnya…
    Menyapih dengan cinta,meski km tak lagi menyusu pd mamamu,tp kasih sayang dan cinta mama tak akan pernah berkurang sdkit pun pdmu,anakq….

  3. Alhamdulillaah. Semoga lancar ya mba yulia menyapih Vania. Salam utk Vania. Semoga jadi anak sholihah. Aamiiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s