DIY, belajar mandiri

#ODOPfor99days #day9 #ODOP #OneDayOnePost

Bismillahirrahmaanirrahiiim

DIY=do it yourself

Setelah menikah, yang paling terasa adalah DIY ini. Segala sesuatunya harus sendiri. Pluuusss ada suami pluussss ada anak2.

Saya merasa, bekal kemandirian saya masih kurang untuk berumah tangga. Entah apakah karna saya dimanja oleh orangtua yang lebih memilih saya belajar belajar dan belajar, ketimbang mengerjakan segala hal rumah sendiri.

Alhasil saya terkadang stress karna banyak sekali ternyata pekerjaan rumah yaa. Belum lagi kerjaan kantor (secara ya arsitek kerjaannya tiada tara, sampe dibawa ke rumah, sampe kurang dan bahkan ga tidur).
Ternyata sekolah sampai s2 kalau tidak ada kemandirian, memble sekali.

Lalu saya pikir soal kemandirian ini, bahwa anak anak yang lahir dari rahim saya haruslah sangat punya kemandirian yang kuat. Kemandirian dalam segala sesuatunya. Yaa memang di dunia kita hidup sebagai makhluk sosial yang pastinya akan membutuhkan orang lain.
Tapi sebentar, kita akan menghadapi kematian SENDIRI!!!! Kadang hal itu juga yang jadi motivasi saya ketika stress mengerjakan kerjaan yang seabrek abrek. Yang penting udah berusaha ngerjain, ga kekerjain ya udah, ga ada yang bantu ya udah, toh saya masuk kubur juga sendiri (haha gak nyambung yak). Tinggal bagaimana bekal saya buat di dalam kubur. Itu juga PR besar saya pribadi.

Alhamdulillah masih ada kerjaan ya. Banyak orang di luar sana yang ga punya pekerjaan. Laah ini saya ngantri di rumah. Bagi yang berminat bekerja, silahkan comment, terdapat berbagai jenis lowongan pekerjaan seperti mencuci, menyapu, mengepel, beberes rumah, ngurus anak, masak, plus lain lainnya. Hehehe

Kembali soal DIY. Menurut yang saya pahami dari berbagai artikel yang dibaca, kemandirian sudah sepatutnya ditanamkan sejak kecil. Saya juga sudah menyantap habis buku ‘Pendidikan Ala Jepang’ karyanya Saleha Juliandi M. Si & Juniar Putri, S.Si, dan ya sudah jelas bahwa jepang sangat mempraktekkan kemandirian ini. Bahkan sejak bayi baru lahir. Yang mau tau bagaimana menanambkan kemandirian pada anak, baca aja bukunya. Keren.

Kemandirian ini juga sebagai bekal buat anak anak bahwa tidak selamanya kita akan dibantu oleh orang lain. Semua harus bisa kita kerjakan sendiri walaupun sedikit. Termasuk oleh orang tua. Tapi jangan juga kita sebagai orang tuanya lepas tangan atas apa yang anak kita lakukan. Tetap harus dibimbing, diarahkan, sampai dia bisa mengerti bahwa kita harus bisa DIY.

Saya belajar DIY dari bapak saya. Isi rumah, yang berkaitan dengan perabotan, perkayuan, pertukangan, dikerjakan bapak saya sendiri. Kadang ada yang bantu, kadang asistennya kalau bukan ibu, kakak, ya saya. Dari situ juga mungkin ya saya menyukai beragam prakarya DIY.

Saya juga belajar DIY dari ibu saya. Semua pekerjaan rumah, ibu saya yang kerjain. Bahkan dulu mencuci baju dengan tangan, baju kotor empat orang. Big applause for her. Bekerja 8 to 5, sempat memasak, mencuci piring, nyapu ngepel, sempat menemani anaknya mengerjakan PR, sempat mengaji, pergi ke pengajian, radio selalu nyala buat dengerin ustad-ustad dari berbagai channel radio.

Saya juga belajar DIY dari kakak saya. Semua perabot elektronik rusak, dia bongkar, yang belum tentu dia bisa pasang. Pernah suatu hari beli hp yang bisa buat modem. Lalu modal ilmu dari internet, bahwa si modem harus diinstall sesuatu apalah gitu. Eeh malah hp baru itu mati total. Yaa sudah. Dan kita cuma KETAWA. yaa ketawa aja. Marah kecewa juga da mau gimana lagi. Udah rusak. Buat pembelajaran aja. (Intinya jangan marah2 lah kalo sesuatu hal gak sesuai hati mah ya. #selfreminder)

Tapi saya masih merasa kemandirian saya kurang sekali. Mungkin karena tidak ada penugasan atau kewajiban untuk saya atas pekerjaan2 rumah. Jadi walaupun sebenarnya saya bisa, tapi rasa malas ini sudah mengendap terlalu dalam.

Setelah menikah, saya masih tinggal dengan orang tua saya, pun sampai saya mengetik tulisan ini. Saya pun bekerja setengah hari. 10 to 15, menitipkan pengurusan anak kepada orang tua. Menambah rasa bersalah saya akan tidak mandirinya saya. Di satu sisi, tinggal dengan orang tua masih saya syukuri alhamdulillah. Masih ada yang bantu, gantian ngasuh. Jadi anak pun tidak bosan ya. Tapi ya itu, saya tetap merasa tidak mandiri. Semoga rumah cepet jadi (dan cepet lunas hehe), jadi bisa jungkir balik di rumah sendiri.

Grup parenting ataupun motherhood yang saya ikuti, banyak sekali yang menunjukkan kemandirian mereka. Mungkin karena sudah tinggal sendiri ya. Semua dikerjakan SENDIRI. Do it yourself. Saya selalu berazzam dan mencoba terus untuk bisa melakukan dan menghadapi segala sesuatu sendiri. Dan juga belajar mendelegasikan yang bisa didelegasikan.

Bismillah, Ya Allah ijinkan kami menjadi keluarga yang mandiri. Mengerti arti hidup. Dan fokus menyempurnakan aqidah. Aamiin. Rencana DIY ke depan: bikin jadwal bermain DIY di rumah sendiri. Bahkan bukan hanya bermain, tapi segala hal untuk rumah yang bisa dibuat dan dikerjakan sendiri.

Semoga terlaksana. Aamiin yaa Rabbal ‘alamiin

x

21122015

One thought on “DIY, belajar mandiri

  1. Pingback: 33 hari odopfor99days | brightsightrads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s