Donor darah, kenapa enggak??

Penghujung tahun 2011 lalu, saya berencana mengurus passport di jalan Suci. Setelah sampai, ternyata nomor antrian sudah habis alias saya datang terlalu siang. Karena sedang libur natal dan tahun baru, diputuskanlah untuk tidak melewati jalur pulang. Lalu teringat ada teman yang baru saja melakukan donor darah. Setelah sedikit berpikir (mau-enggak-mau-enggak), saya pun menuju ke PMI di Jalan Aceh.  hmm, agak parno.

Lalu sampai di PMI, masuk ke gedung yang bertuliskan pelayanan donor darah yang berada di sebelah gedung permintaan darah. Di front office, kita diminta untuk mengisi selembar A5 bolak-balik untuk diisi. Kurang lebih isinya biodata dan keterangan kesehatan misalnya selama beberapa waktu terakhir pernah operasi atau tidak, minum obat kimia atau tidak, pernah diopname atau tidak, penyakit  yg pernah diderita apa aja, dsb. Tinggal jawab ya tidak aja sih. Selanjutnya duduk di ruang tunggu untuk menunggu panggilan pemeriksaan tekanan darah. Pemeriksaan selanjutnya adalah darah, dicek golongan darahnya apa, rhesusnya apa, hb nya berapa, dsb. Setelah itu, tinggal menunggu giliran untuk diambil darah.

Berhubung itu baru pertama kali, rada2 parno sama yang namanya jarum suntik. heuu Ngeliatin proses org2 yang mendonor, wajahnya sih baik2 aja. ada yg sambil sms-an, hmm (berarti g sakit)

Tibalah giliran saya. Sebelum diambil darah, petugas akan menyuruh mencuci tangan kita dulu. Setelah cuci tangan, saya berbaring di tempat yang kosong. Kemudian datang seorang petugas yang menangani saya, dan tidak lama kemudian ‘bles’ jarum pun mendarat masuk ke kulit entah sampai lapisan mana, sakit sih pas dimasukiinya heuu. Oke, rupanya memang tidak terlalu sakit juga sih, cuma agak pegel dan cenat-cenut. Menit demi menit berlalu, orang-orang sudah bergantian untuk diambil darahnya. Perasaan ga enak mulai muncul, kok saya ga beres2 diambil darahnya. Wess,, rupanya memang tergantung besar pembuluh darah juga. kalo pembuluh darahnya kecil, ya lama juga ngalir darahnya.

Beres donor, kita bakal dikasih paket spesial, yaitu pop mie, biskuit, susu dan kartu tanda pendonor (bagi yang pertama kali) plus keterangan kapan kita disuruh balik untuk donor lagi. Jadi kalo mau makanan gratis, ke PMI aja, donor darah dulu (ups). Efek dari donor yang saya rasakan adalah NGANTUK!! Sampe rumah langsung brek tidur.

Kedua kalinya saya donor dengan mengajak teman kuliah, setelah lewat dari 3 bulan. Saat itu, kita lagi heboh sama tugas. Jadilah kita gak fit untuk donor. Tapi dengan modal nekat pun kita ke PMI. Dan hasil pemeriksaan pun ternyata benar, kita harus fit. Haemoglobin (hb) saya kurang, jadilah suruh pulang alias tidak jadi donor!! Teman saya kurang berat badan, dan satu teman saya lagi, malam sebelumnya baru minum obat. Yak, kembali ke studio deh.

Jadi syarat supaya bisa donor diantaranya, berat badan di atas 47 kg, sudah sarapan, tidak mengkonsumsi obat dalam 3 hari trakir. Sejauh ini, asik-asik aja ternyata. Apalagi kalau bareng sama teman2. So, jangan ragu buat donor, selain membantu orang lain juga katanya donor itu menyehatkan (bisa googling sendiri).

Mari mendonor!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s