Nasib Pendidikan Terkini part 2

Ok, kembali memulai postingan.. setelah sekian lama.. hehehe (trimakasih untuk Ibu Saamah sudah mengingatkan saya untuk menulis)

Buat yang sedang UAN, selamat berjuang ya.. semoga sukses…

Sebelum saya menulis ini, saya tiba-tiba teringat dengan berita yang sedang hangat permasalahan UAN. Wow,, sungguh mengejutkan jika UAN alias Ujian Akhir Nasional ditiadakan. Apa yangmembuat standar kelulusan bagi siswa? Itu berarti setiap sekolah akan mempunyai standarnya masing-masing (asumsi saya).

Mari kita bayangkan..

Sekolah tanpa UAN. Sungguh orang tua sangat bahagia, tidak perlu merasa risau anaknya tidak akan lulus ujian. Karena sekolah pasti akan berusaha agar semua siswanya lulus untuk menjaga nama baik sekolah. Orang tua bangga anaknya lulus-lulus saja. Tidak perlu menanggung malu, karena anaknya kurang dapat mengikuti pelajaran disekolah tetapi dapat dinyatakan lulus. Ooh sungguh miris sekali ya.

Kemungkinan yang terjadi pada sekolah adalah sekolah akan menjadi sekolah unggulan, terkenal, karena siswanya lulus 100% dengan predikat sangat baik. Hal ini dapat membuat peluang untuk korupsi semakin banyak. Setiap orangtua juga mengharap anaknya dapat bersekolah disana, dengan cara apapun mereka akan melakukannya, sekalipun dengan membayar di muka ‘dana’ masuk sekolah dengan jumlah yang lebih besar.

Hayo ngaku…

Seorang anak kelas 6 SD seharusnya sudah dapat mengerjakan soal matematika dengan kombinasi, seperti mencari nilai rata-rata, menghitung kecepatan mobil, menghitung luas dan volume area, dan sebagainya. Bukan lagi belajar perkalian dan pembagian. Hooh… bener-bener yaa..

Pernah suatu kali saya mengajarkan seorang anak kelas 6 SD, kondisinya memang membuat hati merasa iba. Tapi dari tampaknya baik-baik saja. Sebut saja edi. Edi merupakan anak ke 3 (terakhir pd saat itu, tetapi ibunya sedang hamil anak ke 4). Karakter keluarga ini adalah senang mengobrol atau bermain dengan temannya. Jadi dapat dibayangkan, ayahnya mengobrol tentang bisnis dengan kerabatnya di teras rumah, ibunya sedang istirahat di kamar karena sudah hamil besar, dan sambil menonton sinetron, kakak2nya, jangan ditanya sedang apa, karena aku juga tidak tau. Mereka keluar masuk rumah, dan membawa motornya saat pergi. Bahkan, pada saat saya datang pun jam 18.30 waktu bada maghrib, saya mencari sosok edi, yang semula saya kira dia sudah duduk manis menunggu saya untuk belajar matematika dengan buku-buku dihadapannya. Tahukah anda?? Bahkan Edi pun juga sibuk sendiri. Orangtuanya saja bingung dan tidak tau anaknya pergi kemana, “Edii… ediii…… Mah, si Edi the kamana Mah??”,” ya gatau atuh Pah, coba ditelepon”. Wew, di malam hari, anak keluar rumah tidak tau kemana perginya. Hebat..

Setelah Edi datang pun, dia hanya tersenyum pada saya, lalu nyelusup ke kamar mamanya untuk bertanya (bukan nguping, tapi kedengeran, hehe)”Mamah, buku edi di mana mah?? Mah, jadwal pelajaran Edi dimana? Ngerjainnya PR dulu ato gimana mah??”
Eurgh….. rasanya ingin cepat pulang… tapi ya sudahlah.

Saat belajar matematika pun, ternyata untuk hitungan dibawah 20 pun, dia masih menghitung jari. Bukan bermaksud merendahkan, sungguh kasihan sekali dia, apakah orang tuanya benar-benar tidak pernah mengajarinya?? Bagaimana dia bisa naik kelas jika kelas 6 saja dia masih menghitung dengan jari, bagaimana dengan perkalian, pembagian, kuadrat, akar kuadrat, menghitung rata-rata, dan sebagainya…

Maka peran orang tua memang sangatlah penting sekali… umur 3-6 tahun adalah kreatifitas tinggi pada anak. Maka bentuklah mereka sedini mungkin. Satu kunci yang menurut saya penting bagi orangtua dalam mendidik anaknya adalah komunikasi. Dengan komunikasi, banyak bercerita dari hal kecil sampai besar, dari hal tidak penting sampai sangat penting, dari hal paling buruk sampai paling baik, akan memberi wawasan bagi anak untuk dapat memilah mana yang benar. Ajarkanlah yang baik, dan ajaklah berbicara.

2 thoughts on “Nasib Pendidikan Terkini part 2

  1. @indrapurnomo:
    1.i’m a lady.
    2.Itu juga yang baru saya sadari bebrapa waktu lalu, bahwa orangtua harus terus belajar. pendidikan formal juga penting, agar mengerti bagaimana kita sekolah [belajar di lingkungan]. belajar terus menerus tiada henti, agar insyaAllah menurun juga kepada anak-anak nantinya. Landasan agama menurut saya adalah landasan paling penting dalam mendidik agama. maka dari itu, ayo kita terus belajar, memperdalam agama kita, mencontoh apa yang dicontohkan Rasulullah SAW. kalau bukan kita, siapa lagi? bukankah kita ingin didoakan oleh anak yang soleh saat di alam kubur nanti???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s