Garis finish

#odopfor99days #odop #onedayonepost #day17

Bismillahirrahmaanirrahiim

Yang larinya paling cepat sampai di garis finish berarti dia yang menang, dan pertandingan sudah berakhir. Ketika umur kita sudah sampai garis finish juga, berarti masa mempersiapkan bekal sudah habis.

Banyak sekali ya orang yang gak sadar akan garis finish yang satu ini. Saya salah satunya. Masih suka berharap sama orang lain. Berharap sama yang ngasih proyek, berharap sama orang di rumah yang suka inisiatif bersihin rumah akibat perbuatan saya. Berharap sama suami. Padahal siapa saya. Disentil sedikit sama Allah aja pasti keok.

Inget temen sma, yang meninggal pas masih kuliah. Baru aja pulang nginep abis mabit di kampusnya. Belum sampe rumah dan ketemu keluarga, rupanya sudah sampai garis finish umurnya. Dia naik motor, dan keserempet mobil box yang tiba-tiba bannya kempes. Sudah tanggalnya.

Inget temen kuliah, temen ngerjain tugas di studio, temen bareng jadi maketor, temen diskusi islam, temen apa apa deh. Pas tingkat 3, dia sering sakit, dan lemah badannya, ternyata otaknya diserang penyakit. Pas lagi kuliah agama, saya pun pernah diminta antar ke ruang kelas sebelah, karna dia mau ‘kejang2’ dulu. Saya di sebelahnya cuma bisa ikut berdoa, elus-elus, ga tega, pengen nangis. Sampai penglihatannya diambil Allah, sampai gerak seluruh tubuhnya dicengkeram sama Allah. Cuma terbaring di tempat tidur. Mungkin itu salah satu cara membersihkan dosa-dosanya di dunia, jadi begitu umurnya sampai di garis finish, langsung ke syurga.

Inget juga saudara sepupu, baru masuk smp. Dia divonis lupus. Badannya lemah, capek sedikit dia drop. Anaknya gak neko2. Sholehah. Rupanya memang Allah sayang, dan lagi2 mungkin sakitnya untuk menghapuskan dosa2nya di dunia. Kayanya belum baligh deh. Aahh syurgaaaa..

Ya Allah, gimana ini, saya mah masih di sini aja. Masih sibuk urus dunia. Pas lagi sama anak aja, masih suka PEGANG HP!!!! Pernah sekali pas anak ngajak baca buku, dia ambil dua buku, satu untuk saya satu untuk dia. Dia sudah buka bukunya, saya sudah memangku bukunya, dan masih cocol cocol hape. Dia protes. Ibu, baca aja. Hapenya simpen. Jlebbb.. Iya, dia minta ditemani, pasti masa2 ini ngangenin. Kalo udah gede belum tentu dia minta seperti tadi. Hp langsung saya tinggal deh.

Itu baru satu. Lainnya, saya masih jadi beban buat orang tua. Padahal saya sudah nikah. Pengennya memang setelah nikah, bisa tinggal berdua aja sana suami. Dalam rangka mengurangi beban orang tua, dalam rangka belajar mandiri!!! Nyuci sendiri, masak sendiri, apa2 sendiri. Tapi belum. Mungkin Allah punya skenario yang lain.

Euh curcol

Balik ke garis finish. Sudah punya bekal mencapai garis finish? Beluumm.. masih suka ga ikhlas. Suka ga ikhlas kalo lagi disalip motor lain di jalan. Suka ga ikhlas kalo ga ada yang merhatiin saya di suatu kondisi. Suka ga ikhlas kalo anak lagi berantakin mainan, atau lagi rewel. Padahalah cuma episode ya. Tugas kita mungkin cuma jalanin dan laporin. Jalanin aja apa yang harus kita kerjain sekarang, tanpa ngeluh. Laporin aja ke Allah atas berhasilnya (bersyukur) atau tidak berhasilnya (bersabar dan minta dikuatkan).

Ini adalah curcol dan dasar teori. Semoga bisa ikhlas, bisa segera mengejar persiapan bekal saat garis finish, bisa selalu tenang, bisa selalu khusyuk ibadah (ieu pisan).

Sekian dan terima doa dari pembaca semua.🙂

One thought on “Garis finish

  1. Pingback: 33 hari odopfor99days | brightsightrads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s