Berkeluarga

my new family

my new family

Bismillahirrahmaanirrahiiim

Kali ini saya ingin menulis tentang keluarga. Keluarga yang merupakan sumber cinta kasih dari setiap individunya. Yang menjadi penyejuk jiwa, atau cahaya hati ketika sedang bimbang dan galau (seharusnya).

Sekarang ini alhamdulillah banyak sekali yang sadar bahwa berkeluarga lebih cepat lebih baik. Ketimbang pacaran berlama-lama dan gak jadi-jadi. Lagipula memang sunnahnya menikah itu disegerakan (3 hal yg harus disegerakan:
menikah, membayar hutang, dan mengurus jenazah sampai menguburkannya. –> mohon koreksi kalau salah)

Tapi mungkin sebagian orang terlambat menyadari bahwa menikah tidak semudah seperti saat kita menjadi anak dalam keluarga. Bedaaa banget. Penyerahan diri, pengorbanan, pengabdian untuk keluarga, perubahan ke arah yang lebih baik, sangat terasa ketika berkeluarga.

Juga keegoisan masing-masing, baik suami atau istri bahkan anak harus bisa di-manage dengan baik. Ketika punya hobi dan kebiasaan berbeda, selayaknya bisa menyeimbangkan atau minimal mendukung dan meluruskan yang kurang/salah.

Pergi dengan teman, untuk jalan-jalan, makan, nonton, atau acara hepi lainnya, seringkali lupa pamit ke ortu atau bahkan baru bilang setelah sampai di rumah. Tapi ketika berkeluarga, ada istri/suami dan anak yang menunggu-nunggu di rumah. Paling tidak memberi kabar agar tidak khawatir.

Ya, ini sangat terasa ketika kita berkeluarga (subjektif saya). Banyak kekhawatiran yang muncul ketika anggota keluarga belum sampai di rumah. Orangtua yang selalu menanyakan anggota keluarga yang belum pulang(selalu terima sms dari ibu tercinta waktu magrib ketika saya belum sampai di rumah), terasa juga oleh saya ketika suami belum juga pulang (walaupun jelas pergi ke kantor, :D)

Lebih terasa berkeluarga lagi adalah ketika kehadiran sang buah hati tiba. Kekhawatiran akan berbagai hal mulai dari pendidikan, bimbingan, penjagaan kita sebagai orangtua terhadap anak. Apalagi nanti ketika disidang di pengadilan tertinggi oleh Yang Maha Kuasa. “Bagaimana kau mendidik anakmu?”. Akan menjadi apa anak kita ketika dewasanya, tergantung pada apa yang kita berikan saat penjagaan terhadapnya. Sungguh berat menjadi orang tua.

Saat-saat baby blues yang seringkali dialami ibu baru (seperti saya), nampaknya muncul karena belum siap akan kenyataan itu, belum siap karena banyak kekhawatiran yang muncul. Asupan semangat keluarga terutama suami, dan asupan secara psikologis dari sumber manapun sangat membantu sang ibu keluar dari baby blues ini. (Haha malah curhat)

Pada intinya, berkeluarga adalah hal yang luar biasa, yang memang tidak bisa bermain-main. Ketulusan, keikhlasan dan kesabaran sangat diperlukan. Jadi, bekal berkeluarga bukan sehari dua hari sebelum menikah, bukan pula mencoba mencari orang yang sempurna, tapi menurut saya adalah kesiapan akan segala hal, yang kita pelajari jauh-jauh hari.

Semoga Allah memberkahi keluarga saya dan keluarga anda semua. Aaamiiin…
Selamat berbahagia bersama keluarga🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s