Oh, Trans Metro Bandung

#odopfor99days #day28

Bismillahirrahmaanirrahiim

Pengalaman pertama naik bis ini. Sejak diresmikannya tanggal 22 Desember 2004, saya baru naik hari ini. Sehari-hari saya naik mbit ke mana-mana. Karena kemaren dan semalam the body is not so delicious, saya memutuskan untuk naik angkutan umum.

Sebenernya rumah saya di cimahi. Jadi ga ada rute yang langsung ke arah kantor saya di daerah suci jalaprang. Jadi saya minta antar bapak ke halte TMB di depan BTC pasteur. Kalau saya naik angkot dari rumah menuju halte bus TMB di BTC itu, harus naik 2 kali angkot (angkot ijo Cimahi, dan angkot biru muda Cimindi Sederhana). Ribet yak.

Setelah turun mobil, saya jalan sedikit ke haltenya, karena kalau turun di depannya langsung, mengganggu lalu lintas. Ternyata haltenya sepi krik krik. Kosong, kotor, tidak terawat. Mau saya foto, kok malah gak tega ya. Cuma ada seorang bapak-bapak yang duduk sambil bermain gadget. Langsung aja saya tanya si bapak,

“Mau naik bis juga pak?”

“Iya.” jawab bapak itu sambil mendongak ke arah saya.

“Tiketnya gimana pak? beli dimana?” (soalnya si halte ini tempat tiketnya kosong, lebih tepatnya tidak terawat si halte)

“Oh nanti langsung bayar di bisnya.”

“Oh oke pak. makasih.”

Oke aman. Tinggal duduk nunggu bis datang. 5 menit, 10 menit, bis belum datang juga, ada satu mbak-mbak datang dan duduk di sebelah saya. Sekitar 10 menit kemudian barulah muncul bis TMB ini. Fiuuuh lamanyooo. Ini kalau lagi buru-buru, gak bisa nih naik TMB.

Seperti di Buswaynya Jakarta, kita naik dari pintu tengah bis ya. Tapi si pintu otomatisnya halte pasteur ini mah udah terbuka terus. Gak pake otomatis. Hehe. Saya pikir di setiap halte akan naik dan turun di pintu tengah ini. Ternyata tergantung kondisi haltenya sodara-sodara. Kalau pintu tengah halte kebuka, berati lewat pintu tengah bis, kalau enggak, ya berati kaya bis biasa aja, lewat pintu depan. Saya turun di halte pahlawan juga lewat pintu depan bis.😀

Bisnya enak sih. Kaya di luar negeri gitulah. Mungkin nyaman karena ada ac nya dan gak terlalu penuh ya. Tarif penumpang umum 3000 rupiah, sedangkan tarif pelajar 1500 rupiah. Bahkan kalo gak salah setiap hari apa ya, senin atau kamis (atau hari apa saya lupa) gratis buat yg pake seragam. Naik dan turun wajib di halte/shelter. Kalau kata temen yang udah pernah naik rute ini bolak-balik dari ujung ke ujung, kalau arah bisnya ke pasteur, kita bisa berhenti dimana saja, karena belum ada halte TMBnya. Karena jalur saya ke arah cicaheum. Jadi lewat pasupati (ini yang penting, karena gak ada angkutan umum yang lewat pasupati sodara-sodara).

Pas saya naik tadi, ada sekitar 15 orang lainnya. Kapasitas tempat duduknya 31 kursi. Ada gantungan buat berdiri. Mirip mirip buswaylah. Okelah kalo bisnya. Kebetulan tadi si bis yang saya naikin, lagi nyetel lagu dangdut. Mba-mba kenek yang berdiri di deket pintu depan, ngomong apa sampe gak kedengeran.

Kesimpulannya, seru sih naik bis. Tapi masih banyak yang harus diperbaiki menurut saya. Berikut ini saran dari saya buat walikota atau pengurus TMB atau yang bersangkutan:

  1. Pake halo-halo buat supir atau keneknya. Karena tadi mbak keneknya tuh kayanya dia ngomong “ada yang turun di Dago?” (kebetulan lagi berhenti di lampu merah Cikapayang Dago). Tapi suara itu sayup-sayup karena si mbaknya berdiri di depan deket pintu. Yang belakang ya mana kedengeran ya. Si halo-halo ini bisa buat informasi bahwa kita sudah sampai di halte X, selanjutnya adalah halte Y, silahkan bersiap-siap, dan informasi lainnya.
  2. Buat peta rute bus TMB ini dong. Tempel di setiap halte. Supaya orang-orang bisa ngerti naik rute mana untuk sampai ke tempat tujuan.
  3. Haltenya difungsikan lagi. Tapi kebayang saya pasti mahal. Merekrut orang yang jaga, minimal 2 orang, bayarannya berapa tuh. apalagi harus di setiap halte. Padahal masih sepi penumpang. Tapi siapa tau dengan diperbaiki, orang-orang jadi lebih tertarik untuk naik bus.
  4. Adain halte perpindahan. Apa sih namanya lupa kalo di busway itu. Jadi di halte itu bisa ganti rute dengan tarif tetap asal tidak keluar halte.
  5. Perbanyak armada mungkin ya? Memang kalo ini agak meragukan ya. Karena penumpangnya aja sepi ya. Masa mau tambah armada. Tapi, saya tadi nunggu bisnya kelamaan. heu heu heu

Udah mungkin cukup segitu aja. Semoga ada pihak bersangkutan yang membaca saran dari saya. Siapa tau direalisasikan. Aamiiin.

One thought on “Oh, Trans Metro Bandung

  1. Pingback: 33 hari odopfor99days | brightsightrads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s